Bangsa Sakit Seharga “180 M”

September 28, 2010

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bangsa kita saat ini sedang mengalami “sakit” parah. Sakit lahir batin, urusan dunia Akhirat, urusan pribadi dan masyarakat. Ciri bangsa yang sakit, mereka tidak bisa menempatkan akal, sikap, dan perbuatan pada koridor yang benar. Perkara yang penting diremehkan, perkara yang remeh dipenting-pentingkan. Urusan besar dikecilkan, urusan kecil dianggap raksasa. Masalah prioritas diletakkan di urutan belakang, masalah sepele dinomor satukan. Begitulah, bangsa sakit.

Di saat negara sedang serba ringkih seperti ini, mencuat ide membangun komplek makam Abdurrahman Wahid (Gusdur) dengan anggaran negara sebesar Rp. 180 miliar. Berita tentang hal ini banyak dibahas di media-media. Antara lain sebagai berikut: Pemerintah Siapkan Rp. 180 Miliar untuk Perbaiki Makam Gus Dur; Makam Gus Dur Jadi Wisata Religi; Renovasi Makam Gus Dur Telan Rp. 180 M; Demokrat: Renovasi Makam Gus Dur Wajar; Presiden: Kembangkan Makam Gus Dur; Rp. 180 M untuk Rapikan Makam Gus Dur; Pembangunan Kompleks Makam Gus Dur Dimulai Tahun Depan. Dan banyak lagi sumber berita-berita lain seputar masalah ini.

Memuja Makam Manusia. (sumber gambar: nasional.kompas.com).

Kenyataan yang paling ironis, upaya membangun makam Gusdur dengan dana gila-gilaan ini justru merupakan instruksi Presiden RI dalam rapat kabinet terbatas 20 September 2010 lalu. Isi pernyataan SBY, “Satu hal yang saya mintakan kepada Menko Kesra adalah upaya pembangunan kawasan di sekitar makam Presiden Abdurahman wahid yang tentunya juga harus dapat atensi yang baik dari negara.” (nasional.kompas.com, 20 September 2010).

Agenda pembangunan kompleks makam dengan biaya senilai Rp. 180 miliar ini semakin menambah daftar panjang SAKIT-nya bangsa Indonesia. Di masa-masa kehidupan serba susah seperti ini, negara bukan memelopori semangat kebangkitan, tetapi malah semakin memerosokkan rakyat dan negeri ini dalam kehinaan luar biasa. Seharusnya, saat menderita sakit, kita berlomba mengobati bangsa ini; bukan malah berlomba membunuh negara ini lebih cepat. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Beberapa catatan kritis perlu disampaikan disini…

PERTAMA, di Indonesia banyak pahlawan-pahlawan besar, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cut Nya’ Dien, Jendral Soedirman, Ir. Soekarno, Moch. Hatta, dll. Jasa mereka besar bagi bangsa ini dan tidak diragukan lagi. Lalu adakah komplek makam mereka dibuat mewah dengan biaya Rp. 180 miliar?

KEDUA, di dunia ini banyak tokoh-tokoh internasional yang dikenal memiliki jasa besar bagi negara masing-masing. Misalnya, Napoleon Bonaparte, Benyamin Franklin, Abraham Lincoln, Albert Einstein, Gandhi, Madame Teresa, dll. Apakah makam-makam mereka dibangun sedemikian mewah dengan anggaran Rp. 180 miliar? Padahal mereka tokoh dunia yang telah diakui reputasinya.

KETIGA, dalam sejarah Islam telah lahir ribuan ulama-ulama yang sangat mumpuni dan berkah ilmunya luar biasa, sejak jaman Abdullah bin Abbas Ra., Imam Syafi’i rahimahullah, Imam Bukhari rahimahullah, Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam An Nawawi, Imam As Suyuthi, As Syaukani, dll. Adakah makam-makam mereka dibuat sedemikian mewah memakan biaya sampai Rp. 180 miliar? Padahal ilmu mereka luar biasa dibandingkan wawasan keislaman Gusdur. Bahkan perhatikan makam para Syuhada Uhud di pinggiran Kota Madinah? Bahkan pernahkah Anda melongok keadaan makam Nabi Muhammad Saw di sekitar komplek Masjid Nabawi? Adakah makam itu sebegitu mewahnya? Pernahkah Anda melongok keadaan komplek makam Baqi’ di Madinah? Padahal disana banyak dimakamkan para Shahabat dan Shahabiyah radhiyallahu ‘anhum.

KEEMPAT, mungkin saja seseorang harus dimuliakan makamnya karena ingin memuliakan jasa-jasanya selama hidup. Lalu pertanyaannya, apa jasa Gusdur bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Ummat Islam? Adakah kontribusinya yang layak dikenang? Justru, Gusdur ini wafat dengan meninggalkan penghinaan akbar kepada Al Qur’an. Gusdur pernah mengatakan, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Hanya karena Al Qur’an bicara tentang ayat-ayat menyusui bayi, Gusdur menuduh Al Qur’an sebagai kitab suci yang porno. Padahal di masa bayi, Gusdur pasti disusui oleh ibunya sendiri. Bagaimana hal seperti ini akan dilestarikan dengan memuliakan makamnya? Allahu Akbar.

KELIMA, andaikan komplek makam itu akhirnya direnovasi dengan biaya Rp. 180 miliar, apakah tidak ada lagi masalah yang lebih penting di Tanah Air ini, sehingga kita harus membuang-buang dana APBN dan APBD untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Apakah kondisi masyarakat yang penuh penderitaan seperti selama ini tidak lebih layak dikasihani?

Saya mencatat, dari dana 180 miliar ini sangat bisa digunakan untuk mengadakan hal-hal yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas, antara lain sebagai berikut:

[=] 180.000 paket sembako seharga @ Rp. 1 juta, dibagi untuk 180.000 ribu keluarga fakir-miskin.

[=] 18.000 paket bantuan modal untuk UKM, dengan nilai @ Rp. 10 juta.

[=] 9.000 paket beasiswa kuliah sampai sarjana, dengan nilai @ Rp. 20 juta per mahasiswa.

[=] 5.142 tiket Haji gratis, senilai @ Rp. 35 juta.

[=] 12.000 tiket Umrah gratis, senilai @ Rp. 15 juta.

[=] Untuk membangun 36.000 MCK gratis untuk desa-desa di Indonesia, dengan nilai @ Rp. 5 juta per MCK.

[=] Untuk 36.000 paket pelatihan SDM gratis bagi para pengangguran di Indonesia, dengan nilai @ Rp. 5 juta.

[=] Untuk 72.000 paket bantuan kesehatan gratis dengan nilai @ Rp. 2,5 juta.

[=] Untuk 1000 mobil ambulans gratis dengan nilai @ Rp. 180 juta per ambulan.

[=] Untuk membangun 180 klinik bersalin ibu dan bayi, dengan biaya @ Rp. 1 miliar.

[=] Dan lain-lain semisal itu.

Dari dana Rp. 180 miliar itu amat sangat bermanfaat jika dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Bukan digunakan untuk hal-hal yang mubadzir seperti pembangunan komplek makam itu. Bisa saja, komplek makam itu direnovasi, tetapi dengan biaya yang wajar saja. Mengeluarkan biaya Rp. 5 miliar untuk perbaikan kompleks makam, itu sudah sangat berlebihan. Apalagi sampai 180 miliar? Sangat tampak bahwa di negeri ini banyak orang-orang elit yang tidak pintar mendidik rakyatnya. Mereka anggap, rakyat hanyalah obyek pasar yang mudah dibodoh-bodohi.

KEENAM, ini yang paling mengerikan. Pembangunan komplek makam seperti itu akan membuka pintu-pintu KEMUSYRIKAN seluas-luasnya. Masyarakat akan berduyun-duyun datang ke tempat itu untuk ngalab berkah, mencari peruntungan, mencari perlindungan. Jelas semua itu termasuk praktik kemusyrikan yang harus dicegah.

Tokoh-tokoh elit agama atau elit politik, seharusnya mereka bisa membimbing rakyat agar hidup secara wajar dan rasional. Untuk membangun kemuliaan, kesejahteraan, serta kebahagiaan hidup, caranya bukan memuja-muja makam. Tetapi caranya dengan: memaksimalkan kekuatan diri, memaksimalkan kerjasama dengan orang lain, serta memaksimalkan permohonan doa kepada Allah Ta’ala. Hanya 3 cara itu yang seharusnya ditempuh. Bukan dengan ngakal-ngakali orang awam, atas nama melestarikan situs makam orang-orang tertentu.

KETUJUH, dari sisi kepentingan warga NU sendiri, pembangunan komplek makam dengan biaya bombastik sampai Rp. 180 miliar, justru akan menghancurkan ormas NU sendiri. Lho kok bisa? Bisa jadi, dengan pembangunan komplek itu akan ada pendapatan yang diperoleh Pesantren Tebu Ireng, keluarga besar KH. Hasyim Asyari, pemasukan buat Pemkab. Jombang, serta usaha-usaha bisnis bagi masyarakat sekitar. Ya, bisa seperti itu.

Tetapi mereka harus mengkhawatirkan “bahaya tersembunyi” yang tidak mereka sadari. Bahaya apakah itu? Lihatlah, sejak puluhan tahun lalu, tidak ada kepedulian dari Pemerintah Pusat atau Pemkab. Jombang terhadap makam keluarga besar KH. Hasyim Asyari. Mereka adalah ayah-ibu, kakek-nenek, dan paman-paman Gusdur. Selama puluhan tahun, tidak ada anggaran negara yang disediakan untuk renovasi makam mereka. Anggaran ratusan miliar baru akan digelontorkan, setelah Gusdur meninggal. Artinya, makam keluarga besar KH. Hasyim Asyari belum dihargai, kecuali setelah Gusdur meninggal. Tampak jelas, bahwa nama Gusdur ingin dibangun lebih kuat dari nama ayah-ibu, bahkan kakek-neneknya, yang notabene pendiri NU itu sendiri.

Di mata warga Nahdhiyin yang memang mayoritas awam, mereka akan memandang bahwa sejarah besar NU ada di tangan Gusdur. Pemikiran, tradisi, gagasan besar NU, ada di tangan Gusdur. Padahal kesan besar tentang Gusdur itu lebih sebagai hasil rekayasa ciptaan media. Dari sisi ilmu agama, Gusdur tidak ada apa-apanya dibandingkan kakek, atau ayahnya, atau pamannya. Cara-cara seperti ini kan sama saja dengan upaya menenggelamkan sejarah NU, lalu diganti sejarah Gusdurisme yang dibawa Gusdur. Apa mereka tidak berpikir sejauh itu ya? Atau jangan-jangan mereka sudah lama menerapkan falsafah super pragmatis ini, “Sekarang jaman edan. Yang tidak edan, tak akan kebagian.” Entahlah kalau seperti itu.

Sekedar ingin mengingatkan. Warga NU selama ini amat sangat membenci apa yang mereka sebut sebagai “Wahhabi”. Tetapi ada contoh baik dari seorang raja dari negeri “Wahhabi” yang meninggal beberapa tahun lalu. Ia adalah mendiang Raja Fahd bin Abdul Aziz. Raja Fahd sangat besar jasanya, terutama dalam merenovasi Dua Masjid Suci, Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Beliau berjasa membangun lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Saudi, memuliakan para jamaah Haji dari berbagai negeri. Berjasa membantu negeri-negeri Islam dengan bantuan sosial, beasiswa, investasi, dst. Indonesia termasuk yang banyak menerima bantuan sosial dari Saudi di masa Raja Fahd. Proyek besar beliau yang sulit diingkari, ialah pembangunan Komplek Percetakan Mushaf Al Qur’an terbesar di dunia, di Madinah. Percetakaan ini telah menyebarkan Mushaf Al Qur’an gratis ke segala penjuru dunia, juga menerjemahkan Al Qur’an ke dalam berbagai bahasa.

Lalu bagaimana keadaan komplek makam beliau?

Makamnya ternyata sangat sederhana. Hanya seperti gundukan tanah, dengan taburan batu, dengan nisan batu kotak, tanpa nama, tanpa hiasan apapun. Tanpa taburan bunga, tanpa aksesoris, tanpa dibangun komplek ziarah, dan sebagainya. Raja Fahd besar jasanya, di luar kesalahan-kesalahannya sebagai seorang Raja. Tetapi makamnya sangat sederhana. Seharusnya, kalau NU merasa lebih baik dari “Wahhabi”, mereka bisa membuat sesuatu yang lebih baik, lebih bersih, lebih adil bagi kehidupan kaum Muslimin di negeri ini.

Hanya harapan yang bisa dihaturkan kepada Allah Ta’ala, agar Dia mencegah pembangunan komplek makam senilai Rp. 180 miliar yang sangat menciderai rasa keadilan rakyat Indonesia, dan berpotensi merusak akidah Ummat itu. Amin Allahumma amin.

ya Ilahi ya Rahmaan, kami tidak berputus-asa memohon kebaikan dan perlindungan kepada-Mu

AM. Waskito.

Iklan