Gerakan Islam: Antara “Bis Kota” dan “Motor Baru”

Agustus 1, 2010

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang dimuat di eramuslim.com. Judul artikel tersebut ialah: Bagaimana Pola Perjuangan Menegakkan Islam? Artikel ini dimuat di eramuslim.com pada 1 Juli 2010.

Isi artikel ini antara digambarkan tentang garis perjuangan SM. Kartosoewirjo rahimahullah dan Darul Islam-nya di Jawa Barat, yang kemudian diikuti sebagian kaum Muslimin di provinsi-provinsi lain. Ending perjuangan ini, kandas dibabat oleh kekuatan militer. Kemudian ada partai Masyumi yang meraih suara significant di era Pemilu 1955 dan perjuangan mereka di tingkat Konstituante. Namun Masyumi juga dihabisi oleh kedigdayaan politik Soekarno dan Soeharto. Lalu pasca Reformasi, muncul gerakan politik melalui tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Hamzah Haz, PAN, PPP, PBB, PKB, termasuk PKS. Intinya, dalam gerakan politik kontemporer ini selain hasilnya tidak jelas, para pengusungnya juga tidak istiqamah.

Nusantara ibarat "bis kota" yang bisa memuat banyak penumpang.

Di akhir tulisan, redaksi eramuslim.com mengajukan pertanyaan yang sangat menarik, sebagai berikut: “Dengan pola yang dilakukan Sekarmaji Kartosuwiryo perjuangan menegakkan Islam dengan kekuatan senjata mengalami kegagalan, dan melalui pola parlemen juga mengalami kegagalan, dan bahkan partai-partai Islam yang ada telah mengubah indentitas mereka. Bagaimana pola perjuangan umat Islam di masa depan dalam menegakkan Islam di Indonesia, sampai terwujudnya sistem dan nilai Islam yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan ini?

Pertanyaan terakhir ini sangat menarik, “Bagaimana metode perjuangan kaum Muslimin di Indonesia ke depan, agar meraih kemenangan?” Banyak orang menanyakan masalah ini; banyak yang telah bertahun-tahun mencari jawaban atas pertanyaan itu; bahkan sebagian Ummat ini telah mendirikan “kepemimpinan” di atas kepemimpinan formal yang ada saat ini.

Sebagian saudara kita telah ada yang mendirikan Kekhalifahan Islam di Indonesia, dengan pemimpin mereka disebut sebagai Amirul Mukminin. Dan gerakan kekhalifahan ini banyak juga pengikutnya. Semua ini menjadi bukti, bahwa apa yang ditanyakan oleh eramuslim.com tersebut banyak juga ditanyakan oleh kaum Muslimin yang lain.

Disini, saya tidak akan menunjukkan jawaban atas pertanyaan itu. Sebab, pertanyaan ini sifatnya terbuka bagi seluruh pejuang-pejuang Islam di Tanah Nusantara ini. Jadi sangat tidak adil, jika ia harus dijawab oleh orang per orang. Setiap Muslim yang memiliki komitmen, harapan, dan optimisme bagi kemenangan Islam, layak memikirkan pertanyaan tersebut.

Saya akan coba mengajukan sebuah ANALOGI untuk menguak inti masalah perjuangan Islam di negeri ini. Analogi ini dibangun dari kesadaran atas realitas perjuangan Islam selama ini. Persis seperti gambaran yang disebut oleh eramuslim.com dalam artikel itu. Analogi ini ibaratnya seperti JEMBATAN untuk menghantarkan Ummat memahami akar masalah perjuangannya. Selanjutnya, ya pejuang-pejuang Islam ini yang harus mencarikan jawabannya.

“BIS KOTA” dan “MOTOR BARU”

Kalau digambarkan, keadaan kaum Muslimin di Indonesia ini seperti sebuah bis kota yang melaju di lalu-lintas padat di Jakarta. Namanya lalu-lintas padat, pasti penuh dengan kemacetan. Nah, kemacetan itu bisa diibaratkan sebagai problema kehidupan kaum Muslimin selama ini. Semua orang berpikir, “Bagaimana caranya agar perjalanan kita lancar, cepat sampai di tujuan, tidak terus-menerus macet seperti ini?”

Dan alhamdulillah, kaum Muslimin diberi anugerah kendaraan, BIS KOTA. Namanya juga bis kota, ukuran besar, muat banyak penumpang, tetapi jalannya lelet alias lambat. Sedikit-sedikit macet, sedikit-sedikit macet…(bukan seperti kata komedian, “Macet kok sedikit-sedikit?”).

Saat terus dihambat oleh kemacetan ini muncul reaksi dari sebagian penumpang bis kota. “Sudahlah, bosan kita macet terus. Saban hari macet, macet, macet…mana tahan terus begini?” Sementara kondektur dan sopir terus saja mengulang-ulang nasehat yang sama, “Sabar Pak, sabar Bu, sabar Mbak, sabar Mas, sabar Dik, sabar bocah kecil, sabar…” Begitu terus, kondektur dan sopir tak kenal lelah memberi nasehat kesabaran.

Kemudian terpikirkan sebuah ide. “Daripada macet terus begini, bagaimana kalau kita membeli motor baru saja? Motor baru tubuhnya langsing, kecepatan gesit, pasti sangat handal di tengah lalu-lintas macet ini. Ayo kita jual saja bis kota ini, lalu duitnya kita belikan motor baru. Dijamin setelah itu kita tidak akan mengalami macet lagi.”

Ide membeli motor ini diterima oleh sebagian penumpang bis kota, tetapi ditolak mentah-mentah oleh sebagian penumpang yang lain. “Iiih, sayang banget. Buat apa menjual bis kota, lalu membeli motor baru? Bis kota jelas lebih mahal dari sebuah motor. Lagi pula, penumpang yang banyak itu mau dikemanakan? Apa Anda rela, penumpang sebanyak itu akan tercerai-berai, lalu mereka dibajak oleh mobil-mobil yang lain?”

Begitulah, terjadi ikhtilaf antara penumpang bis kota yang ingin menjual bis kota, lalu membeli motor baru. Di sisi lain, para fanatikus bis kota tetap teguh dengan pendiriannya. Mereka menolak menjual bis kota, sebab hal itu sama saja dengan resiko menerlantarkan banyak penumpang. Bagaimanapun kendaraan motor hanya bisa memuat sedikit penumpang.

Ikhtilaf seperti inilah yang melanda gerakan-gerakan Islam, setidaknya dalam kurun waktu 70 tahun terakhir. Kita tertawan oleh perdebatan seputar “bis kota” dan “motor baru”.

ISLAM dan NUSANTARA

Kita lahir dan tumbuh di Nusantara ini; sebuah bangsa yang besar, luas, sangat beragam kultur, dan memiliki kekayaan alam luar biasa. Nusantara ini anugerah besar dari Allah Ta’ala yang tak bisa diingkari. Namun besarnya Nusantara ini juga menjadi hambatan serius bagi bangkitnya sebuah peradaban Islam yang kaffah di negeri ini. Tidak semua kaum di Nusantara ini Muslim; sebagian mereka non Muslim. Lazimnya keyakinan non Muslim, mereka tidak mau dipimpin oleh sebuah kekuasaan Islam. Bahkan, dari kalangan “Muslim” pun banyak yang menolak berlakunya sistem Islam. [Ironis memang, tetapi itu kenyataan].

Garis perjuangan yang ditempuh oleh Darul Islam di bawah pimpinan Al Ustadz SM. Kartosoewirjo adalah seperti ide menjual bis kota, lalu membeli motor baru yang lebih gesit. Perjuangan Darul Islam bersifat teritorial, yaitu bermula di suatu daerah tertentu, dan kelak diluaskan ke daerah-daerah lain. Resiko perjuangan ini, bisa saja NKRI akan terpecah-belah. Minimal, akan terjadi konflik politik di tubuh bangsa ini. Dan hal itu sudah terbukti dalam fakta sejarah di masa lalu.

Adapun garis perjuangan Masyumi, tetap dalam koridor NKRI. Serupa dengan para penumpang yang sabar naik “bis kota”. Mereka ingin tetap Nusantara ini bersatu-padu, tidak terpecah-belah. Meskipun resikonya, negara ini lambat sekali mencapai kemajuan Islam. Ya, selambat gerakan bis kota di tengah kemacetan lalu-lintas padat Jakarta. “Lebih baik sabar dalam kemacetan, daripada NKRI terpecah-belah,” begitu ide dasarnya.

Dua pilihan ini sama-sama memiliki landasan ijtihad. Bagi Masyumi, bangsa NKRI ini masih bisa diperbaiki, dengan cara menegakkan Syariat Islam di wilayah-wilayah mayoritas Muslim di negeri ini. Meskipun untuk mencapai harapan itu, tidak tahu sampai kapan akan tercapai? Bagi Darul Islam, mereka memulai kehidupan Islam secara kaffah dari teritorial yang terbatas dulu. Kalau wilayahnya terlalu luas, lebih sulit dikontrol.

Masyumi bersikap sabar atas kesulitan-kesulitan perjuangan. “Sayang sekali kalau NKRI ini sampai terpecah-belah. Nanti yang akan rugi adalah kaum Muslimin sendiri.” Di sisi lain, Darul Islam bersikap sangat praktis dan realistik. “Kalau menunggu seluruh kawasan NKRI ini mau tunduk kepada Islam, sampai kapan kita menunggu? Kerugian-kerugian terus mendera kehidupan Ummat, sampai kapan akan terus dibiarkan?”

Sungguh, tidak mudah mencari jawaban terbaik dari analogi “bis kota” dan “motor baru” ini. Semuanya memiliki timbangan kebajikan dan analisis resiko. Ibarat seorang mujtahid, mereka telah berjuang keras mengeluarkan pendapat terbaik yang mampu dikeluarkan.

Semoga Allah Ta’ala merahmati para pendahulu kita, orangtua-orangtua kita, senior-senior kita, para pejuang Islam, di masa lalu. Mereka telah memberikan darmabhakti-nya di jalan Islam, dengan sebaik-baik perjuangan yang disanggupi. Ya Allah rahmati para pendahulu kami yang telah lebih dulu beriman dari kami. Rahmati mereka, sempurnakan amal-amal mereka, berkahi anak-anak keturunan di belakang mereka. Allahumma amin ya Sallam ya Arhama Rahimin.

LALU SELANJUTNYA…

Nah, kini di jaman ini adalah jaman kita, jaman anak-cucu para pejuang Islam di masa lalu. Setelah kita memahami hakikat perselisihan para pendahulu kita dulu, lalu bagaimana sikap kita? Lalu apa yang bisa kita lakukan, untuk mewujudkan cita-cita universal Islam, yaitu menegakkan Kalimah Allah dan panji-panji-Nya secara kaaffah di muka bumi?

Ada beberapa saran yang bisa disampaikan disini. Antara lain sebagai berikut:

Pertama, jangan putus-putusnya untuk selalu belajar dan mengajarkan Kitabullah dan As Sunnah. Inilah dua pusaka yang akan selalu mempersatukan kaum Muslimin di tengah segala khilaf mereka.

Kedua, mari kita sepakat dalam hal wajibnya menegakkan Syariat Islam di Nusantara ini. Kesampingkan dulu manhaj perjuangan; mari kita berbicara sebagai sesama Muslim yang sama-sama mendapat amanah dari Allah untuk menegakkan Syariat Islam di muka bumi.

Ketiga, mari kita berlomba mencari solusi atas kebuntuan perselisihan orangtua-orangtua kita di masa lalu, yang digambar sebagai perselisihan antara “bis kota” dan “motor baru” di atas. Jika “bis kota” yang ideal, apa saja kelebihan-peluangnya. Jika “motor baru” yang ideal, apa saja kelebihan dan peluangnya? Apakah ada ide lain di luar 2 pemikiran tersebut? Atau adakah ide yang bisa menggabungkan keduanya?

Keempat, hendaklah para pejuang Islam sering-sering melantunkan doa Qur’ani berikut ini: “Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquuna bil iman, wa laa taj’al fii qulubina ghil-lal lilladzina amanu, Rabbana innaka Ra’ufur Rahiim” (Wahai Rabb kami, ampuni kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan jangan adakan dalam hati-hati kami kedengkian kepada sesama orang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Santun dan Maha Penyayang). Doa ini insya Allah bisa menjadi terapi penyakit hati yang kerap bersarang di dada-dada kita.

Demikian yang bisa disampaikan. Memang tidak ada jawaban kongkrit yang diutarakan. Tetapi setidaknya kita bisa memahami situasi konflik internal gerakan Islam selama ini. Setelah disampaikan realitas masalah yang ada, ya selanjutnya kita perlu berjuang mencari jawaban terbaik.

Ahlan wa sahlan Ramadhan. Selamat menyambut shiyam Ramadhan 1431 H. Semoga Allah Ta’ala mudahkan kita menunaikan amal-amal mulia di bulan suci Ramadhan. Allahumma amin ya Karim ya Rahmaan.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan