Pidato Capres Dikritik Anak SD

Juni 25, 2009

Beberapa hari lalu ada sebuah kejadian menarik. Ini masih berkaitan dengan acara “Debat Capres” yang diadakan KPU, Kamis malam, 18 Juni 2009. Seperti sudah dimaklumi, acara debat ini mengundang banyak kritik. Katanya, tanpa greget. Tidak tampak nuansa debatnya. Terlalu kaku, formalis, masing-masing kandidat lebih terkesan menahan diri. Suasana debat seperti itu lebih menguntungkan kandidat tertentu yang dikenal piawai dengan bahasa formalis, mendayu-dayu, protokoler, jaim, dan sebagainya.

Tapi bagi saya pribadi, tidak apalah debat tidak seru. Kan tidak harus setiap debat seru. Seru atau tidak, tidak menjadi masalah. Asalkan hasil akhir dari debat ini nanti adalah terpilihnya pemimpin bangsa yang pro kepentingan nasional, bukan pro kepentingan asing. Pemimpin politik yang pro kepentingan rakyat Indonesia masih lebih baik daripada pemimpin yang pro asing. Madharatnya lebih kecil.

Istilah “ekonomi jalan tengah” itu sebenarnya merupakan pengakuan terhadap eksistensi ekonomi liberal. Kalau benar-benar murni bebas dari ekonomi liberal, pasti mereka tidak segan melontarkan kecaman-kecaman tajam ke instrumen-instrumen ekonomi liberal. Atau mereka akan mengangkat slogan lain yang bertolak-belakang dengan ekonomi liberal, misalnya: ekonomi kerakyatan, ekonomi protektif, ekonomi sektor riil, dll. Tetapi kalau melakukan hal itu, mereka takut akan dimusuhi oleh para kapitalis dunia. Maka dipilihlah istilah yang aman; aman di mata kapitalis dunia, dan aman di mata rakyat Indonesia. Nah, itulah “ekonomi jalan tengah”. Istilah ini bermakna pengakuan terhadap eksistensi ekonomi liberal.

Kembali ke “Debat Capres”. Ada sebuah kejadian menarik, saat materi pernyataan SBY dalam debat itu dikritik anak SD. Ini benar-benar terjadi, berlangsung secara alamiah, tidak dibuat-buat, atau direkayasa. Bahkan ia berlangsung spontan, tanpa unsur kesengajaan sama sekali.

Ceritanya, dalam debat itu, Megawati, SBY, dan Jusuf Kalla, ketiganya ditanya pandangan mereka tentang TKI di luar negeri. Mula-mula Megawati berpendapat terlebih dulu, lalu ditanggapi oleh dua kandidat lainnya. Dalam tanggapannya, SBY kurang-lebih mengatakan: “Saya setuju 200 % dengan pernyataan bahwa akar masalah TKI adalah kondisi di negeri kita sendiri… Namun saya tambahkan sedikit…” Nah, kalimat inilah yang mengundang kritik bocah SD itu.

Setelah mendengar pernyataan SBY, spontan bocah SD itu berkomentar: “Katanya setuju 200 %, kok masih ditambahkan sedikit?” Saya hanya tertawa mendengar komentar anak itu. Begitu cepatnya dia merespon.

Coba Anda renungkan baik-baik, benarkah perkataan anak SD itu? Coba sekali lagi Anda pikirkan, benarkah kritik yang dia lontarkan? Kalau masih ragu, coba pikirkan kembali dengan tenang, jernih, tanpa emosi.

Komentar anak SD itu benar adanya. Bahkan sangat benar. Andai SBY mengatakan, “Saya setuju 100 %”, maka dia tidak boleh memberi tambahan apapun. Itu kalau SBY mengerti makna kata “setuju 100 %”. Kalau seseorang setuju 100 %, maka tidak ada lagi kesempatan baginya untuk MENAMBAHKAN. Boleh saja, dia MENEGASKAN, MENEKANKAN KEMBALI, atau sekedar MENGULANG PERNYATAAN. Tetapi kalau menambahkan, berarti pernyataan pihak tertentu dianggap belum lengkap, sehingga perlu diberi tambahan.

Itu pun kalau pernyataan SBY, “Saya setuju 100 %”. Padahal dalam debat itu dia mengatakan, “Saya setuju 200 %.” Berarti kondisinya jauh lebih parah lagi. Singkat kata, ketrampilan bahasa SBY perlu dibenahi lagi. Ya bayangkan, yang mengoreksi pernyataan itu bukan pakar bahasa, bukan master public speaking, bukan Effendi Ghazali, bukan Tjipta Lesmana, dan lainnya. Ini anak SD. Masak anak SD lebih pintar bahasa dari seorang kandidat presiden? Waduh, kok iso yo?

Kenyataan ini akhirnya hanya menambah daftar alasan, mengapa kita perlu memilih pemimpin lain, selain SBY. Memilih SBY sama saja dengan mempertaruhkan masa depan Islam dan kaum Muslimin di negeri ini. Siapa bisa menjamin bahwa nasib kaum Muslimin akan lebih baik jika SBY terpilih lagi? Mereka yang saat ini gigih mendukung SBY, bisa jadi nanti akan berteriak paling keras saat dirinya terhimpit penderitaan akibat kepemimpinan SBY.

Sebagian orang biasanya berdalih, “Ya, kita berbaik sangka saja! Lebih baik baik sangka daripada su’uzhon!” Mau berbaik sangka bagaimana? Wong, pengalaman selama 5 tahun terakhir sudah membuktikan betapa menderitanya Ummat Islam di bawah SBY. Itu fakta, bukan prasangka. Sebagian lain akan berdalih, “Ya, kita doakan saja, semoga ke depan lebih baik kondisinya!” Lho, memangnya selama ini kita tidak mendoakan kebaikan Ummat? Apakah yang mendoakan Ummat hanya aktivis partai label Islam dan kyai-kyainya SBY saja? Kami sudah berdoa, dan akan senantiasa berdoa, tetapi penderitaan itu terus melanda Ummat ini.

Sebagian orang menuduh saya memiliki kebencian “sampai ubun-ubun” ke SBY. Padahal, dalam konteks sebagai sesama warga Indonesia, sesama wong Jawa Timur, atau sesama anak manusia; insya Allah saya tidak membenci SBY. Sebagai pribadi, semua pihak memiliki kesalahan dan kelemahan. Namun yang kita benci adalah: pemikiran, ideologi, kebijakan, atau amalan kepemimpinan, yang akhirnya menyebabkan kaum Muslimin Indonesia menderita, lahir-bathin, dunia Akhirat. Nah, perkara inilah yang kita benci.

Siapa saja pemimpinnya, tidak peduli apapun slogan, klaim, dan garis politiknya. Kalau kebijakan mereka menyebabkan penderitaan hidup Ummat Islam, memusnahkan nilai-nilai kemaslahatan, menjauhkan manusia dari tuntunan agama, memperbanyak peluang orang masuk neraka; kita pasti akan membencinya. Siapapun yang merusak kehidupan Ummat, kita membencinya.

Istilah kebencian “sampai ubun-ubun” itu adalah istilah untuk orang jahiliyah, yang membenci dan mencintai, tanpa memikirkan alasannya.

Dalam hadits Nabi Saw. menjelaskan tentang 3 cara untuk mencapai khalawatul iman (manisnya iman). Salah satunya ialah: mencintai seseorang karena Allah. Ibrah yang bisa diambil, ketika mencintai atau membenci sesuatu, kita mendasarkannya karena Allah, bukan karena alasan subyektif, kepentingan sempit, rasa sentimen, dan hal-hal sejenis. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan