Pak Mahfud MD…Itu Pak.

Maret 1, 2012

Saat deklarasi lembaga Islam baru, MIUMI, di Hotel Sahid, 28 Februari 2012 lalu; ada satu momen yang mengesankan. Ia adalah pidato Ketua MK, Mahfud MD. Sebenarnya banyak yang berkesan, tetapi pidato ini tampak memiliki keunikan tersendiri. Bahasa gaul jurnalistiknya, “I catch U!”

Sebenarnya forum MIUMI itu cocok untuk para aktivis Islam, para dai, atau kawan-kawan yang selama ini diklaim fundamentalis Islam. Pak Mahfud MD sebenarnya tidak terlalu cocok disini. Bayangkan saja, salah satu gagasan MIUMI seperti yang diklaim Ustadz Bachtiar Nasir, Lc (Sekjen MIUMI) adalah menghadang Liberalisme, Syiah, dan aliran sesat.

Okelah tak usah diributkan soal itu, mari kita sentuh soal isi pidato Prof. Mahfud MD, salah satu guru besar hukum di UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta. Pidato beliau tidak lama, tetapi ada substansi penting yang ingin disampaikan disini. Antara lain beliau bicara:

“Rusaknya suatu masyarakat, karena pemerintahnya rusak. Rusaknya pemerintah, karena ulamanya rusak. Rusaknya ulama, karena mereka tenggelam mencintai dunia.”

Jujur saya setuju dengan ungkapan ini. Ketika saya diskusikan masalah ini dengan seorang kawan, dia juga setuju.

Hitam-putih kehidupan rakyat, tergantung pemerintahannya. Kalau pemerintahan sakit, rakyat ikut sakit; kalau ia sehat, rakyat juga akan sehat. Sementara rusaknya pemerintahan, karena para ulama berdiam diri, tidak melaksanakan amanah nahyul munkar, tidak menasehati pemimpin zhalim, serta tidak melakukan ishlah secara intensif. Ya, siapa lagi bisa disalahkan atas rusaknya pemerintah, kalau para ulama selalu mencari aman? Dan ulama akan rusak ketika ambisi duniawinya melebihi ketakutannya kepada Allah Ta’ala. Kalau dunia sudah menguasai hati ulama, alamat hancur konsistensinya.

Intinya, ungkapan Pak Mahfud di atas ada benarnya; memiliki hujjah yang rasional; bisa dimengerti secara wajar. Kita tak usah berdebat panjang soal substansi pernyataan tersebut.

***

Lalu apa masalahnya?

Ya, sebenarnya tidak ada masalah serius.

Jangan bercanda, Anda pasti punya maksud tertentu?

Ada sih, tapi sabarlah.

Tidak, sampaikan saja, apa adanya. Jangan ditutup-tutupi! Apa masalah Anda?

Ya, ini hanya masalah Pak Mahfud saja kok.

Iya benar, tapi apa masalahnya? Anda membuat banyak orang penasaran? Mentang-mentang penulis…

Jangan begitulah, santai saja. Biasa saja.

Tidak bisa, apa masalahnya? Anda sudah sebut-sebut nama Pak Mahfud MD. Maka jelaskan masalahnya secara terang. “Seterang-terangnya,” meminjam ungkapan Pak Sebeye.

Oke, oke, saya jelaskan ya…

Ayo cepat, tidak usah lama-lama. Batere HP-ku mau habis tahu; aku sedari tadi sudah ngempet mau ke toilet; itu orang-orang sudah pada menunggu; 5 menit lagi pesawat akan take off; dan lain-lain alasan serba “darurat”.

Begini ya…pernyataan Pak Mahfudh MD itu…

Ayo cepat!!!

Waduh, jangan dipotong dulu, dong! Baru juga mau dijelaskan, sudah main potong saja. Tadi waktu Anda bicara saya tidak memotong. Tolong ya, hargai kata-kata orang lain.

Huh, belagak kayak debat di TVOne dan MetroTV, sok “potong-memotong”...

***

Jujur ya…pernyataan Pak Mahfud MD itu benar, logis, dan argumentatif. Bisa jadi ia dibangun di atas pemahaman, renungan, serta telaah ilmiah dan realitas, dalam masa panjang. Pernyataan itu kita hargai. Hanya masalahnya, kita kurang suka dengan gaya Pak Mahfud MD yang terkesan “disini senang, disana senang”. Maksudnya, Pak Mahfud itu kalau berbicara terkesan selalu “ingin menyenangkan tuan rumah”. Dimana saja dia berada, dia akan mengutarakan sesuatu yang “enak didengar” orang sekitar.

Kalau dia bicara di depan aktivis Islam, akan mengungkap isu-isu “seksi” di kalangan aktivis Islam. Kalau dia bicara bersama elit-elit politik, akan mencari isu yang “paling hot” sesuai selera elit politik. Kalau bicara di depan media, akan menyesuaikan dengan “opini media”. Kalau bicara di depan Pak Sebeye, akan mencari “celah batin” yang bersangkutan. Kalau bicara di depan aktivis LSM, juga akan bersikap “adaptatif”.

Nah, hal-hal semacam itu yang tidak kita sukai dari KARAKTER Mahfud MD. Istilahnya, dalam bahasa Biologi seperti “mimikri”. Atau dalam dunia Pramuka digambarkan dengan lagu “disini senang, disana senang”.

Sebagai argumen, ada seorang pakar mengatakan bahwa rusaknya pemerintahan karena rusaknya ulama. Masalahnya, kalangan pemerintahan itu juga tak mau dinasehati oleh ulama. Ketika ada ulama mengatakan “pentingnya Syariat Islam“…mukanya langsung merah, berubah menjadi hitam, jingga, kuning, warna zebra, dan seterusnya. Ya bagaimana ulama akan menasehati kalau omongan mereka tak didengar?

Orang yang mengatakan pemerintah begini dan begitu, sebenarnya dia bagian dari pemerintah itu sendiri. Harusnya dia melakukan perbaikan, bukan sekedar retorika atau pencitraan. Kalau seorang pemimpin konsisten dengan jalan kebenaran, dia pasti akan banyak diam, berbuat, dan terus melakukan perbaikan. Tidak tebar pesona, retorika, dan citra.

Ya, ini sebatas renungan saja. Betapa kita mesti berusaha untuk konsisten dan memohon pertolongan Allah Jalla Jalla Luhu agar senantiasa istiqamah di jalan yang diridhai-Nya. Amin Allahumma amin.

Maap, maapin ya kalo ade salah-salah kate… Wassalamu’alaikum warahhmatullah wabarakaatuh.

Mine.

Iklan