Media TV dan Kekuasaan Rezim

Juni 19, 2013

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa sebuah rezim di Indonesia (seperti rezim SBY) susah sekali dilengserkan? Demo-demo sudah sangat banyak dilakukan, tetapi tetap saja susah dilengserkan? Mengapa ya?

Ayo kita baca sedikit fakta-fakta…

(=). Indonesia sejak tahun 90-an sudah dikuasai oleh rezim media TV. Ini harus diakui. Maka itu investor dunia berlomba-lomba membeli saham TV-TV swasta, karena itu sama makna dengan menguasai Indonesia.

Media TV: Merampas Hak-hak Politik Rakyat Luas.

Media TV: Merampas Hak-hak Politik Rakyat Luas.

(=). Segala gerakan politik, untuk apapun tujuan, tanpa didukung jaringan media TV, sangat sulit untuk eksis dan diakui masyarakat. Menurut data Bank Dunia, 60 % keluarga Indonesia punya TV.

(=). Tiga rezim kekuasaan, Soeharto, Habibie, Wahid, telah sukses ditumbangkan oleh pemberitaan TV yang sangat massif. Soeharto digarap sejak awal 90-an, sampai puncaknya tahun 1998. Sangat naif kalau mereka tumbang semata-mata karena demo mahasiswa. Tidak. Tanpa ekspose TV, demo mahasiswa tak akan bertaji; seperti yang terjadi terhadap rezim SBY selama ini.

(=). Demo-demo mahasiswa/buruh seidealis apapun, sebaik apapun tujuannya, kalau tak didukung TV, jangan berharap akan sukses. Contoh, rezim SBY berkali-kali digoyang oleh demo mahasiswa/buruh, tapi tetap saja seger buger, karena media TV melindunginya.

(=). Fakta unik, SBY sering dapat penghargaan dari komunitas internasional. Misalnya dia dapat penghargaan dari komunitas G20, dari Ratu Elizabeth, dan sebagainya. Anda tahu makna penghargaan itu? Maknanya adalah: mereka rela dengan model kepemimpinan SBY dan akan terus melindunginya. Maknanya sampai sejauh itu, lho. Kalau SBY pro rakyat, pro keadilan, pro kaum pribumi, pro ketahanan nasional, justru akan disebut sebagai “anak nakal”, lalu mereka akan siapkan rekayasa media TV untuk menjatuhkan pemimpin yang pro rakyat.

(=). Di zaman Soeharto, pemberitaan gerakan demo sangat gencar, oleh semua stasiun TV. Bukan hanya dalam berita, tetapi update setiap jam, sejak pagi sampai malam. Bukan hanya demo di pusat Jakarta, tapi merembet luas sampai ke daerah-daerah. Istilahnya, saat itu “Soeharto sedang di-bully oleh semua media TV”.

Rezim Dilindungi oleh Kekuatan Media TV.

Rezim Dilindungi oleh Kekuatan Media TV.

(=). Rezim politik di Indonesia, meskipun sangat-sangat menyengsarakan rakyat. Misalnya, pemerintahan SBY sampai saat ini sudah ngutang ke pihak asing atau korporasi senilai sekitar Rp. 2025 triliun (dua ribu dua puluh lima triliun rupiah). Jadi kemajuan pemerintahan SBY ini ditopang oleh hutang, bukan kemampuan memimpin.

(=). Kehidupan apapun di Indonesia, terutama aspek politik, sudah dikendalikan oleh media TV. Itu fakta. TV menjadi PEMEGANG KEDAULATAN TERTINGGI kehidupan nasional. Ini fakta dan nyata.

Maka, saran kami, kalau Anda ingin mengadakan perubahan kehidupan di negeri ini, Anda harus membuat perhitungan dengan media-media TV. Caranya? Silakan saja Anda pikirkan, yang jelas: Media TV telah merebut kedaulatan dan kemerdekaan rakyat Indonesia. Mereka telah merampas hak-hak politik masyarakat Indonesia.

Jangan pernah bermimpi ada perubahan baik, selama politik dikuasai oleh media-media TV.

Ituh !!! (sambil bergaya seperti Mario Teguh 🙂 ).

Mine.

Iklan

Mahasiswa Seperti Dihujani “Bom Cluster”

Maret 31, 2012

Tadi malam, Jum’at tanggal 30 Maret 2012, sekitar pukul 08.00 malam, terjadi kericuhan yang mencekam di depan Gedung DPR/MPR RI.

Ribuan demonstran mahasiswa dan lainnya, mereka dihalau oleh aparat polisi keluar dari halaman Gedung DPR RI dengan gas air-mata dan tembakan “bola-bola api”. Tidak jelas, apakah “bola api” itu merupakan jenis gas air mata; ataukah ia merupakan petasan atau kembang api seperti yang disebutkan oleh beberapa media. Tetapi penembakan “bola-bola api” ini berhasil menghalau ribuan mahasiswa hanya dalam waktu beberapa menit saja.

Menghalau Demonstran dengan Efek Api. Seperti dalam Suasana Perang.

Kalau melihat tembakan-tembakan “bola api” itu bentuknya seperti bom cluster yang banyak dipakai Israel untuk menghujani warga Palestina di Ghaza. Tentu saja, ia bukan bom cluster, sebab bom itu sangat mematikan. Tetapi pola cahayanya ketika di udara sangat mirip sekali. Ia seperti lemparan “bola api” lalu di udara terpecah-belah menjadi serpihan bola-bola api yang lebih kecil. Karakter cahaya bom cluster di udara seperti itu. Biasanya ia dilemparkan dari atas pesawat tempur atau helikopter sejenis Apache.

Kalau tidak salah, di antara jenis gas air mata, memang ada yang mengeluarkan cahaya-cahaya berpendar yang sangat silau sekali. Jenis gas seperti itu juga dipakai di tanah konflik Palestina untuk menghalau para demonstran anti Zionis. Sebagai perbandingan, dalam pertandingan-pertandingan bola, kadang suporter ada yang membawa semacam petasan yang mengeluarkan api dan cahaya berpijar yang sangat terang. Kalau ia keluar cahayanya, stadion yang semula gelap bisa terasa terang-benderang.

Gas air mata atau apalah namanya seperti yang ditembakkan di depan gedung DPR itu, tidak mematikan; meskipun namanya juga “bola api” kalau mengenai tubuh, juga bisa menimbulkan luka-luka bakar tertentu. Tetapi efek yang paling besar, adalah efek MAKING FEAR (membuat rasa takut). Karena bentuk cahayanya seperti bom cluster, banyak orang meyakini mereka seperti sedang dihujani bom. Tentu saja mereka akan lari menyelamatkan diri. Dan setelah para demonstran bisa dihalau dari posisi yang didudukinya, mereka menyaksikan bahwa efek “bola-bola api” itu tidak membahayakan secara fisik. Efek hangus di jalan-jalan ada, tetapi ia tidak menimbulkan kerusakan berarti.

Apa yang terjadi semalam, sebagaimana ditayangkan di TV, seperti dalam suasana perang. Ya intinya, tolak kenaikan harga BBM, karena subsidi BBM itu hanya rakyat. Negara tidak berdosa memberi subsidi apa saja untuk rakyatnya. Sedangkan para pejabat, seperti SBY sekalipun, hakikatnya hanya “numpang” di atas hak-hak rakyat.

“Hidup kesengsaraan rakyat! Eh maaf, maksudnya: JANGAN MENYENGSARAKAN RAKYAT !!!”

(Sahawae).