Revolusi Arab: Sangat Mencemaskan!!!

Februari 28, 2011

Satu demi satu penguasa diktator Arab tumbang. Ben Ali di Tunisia, diikuti Husni Mubarak di Mesir. Kini Muammar Qaddafi sedang berada di ujung tanduk, antara bisa bertahan atau tidak. Yaman pun bergolak, Ali Abdullah Saleh panen kecaman dan caci-maki disana-sini. Yordan, Aljazair, Bahrain, bahkan katanya “api revolusi” juga akan membakar Saudi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Adalah bisa dimaklumi kalau rakyat Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dll. merasa marah, kesal, benci kepada pemimpin-pemimpin mereka dan partai-partai status quo di negeri masing-masing. Betapa tidak, di Tunisia, Mesir, Libya, Aljazair, dan lainnya masyarakat sudah biasa diperlakukan secara kejam, ditindas, dianiaya, difitnah, dan sebagainya. Siapa yang tahan dan bisa sabar atas semua penderitaan itu? Andaikan pertanyaan ini diteruskan, “Apakah Anda akan sabar jika menerima penderitaan seperti kami selama 30-40 tahun?” Jelas, kita akan angkat tangan.

Mau Kemana Arah Revolusi Ini? Ke Haribaan Islam, atau Demokrasi LIberal?

Kezhaliman diktator-diktator Arab adalah kenyataan, fakta, dan fenomena yang tidak usah diperdebatkan lagi. Semua orang tahu itu. Husni Mubarak sangat kejam kepada aktivis-aktivis Islam di Mesir, juga kepada rakyat Palestina. Ben Ali juga sangat menikmati sikap sekuler ekstremnya, sehingga Islam di Tunisia seperti diamputasi seluruh tangan dan kakinya (jadi seperti “bola” yang bisa menggelinding kesana kemari). Di Libya, Aljazair, dan sebagainya tokoh-tokoh Islam, aktivis Islam, dan dakwah Islam diperlakukan secara kejam. Baru kemarin-kemarin saja Muammar Qaddafi memperlihatkan pedulinya kepada Islam. Konon, dia punya ambisi mau menghidupkan kembali Daulah Fathimiyyah yang berhaluan Syi’ah di Libya.

Dari sisi kezhaliman, sikap anti Islam, dan kesewenang-wenangannya, para diktator Arab itu bukan hanya layak diganti. Mereka juga berhak dihukum berat atas penumpahan darah yang banyak terhadap para ulama, aktivis Islam, dan rakyat mereka sendiri. Dan di sisi Allah ada sepedih-pedih hukuman bagi para pemimpin zhalim.

Tetapi wahai Saudaraku…

Anda perlu melihat Revolusi Arab saat ini dengan sangat cermat dan hati-hati. Revolusi ini tidak seperti sesuatu yang kita harapkan bisa mengubah kehidupan kaum Muslimin disana menjadi lebih baik, dan bisa menghentikan kezhaliman diktator-diktator itu secara meyakinkan. Justru adanya “fenomena aneh” itulah yang membuat kita sangat khawatir melihat jalannya revolusi ini.

Coba renungkan sebagian fakta-fakta berikut ini:

[1] Dalam sejarah Arab, bahkan dalam sejarah dunia, baru kali ini terjadi fenomena revolusi politik yang bergerak seperti EFEK DOMINO itu. Ketika api revolusi berkobar di satu negeri, tiba-tiba ia membakar negeri-negeri lain. Modelnya sangat sama: demonstrasi people power, menuntut penguasa mundur, menuntut kebebasan politik, dan melibatkan proses kekerasan.

[2] Dalam kacamata intelijen ada sebuah prinsip terkenal, “Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.” Segala kenyataan yang kita anggap kebetulan, spontanitas, pada dasarnya tidak benar-benar spontanitas. Seringkali wajah dunia ini dibentuk oleh konspirasi tingkat tinggi. Contoh, hancurnya Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur, bukanlah secara kebetulan, tetapi memang di-setting seperti itu. Begitu pula, hancurnya WTC 11 September 2001 dan propaganda perang anti terorisme, itu juga bukan hal yang kebetulan. Bahkan menurut Tim Weiner, di balik Reformasi Indonesia tahun 1998 ada kucuran dana US$ 26 juta dari USAID untuk membiayai proses Reformasi itu.

[3] Pemeran utama yang menyebarkan api revolusi ke seluruh wilayah Arab adalah media-media massa, khususnya TV Aljazeera, facebook, Reuters, dll. Inilah pemeran utama tersebarnya Revolusi Arab itu. Tanpa peran mereka, khususnya Aljazeera, tidak akan meluas revolusi. Harus diingat, yang menyebarkan Reformasi 1998 di Indonesia juga media-media TV, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. Begitu pula, yang mengobarkan kampanye “perang anti terorisme” di seluruh dunia, adalah CNN dan TV-TV Amerika. Coba perhatikan, ketika FPI berkali-kali membuat demonstrasi besar di Jakarta (seperti bunderan HI baru-baru ini) tak ada satu pun media TV di Indonesia yang mau mempromokan aksi FPI. Akibatnya, masyarakat tidak tahu aksi tersebut. Media massa, terutama media TV, selalu menjadi senjata bagi kaum kapitalis untuk menginvasi suatu negara.

[4] Perhatikan, bagaimana sikap Obama, sikap PBB, atau pemerintah negara Eropa, ketika terjadi Revolusi Arab. Mereka sangat mendukung demo-demo rakyat tersebut. Bahkan Obama tanpa tedeng aling-aling ikut menggulingkan Husni Mubarak, dan kini ikut menggulingkan Qaddafi di Libya. Pertanyaannya, apakah Obama melakukan semua itu gratis tanpa imbalan politik? Bahkan pertanyaan selanjutnya, kemana saja Obama dan negara-negara Barat selama ini? Mengapa baru sekarang mereka mendukung gerakan rakyat itu? Padahal kezhaliman diktator-diktator Arab itu sudah berjalan selama puluhan tahun. Qaddafi di Libya sudah 40 tahunan. Sangat memalukan. Negara Eropa, Bank Swiss, Pemerintah Amerika, dll. kini tiba-tiba berlagak pro rakyat Mesir atau Libya. Padahal mereka selama ini ikut memelihara dan menjaga para diktator itu?

[5] Mengapa negara-negara Eropa dan Amerika membiarkan diktator-diktator Arab itu untuk digusur, padahal seperti Husni Mubarak itu bisa dikatakan sudah menjadi “anjing Amerika dan Israel”? Mengapa mereka tidak membela diktator-diktator itu? Jawabnya sangat mudah. Lihatlah nasib Saddam Husein, Soeharto, dan Reza Pahlevi. Mereka itu pada mulanya juga menjadi tokoh-tokoh kesayangan negara Barat. Soeharto itu bahkan disebut sebagai “good boy”. Tetapi, ketika pemimpin-pemimpin itu sudah mulai banyak maunya dan tidak bisa dipakai lagi, ya mereka pun diumpankan ke rakyatnya agar dihabisi rakyatnya sendiri.

[6] Kita harus ingat dan cermat. Sebelum Revolusi Arab ini muncul, Sudan sudah dirongrong dengan referendum di wilayah Sudan Selatan. Hasilnya, rakyat Sudan Selatan memilih memisahkan diri dari Sudan.  Banyak pemimpin Arab kecewa dengan hasil referendum itu. Di mata Amerika dan Eropa, mereka jelas mendukung keputusan rakyat Sudan Selatan. Tetapi pemimpin-pemimpin Arab, dalam forum Liga Arab, sangat menyesalkan hasil referendum itu. Hal ini menandakan, ada “keretakan politik” antara Barat dengan pemimpin-pemimpin diktator itu. Maka munculnya Revolusi Arab, tidak bisa dipisahkan dari referendum di Sudan ini. Bahkan, seolah Sudan dibuat susah dulu agar sibuk dengan urusan internalnya. Setelah Sudan sibuk, baru api Revolusi Arab dimulai.

[7] Pertanyaan yang selalu menggelisahkan ialah, “Apakah setelah Revolusi Arab ini, masyarakat disana akan memilih Islam, memilih Syariat Islam, atau memilih Negara Islam?” Jika itu pilihannya, jelas kita sangat mendukung semua proses Revolusi Arab ini. Tetapi apa jaminannya bahwa Revolusi itu akan sampai kesana? Jangan-jangan, semua Revolusi ini hanyalah pintu untuk memaksakan ideologi DEMOKRASI LIBERAL ke tengah-tengah masyarakat Arab, seperti demokrasi itu telah 13 tahun hidup di Indonesia? Ya, sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bangkitnya politik Islami di balik Revolusi-revolusi itu.

[8] Kita jangan silau oleh sikap pemimpin-pemimpin Barat atau Israel yang mengaku “cemas”, “resah”, “kalang-kabut”, “bingung”, “tidak menyangka”, dll ketika kini terjadi Revolusi Arab. Semua itu hanya kepura-puraan belaka. Demi Allah, negara-negara Barat itu tahu persis dengan Tragedi WTC 11 September 2001. Mereka juga tahu persis dengan motiv di balik invasi ke Irak dan Afghanistan. Mereka tahu bagaimana kekejaman Serbia di Bosnia. Mereka tahu persis! Tapi apa tindakan mereka? Mereka pura-pura tidak tahu. Mereka berlagak sok tolol.

Saudaraku rahimakumullah…

Soal kekejaman diktator-diktator Arab itu, tak ada keraguan lagi. Mereka memang benar-benar kejam, zhalim, biadab, dan berlumuran darah Ummat. Dan menjadi pertanyaan kita, “Mengapa pemimpin-pemimpin Arab cenderung bersikap diktator dan kejam? Mengapa mereka tidak bersikap santun, luas wawasan, bijak, dan mengutamakan dialog?”

Kalau dirunut-runut, hal ini terkait dengan TABI’AT masyarakat Arab sendiri yang bisa dibilang “berdarah panas”. Masyarakat Arab sudah terkenal dengan sifat demikian. Suatu pertikaian atau konflik kecil bisa menjadi sangat serius dan berdarah-darah. Sulit menyatukan bangsa Arab, sehingga mereka mau bersepakat dalam prinsip-prinsip tertentu secara kolektif. Sulit sekali. Nah, iklim “darah panas” seperti inilah yang mendorong munculnya pemimpin-pemimpin “berdarah panas” juga. Tegaan, main sikat, zhalim, dan sewenang-wenang. Bila ada pemimpin peragu seperti di Indonesia, lalu memimpin negara Arab, dijamin tak akan lama umurnya.

Tabi’at masyarakat Arab cenderung keras dan kuat. Rasa percaya dirinya luar biasa. Maka tabi’at seperti itu di bawah naungan Islam mendapatkan tempat yang tepat. Islam mengajarkan kasih-sayang, sikap menghormati, tolong-menolong, setia kawan, saling peduli, dsb. Di bawah naungan Islam, tabi’at bangsa Arab mendapatkan wadah untuk tumbuh secara maksimal, menghasilkan peradaban-peradaban luar biasa. Namun kalau tabi’at itu ada bersama paham kesukuan, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, disana akan muncul masalah-masalah yang banyak. Bangsa Arab hanya bisa cocok dengan akidah Islam. Bukan selainnya.

Seharusnya, saat ini bangsa Arab memilih Islam untuk menjadi Dusturul Hayah. Hanya dengan Islam, mereka akan damai, terhormat, dan mendapat kejayaan. Tabi’at mereka tidak cocok dengan paham selain Islam. Buktinya, ketika mereka mengambil paham nasionalism, kesukuan, atau sosialisme; maka lahirlah diktator-diktator kejam seperti Husni Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, dll.

Kecemasan di hati kita, kalau setelah Revolusi Arab ini, bangsa Arab mengambil ideologi DEMOKRASI LIBERAL. Inilah ketakutakan kita. Demokrasi liberal jelas jauh lebih berbahaya daripada Husni Mubarak, Ben Ali, Qaddafi, dan kawan-kawan. Demokrasi liberal bisa menghancurkan Islam dari berbagai sisi. Kalau kelak negara-negara Arab hancur oleh demokrasi liberal, jelas Islam juga akan hancur. Bagaimanapun Arab adalah benteng Islam.

Kini masalahnya: “Bagaimana cara membawa Revolusi Arab saat ini menjadi Revolusi Syariat Islam, sehingga negeri-negeri Arab berkenan secara tawadhu’ dan ridha hidup di bawah naungan Islam?” Hanya ini solusinya. Kalau memilih demokrasi liberal -seperti di Indonesia- jelas Arab akan hancur, lalu Islam pun hancur. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

Anda punya SOLUSI…

Bumi Allah, 28 Februari 2011.

AM. Waskito.

Iklan

Solusi Kebuntuan Demokrasi Liberal

Maret 27, 2009

Saat membahas tema-tema demokrasi, saya sering mendapat kritik. “Kalau memang demokrasi bathil, lalu apa solusinya? Jangan ngomong saja dong! Ayo mana solusinya? Paling-paling hanya bisa mengkritik, hanya bisa nyalah-nyalahin orang, tapi miskin solusi. Lebih baik kita bekerja kongkret daripada nyalah-nyalahin kerja orang lain,” begitulah kira-kira nadanya. Meskipun redaksinya tentu tidak seperti itu.

Sebenarnya gemas juga mendengar istilah SOLUSI ini. Bukan apa, seolah kalau kita mengkritisi demokrasi kita tidak memiliki suatu konsep alternatif yang lebih baik. Alhamdulillah, konsep itu ada. Bahkan bagi saya sendiri, ia telah tersusun dalam buku. Hanya saja, karena penerbit bukunya pro demokrasi, naskah itu tidak bisa diterbitkan. Ya, konsep solusi itu ada, bukan hanya “omong doang”. Lagi pula dalam tulisan-tulisan yang sudah saya publish disini, sebagian sudah saya kemukakan corak solusi itu.

Disini kita ingin lebih terus terang dalam menyampaikan jalan yang diyakini, serta membuat tema khusus tentang SOLUSI, biar nanti tidak ada lagi pertanyaan, “Mana solusinya, Mbah?”

DEMOKRASI LIBERAL

Mula-mula harus dipahami bahwa demokrasi yang berjalan di Indonesia saat ini adalah DEMOKRASI LIBERAL, bahkan mungkin ultra liberal. Di negara-negara Amerika dan Eropa, yang katanya dianggap “Mbah-nya demokrasi”, situasinya tidak seliberal kondisi demokrasi di Indonesia saat ini.

Indikasi sistem demokrasi liberal di Indonesia antara lain sebagai berikut:

[1] Pemilu multi partai yang diikuti oleh sangat banyak partai. Paling sedikit sejak reformasi, Pemilu diikuti oleh 24 partai (Pemilu 2004), paling banyak 48 Partai (Pemilu 1999). Pemilu bebas berdiri sesuka hati, asal memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan KPU. Kalau semua partai diijinkan ikut Pemilu, bisa muncul ratusan sampai ribuan partai.

[2] Pemilu selain memilih anggota dewan (DPR/DPRD), juga memilih anggota DPD (senat). Selain anggota DPD ini nyaris tidak ada guna dan kerjanya, hal itu juga mencontoh sistem di Amerika yang mengenal kedudukan para anggota senat (senator).

[3] Pemilihan Presiden secara langsung sejak 2004. Bukan hanya sosok presiden, tetapi juga wakil presidennya. Untuk Pilpres ini, mekanisme nyaris serupa dengan pemilu partai, hanya obyek yang dipilih berupa pasangan calon. Kadang, kalau dalam sekali Pilpres tidak diperoleh pemenang mutlak, dilakukan pemilu putaran kedua, untuk mendapatkan legitimasi suara yang kuat.

[4] Pemilihan pejabat-pejabat birokrasi secara langsung (Pilkada), yaitu pilkada gubernur, walikota, dan bupati. Lagi-lagi polanya persis seperti pemilu Partai atau pemilu Presiden. Hanya sosok yang dipilih dan level jabatannya berbeda. Disana ada penjaringan calon, kampanye, proses pemilihan, dsb.

[5] Adanya badan khusus penyelenggara Pemilu, yaitu KPU sebagai panitia, dan Panwaslu sebagai pengawas proses pemilu. Belum lagi tim pengamat independen yang dibentuk secara swadaya. Disini dibutuhkan birokrasi tersendiri untuk menyelenggarakan Pemilu, meskipun pada dasarnya birokrasi itu masih bergantung kepada Pemerintah juga.

[6] Adanya lembaga surve, lembaga pooling, lembaga riset, dll. yang aktif melakukan riset seputar perilaku pemilih atau calon pemilih dalam Pemilu. Termasuk adanya media-media yang aktif melakukan pemantauan proses pemilu, pra pelaksanaan, saat pelaksanaan, maupun paca pelaksanaan.

[7] Demokrasi di Indonesia amat sangat membutuhkan modal (duit). Banyak sekali biaya yang dibutuhkan untuk memenangkan Pemilu. Konsekuensinya, pihak-pihak yang berkantong tebal, mereka lebih berpeluang memenangkan Pemilu, daripada orang-orang idealis, tetapi miskin harta.Akhirnya, hitam-putihnya politik tergantung kepada tebal-tipisnya kantong para politisi.

Semua ini dan indikasi-indikasi lainnya telah terlembagakan secara kuat dengan payung UU Politik yang direvisi setiap 5 tahunan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem demikian telah menjadi realitas politik legal dan memiliki posisi sangat kuat dalam kehidupan politik nasional.

SISTEM BERBAHAYA

Harus diingat, sistem demokrasi liberal itu sangat berbahaya. Ia bisa menghancurkan bangsa Indonesia secara cepat. Lihatlah kebobrokan bangsa ini selama 10 tahun terakhir, sejak Reformasi!!! Kalau kebobrokan ini terus berjalan, dalam masa 15 tahun atau 20 tahun ke depan, saya yakin negara ini akan bubar atau terpecah-belah.

Namanya juga demokrasi liberal. Ia tidak punya komitmen terhadap KEPENTINGAN INTERNAL. Komitmen dia hanyalah pada pasar alias market. Negara manapun yang diserahkan ke market, lama-lama akan bubar. Eropa saja sangat protektif dengan EURO-nya. Sementara di Indonesia, proteksi dilarang karena dianggap tidak demokratis. Aneh bin ajaib!

Baca entri selengkapnya »