Mengapa Mereka Sadis Ke Pemuda Islam?

Mei 19, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sangat menarik membaca sebuah analisis dari seorang wartawan eramuslim.com. Beliau menulis artikel berikut ini: Makna Keamanan yang Terasingkan: Diskriminasi Antara Tragedi Sukoharjo dan Pengibaran Bendera Zionis.

Tulisan di atas disusun oleh Muhammad Pizaro. Analisisnya simple, praktis, tetapi “kena ke jantung”. Tulisan itu bagus, merupakan kombinasi fakta-fakta lapangan dan telaah Dustur Nabawi (hadits Nabi Saw). Kalau ada kekurangan, judul tulisannya kurang “gemana getoh”. He he he, becanda.

Mereka Telah Mematahkan Prinsip Keadilan. Sunnatullah Akan Berjalan, Ada Sanksi Berat Atas Setiap Kezhaliman.

Mohon pembaca berkenan membaca artikel di atas dulu. Baca baik-baik, resapi maknanya, hayati substansinya. Kalau sudah, silakan wajah Anda dipalingkan kesini. Hayo, sini dong! Kan Anda sudah masuk sini duluan. Jadi jangan keenakan disono. He he he, maaf ya eramuslim. Cuman becanda.

Oke, sudah kembali kesini kan… Woi, itu yang masih baca-baca disono. Tolong U noleh kesini lagi ya…

Sebuah pertanyaan yang selalu berulang, seperti repetitive history, sejarah yang selalu berulang; mengapa aparat kemanan, khususnya polisi sangat galak dan kejam kepada pemuda-pemuda Islam? Terbunuhnya Sigit dan Hendra di Solo itu bisa jadi contoh terbaru. Sementara kalau ke orang-orang non Muslim, mereka selalu SOPAN, TOLERAN, dan MENGAYOMI.

Katanya, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”; katanya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”; katanya, “Persatuan Indonesia”; apalagi katanya, “Ketuhanan yang Maha Esa”? Tapi kok kelakuan jauh sekali yak dari Pancasila itu? Aneh kan.

Mengapa aparat selalu bersikap kejam HANYA kepada pemuda-pemuda Islam yang -katanya menurut versi polisi- terlibat terorisme? Kalau kepada Ziokindo, OPM, RMS, kaum Neolib, JIL, Ahmadiyyah, Misionaris Nasrani, dan lain-lain; mereka kalem-kalem saja.

Mengapa oh mengapa?

Alasannya itu ada dalam Al Qur’an, pada ayat berikut:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ

Artinya, “Sungguh kamu benar-benar akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman, (yaitu mereka adalah) kaum Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al Maa’idah: 82).

Nah, intinya ada disini. Orang-orang yang berlaku kejam itu kalau bukan Yahudi, pasti musyrikin. (Orang-orang Nashrani yang tidak mengikuti ajaran Isa As yang lurus, juga ikut-ikutan kejam, seperti disebutkan dalam fakta-fakta sejarah).

Orang Yahudi telah menyetir kebijakan keamanan di negara kita. Atau jangan-jangan para perwira tinggi aparat itu memang berakidah Yahudi? Bisa jadi, identitasnya Muslim, tetapi hatinya sudah menjadi Yahudi. Minimal mereka adalah penganut paham-paham paganisme (kemusyrikan). Misalnya menganut ajaran Kejawen, menjalankan ritual mistik, atau mengikuti ajaran kaum kahin (tukang sihir).

Posisi para perwira itu yang sangat penting, sebab kalau hanya prajurit atau petugas keamanan di bawah, mereka biasanya “ikut kata komandan”. Orang-orang elit inilah yang telah membaktikan hidupnya untuk menjalankan missi keyahudian atau paganisme, secara konsisten. Kalau masih ada benih-benih iman di hati, mereka pasti akan punya rasa SANTUN.

Kekejaman oleh aparat keamanan, khususnya Densus 88, tidak serta-merta muncul. Ia bermula dari AKIDAH di hati yang jauh dari Tauhid, jauh dari As Sunnah, jauh dari Syariat Islam.

Dulu di tahun 80-an, Ummat Islam menjadi bulan-bulanan aparat TNI yang berlatar-belakang Nashrani, yaitu LB. Moerdani Cs. Ternyata kini, Ummat Islam menghadapi horor serupa. Hanya pelakunya, yang tampak di permukaan, ialah polisi-polisi Muslim. (Siapa tahu kalau petugas Densus itu dibuka maskernya, akan kelihatan latar-belakang agama mereka).

Jadi intinya, ini adalah cerminan dari konflik ideologis yang sangat lama, antara kekuatan Islam, dengan Yahudi, musyrikin, dan kaum Nashrani. Ini sebenarnya bagian dari konflik ideologis yang sangat dalam. Hanya tidak tampak di permukaan. Di sisi lain, kelihatan sekali Ummat Islam tidak siap menghadapi badai fitnah seperti ini.

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa lil Muslimin, fid dunya wal akhirah. Allahumma amin.

AM. Waskito.


Kok Jadi Menghina Islam?

September 30, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak lama kita telah mengingatkan Ummat Islam bahaya aksi-aksi Densus 88. Hal ini sudah diingatkan berkali-kali, di berbagai media, termasuk di blog ini. Densus 88 sudah benar-benar membabi-buta dalam menjalankan wewenangnya untuk memberantas terorisme.

Bukan berarti kita tidak setuju dengan pemberantasan pelaku teror yang membuat onar di tengah masyarakat. Tetapi masalahnya: SATU, isu terorisme itu sendiri penuh rekayasa, bukan seperti kejadian teror yang benar-benar murni teror. DUA, banyak orang yang tidak bersalah, tidak tahu-menahu, atau baru sebatas dicurigai, telah menjadi korban pemberantasan terorisme yang membabi-buta. Pelaku terornya sendiri tetap aman, sementara kaum Muslim yang tidak berdosa menjadi korban.

Densus 88: “Membunuhi Orang Shalat, dengan Biaya APBN.”

TIGA, pemberantasan terorisme ini telah ditunggangi oleh semangat kebencian terhadap Islam, oleh sekumpulan anggota Polri dari unsur non Muslim, yang diasuh oleh Gorries Mere, selaku Ketua BNN. Menurut FUI, di tubuh Polri ada sebuah kelompok kecil beranggota 40-an orang, non Muslim semua, yang kerap beraksi membunuhi pemuda-pemuda Islam yang belum jelas kesalahannya di mata hukum. Pasukan itu kerap berlindung di balik nama Densus 88 untuk menghancurkan kehidupan pemuda-pemuda Islam tak bersalah dan keluarga mereka.

Kini terjadilah apa yang terjadi… Densus 88 dengan dukungan penuh Polri, mereka menembaki manusia yang sedang Shalat Maghrib. Katanya, orang-orang itu sedang memegang senjata, sedang hendak menyerang aparat keamanan. Padahal mereka ditembaki saat Shalat Maghrib di rumah. Betapa kejinya pernyataan -manusia terkutuk- Bambang Hendarso yang memfitnah manusia-manusia itu. Bahkan Yuki Wantoro, yang tidak tahu apa-apa tentang Perampokan Bank CIMB ikut difitnah juga, dan terbunuh disana. Masya Allah, mana lagi ada kebiadaban yang lebih keji dari itu? (Maka tidak berlebihan jika dikatakan, banyak dari pejabat-pejabat negara kita selama ini, bukan merupakan golongan manusia, tetapi golongan syaitan yang keji).

Sebenarnya, saat Densus 88 menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Banjar ketika itu, memecahkan mobil, membekuk sopir dan laki-laki dalam mobil itu, menangkap kaum wanita, bahwa menghardik Ustadz Abu Bakar dengan ucapan, “Kutembak kamu!” Ini adalah pelecehan, penghinaan, penistaan besar terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Dan kini terjadi lagi penistaan yang lebih biadab. Orang-orang sedang shalat ditembaki, beberapa dibunuh. Ustadz Khairul Ghazali dibatalkan shalatnya, lalu dijatuhkan, dan diinjak-injak pula. Allahu Akbar, mana lagi kezhaliman yang lebih besar dari kekejian manusia-manusia syaitan ini? Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Wahai kaum Muslimin, kami sudah lama mengingatkan Anda akan masalah ini. Sudah sering kami mengingatkan Anda, termasuk kami tidak peduli dengan nasib kami sendiri. Kami ingatkan bahaya besar kesewenang-wenangan seperti ini. Tetapi Anda sepertinya hanya menganggap biasa-biasa saja.

Al Qur’an dihina oleh Gusdur, Anda diam. Dakwah dan aktivis Islam terus-menerus difitnah oleh Kapolri dan jajarannya, Anda juga diam. Ustadz Ba’asyir ditangkap dengan cara-cara yang keji, Anda diam. Kini Densus 88 menyerang orang sedang shalat, -saya yakin- Anda pun akan diam kembali.

Lalu bagaimana nanti kalau ada yang menginjak-injak Al Qur’an? Bagaimana nanti kalau Nabi Saw dihinakan serendah-rendahnya? Bagaimana kalau ribuan Muslim dimurtadkan? Bagaimana kalau kekayaan kaum Muslimin di negeri ini terus dibawa ke luar negeri? Bagaimana kalau negerimu dihancurkan oleh koruptor-koruptor kelas kakap yang membawa kabur triliunan rupiah uang rakyat? Bagaimana kalau ribuan nasib saudari-saudarimu dilecehkan, dihina, dihukum mati, diperkosa di luar negeri? Anda pun -saya yakin- akan diam juga.

Kalau begitu, apa artinya Anda disebut sebagai Muslim? Apakah Islam sama sekali tidak berharga di mata Anda? Apakah yang paling penting dalam hidup ini adalah pekerjaan, gaji, karier, bisnis, title akademik, popularitas, hubungan seksual dengan wanita, punya anak lucu-lucu, punya aset banyak, diwawancarai media-media massa, terkenal di mata ibu-ibu dan kaum wanita? Apakah yang seperti itu yang Anda anggap paling penting dalam hidup ini? Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kita harus punya rasa malu, wahai Saudaraku! Kita harus punya rasa malu. Malu-lah hidup bemandi kesenangan, sementara keimanan Anda sangat tipis, rasa pembelaan Anda kepada Islam sangat krisis, rasa solidaritas Anda kepada sesama Muslim sangat kecil. Malu-lah, malu-lah, malu-lah, malu-lah, malu-lah…

Rasulullah Saw mengatakan, “Unshur akhaka zha-liman au mazh-luman” (tolonglah saudaramu yang zhalim dan terzhalimi). Maksud menolong saudara yang zhalim, ialah mencegah dia dari perbuatan zhalim itu.

Densus 88 atau Polri selama ini telah amat sangat sering menzhalimi pemuda-pemuda Islam. Begitu enaknya mereka menuduh orang lain sebagai teroris, atas dasar persepsi sendiri, atas dasar segala bentuk rekayasa. Tidak terhitung, betapa banyaknya keluarga Muslim, isteri-isteri, dan anak-anak mereka teraniaya karena tuduhan sebagai bagian komplotan teroris. Tetapi kita sendiri selama ini tidak ada niatan untuk menghentikan semua kezhaliman itu. Kita biarkan saja selama ini Densus 88, Bambang Hendarso -semoga Allah melaknat dia dan keluarganya-, Polri, TVOne dan MetroTV, terus-menerus menzhalimi kita semua. Betapa banyak orang-orang tak bersalah menjadi korban semua rekayasa terorisme ini.

Di Amerika sendiri, yang disebut sebagai boss-nya perang anti terorisme, mereka sudah mengendurkan ketegangan seputar isu terorisme ini. Padahal mereka telah kehilangan WTC, ribuan manusia tewas, miliaran dollar aset ekonomi hancur (yang tentu saja, peledakan WTC itu bukan dilakukan oleh Usamah Cs). Sedangkan di Indonesia, isu terorisme menjadi “penyakit menular” yang tidak sembuh-sembuh sejak lama.

Kita harus berusaha mengakhiri semua kezhaliman ini. Jangan lagi ada kaum Muslimin yang teraniaya secara sewenang-wenang. Rasulullah Saw mengingatkan, “Fattaqu zhulma, fa inna zhulma zhulumatun fid dunya wal akhirah” (takutlah kalian akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu merupakan kegelapan di dunia dan akhirat). Kurang lebih seperti itu kata Nabi (mohon maaf bila ada lafadz yang tidak tepat).

Kalau sekarang anak buah Gorries Mere bisa membunuhi manusia saat sedang shalat. Suatu saat, mereka akan menembaki orang-orang yang sedang shalat jamaah di masjid. Suatu saat, mereka akan memerangi Islam dan kaum Muslimin, atas nama “perang melawan terorisme”. Adapun orang-orang terlaknat seperti Bambang Hendarso dan sejenisnya, mereka akan sangat mudah mencarikan dalil untuk melegalkan perang atas Islam ini. Mereka akan mencari dalil-dalil agar pemuda-pemuda bisa terus diperangi, dengan biaya APBN.

Aku telah mengingatkanmu, wahai Saudaraku! Inilah sebatas tanggung-jawab yang mampu kupikul. Selebihnya adalah tanggung-jawab Anda sendiri sebagai seorang Muslim yang masih menghargai agamanya. Bila agama itu sudah tak berharga di mata Anda, silakan lakukan apapun yang Anda sukai!

Ya Allah, ya Rahiim, ya Aziz, ya Ghafurr…kasihilah kami, sayangilah kami, sayangilah Ummat Muhammad ini. Bila Engkau tidak menolong kami dalam menolak kezhaliman manusia-manusia berhati syaitan, tentulah kami akan semakin tercerai-berai, agama-Mu semakin ternista, pemuda-pemuda kami akan terus teraniaya, wanita-wanita kami dan anak-anak kami, akan terus dicekam ketakutan, orangtua-orangtua kami akan menangis tidak berdaya. Ya Rahiim ya Aziz, tolonglah kami ya Allah, lindungi kami ya Mannan, belalah kami ya Jabbar.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Joinus)


Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

Mei 13, 2010

Entahlah, dengan apa lagi kita hendak berkomentar? Sudah terlalu banyak kecaman, kritikan, keprihatinan, sekaligus kecewa dialamatkan kepada Densus 88 atas semua operasi-operasi yang mereka sebut sebagai “pemberantasan terorisme”. Tetapi Densus 88, yang sebagian besar personelnya direkrut dari Brimob Polri itu, seperti korp yang tidak memiliki mata dan telinga. Semua kritikan seolah mereka buang begitu saja ke tong sampah. Sangat menyedihkan!

Belum lama lalu KH. Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbahnya di Bekasi, beliau mendoakan agar Densus 88 dilaknat oleh Allah karena penangkapan beberapa orang anggota Jamaah Anshorut Tauhiid (JAT). Tetapi hari kemarin (12 Mei 2010) Densus menggerebek dua lokasi di Cikampek dan Cawang Jakarta Timur. Hasilnya, 5 orang pemuda Islam tewas diterjang peluru-peluru Densus 88. Hari ini, 13 Mei 2010, Densus melakukan lagi penggerebekan di Baki, Sukoharjo Solo. Hasilnya, dua orang pemuda Islam diringkus.

Kalau dikaitkan dengan seluruh operasi Densus 88 sejak era Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, sudah ada puluhan pemuda Islam tewas di tangan Densus, dan ratusan lagi ditangkap, lalu dijebloskan ke penjara. Belum lagi nasib keluarga-keluarga dari pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Mereka hidup terlunta-lunta kehilangan suami, ayah, kakak-adik, anak, dan lainnya. Hal seperti ini akan menjadi “bom waktu” yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia ke depan.

Dari forum diskusi di internet tersebar data, bahwa sejak Barack Obama menjadi Presiden AS, mereka tidak lagi mendukung operasi anti teroris di Indonesia, secara politik maupun finansial. Justru dukungan itu muncul dari Australia yang berkepentingan untuk merawat “isu pemberantasan teroris” ini. Tidak mengherankan jika SBY mengumumkan kematian Dulmatin, justru di hadapan PM dan anggota Parlemen Australia. Jadi kasus ini semacam “over kontrak” dari Amerika ke Australia.

Sangat tepat sebuah kalimat yang dikatakan terkait dengan agenda “pemberantasan teroris” ini. Dengan munculnya kasus-kasus teroris ini: “Pihak tertuduh teroris mendapat promosi gratis, pihak media dapat berita, dan polisi dapat dana.” Jadi seperti lingkaran setan. Baik media maupun polisi merasa diuntungkan dengan munculnya isu-isu terorisme ini. Dan sayangnya, masih banyak orang yang “mencari makan” dengan jalan jualan isu setan. (Kalau di TV, ini serupa acara “alam ghaib” begitulah. Hanya berbeda kontennya).

Apa yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini mencerminkan sikap-sikap yang sangat zhalim. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan:

(=) Densus selalu melakukan tindakan penggerebekan. Artinya, menangkap sasaran dengan jalan kekerasan, tanpa prosedur sebagaimana lazimnya operasi kepolisian. Dari penggerebekan ini mereka kerap melakukan hal-hal zhalim antara lain: menangkap orang dengan asumsi sendiri, membunuh sasaran di tempat, menyita barang-barang milik sasaran tanpa ampun, bahkan menyegel lokasi sasaran.

(=) Densus tidak mengenal istilah second opinion (opini pembanding). Mereka hanya menggunakan asumsi-asumsi intelijen sesuai pandangan mereka sendiri. Bahkan second opinion ini seperti barang HARAM dalam kasus terorisme. Sehingga sangat berpeluang melahirkan praktik hukum rimba. Siapa yang pegang senjata, dia berkuasa.

(=) Jarang sekali dilakukan upaya-upaya hukum, persuasi, dialog, terhadap sasaran-sasaran yang dibidik Densus 88. Seolah, pemuda-pemuda suspect teroris itu, mereka bukan warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlakuan hukum yang sama.

(=) Perlakuan yang sungguh berbeda diperlihatkan oleh Polri (khususnya Densus 88) terhadap gerakan OPM di Papua dan RMS di Ambon-Maluku. Gerakan politik mereka, bahkan gerakan militer, tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Bukan sekali dua kali OPM di Papua melakukan serangan dengan memakai senjata-senjata organik. Tetapi lihatlah, apakah Polri sangat bernafsu menyebut OPM dan para pengikutnya sebagai gerakan teroris. (Sebuah tulisan bagus ditulis Amran Nasution di situs hidayatullah.com, Suara dari Alam Kubur. Di bagian-bagian akhir ulisan itu dijelaskan, bahwa definisi teroris hanya berlaku bagi pemuda-pemuda Islam saja).

Benar yang dikatakan oleh Susno Duadji dalam wawancara dengan Suara Islam, institusi kepolisian bisa menjadi lembaga “super body” yang sewenang-wenang. Mereka adalah aparat dengan jumlah personil sekitar 320 ribu, dipersenjatai, berhadapan langsung dengan masyarakat sipil. Sementara, TNI pasca Reformasi seperti “macan ompong” yang tidak memiliki pengaruh politik apapun.

Operasi-operasi Densus 88 yang pekat berisi kezhaliman sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Operasi seperti itu akan menyuburkan benih-benih INSTABILITAS yang sangat luas di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kalangan pemuda-pemuda yang dituduh teroris dan keluarga mereka, tetapi juga gerakan-gerakan anti kemapanan lain yang sejak lama menginginkan kehancuran Indonesia. Mereka akan merasa mendapat dukungan tidak langsung, merasa senasib sepenanggungan, merasa menghadapi musuh yang sama, yaitu aparat kepolisian. Siapapun yang pernah disakiti atau dirugikan oleh kepolisian lambat-laun akan merasa di pihak suspect teroris.

Kalau pemuda-pemuda Islam itu berani berhadapan face to face dengan aparat kepolisian, hal ini akan memantik semangat kalangan anti aparat untuk berani juga seperti mereka. Lama-lama Indonesia ini akan penuh dengan konflik antara sipil-kepolisian, lalu hal itu menjadi “kebudayaan nasional”.

Dan kelak masyarakat umum akan merasa terbiasa dengan suasana militer. Mereka terbiasa mendengar istilah revolver, FN, M16, AK47, rompi anti peluru, dsb. Jika sudah terbiasa, mereka akan mencoba. Dan selanjutnya, Densus 88 akan menjadi “pahlawan besar” bagi kehancuran NKRI ini.

Kalau mau jujur, yang membedakan antara Densus 88 dengan para pemuda yang dituduh teroris tu, hanya satu saja: akses senjata! Hanya itu saja. Artinya, penghalang bagi pemuda-pemuda itu untuk melakukan perlawanan yang seimbang terhadap Densus 88 hanya tinggal masalah senjata. Ini adalah situasi yang SANGAT mengkhawatirkan. Kalau nanti mereka telah mendapat akses senjata, tidak terbayangkan bagaimana situasi kehidupan Indonesia nanti? Beda aparat Densus dengan pemuda-pemuda itu tipis sekali. Mereka sama-sama terlatih dalam suasana kombatan, hanya soal fasilitas yang berbeda.

Inilah situasi yang sebenarnya sejak lama diingatkan oleh tokoh-tokoh Islam. Sejak Bom Bali I dulu, aparat diminta bersikap jujur, adil, dan tidak semena-mena. Tetapi sampai detik ini, kita sudah sama-sama tahu kondisinya. Ya, tanpa disadari bangsa kita telah melahirkan kekuatan anti aparat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kalau dulu, para tertuduh teroris sering memakai bom, maka kini mereka sudah bicara tentang senjata organik dan latihan-latihan militer.

Lalu apa yang menakutkan di balik semua ini? Ya, nanti Indonesia bisa bernasib seperti Pakistan. Pakistan hari ini adalah negara yang telah DISANDERA oleh gerakan-gerakan milisi anti Pemerintah. Gerakan Thaliban telah menyebar ke seluruh penjuru Pakistan, mereka face to face dengan militer Pakistan. Aksi-aksi kekerasan berlangsung hampir setiap saat. Mungkin, situasi seperti itulah yang ingin diciptakan oleh Polri dan Densus 88.

Jangan pernah bermimpi Densus 88 atau Polri akan sanggup memberantas gerakan anti Pemerintah (terorisme) sampai ke akar-akarnya. Ini hanya lamunan kosong, seperti mimpi di siang hari. Dalam sejarah gerakan-gerakan kekerasan dimanapun, hatta di Inggris, Spanyol, Srilangka, India, Pakistan, bahkan di Amerika; tindakan-tindakan repressif tidak banyak berguna mengatasi gejolak dan kekerasan. Semakin banyak operasi militer digelar oleh Polri, semakin subur benih-benih kekerasan itu tumbuh.

Bangsa Amerika setelah 10 tahunan berada dalam komando war on terrorism, di bawah kendali George Bush, mereka kini berada dalam krisis multi dimensi yang sangat menyakitkan. Barack Obama seperti harus membersihkan banyak sampah yang ditinggalkan oleh Bush. Itulah hasil dari perang melawan teroris yang digelar dengan penuh kecurangan, dusta, dan kesewenang-wenangan. Tampaknya, Indonesia ingin meng-copy pengalaman yang sama. Bila operasi Densus 88 selama ini mendapat sokongan dana asing, maka kelak kita akan membiayai “pemberantasan teroris” dari APBN atau APBD. Ketika itu, antara konflik dan kemiskinan, akan menjadi wajah sehari-hari Indonesia.

Akhirnya, saya menyarankan kepada media-media massa, khususnya TVOne dan MetroTV, agar mereka berhenti “mencari makan” dengan menjual isu-isu terorisme itu. Kelak dampaknya akan kita jumpai, ketika Indonesia menjadi negara yang sangat INSTABIL karena terus direcoki konflik massif antara sipil dan aparat.

Fa’tabiruu ya ulil albaab! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal!

AMW.


Ironisme Serangan di Temanggung

Agustus 10, 2009

Seorang Presiden di suatu negara, mengaku terus mencermati perkembangan penggerebekan teroris di Beji, Kedu, Temanggung (ada pengamat yang salah mengatakan, Tumenggung). Setelah aksi selesai, Presiden itu secara secara resmi memberikan pujian atas keberhasilan operasi anti teror di Temanggung.

Justru disini kita saksikan sebuah IRONI besar. Bayangkan, operasi yang digelar itu sangat hebat. Sampai dua stasiun TV menayangkan “Breaking News” atas operasi itu selama seharian penuh, bahkan lebih. Tajuknya juga bukan main, “Memburu Norrdin M. Top”. Tetapi ternyata yang dikepung selama 18 jam dengan segala teknik anti teror itu, hanya satu orang teroris. Itu pun tidak yakin, bahwa dia adalah Noordin M. Top. Sampai ada pengamat yang mengatakan, korban satu orang di Temanggung itu “Noordin yang tidak top”. Ini ironi sangat besar atas operasi satuan khusus anti teror, Densus 88.

Mari kita lihat masalahnya:

[o] Siapa yang mengatakan, bahwa teroris yang ada di rumah itu ada 3, 4, atau 5 orang? Ternyata, setelah tuntas digerebek, korban tewas hanya 1 orang saja? Atas laporan siapa di rumah itu ada 3 atau 4 orang teroris?

[o] Siapa yang mengatakan, bahwa tersangka yang berada di rumah itu adalah Nordin M. Top? Dalam berita TV, otak ratusan juta penduduk Indonesia benar-benar didoktrin agar percaya, bahwa sosok yang diserbu di Temanggung itu adalah Noordin. Dalam running text TV sampai disebutkan pernyataan suatu sumber: Noordin dipastikan tewas!

[o] Operasi yang digelar Densus 88, amat sangat hebat. Bisa disamakan dengan operasi-operasi satuan elit Amerika, seperti dalam film-film Hollywood. Jumlah pasukan yang diturunkan banyak, disebar di berbagai sisi rumah, termasuk yang berada di perbukitan. Mereka melakukan serangan berupa tembakan, lemparan bom, mengerahkan robot untuk mengetahui keadaan di rumah, memakai tameng, termasuk memakai galah dari bambu (nah kalau alat yang terakhir ini, bolehlah dianggap “kurang keren”). Bahkan ada panser, mobil ambulan, dan mobil-mobil biasa dikerahkan, sebagai persediaan. Belum lagi melihat perlengkapan yang dipakai anggota Densus. Ciamik, sudah keren, lengkap pula man! Sampai untuk berjalan saja, anggota Densus agak kaku, karena begitu banyaknya alat-alat ditubuhnya. Tapi anehnya, teroris yang dikepung cuma satu orang.

[o] Hal yang sulit dipahami, adalah kerusakan rumah milik Pak Mozahri itu. Rumah itu rusak parah, baik bangunan fisiknya, maupun isi dalamnya. Bantal, piring-piring, kasur, pakaian, dll. hancur berantakan. Kasihan amat. Padahal itu adalah rumah orang-orang tua, pensiunan guru. Dalam pengakuannya, isteri Pak Mozahri sangat membantah fitnah yang beredar selama ini. Terutama fitnah yang disebarkan oleh media-media massa dan aparat polisi. Dia mengatakan, bahwa laki-laki yang diserbu Densus 88 itu orangnya pendiam, datang sebagai tamu, tidak banyak bicara. Dia datang sekedar untuk bertamu sementara. Rumah itu milik orang miskin, dan saat ini hancur tidak karuan, karena kehebatan peluru-peluru dan bom yang mengenainya.

[o] Lokasi rumah Mozahri itu secara pendekatan militer, sangat “terbuka”. Dia terpisah dari masyarakat sekitar. Di sekelilingnya sawah dan kebun tembakau. Di belakang ada bukit. Jadi, lokasi demikian akan sangat menyulitkan bagi teroris untuk meloloskan diri. Justru hal itu akan sangat memudahkan pasukan keamanan beraksi.

[o] Mengapa aparat polisi mengijinkan aksi Densus 88 itu ditayangkan secara live oleh dua stasiun TV, MetroTV dan TVONe? Andai itu benar-benar operasi dengan tingkat sekuritas tinggi, apa salahnya bernegosiasi dengan pihak TV agar tidak membuat ekspose berlebihan. Sebab efek publiknya sangat dahsyat. Selain kita seperti disuguhi “adegan film Hollywood”, berita-berita seputarnya juga simpang-siur. Nah, semua ini kan akhirnya membingungkan masyarakat luas. Masak dalam situasi sensitif masyarakat selalu disuguhi berita-berita peperangan?

[o] Banyak pengamat bertanya-tanya, mengapa di dalam rumah Mozahri itu, pasca serangan intensif dilakukan, hanya ditemukan sedikit bercak darah? Sebenarnya, apa yang terjadi disana? Kalau memang seperti diberitakan selama ini, bahwa telah terjadi serbuan intensif, bahkan aksi tembak-menembak seru, tentu bercak darah yang berceceran akan mudah ditemukan dimana-mana.

Sebagian orang mengklaim, serangan di Temanggung itu suatu prestasi besar. Sampai seorang Presiden sebuah negara memujinya. Tapi bagi yang melihatnya secara kritis, pasti akan ragu. Bayangkan, hanya untuk mematikan seorang teroris di sebuah rumah, harus dikerahkan operasi besar-besaran. Belum lagi, operasi itu ditayangkan secara live oleh stasiun TV di Indonesia selama 24 jam atau lebih.  Ini kan sama seperti ungkapan, “Menembak merpati dengan rudal Scud.” Antara target dan kekuatan operasi yang dikerahkan (plus publikasinya) sangat tidak sebanding.

Dan sangat disayangkan, pemberitaan TVOne. Ketika membahas tentang bom di Jatiasih Bekasi. Redaksi TVOne terus-menerus mendoktrin masyarakat, bahwa bom itu disiapkan untuk diledakkan di kediaman Presiden di Cikeas. Berkali-kali hal itu disampaikan, sampai kita menyimpulkan, TVONe ini mau menjadi jubir kepresidenan. Anehnya, tidak disebutkan bukti-buktinya, atau argumentasinya bahwa bom Jatiasih mau diarahkan ke Cikeas.

Lebih konyol lagi, ada yang membuat analisa. Rumah di Jatiasih itu menghadap ke Cikeas. Ya Allah ya Rabbi, apa hubungannya rumah itu menghadap ke Cikeas? Apakah para teroris memiliki rudal atau pelontar bom yang cukup menjangkau jarak 5 km? Sejak kapan para teroris memakai senjata rudal? Woow, hebat banget.

Dapat disimpulkan, dalam beberapa hari terakhir, otak masyarakat Indonesia benar-benar dibuat bingung oleh berita-berita TV. Dibuat bingung oleh klaim kepolisian, dibuat bingung oleh pendapat pengamat yang tumpang tindih, dibuat bingung oleh aksi-aksi terorisme itu sendiri.

Yo wis lah, memang hal ini yang diinginkan rakyat Indonesia. Ya, silakan saja dinikmati.

Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari gelap gulita fitnah yang menimpa diri sendiri, keluarga, dan kaum Mukminin. Ya Allah selamatkanlah kami, selamatkanlah kami, lindungi kami, beri petunjuk dan ampunan kami. Allahumma amin ya Karim.

AMW.