Islam dan Ideologi Kebebasan

November 24, 2010

ARTIKEL 10:

Salah satu alasan yang membuat bangsa Indonesia membenci Syariat Islam ialah: ideologi kebebasan. Sebagian orang sangat membenci Syariat Islam, karena Syariat dianggap membelenggu kebebasan, dianggap memasung kesenangan manusia, dianggap memenjara kreativitas manusia.

Mereka berkata, “Kalau Syariat Islam dilaksanakan, wah habislah kita. Syariat terlalu banyak ngatur. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Ini haram, itu haram! Disini haram, di sono haram. Hidup isinya haram-haraman melulu. Sangat membosankan, tidak enjoy, tidak ada kebebasan. Kita tak bisa seneng-seneng. Semua orang ngomong akhirat melulu, amal shalih melulu, kematian melulu. Huuh, betapa boring hidup seperti itu!” Begitu suara-suara mereka saat memfitnah Islam. Di mata orang-orang ini, peradaban Islam isinya hanya: Shalat, mengaji, dan khutbah. Kasihan sekali.

Dedengkot kaum Liberal, Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan, bahwa Indonesia lebih baik tetap menganut sistem sekuler, “Sebab sistem itu bisa mewadahi energi keshalihan dan energi kemaksiyatan sekaligus.”

Robot Pun Teler Karena Hedonism. It's Very High Risk and Cost. You know...

Banyak orang percaya kalau Syariat Islam diterapkan, tontonan TV akan dilarang (padahal tidak ada larangan ke arah itu); cabang-cabang olah-raga akan dilarang (padahal Islam menganjurkan olah-raga seperti memanah, berenang, menunggang kuda, beladiri); katanya nanti kaum wanita akan dikurung di rumah, di sel di rumah, tidak boleh keluar rumah, sejak lahir sampai mati (padahal dulu di jaman Nabi, kaum wanita Muslimah ikut terlibat membantu peperangan); nanti kalau makan cuma dengan korma, minyak, dan garam saja (padahal tidak ada larangan mau membuat produk kuliner sehebat apapun, asalkan tidak mengandung barang haram, tidak menyia-nyiakan makanan, dan tidak berlebihan); nanti semua orang diawasi polisi Syariat, kalau ketahuan ada yang tidak shalat sekali saja, akan langsung digantung sampai “tujuh turunan” (padahal di jaman Nabi ada orang-orang munafik yang lebih kufur dari sekedar meninggalkan shalat, tetapi mereka tidak diberi sanksi); kalau Syariat tegak, katanya semua produk teknologi akan disingkirkan, diganti teknologi onta, pedang, lampu minyak, dan pundi-pundi untuk menyimpan uang (faktanya, Masjidil Haram saat ini banyak sekali mengadopsi teknologi canggih yang di Indonesia saja belum diterapkan). Dan lain-lain gambaran buruk.

Syariat Islam itu berkah, ajaran suci, kasih-sayang, martabat, integritas, bahkan sumber kejayaan masyarakat. Tidak ada dalam Syariat ini yang buruk-buruk. Syariat Islam tidak boleh dipandang dengan kacamata buruk, seperti umumnya pandangan orang-orang sekuler, Barat, dan Zionis. Mereka memandang Syariat dengan sangat buruk, hanya karena kedengkian hati mereka, untuk menjelek-jelekkan Islam itu sendiri. Semakin mereka membenci Islam, semakin kelihatan kalau hati mereka ketakutan dengan kekuatan Islam sebenarnya.

PROSES BERTAHAP

Untuk melaksanakan Syariat Islam, selalu bertahap, tidak serta-merta diubah dalam sekejap. Hal itu pula yang dilakukan oleh Nabi Saw ketika melaksanakan Syariat di Madinah. Nabi Saw pun ketika memerintahkan Muadz bin Jabal Ra. ke Yaman, beliau memerintahkan agar Islam diterapkan secara bertahap. Bahkan Aisyah binti Abu Bakar Ra, pernah mengatakan, “Kalau saja larangan tentang minuman keras tidak turun secara bertahap, niscaya aturan itu tidak akan dipatuhi warga Madinah.” Kondisi-kondisi riil di Indonesia dengan segala karakter dan tabiat masyarakatnya, bisa menjadi pertimbangan saat menerapkan Syariat Islam.

Baca entri selengkapnya »

Iklan