Dimanakah Keadilan: Kunjungan Kerja Anggota DPR ke Luar Negeri dan Megaskandal Inefisiensi Dahlan Iskan di PLN?

Desember 4, 2012

PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di Berlin Jerman membuat Ketua DPR, Marzuki Ali, marah. Pasalnya, mereka mengunggah video berisi kunjungan kerja (kunker) anggota Badan Legislasi DPR ke situs Youtube. PPI Jerman menilai kunjungan anggota DPR itu salah alamat.

Kunjungan kerja anggota DPR ke luar negeri sering jadi sasaran tembak para jurnalis media, baik media cetak, media online, maupun media TV. Acara kunker itu sering dianggap buang-buang anggaran negara; tidak efektif menghasilkan manfaat; hanya menjadi ajang pelesir pejabat negara saja. Kritik seperti ini tidak salah, wong memang ada faktanya. Di antara anggota DPR itu memang ada yang kemaruk. Mungkin, mereka jarang ke luar negeri atau jarang pelesir, sehingga ketika ada kesempatan, tidak mau disia-siakan untuk shopping ria.

No Justice, No Peace.

No Justice, No Peace.

Tapi satu hal yang membuat miris adalah sikap keadilan masyarakat Indonesia. Mereka begitu nafsu menyerang anggota DPR dengan alasan “telah memboroskan uang negara”. Tetapi pada saat yang sama, mereka lupa (atau pura-pura lupa) dengan MEGA INEFISIENSI di PLN senilai 37,6 triliun rupiah saat Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN tahun 2009-2010.

Kita benar-benar tidak mengerti, mengapa masyarakat dan para aktivis cenderung diam melihat Mega Inefisiensi yang merugikan negara hingga 5 kali Megaskandal Bank Century itu? Ada apa dengan bangsa ini? Mereka begitu ribut dengan kunker anggota DPR ke luar negeri yang memakan biaya ratusan juta atau miliar rupiah; tetapi lupa dengan pemborosan yang dilakukan Dahlan Iskan hingga mencapai 37, 6 triliun. Media-media seperti MetroTV, TVOne, Kompas, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, majalah Tempo, koran Tempo, koran Sindo, Detiknews.com, Vivanews.com, dll. seolah sepakat “tutup mulut” terhadap Mega Inefisiensi di PLN itu.

Dana PLN senilai 37,6 triliun itu jelas sudah hilang, sudah terboroskan sedemikian rupa untuk membeli BBM selama 2009-2010. Mestinya, dana sebesar itu bisa diselamatkan, tidak dihambur-hamburkan untuk membeli BBM yang lebih mahal.

Mari kita lihat masalahnya…

[1]. Kerugian akibat tindak korupsi senilai 5 miliar rupiah, hal ini sama akibatnya bagi kerugiannya anggaran negara dalam kasus pemborosan anggaran senilai 5 miliar rupiah. Kalau kasus korupsi ada unsur delik pidananya, kalau pemborosan ada unsur kesalahan penggunaan uang negara. Tetapi akibatnya sama, sama-sama merugikan keuangan negara.

[2]. Anda paham apa yang dimaksud dengan mark up anggaran? Unsur apa yang membuat mark up anggaran itu merugikan keuangan negara? Ya benar, ia adalah unsur PEMBOROSAN anggaran negara.  Misalnya, untuk membangun sebuah jembatan diperlukan biaya riil senilai 2 miliar rupiah; tetapi setelah di-mark up ia menjadi 6 miliar rupiah. Nah, disini ada pemborosan anggaran negara hingga 4 miliar rupiah. Apa yang dilakukan Dahlan Iskan di PLN selama 2009-2010 itu mirip dengan modus mark up anggaran ini. Tetapi nilai kerugiannya bombastik, hingga 37,6 triliun rupiah.

[3]. DPR pernah dikecam beramai-ramai oleh MetroTV, TVOne, Kompas, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, dll. dalam soal pembangunan fasilitas gedung Banggar (Badan Anggaran). Ketika itu, pembelian fasilitas gedung tersebut, seperti kursi, meja, lampu, interior, toilet, dll. dianggap sangat boros; sehingga meja-kursi yang sudah dibeli terpaksa dikembalikan. Mengapa upaya DPR waktu itu dikecam media-media massa? Alasannya karena PEMBOROSAN. Lalu kini media-media itu seperti TUTUP MULUT dan TUTUP MATA atas Mega Inefisiensi di tubuh PLN sewaktu Dahlan Iskan sebagai Dirut-nya. Padahal kerugian negara disana mencapai 37, 6 triliun. Jelas media-media itu telah menunjukkan kualitas jurnalisme amoral. Tidak ada timbangan keadilan dan pembelaan sejati kepada kepentingan rakyat Indonesia.

[4]. Antara Dahlan Iskan dan anggota DPR memiliki beberapa kesamaan. Anggota DPR adalah pejabat negara, karena dipilih rakyat. Dahlan Iskan adalah pejabat BUMN, perusahaan milik negara (kini jadi Meneg BUMN). Baik DPR maupun Dahlan Iskan, sama-sama mengelola anggaran negara. Dahlan Iskan membeli BBM untuk menggerakkan produksi listrik; sementara anggota DPR melakukan kunjungan kerja ke luar negeri mengikuti jadwal dinas resmi lembaga Parlemen, dengan tujuan resmi yang telah ditetapkan. Baik Dahlan maupun DPR bisa terkena tuduhan menghambur-hamburkan anggaran negara. Bedanya, pemborosan anggaran untuk kunker DPR, masih dalam batas-batas yang bisa dipahami; tetapi pemborosan oleh Dahlan Iskan amat sangat besar, hingga 37,6 triliun rupiah. Kalau seluruh anggaran untuk kunker kerja DPR ke luar negeri, sejak era Orde Baru hingga sekarang, kalau ditotal semua mungkin tidak mencapai 30 triliun rupiah. Tetapi Dahlan Iskan, hanya dalam waktu 2009-2010, telah memboroskan anggaran PLN hingga 37,6 triliun rupiah. Dalam hal ini mungkin Dahlan Iskan termasuk pejabat paling mengerikan di Indonesia.

Bukan berarti kita menoleransi kebiasaan buang-buang duit oleh DPR untuk kunker yang tidak efektif itu. Tetapi kita mempertanyakan akal sehat dan sifat keadilan masyarakat (termasuk para mahasiswa Indonesia di luar negeri)? Kita ini masih berakal atau tidak sih? Bisakah Anda merasakan betapa zhalimnya kepemimpinan Dahlan Iskan di PLN sehingga merugikan keuangan BUMN hingga 5 kali nilai Megaskandal Bank Century itu; sementara untuk membeli pulsa prabayar (dari Telkomsel misalnya) rakyat tidak boleh ngutang meskipun hanya 5 ribu rupiah saja?

Jika kita diam saja atas semua kenyataan ini, lalu dimana keadilan wahai kawan? Ingat bagaimana media-media massa telah menyerang DPR dalam kasus pembangunan fasilitas gedung Banggar! Lalu dimana mereka di hadapan megaskandal inefisiensi PLN oleh Dahlan “Is Can”? Ingat, kerugian akibat korupsi  senilai 5 miliar sama dengan kerugian akibat pemborosan keuangan BUMN senilai 5 miliar; keduanya sama-sama merugikan keuangan negara!

Mine.


Siapa Mau Poligami, Nikahi Saja Janda Tua, Sudah Nenek-nenek…

April 4, 2012

Rehat Sejenak Ya... Santai Dikitlah...

Di sebuah negeri yang katanya Muslim, tapi poligami dimusuhi. Di sono ada yang gething (benci banget) ke poligami, tapi juga ada yang nafsu banget. Ada yang sentimen, ada yang candanya “poligami melulu”. Ada yang “sok jantan” di depan kawan-kawan, tapi klepek-klepek di hadapan isteri (baca: Susis tentu).

Ada yang cepet bosen ke isterinya; kalau taklim yang dibahas Surat An Nisaa’ ayat 3 melulu. Tapi ada juga yang selalu cari-cari dalih untuk menolak poligami, dengan alasan “kami ini ahli tauhid” (baca: isteri hanya satu). Ya begitu deh…

Singkat kata, disana ada seorang ustadz muda…(tapi cerita ini bukan beneran lho ya, cuma humor rekaan saja)…dia sering berceramah masalah-masalah agama. Dia bisa membahas masalah tauhid, fiqih, ibadah, muamalah, adab, politik, jihad, dan lainnya. Tapi yang unik, di setiap ceramahnya dia selalu menyelipkan ajakan melakukan ta’addud zaujat (poligami atau poligini yang tepatnya). Mungkin hal itu sudah menjadi ciri kali ya, sehingga dia digelari  “ustadz poligami”. Padahal dia juga belon praktek.

Lama-lama banyak ibu-ibu mulai kasak-kusuk. Mereka berusaha menggalang kekuatan dengan menggandeng para gadis dan remaja putri. Mereka sepakat membentuk Setgab Koalisi “Anti Poligami” (disingkat SEKAP). Mereka berkali-kali mengadakan sidang komisi, lobi-lobi, menyusun rencana untuk mematahkan argumen “ustadz poligami”. Singkat kata, mereka telah mendapat alasan sangat kuat yang diyakini bisa membantah ceramah si ustadz.

Suatu hari saat pengajian “ustadz poligami” membahas masalah kenakalan remaja. Ibu-ibu yang biasanya sewot, tetapi waktu itu mereka malah nunggu-nunggu momen supaya si ustadz masuk ke masalah poligami. Setelah ditunggu-tunggu kok belum juga dibahas. Akhirnya salah seorang ibu, mungkin ini semacam “juru bicara fraksi” langsung angkat bicara.

Ibu Rosida: “Tolong Ustadz, tidak pake muter-muter! Langsung saja bahas poligami! Ustadz mau belok kesitu kan? Kami sudah menunggu dari tadi.”

Si ustadz tentu kaget. Biasanya ibu-ibu sangat sewot, kok hari itu malah kelihatan “nafsu”. Dia terheran-heran, kalau tidak mau dibilang curiga. Tapi sudahlah, karena jurus ustadz sudah ketahuan, ya dengan “berat hati” dia masuk bahasan poligami.

Ustadz: “Jadi Ibu-ibu, poligami itu sunnah Rasul. Namanya perbuatan sunnah, kalau dilakukan berpahala, kalau tidak dilakukan tidak apa-apa. Ya, zaman sekarang kan banyak godaannya. Daripada berzina yang haram, kan mending poligami saja yang halal.”

Ibu Naila: “Jadi poligami sunnah ya?”

Ustadz: “Ya betul Bu Naila. Itu sunnah. Kalau dilakukan ikhlas dan penuh tanggung-jawab, insya Allah sakinah, mawaddah, wa rahmah. Begitu Bu.”

Ibu Yulia: “Ustadz ada niat melakukan poligami?”

Ustadz: “He he he… Ya Ibu-ibu kan tahu sendiri, saya cuma segini-gininya. Rumah saja masih ngontrak, belum ada kerja yang jelas. Tapi soal poligami, saya ingin sekali.”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuuuuu….pakai berbelit-belit segala.”

Ibu Farida: “Apa alasan Ustadz mau poligami?”

Ustadz: “Ikut sunnah Rasul!”

Ibu-ibu kompak: “Yang bener?”

Ustadz: “Bener! Sumpah Bu! Niatnya ikut Sunnah. Tak kurang tak lebih.”

Ibu Yasmin: “Kalau begitu Ustadz ikuti cara poligami Rasul?”

Ustadz: “Maksud Ibu?”

Ibu Yasmin: “Kalau mau nyontoh Rasul, ya ikuti cara Rasul. Ustadz sana cari nenek-nenek tua, nenek lansia yang sudah tua dan reyot. Silakan Ustadz nikahi dia. Mau gak?”

Disambut tepuk-tangan para jamaah pengajian. Ustadznya sendiri kelihatan bingung tidak karuan. Ibu-ibu tambah semangat melakukan serangan.

Ibu Hani: “Tetangga saya, ada nenek tua. Namanya Mbok Inah. Usianya sudah 70 tahun. Dia janda selama 30 tahun. Gimana Ustadz mau? Nanti saya kenalkan dengan Mbok Inah.”

Ibu Dania: “Benar ustadz. Kalau Ustadz setuju nikah dengan Mbok Inah, kami yang akan biayai semua keperluan pernikahannya. Ustadz tak usah keluar biaya apa-apa. Bagaimana Ustadz?”

Ibu Fajriyah: “Bagaimana Ustadz, masih mau mengikuti Sunnah Rasul?”

Tampaknya Pak Ustadz tidak bisa menjawab apa-apa. Mukanya merah menahan malu, wajahnya tertunduk. Apalagi dia semakin ditertawakan ibu-ibu.

Saat kondisi sangat genting itu, tiba-tiba seorang kakek-kakek, dengan suara tidak jelas (khas kakek-kakek) mengajukan pertanyaan.

Kakek: “Pak ustadz, bagaimana hukumnya mandi besar bagi kakek-kakek?”

Pertanyaan ini seketika mengundang tawa para jamaah pengajian. Baik ibu-ibu maupun bapak-bapak ketawa semua. Kakek-kakek masih sempatnya bertanya soal mandi besar. Nonton apa aja dia? (He he he… becanda, becanda, no more serious).

Ustadz: “Ya mandi besar berlaku bagi siapa saja, Kek. Kakek-kakek atau anak muda, kalau mengalami junub ya harus mandi besar.”

Ketika kakek-kakek itu bertanya, si ustadz tiba-tiba mendapatkan ide brilian. Dia punya jawaban jitu untuk mematahkan logika ibu-ibu.

Ustadz: “Ibu-ibu, pertanyaan tadi masih perlu dijawab tidak?”

Ibu-ibu kompak: “Ya jelas perlu lah. Ayo segera jawab!”

Ustadz: “Baik Ibu-ibu, saya akan jawab. Tapi Ibu harus jawab pertanyaan saya dulu, sebelum pertanyaan-pertanyaan Ibu saya jawab.”

Ibu-ibu kompak: “Pertanyaan apa Ustadz?”

Ustadz: “Ibu yang masih muda-muda dan cantik, mau tidak menikah dengan kakek yang baru bertanya ini?”

Ibu-ibu kompak: “Hhhuuuuuu… Siapa mau? Kakek tua begitu kok mau jadi suami. Gak mau ah. Yang muda masih banyak, kok mau nikah sama kakek-kakek. Gak mau Ustadz. Gak maaauuuuuuuuuuuu!!!!!”

Ustadz: “Nah, itulah jawaban saya Bu.”

Ibu-ibu kompak: “Maksudnya?”

Ustadz: “Ya kalau ibu-ibu saja tidak mau menikah sama kakek-kakek, mengapa nyuruh orang lain menikah sama nenek-nenek? He he he….”

Semua ibu-ibu, gadis-gadis, remaja putri pada cemberut mendengar jawaban “ustadz poligami”.

Ustadz: “Emangnya menikah itu kerja bakti apa…. Namanya nikah yang pasti ingin dapat kebaikan. Masak disuruh menikahi orang lansia? Uuaaaneh itu.”

Ibu Yasmin: “Tapi kan Nabi menikah nenek-nenek juga?”

Ustadz: “Emang berapa banyak nenek yang beliau nikahi, Bu? Cuma satu kan. Yang lainnya ada janda muda, ada janda pemimpin kabilah, dan ada seorang gadis.”

Ibu-ibu pengajian semuanya seketika berdiri dan keluar dari masjid, tanpa mengucapkan salam sepatah pun. Si “ustadz poligami”  hanya tersenyum manis melihat wajah ibu-ibu yang cemberut.

Tapi ini hanya selingan. Just intermezzo. Jangan terlalu dianggap serius… Matur nuwun.

Mine.