Partai Islam Sangat Ngeri…

Juli 22, 2009

Kalau membaca judulnya, sangar ya? Partai Islam sangat mengerikan… Benarkah, atau cuma sensasi saja, biar ada di barisan teratas pencarian oleh mesin google?

Masalah ini bermula dari dukungan partai-partai Islam atau partai massa Muslim kepada pasangan SBY-Boediono. Sungguh, SBY-Boediono tidak akan menang jika tidak didukung oleh partai label Islam/Muslim itu. Suara Demokrat hanya sekitar 20 %, sementara suara partai label Islam/Muslim sekitar 28 %. Ditambah berbagai partai lain, suara pendukung SBY-Boediono menjadi 56 % (kata Anas Urbaningrum).

Posisi partai label Islam/Muslim sangat kuat dalam mendukung pasangan SBY-Boediono. Ini tidak diragukan lagi. Meskipun dalam soal bagi-bagi kursi di kabinet nanti, partai-partai itu harus siap dikecewakan, karena segala sesuatunya akan dikembalikan kepada keputusan Pak SBY sendiri.  Istilah, semua tergantung apa yang ada “di kantong” Presiden.

Lalu apa hubungannya dengan Islam ke depan?

Oh ya, jelas hubungannya. Pasangan SBY-Boediono dikenal sangat dekat dengan para penganut agama LIBERAL. Rizal Malarangeng itu adalah salah satu “intan permata” kaum Liberaliyun. Dan Anda masih ingat, bagaimana kemarahan SBY kepada FPI pasca insiden Monas, 1 Juni 2008 lalu? Padahal MUI sudah memberikan fatwanya, bahwa paham SEPILIS itu haram. Fatwa ini sudah sangat terkenal.

Untuk lebih memahami masalah hubungan SBY dengan kaum Liberaliyun itu, silakan baca hasil wawancara Sabili dengan Habib Riziq Shibah berikut ini: Kemenangan SBY Kemenangan Kaum SEPILIS. (Dimuat di situs Sabili dengan link: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=335:kemenangan-sby-kemenangan-kaum-sepilis&catid=83:wawancara&Itemid=200).

Partai label Islam/Muslim (disingkat PLIM) itu tidak memandang bahayanya kaum Liberaliyun yang biasa menghina Allah, Nabi, dan Al Qur’an itu. Mereka tidak mau tahu, selain syahwat kekuasaan belaka. Benar-benar sudah hancur moralitas mereka. Benar-benar sudah luluh-lantak. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Saya menyangka, semua atribut keislaman yang mereka bawa-bawa itu, semua itu hanya seperti ALAT DAGANG saja. Sudah sedemikian rusaknya urusan ini. Mereka lebih takut tidak mendapat kursi menteri, daripada memikirkan nasib Islam dan kaum Muslimin ke depan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dengan kenyataan seperti ini, bisa dikatakan riwayat partai Islam/Muslim sudah tamat. Mereka sudah menjual simbol-simbol Islam untuk keuntungan sempit, materi keduniaan.

Ya Allah ya Rabbi, betapa takutnya kalau kami berada dalam posisi mereka. Antara syurga dan neraka sudah tidak jelas bedanya. Hitam dan putih sudah kabur. Halal sudah menjadi ‘halam’; sebagaimana haram sudah menjadi ‘haral’.

Ini sih bukan kumpulan manusia-manusia yang memperjuangkan Islam, tetapi “para pencari kerja” di dunia simbol-simbol keislaman. Sangat mengerikan, sangat mengerikan, sangat mengerikan!

Ya Allah, kami memohon istiqamah di jalan-Mu, tidak berpaling dari jalan-Mu, sampai saat kami wafat menghadap-Mu. Allahumma amin.

(Politische).

Iklan