Profesor Pratikno dan Karakter Orang Indonesia

Oktober 28, 2014

==> Kalau umumnya pengamat melihat posisi Susi Pudjiastuti di jajaran Kabinet Kerja. Kami coba melihat sisi lain yang tak kalah pentinya, yaitu sosok Menteri Sekretaris Negara, Prof. Praktikno, mantan Rektor UGM.

==> Ketika beliau diumumkan menjadi anggota Kabinet Kerja, kami langsung mengelus dada. “Ya Allah, bagaimana tokoh satu ini? Kemarin teriak-teriak tentang dominasi asing terhadap aset bangsa, sekarang malah jadi menteri sebuah rezim yang banyak diyakini ditopang kekuatan asing?”

==> Profesor Pratikno sempat membuat heboh, ketika mengatakan bahwa 70 % aset bangsa dikuasai oleh asing. Pernyataan ini langsung menjadi perhatian besar masyarakat peduli bangsa.

==> Banyak sekali pihak-pihak yang mencatat tentang pernyataan Profesor Pratikno itu, antara lain link berikut:

http://www.antaranews.com/berita/404321/asing-kuasai-70-persen-aset-negara

http://www.jurnal3.com/asing-kuasai-80-aset-vital-indonesia-resmi-dijajah/

http://www.scribd.com/doc/194527378/Refleksi-Akhir-Tahun-2013-docx

==> Kalau link di atas suatu saat hilang, kami coba rekam kembali berita yang dimuat oleh situs Antaranews.com, yaitu sebagai berikut:

“Kondisi bangsa kita saat ini sudah mengkhawatirkan sehingga tanpa dukungan dan kebijakan oleh semua elemen bangsa maka lambat laun seluruh aset akan jatuh ke tangan orang asing,”

Kendari (ANTARA News) – Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Pratikno mengatakan hingga saat ini aset negara sekitar 70–80 persen telah dikuasi bangsa asing. “Kondisi bangsa kita saat ini sudah mengkhawatirkan sehingga tanpa dukungan dan kebijakan oleh semua elemen bangsa maka lambat laun seluruh aset akan jatuh ke tangan orang asing,” katanya saat membawakan arahan pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Keluarga Alumni UGM (KAGAMA) menyambut pra Munas XII 2014 di Kendari, Sabtu.

Ia mencontohkan, aset di bidang perbankan misalnya, bangsa asing telah menguasai lebih dari 50 persen. Begitu pula di sektor lain seperti migas dan batu bara antara 70-75 persen, telekomunikasi antara 70 persen dan lebih parah lagi adalah pertambambangan hasil emas dan tembaga yang dikuasi mencapai 80-85 persen. “Kecuali sektor perkebunan dan pertanian dalam arti luas, asing baru menguasai 40 persen. Namun demikian kita harus waspada agar tidak semua aset negara itu harus dikuasi asing,” katanya.

Oleh karena itu, kata Rektor UGM itu, untuk mempertahankan aset-aset yang belum dikuasai asing tersebut, perlu kebijakan dan terobosan yang lebih hati-hati dalam melahirkan keputusan sehingga aset yang belum dikuasi itu tetap milik bangsa Indonesia.

Ia mengatakan, memang sebuah ironi apabila rakyat Indoneia masih belum merasakan wujud kemakmuran merata dan berkeadilan. Di usia kemerdekaan 68 tahun, meskipun kaya raya dengan sumber daya alam namun hingga kini masih banyak didaulat oleh perusahaan negara asing. Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga hadir pada seminar nasional dengan judul Otonomi daerah dan konflik Pengelolaan Lahan mengatakan di era otonomi daerah saat ini seakan menjadi anak tiri yang selalu disalahkan. “Pertanyaan saya bahwa, apa yang salah dengan otonomi daerah. Atau jangan-jangan kita lebih suka kembali ketata kelola pemerintahan yang sentralistis dan otoriter,” katanya.

Menurut mantan anggota DPR-RI dari PDIP itu, langkah yang harus diambil untuk memwujudkan kedaulatan pangan khususnya daerah yang saat ini dipimpinnya di antaranya mengendalikan laju alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Untuk itu, kata Ganjar, seminar nasional ini diharapkan melahirkan kebijakan baru yang bisa diwujudkan dalam upaya pemandirian bangsa. (A056/H-KWR. Editor: Ruslan Burhani. COPYRIGHT © ANTARA 2013).

==> Maka, menurut kami sangat aneh, kalau sang profesor kini jadi bermain di kabinet dukungan asing. Kemarin dia mengkritik asing, kini ikut-ikutan cari nafkah di kafilah dukungan asing. Ironis sekali.

==> Katakanlah orang akan berkata: “Dengan jadi menteri, mudah-mudahan dia bisa menghambat regulasi-regulasi yang menguntungkan dominasi asing.”

==> Pertanyaan kami: Wong dia hanya menjabat Menteri Sekretaris Negara; apa bisa berperan menghadang aturan-aturan pro asing? Sebagai mantan rektor, apa dia punya nyali untuk membuat gebrakan. Dari pengalaman yang sudah-sudah, sulit untuk meng-handle aturan sesuai keinginan kita. Bukan sekali dua kali lho ada pejabat menteri dengan back ground rektor. Tapi rata-rata “masuk angin”.

==> Ya beginilah KARAKTER KHAS orang Indonesia. Tidak konsisten, dua muka, plin plan, cari aman, dan seterusnya. Maka itu tak heran negeri ini 70-80 % dikuasai asing. Wong mental manusianya memang tempe.

==> Maaf ya kalau agak kasar. Tapi bagi kami, sejak lama orang Indonesia itu gayanya begitu. Cari aman melulu untuk diri dan kelompoknya sendiri. Sayang sekali.

==> Terimakasih untuk perhatian dan konsistensinya. Jazakumullah khair.

(Shakera).

Iklan

Realitas Penjajahan Baru di Indonesia

November 20, 2010

ARTIKEL 04:

Bismillahi, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dekade 1940-an dianggap sebagai momen besar perubahan sejarah dunia. Di masa itu negara-negara dunia ke-3 di Asia-Afrika yang semula mengalami penjajahan, rata-rata mendapatkan kemerdekaan. Indonesia termasuk negara yang merdeka di dekade itu, setelah dianiaya negara Protestan Belanda, selama ratusan tahun. Dan kebetulan juga, decade 1940-an merupakan masa-masa akhir Perang Dunia II, dengan kemenangan di pihak Amerika dan Sekutunya.

Negara-negara di dunia, termasuk Amerika dan Uni Soviet, waktu itu sangat berkomitmen untuk membangun dunia baru yang damai, bebas dari perang, bebas dari penindasan. Amerika sendiri memiliki sejarah baik, ketika Abraham Lincoln memulai gerakan menghapuskan perbudakaan di negerinya. Untuk merealisasikan tujuan-tujuan baik itu dibentuklah lembaga dunia, United Nations (PBB). PBB selanjutnya secara aktif bekerja mendukung pembangunan peradaban manusia dan sekaligus menjaga perdamaian dunia. PBB memiliki intrumen dan aturan internasional yang ditujukan untuk memelihara perdamaian dunia.

Singkat kata, era 40-an adalah masa-masa akhir praktik penjajahan negara kolonialis terhadap negara-negara Asia-Afrika. Negara-negara kolonialis itu umumnya beragama Nashrani seperti Inggris, Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, dll. Ada juga yang Komunis seperti Uni Soviet dan Shinto seperti Jepang. [Tetapi tidak semua praktik penjajahan tersebut berakhir, sebab waktu itu Inggris masih berkuasa di Hongkong, Uni Soviet menjajah negara-negara Asia Tengah, Amerika berusaha menjajah Vietnam, China menjajah Mongolia, bahkan saat ini Amerika sedang menjajah Irak dan Afghanistan].

Penjajahan Baru: Tidak Dipahami Masyarakat!!!

Suatu kenyataan yang aneh. Setelah dunia masuk ke abad 21 (dihitung sejak tahun 2001), ternyata praktik penjajahan itu tidak berakhir. Praktik penjajahan tetap terjadi, hanya berubah bentuk. Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai The New Colonialism (penjajahan baru). Penjajahan jenis ini ternyata lebih dahsyat dari penjajahan klasik. Dan salah satu korban paling parah dari penjajahan ini adalah negeri kita sendiri, bangsa Indonesia (NKRI).

Setidaknya ada beberapa perbedaan significant antara penjajahan baru dengan penjajahan klasik. Setiap Muslim Indonesia perlu memahaminya, agar tidak terlena dengan keadaan yang ada.

[1] Penjajahan modern tidak memakai serangan militer, perang, pengerahan senjata, dll. tetapi lebih banyak memakai sarana: pemberian hutang luar negeri, investasi, pembelian asset nasional dengan harga murah, memaksakan mata uang dollar sebagai standar ekonomi, kontrak karya pertambangan yang monopolis dan licik, menanam agen-agen di berbagai sektor kehidupan, dll.

Penjajahan modern tidak tampak seperti penjajahan, tetapi dampaknya sangat terasa. Persis seperti logika “bau kentut”; bentuknya tidak kelihatan, tetapi busuknya membuat orang menutup hidung.

[2] Penjajahan klasik sangat jelas siapa lawan yang dihadapi, sebab pasukan musuh melakukan invasi ke sebuah negara. Sedangkan penjajahan modern, tidak perlu pengerahan pasukan. Penjajahan dioperasikan dari jauh melalui sambungan telepon, fax, email, telekonferensi, surat-menyurat, kurir, dll. Para penjajah modern tidak perlu susah-payah berperang, sehingga tangan berdebu dan jatuh korban. Mereka cukup menjajah sebuah negara, misalnya Indonesia, dari kejauhan.

[3] Penjajahan klasik sangat disadari oleh masyarakat yang dijajah. Mereka amat sangat tahu kalau dirinya sedang dijajah, sebab pasukan musuh mondar-mandir di depan hidung mereka. Tetapi penjajahan modern amat sangat sulit dipahami oleh rakyat. Mereka merasa hidup baik-baik saja, padahal sejatinya sedang dijajah. Ditambah lagi, Pemerintah suatu negara selalu mengklaim sedang melakukan pembangunan, pembangunan, dan pembangunan; padahal sejatinya, kekayaan negeri mereka terus dijarah oleh para kolonialis.

Seperti di Indonesia ini. Setiap hari rakyat disuguhi tontonan hiburan oleh RCTI, SCTV, TransTV, Trans7, ANTV, GlobalTV, MNC TV (dulu TPI), dll. Tontonan bisa berupa musik, film, kartun, sinetron, lawak, kuiz, reality show, hiburan pengajian, sepakbola, hobi, kuliner, dll. Itu masih ditunjang oleh hiburan lain seperti video, internet, bioskop, kaset, CD/DVD, dll. Masyarakat merasa hidupnya baik-baik saja, tenang-tenang saja, banyak hiburan. Padahal semua hiburan itu hanyalah menipu akal mereka. Agar mereka tidak sadar kalau negaranya sedang dijajah oleh orang-orang asing; agar mereka tidak sadar kalau harta kekayaan negaranya terus dikuras oleh perusahaan-perusahaan asing.

Anak-anak muda yang sangat potensial disibukkan oleh tontonan bola, rokok, narkoba, pornografi, dan seks bebas. Akal mereka tidak bisa berjalan normal karena sudah dihabisi oleh bola, rokok, shabu-shabu, video mesum, dan perzinahan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Misalnya, di Bandung ada ratusan ribu penggemar Persib yang sangat fanatik kepada klub asli Bandung itu. Tetapi dari ratusan ribu Bobotoh Persib itu, berapa orang yang berani menentang penindasan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan asing? Paling hanya 6 atau 7 orang saja. Urusan bola, disembah-sembah seperti berhala;  tetapi urusan ekonomi rakyat, diabaikan begitu saja. (Miris kalau memikirkan anak-anak muda ini. Akalnya seperti tidak berfungsi, padahal sehari-hari mereka juga hidup susah).

[4] Penjajahan klasik biasanya dilakukan oleh suatu negara tertentu. Misalnya negara Nashrani seperti Inggris, Perancis, Portugis, atau Spanyol. Satu wilayah dikuasai oleh satu negara saja. Tetapi di jaman modern ini, penjajahan berlangsung sangat dahsyat. Seperti terjadi di Indonesia, negara penjajah berasal dari banyak negara, seperti: Amerika, Inggris, Jepang, China, Korea, Australia, Belanda, Singapura, Taiwan, Jerman, Belgia, Finlandia, Denmark, dll. Mereka berasal dari aneka bangsa, tetapi tujuannya satu, yaitu: mengeruk kekayaan kita untuk diangkut ke negeri masing-masing. Caranya bisa berkedok kerjasama bisnis, investasi, perdagangan, penjualan teknologi, konsultasi teknik, dll.

[5] Penjajahan klasik diakui secara kesatria oleh pelakunya sebagai penjajahan. Tetapi penjajahan modern tidak demikian. Mereka tidak pernah mengaku sebagai penjajah, tetapi selalu berkedok investasi, kerjasama perdagangan, memberi pinjaman hutang, membeli asset-asset, membeli SUN, dll. Intinya, menyedot kekayaan kita, tetapi caranya tampak sopan, halus, dan modern. Tetapi hakikatnya ya mengeruk kekayaan itu. Karena inti penjajahan memang: mengeruk harta benda negara lain secara licik! Covernya bisa macam-macam, tetapi intinya seperti semboyan penjajahan klasik dulu, “Gold, Gospel, Glory.”

Baca entri selengkapnya »


Logika Politik Munafik

Maret 8, 2010

Ada suatu kenyataan yang sangat disesalkan dari kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang bersikap munafik, terutama elit-elit politik, birokrator, media-media massa, para pakar, dan lain-lain.

Dimana sisi kemunafikan itu dan bagaimana bentuknya? Seperti biasa, mari kita runut masalahnya. Mohon sabar mengikuti!

Harus jujur diakui, bahwa kehidupan ekonomi di Indonesia ini semakin lama semakin LIBERAL. Banyak orang menyebutnya sebagai madzhab NEOLIB. Bukti-bukti sistem ekonomi Liberal itu antara lain:

[=] Penandatanganan kesepakatan CAFTA (China ASEAN Free Trade Agreement). Ini jelas-jelas merupakan produk kebijakan liberalis.

[=] Sistem outsorcing dalam ketenagakerjaan. Sistem ini sangat menyengsarakan para pegawai/buruh. Kontribusi mereka selama bertahun-tahun di dunia kerja dipenjara oleh sistem kontrak. Kalau kontrak habis, diperbaharui lagi, dengan nilai kontribusi kerja di-nol-kan lagi.

[=] Otoritas Bank Indonesia yang menerapkan kebijakan “uang ketat”. BI menetapkan suku bunga tinggi, sehingga kalangan perbankan lebih suka menyimpan uang di BI untuk mengejar untung (bunga bank). Sementara, kredit untuk UKM amat sangat sulit diakses. Selain karena bunganya tinggi, juga karena birokrasi yang menyulitkan. Katanya, suku bunga BI saat ini sekitar 6 %. Itu terjadi setelah BI dan Pemerintah diserang habis-habisan dengan kasus Bank Century. Kalau tidak ada kasus Century, besar kemungkinan mereka tetap akan ngeyel dengan kebijakan “uang ketat”.

[=] Sistem kurs kita bersifat mengambang (floating), ditentukan oleh pasar. Padahal sebagai negara merdeka, kita bisa menempuh sistem yang lebih protektif untuk melindungi ekonomi nasional. Lho, apa artinya nilai kedaulatan, kalau mengatur sistem kurs saja kita tidak boleh mandiri? Semua harus dicocokkan dengan kepentingan IMF/Bank Dunia.

[=] BI dan Pemerintah banyak menyerap dana masyarakat dengan instrumen obligasi (SBI dan SUN). Obligasi ini sifatnya HUTANG, harus dikembalikan, bahkan harus dibayarkan bunganya. Katanya, setiap tahun negara harus menyediakan dana sekitar Rp. 60 triliun hanya untuk membayar bunga SBI atau SUN itu. Setelah lolos dari IMF, Pemerintah mengikatkan dirinya dengan jebakan hutang dalam bentuk lain, SBI dan SUN. Apa bedanya hal ini dengan hutang-hutang asing waktu itu?

[=] Kebijakan memotong aneka macam subsidi sosial untuk masyarakat. Harap dicatat, baru di jaman ini masyarakat kecil membeli minyak tanah seharga Rp. 8.000,- per liter. Atau hampir dua kali lipat harga bensin (premium). Banyak subsidi-subsidi yang mestinya diberikan negara kepada rakyatnya, tetapi kemudian dipangkas oleh otoritas moneter.

[=] Lihatlah betapa pesatnya serbuan bisnis asing di negeri kita! Luar biasa! Sangat dahsyat! Setahun lalu saat pulang ke Malang, saya belum mendengar ada Carefour disana. Baru-baru ini sanak-keluarga memberitahukan, secara tak sengaja, Carefour sudah menjadi pusat rekreasi belanja masyarakat Malang. Bukan hanya bidang retail, tetapi juga makanan, minuman, pakaian, komunikasi, otomotif, produk sandang, elektronik, dan sebagainya. [Menurut seorang TKI yang baru pulang dari Korea Selatan, katanya disana sangat sulit menjumpai mobil-mobil produk non Korea. Kebanyakan didominasi oleh KIA, Hyundai].

NEOLIB Merajalela

Banyak dan banyak fakta LIBERALISASI ekonomi yang telah melanda Indonesia ini. Sekedar sebagai catatan, baru-baru ini raja pialang valas dunia berdarah Yahudi, George Soros diterima secara terhormat di kantor Wakil Presiden. Apalagi agendanya kalau bukan investasi di Indonesia. Soros malah menyebut Indonesia jelas terpantau dalam radar investasi dunia. Fakta lain, pihak penguasa kerap mengklaim, bahwa Indonesia masuk dalam skema negara G20. Padahal sejujurnya, posisi Indonesia disana bukanlah sebagai pemain dominan, tetapi lebih sebagai “obyek pelengkap penderita”.

Bahkan pemberian bailout kepada Bank Century, hal itu mencerminkan sikap negara yang terlalu pro swasta, lalu mengabaikan hak-hak dunia usaha riil, UKM, yang selama ini kesusahan untuk mencari kredit perbankan.

Pertanyaannya: “Apakah sistem ekonomi Liberal ini tidak ada dampaknya bagi kehidupan masyarakat luas?

Ya jelas, amat sangat nyata dampaknya. Bayangkan saja, pemain bisnis UKM ingin dikompetisikan dengan jaringan bisnis internasional, seperti Coca Cola, Danone, Unilever, Carefour, Nestle, McDonald, Sony, Yamaha, Honda, Samsung, KIA, Nokia, dan seterusnya. Jelas tidak sebanding.

Dalam sistem Liberal, semua pemain bisnis bebas melakukan pertarungan pasar. Prinsipnya, “Siapa kuat, dia menang. Siapa lemah, dia hancur.” Ya, seperti itu. Sistem Liberal itu identik dengan sistem “Hukum Rimba”, tetapi dalam konteks persaingan bisnis.

Sangat tidak salah kalau saat ini di tengah masyarakat beredar ungkapan populer, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Ungkapan yang diadopsi dari lagu “Bang Haji” ini (halah…pake Bang Haji segala) makin dipercaya kebenarannya. Para investor kaya, konglomerat, industri-industri asing, waralaba internasional, dll. semakin kuat menancap dalam sistem ekonomi nasional. Sementara bisnis masyarakat kecil, pasar tradisional, kerajinan rakyat, UKM, dan seterusnya semakin tersisih.

Ya gimana Pak, masak kita akan mengadu gajah dengan kelinci? Sang kelinci jelas akan mati diinjak-injak gajah. Iya tho? Ini realitas yang amat sangat nyata dan sudah banyak berguguran korban dari sistem seperti ini.

Nah, Pemerintah selama ini jelas-jelas telah memerosokkan negara ke dalam pusaran sistem Liberal yang sangat menakutkan, dan sekaligus membahayakan masa depan rakyat Indonesia. Mungkin, bagi kalangan elit yang duitnya banyak, miliaran rupiah, mereka akan santai saja, sebab mampu eksis dalam kondisi ekonomi seperti apapun. Apalagi kalau kalangan elit itu ternyata selama ini menjadi agen, supervisor, makelar, jongos, atau centeng dari jaringan bisnis asing. Ya, mereka tentu bisa enak-enak saja meletakkan urusan “asap dapur” keluarga mereka di atas skema bisnis asing. Tetapi bagi masyarakat mayoritas, yang lemah, kurang informasi, kurang koneksi, kurang akses politik, kurang modal, dan seterusnya. Mereka jelas akan kelimpungan harus bersaing dengan Unilever, Sony, Nokia, McDonald, Yamaha, dan seterusnya.

Saya menyangka, negara kita ini nanti dalam ke depan, tidak akan semakin aman. Mengapa? Sebab saat ini ada fenomena “api dalam sekam“. Mengapa demikian? Sebab masyarakat dipaksa untuk diam saja, nurut, nerimo, patuh kepada Pemerintah, taat aturan hukum, dan seterusnya, tetapi secara riil kehidupan ekonomi mereka ditindas oleh bisnis asing dan kepentingan Liberal. Saya yakin, dalam beberapa waktu, masyarakat bisa nerimo kenyataan itu, karena tak berdaya. Tapi kalau ada momentumnya, segala amarah, kebencian, rasa ketertindasan yang berada di diri mereka, semua itu bisa meledak.

Kita harus sangat ingat karakter masyarakat kita! Orang Indonesia, kalau dalam soal perbedaan politik atau pendapat fiqih, mereka bisa berdamai, atau saling toleransi. Tetapi kalau sudah menyentuh masalah ekonomi, masalah “asap dapur” rumah-tangga, kesabaran mereka bisa meledak. Apalagi kalau sudah melihat anak-isterinya sengsara karena sistem yang ada. Buktinya, saat tahun 1998 masyarakat mendukung mahasiswa untuk menggulingkan Soeharto. Sebelum itu, sudah sering terjadi kerusuhan-kerusuhan berdarah dengan korban ribuan orang.

Nah, disinilah kita melihat betapa munafiknya para elit politik, penguasa, para pakar, media-media massa, dan sebagainya.

Mereka meminta supaya para mahasiswa jangan demo anarkhis, para pemuda jangan terlibat kerusuhan, para suporter bola harus tertib, para LSM jangan memprovokasi, dan sebagainya. Mereka berkoar-koar, “Kita ini bangsa beradab. Kita taat hukum. Mari berdemo dengan santun. Demokrasi tidak boleh liar. Demokrasi harus tetap taat hukum.” Dan sebagainya.

Tetapi di sisi lain…MEREKA MEMBIARKAN SISTEM EKONOMI LIBERAL MERAJALELA DI SELURUH INDONESIA. Nah, itu sisi KEMUNAFIKAN mereka. Rakyat kecil, generasi muda, para mahasiswa, UKM, koperasi, pasar tradisional, dll. dibiarkan berkompetisi bebas dengan jaringan bisnis internasional, tetapi mereka juga dipaksa menjadi warga yang sopan, santun, taat hukum, sabar, ikhlas, tawakkal, dan sebagainya.

Ini adalah KETIDAK-ADILAN yang nyata. Masyarakat Indonesia tidak boleh anarkhis, tidak boleh rusuh, tidak boleh konflik. Masyarakat harus menjadi warga yang baik, taat hukum, ikhlas, nerimo saja, tidak usah banyak menuntut, tidak usah ngomong politik, harus menerima takdir sebagai “bangsa tolol”. Masyarakat Indonesia harus menghormati orang asing yang cari makan di negeri ini, mereka harus sopan kepada orang asing, mendoakan orang asing, mendoakan anak-isteri orang asing agar sehat wal ‘afiat selalu, mendoakan bisnis asing supaya lancar di Indonesia. Masyarakat Indonesia harus menerima takdirnya sebagai “bangsa tolol” selama-lamanya.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Masya Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Ya Rabbi ya Rahmaan, ampuni kami ya Rahmaan. Maafkan kami ya Allah. Maafkan para pemuda Muslim, maafkan para ulama kaum Muslimin. Maafkan ustadz-ustadz kami, guru-guru kami, anak-anak kami, sahabat-sahabat kami. Ya Allah, bagaimana kami harus menatap kehidupan ini? Jiwa kami adalah jiwa yang lembut, toleran, bersaudara, membuka tangan lebar-lebar kepada siapapun yang ingin berbuat baik. Tetapi bagaimana kami akan menatap masa depan ini? Dimana akan kami letakkan nasib anak-anak dan isteri kami? Apakah benar, bahwa bangsa Indonesia ini memang ditakdirkan menderita selama-lamanya? Benarkah itu ya Rabbi? Atau semua ini karena kesalahan kami sendiri?

Ya Allah, ampuni kami, maafkan kami, welas asihlah kepada kami. Tunjukkan jalan yang lurus, tunjukkan jalan petunjuk-Mu, tunjukkan arah yang Engkau ridhai. Amin Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Cerita Duka Bangsa Pecundang

Juli 17, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalli ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau diibaratkan pesawat terbang, saat ini kita menghadapi cuaca yang penuh turbulensi. Pesawat diguncang-guncang oleh awan, angin, serta kerapatan udara yang tidak stabil. Negeri Nusantara yang kita diami ini tengah seru-serunya menghadapi masalah. Baik masalah internal berupa arah Reformasi yang kacau-balau menjadi Liberalisasi. Masalah kualitas hidup dan budaya sosial yang semakin rusak. Rongrongan asing yang tiada pernah surut. Bahkan, kenyataan pahit yang kemudian sering disebut sebagai New Colonialism.

Semua ini tidak muncul dengan sendirinya. Ia justru diundang oleh sifat-sifat rakyat Indonesia sendiri yang jauh dari karakter manusia yang tangguh. Lebih dari 500 tahun kita hidup sebagai bangsa Muslim, tapi keislaman itu sendiri seperti tidak ada dampaknya. Padahal, andai kita tidak memiliki apa-apa, selain keislaman di dada kita, hal itu sudah cukup untuk membuat bangsa ini hidup mulia. Betapa tidak, bangsa Arab hidup di tengah gurun, miskin air, miskin tanaman, berhawa panas di siang hari, sangat dingin di malam hari, angin menderu-deru seperti topan. Tetapi berkat Islam, mereka mampu membangun peradaban dunia yang luar biasa. Salah satu bukti kekuatan Islam. Eropa tidak akan pernah bangkit dengan Renaissance-nya, jika tidak mengambil khazanah ilmu-ilmu sains dari Andalusia Spanyol. Meskipun kemudian hal itu diklaim sebagai karya “original” ilmuwan-ilmuwan Eropa sendiri. Bangsa kita sekian lama telah menyia-nyiakan agamanya, sehingga hidup menjadi pecundang, hina-dina, dan lemah. Kalau kata Malik bin Nabi, kita telah memenuhi syarat-syarat bagi dihalalkannya penjajahan atas negeri kita.

Disini ada sebuah cerita dari khazanah fiksi dunia metafora. Cerita ini bisa menggambarkan dengan baik kemalangan sebuah bangsa.

Nun jauh disana, tersebutlah sebuah negeri bernama Ada Ada Saja. Disingkat AAS. Para pakar berselisih pendapat tentang singkatan AAS ini. Ada yang menduga hal itu juga memiliki arti: Anak Amerika Serikat, Alias Amerika Serikat, atau Aku Amerika Serikat. Tapi sejujurnya, AAS memang dari nama negeri itu, Ada Ada Saja.

Negeri AAS dihuni oleh sekumpulan manusia yang menjalani hidup aneh. Kalau melihat zhahirnya, mereka seperti Pak Haji dan Bu Hajjah. Memakai baju putih-putih, lengkap dengan kopiah putih, sarung Samarinda, membawa tasbih, serta sajadah yang warna-warni. Ibu-ibunya selalu memakai jilbab, berpakaian rapi, selalu mengumbar senyum. Tetapi batinnya: Mereka tidak mau diatur oleh Kitabullah dan Sunnah, selalu menuruti hawa nafsu sendiri, sangat takjub dengan segala budaya Barat, itu pun masih ditambah aneka rupa keyakinan klenik, mistik, khurafat, dll. Zhahirnya seperti Pak Haji dan Bu Hajjah, tetapi batinnya memeluk keyakinan “gado-gado”. Kalau diingatkan, mereka marah-marah. Bahkan tak segan menyerang orang yang mengingatkan, sambil menuduhnya: “Teroris Lu!!!”

Namun bangsa AAS itu memiliki sebuah istana yang sangat megah. Megah sekali, memukau semua mata di dunia. Istana mereka sangat megah, kaya raya, mentereng, penuh gengsi, full kemewahan. Selama bertahun-tahun mereka hidup menjadi penghuni istana itu. Bermacam-macam air liur telah menetes, demi menyaksikan kemegahan istana bangsa AAS ini. Banyak orang asing berlomba-lomba ingin diijinkan menempati ruangan-ruangan di istana itu.

Namun, entah karena alasan apa. Bangsa AAS merasa tidak peduli dengan istana megah yang dimilikinya. “Kami selama ratusan tahun hidup sebagai bangsa terjajah, hidup terlunta-lunta, menanggung segala duka dan derita. Kami tidak biasa dengan kehidupan istana ini. Kami sudah terbiasa hidup menderita. Kami tidak membutuhkan kemewahan istana. Kami merindukan hidup sebagai manusia terlunta-lunta,” begitu kata mereka. Tentu saja, pernyataan ini membuat shock semua orang-orang asing yang mendengarnya. Bukan shock karena sedih, tapi shock karena tidak percaya dengan perkataan yang didengarnya.

Lebih mengerikan lagi ketika salah satu elit politik negeri AAS itu secara resmi menyerahkan hak kepemilikan istana itu kepada orang-orang asing. “Sudahlah, kami ini orang kecil. Kami ini sudah biasa hidup menderita. Kami ikhlas saja kepada Allah, kami tawakkal saja. Kami hanya bergantung ke Allah, tidak bergantung ke istana. Silakan saja Mister dan Sinyo-sinyo, silakan Anda miliki istana ini. Kami ini orang kecil, kami tidak pantas memiliki istana semegah ini. Istana ini adalah dunia, dunia itu cobaan, dunia itu fitnah, bisa memalingkan hati manusia dari mengingat Allah. Silakan saja Mister dan Sinyo-sinyo, Anda kelola istana ini, kami ikhlas, tawakkal, dan husnuzhan kepada Anda semua. Kami ini orang cinta damai, tidak mau berselisih, tidak mau saling serang, tidak mau menyakiti hati orang lain. Sudahlah, istana ini hanya godaan dunia. Kata Allah, Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal,” begitu kata elit politik itu mendalili kebejatan pikirannya.

Kalau semula Mister dan Sinyo-sinyo itu shock, sekarang mereka kejang-kejang. Malah sebagian langsung mati mendadak, karena serangan jantung. Bukan karena sedih lho, tapi karena kegembiraan amat sangat yang menusuk sampai ke ubun-ubun mereka. Sebagian orang itu mati seketika, karena serangan jantung. Seperti nasib “King Jacko”. Begitu gembiranya orang-orang asing itu menerima kunci istana, di hari itu mereka peringati sebagai hari raya. Perayaannya lebih megah dari tradisi Idul Fithri kita. Kemenangan besar mereka kemudian diabadikan dalam sebuah ungkapan: “Meminta kaca spion, diberi pabrik mobil!” Semula mereka hanya meminta sedikit tempat di istana itu, tetapi nyatanya malah diberi seluruh istana, sertifikat, sampai kunci-kuncinya.

Baca entri selengkapnya »