Sekelumit Drama Politik PKS

Mei 15, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini PKS (singkatan dari Partai Keadilan Sejahtera; huh lebay…) sedang mengalami turbulensi politik yang amat sangat kuat. Ibarat sebuah kapal layar, ia sedang berada di tengah pusaran air, menghadang ombak yang tinggi, serta dihajar badai dari segala arah.

Faktanya, setelah Luthfi Hasan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, begitu juga sohibnya A. Fathonah, pejabat-pejabat PKS lainnya juga diperiksa sebagai saksi. Anis Matta dan Pak Hilmi Aminuddin harus memenuhi panggilan KPK; bergitu juga Saldi Matta, adik Anis Matta. Secara moral, pemanggilan Ketua Majelis Syura PKS oleh KPK serasa seperti “bom atom” yang dentumannya sangat menggelegar.

BADAI POLITIK: Kondisi yang muncul karena kebijakan sendiri.

BADAI POLITIK: Konsekuensi Pilihan Mereka !

Kami disini tidak mau masuk terlalu ke dalam ke pusaran konflik KPK Vs PKS. Tetapi kami ingin melihat kenyataan ini dalam perspektif kepentingan politik Ummat Islam. Sebagaimana pada asalnya kami tidak memiliki “kebencian laten” kepada PKS, maka saat ini kami tetap berpegang kepada kepentingan Ummat tersebut; menggali hikmah di balik setiap peristiwa.

Mari kita lihat detail masalahnya lebih fokus…

*** Sebenarnya, sumber banyaknya kritik, kecaman, hujatan kepada PKS ialah konsep dasar politik partai ini sendiri. PKS sejak awal memposisikan dirinya sebagai: Partai Dakwah, partai Islam, partai para ustadz. Positioning seperti ini membuat PKS banyak diawasi oleh kaum Muslimin, karena kita berkepentingan terhadap nama Islam, dakwah, dan ustadz.

Andaikan sejak awal PKS tidak membatasi dirinya dengan citraan religius yang dibuatnya sendiri itu, mungkin sikap kritis Ummat Islam terhadapnya tidak terlalu gencar atau garang. Hal ini dianalogikan seperti sebuah kesebelasan kelas “tarkam”, tetapi kemana-mana dia selalu membawa label “liga primer”; jelas kesebelasan itu akan terus diawasi oleh para penggemar bola dari Maroko sampai Merauke.

*** Kinerja politik PKS bisa dibagi menjadi dua periode; periode sebelum Pemilu 2004 dan periode setelah Pemilu 2004. Tahun 2004 seperti menjadi Yaumul Furqan bagi PKS. Sebelum tahun 2004 politik PKS bersifat idealis, keteladanan, pembelaan besar atas kepentingan masyarakat, dan politik bersih (bebas korupsi). Tetapi setelah tahun 2004, sampai hari ini, kinerja politik mereka semakin merosot; hingga finalnya Presiden PKS ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

*** Patut dipahami bahwa politik PKS tidak bisa dipisahkan dari politik SBY. Lho, kok bisa begitu ya? Karena tahun 2004 itu PKS meresmikan persekutuan politiknya dengan SBY (Partai Demokrat). PKS mendapat sekian kursi kementrian, sedangkan SBY (Demokrat) mendapatkan fasilitas pembelaan politik dan dukungan dari PKS.

Sampai hari ini, bisa dikatakan politik PKS tidak bisa melepaskan diri dari politik SBY. Bahkan kasus-kasus hukum yang menimpa PKS saat ini (terkait KPK) ada yang membacanya sebagai plot politik SBY. Tahun 2009 PKS ingin menarik dukungan kepada SBY, bahkan sudah sempat memberikan sejumlah serangan-serangan politik ke SBY menjelang Pemilu 2009; tetapi kemudian ia rujuk lagi, lalu mendukung deklarasi Capres pasangan SBY-Bodiono di Sabuga ITB. Menjelang Pemilu 2014 nanti, PKS kemungkinan akan kembali menyerang SBY (Demokrat); tetapi kemudian akan bermesraan dengan politik SBY lagi. Antara PKS dan politik SBY layaknya padanan: “benci tapi rindu”, “muak tapi butuh”, “emoh tapi pingin lagi”.

*** Jika dikalkulasi, nilai “perdagangan politik” antara PKS dan SBY, yang lebih beruntung adalah SBY. Kemapanan posisi SBY sebagai presiden sejak tahun 2004, dan berhasilnya dia menjadi presiden kembali untuk periode 2009-20014, tidak lepas dari jasa PKS. Tanpa PKS, SBY sudah babak-belur dimakan oleh Golkar dan PDIP sejak awal kepemimpinannya. Di sisi lain, SBY juga kesal ke PKS, karena partai ini susah diatur. PKS berbeda dengan PAN dan PKB yang mampu memberikan “penghambaan politik” secara tulus ikhlas, lahir-batin, dunia akhirat untuk SBY.

Ibaratnya, politisi-politisi PAN dan PKB sudah biasa menampilkan loyalitas buta, tanpa reserve, kepada SBY dan Demokrat. Sementara politisi PKS dianggap masih sering mengganggu kebijakan politik SBY, seperti dalam konteks Pansus Bank Century. Bisa dikatakan, koalisi dengan SBY sangatlah pahit, dan PKS tahu makna semua itu.

*** Logika PKS bergabung dengan SBY sangat sederhana; dengan masuk kabinet, menjadi bagian dari koalisi, mereka akan dapat posisi kementrian. Sedangkan kementrian identik dengan proyek-proyek yang melibatkan anggaran negara. Di titik ini PKS butuh posisi birokrasi, sebagaimana partai-partai lain juga ngiler. Tetapi motivasi “memperkaya diri” ini selain berpotensi merugikan urusan rakyat, juga bisa menjerat PKS dalam pusaran kasus-kasus korupsi; seperti kenyataan hari ini. Apalagi faktanya, PKS tidak pernah diberikan posisi “enak” oleh SBY Cs. Paling tinggi, PKS diberi jabatan kementrian pertanian dan pendidikan.

*** Dalam tubuh PKS ada dua pemikiran yang terus bergolak: idealisme dan pragmatisme. Sebagian orang mengistilahkan “Kubu Keadilan” dan “Kubu Sejahtera”. Kondisi disparitas ini tidak lepas dari perubahan pemikiran (ideologi) secara drastis yang dialami Anis Matta. Konsep asli PKS sangat kental bernuansa idealisme, dengan slogan: partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Tetapi setelah Anis Matta mengalami perubahan pemikiran secara ekstrem, terutama setelah dia menjadi anggota DPR RI dan mengikuti kursus Lemhanas; tumbuh subur pemikiran-pemikiran politik pragmatis di tubuh PKS, hingga pragmatisme itu mampu menguasai seluruh lini partai tersebut.

*** Posisi Anis Matta di PKS serupa seperti posisi BJ. Habibie dalam pemerintahan di masa itu. Kedua sosok sama-sama pintar, punya intelijensi tinggi, menjadi bintang andalan di tempat masing-masing; tetapi egoisme dirinya juga besar. Kejeniusan pemikiran kurang diikuti kemampuan “sharing of power”. Habibie pernah merajalela dalam pemerintahan, sebagaimana Anis merajelela di PKS. PKS jelas butuh kecerdasan Anis, tetapi Anis juga bisa “memakan” PKS. Simakalama.

*** Politik PKS masa kini (terutama sejak tahun 2009) tak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat sosok Anis Matta. Bisa saja orang berasumsi, “PKS adalah Anis Matta, dan Anis Matta adalah PKS.” Di atas kertas Pak Hilmi Aminuddin memang Ketua Majelis Syura, tetapi keputusan politiknya tak lepas dari pertimbangan pemikiran Anis Matta. Lalu inti dari pemikiran politik Anis Matta ini adalah “politik oplosan”; yaitu semacam ritme permainan politik yang memainkan dua kartu utama, “wajah Syariat” dan “ambisi kekuasaan”.

Di mata para kader, simpatisan, dan lawan-lawan politiknya, PKS membangun “wajah Syariat”; tetapi saat berbicara kekuasaan, jabatan publik, posisi birokrasi, dan lainnya, elit-elit politik PKS tidak kalah ganasnya dibandingkan elit-elit Demokrat, PDIP, Golkar. Berkali-kali elit PKS mengancam SBY terkait isu reshuffle kabinet, hingga pencapresan. Inilah politik oplosan atau “berwajah ganda”.

*** Politik oplosan model Anis Matta (dan didukung elit-elit PKS lainnya) ini menjadi sigamalama, eh simalakama bagi PKS. Di mata Ummat Islam, PKS dianggap tidak tulus mengembangkan politik Syariat; karena sangat kelihatan terlalu ambisi jabatan. Di mata para politisi, PKS dianggap sangat menjengkelkan, karena mereka berambisi kekuasaan, tetapi memakai dalil-dalil agama. Di mata publik secara umum, wajah PKS sangat membingungkan; ada kalanya tampak Islami dan santri, tetapi di lain kesempatan sangat haus kekuasaan dan kurang punya rasa malu (fatsoen politik). Jika kemudian ada yang berusaha mengeliminasi PKS (melalui KPK misalnya), hal itu tak lepas dari alasan kejengkelan tersebut.

*** Seburuk apapun sosok dan perilaku A. Fathonah, maka dia mewakili dirinya sendiri. Dia bukan mewakili partai, gerakan dakwah, komunitas kaum Muslimin. Dia hanya mewakili dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan PKS yang sejak lama mengambil banyak benefits dengan mengatasnamakan partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka menyikapi dua obyek ini juga berbeda perlakuannya.

*** Sejak lama sudah sangat banyak suara-suara kaum Muslimin yang mengkritik PKS, memberikan penilaian, nasehat, masukan, dan lain-lain. Tetapi semua itu ditepiskan begitu saja. PKS tetap pada patron politiknya yang menampilkan “wajah ganda”. Tapi ada satu hal yang paling berbahaya yang sering dilakukan jajaran pengurus PKS dan para pendukungnya, yaitu kebiasaan mereka menyerang balik orang-orang yang memberi kritik, nasehat, masukan dengan berbagai tuduhan buruk. Misalnya, tuduhan sebagai barisan sakit hati, suka iri/dengki, pemecah-belah, tidak punya karya nyata selain mengkritik, tukang fitnah, tukang ghibah, antek Zionis, antek Amerika, tidak mau tabayyun, dan lain-lain. Lha, mereka diberi masukan baik kok, malah menuduh begitu? Sayang sekali.

*** Membalikkan kritik dengan tuduhan balik sebenarnya termasuk salah satu teknik penggalangan massa. Hal ini sudah dikenal dan sering dipakai. Mereka tidak mau mencerna kritik berdasarkan ilmu, akal sehat, dan Syariat; tetapi langsung membalikkan begitu saja kritik-kritik itu dengan serbuan tuduhan-tuduhan. Padahal di antara para pengeritik itu banyak yang punya niat tulus; tidak bermaksud menjatuhkan, tapi menjaga kemurnian Syariat.

*** Sampai titik tertentu, tidak ada yang sanggup untuk meluruskan PKS. Semua angkat tangan, semua geleng-geleng kepala, atau mengelus dada. PKS sudah tak bisa dinasehati, seperti layaknya orang yang tak lagi membutuhkan Surat Al ‘Ashr. Harapan terakhirnya ialah keadilan Allah Ta’ala yang tak akan membiarkan kebathilan merajalela.

***  Segala turbulensi yang dihadapi PKS saat ini adalah buah dari cara politik yang mereka kembangkan sendiri. Terutama kebiasaan melontarkan TUDUHAN BURUK kepada kaum Muslimin yang selama ini peduli. Orang-orang peduli itu telah memberikan nasehat, kritikan, masukan, tetapi semua itu dibalikkan dalam bentuk tuduhan-tuduhan buruk dan kata-kata cacian. Hal ini sangat menyakitkan bagi hati-hati yang tulus itu, dan membuat Allah Ta’ala murka.  Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan, bahwa orang sombong tidak masuk surga. Ketika ditanya ciri orang sombong, beliau mengatakan: Batharal haqqa wa ghamtun naasi (menolak kebenaran dan merendahkan manusia).

*** Kini PKS sedang menggali kekuatan dan daya untuk menerjuni kancah “perang terbuka” melawan KPK. Ibaratnya, PKS seperti banteng terluka. Betapa tidak, guru spiritual mereka, Ust. Hilmi Aminuddin dipaksa datang ke KPK untuk diperiksa (sebagai saksi). Jika PKS tidak melawan, nama baik elit-elit pengurusnya akan hancur di mata para kader pendukung. Tetapi kalau melawan, mereka akan menghadapi “pengadilan publik” yang selama ini telah memposisikan KPK bak Malaikat yang suci dari dosa dan kepentingan. Simalakama lagi.

Akhirnya kini harus kami katakan, bahwa:

“Sejak awal kami tidak memiliki kebencian kepada PKS (dulu PK). Kami hargai eksistensi partai ini dalam kerangka perjuangan politik keummatan di Indonesia. Tetapi seiring waktu, PKS tidak menepati komitmennya sebagai partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka kami pun menyampaikan kritik, nasehat, masukan untuk perbaikan. Tetapi sayang, alih-alih kalangan PKS menghargai masukan semacam ini; mereka –melalui kader-kadernya- justru bersikap memusuhi masukan-masukan semacam ini. Mereka beranggapan, setiap masukan atau kritik adalah upaya fitnah, demarketing, black campaign, atau konspirasi. Masya Allah, niat baik berbalas tuduhan buruk. Padahal dalam konteks politik terbuka di zaman modern, jangankan kritik atau nasehat; kecaman-kecaman keras pun termasuk ekspresi politik yang dihargai. Jujur kami sangat sedih.”

Untuk selanjutnya, kami hanya bisa melihat keadaan ke depan, tanpa bisa berharap banyak. Jika kami mengharapkan PKS hancur, tentu itu tak sesuai dengan niat awal kami. Sebaliknya, jika kami menjamin PKS akan baik-baik saja, maka kami sama sekali tidak memiliki kuasa atas Sunnatullah dan Hikmatullah yang berlaku dalam kehidupan ini. Kata-kata yang bisa kami ucapkan: “Selamat berjuang kawan-kawan PKS, semoga diterima di sisi Tuhan sesuai amal-amalmu!”

PKS telah memilih, mereka pun akan menerima. Besar harapan kami, apapun yang nanti kan terjadi, Allah Ta’ala senantiasa menolong kaum Muslimin, memudahkan urusannya, serta menyampaikan harapan-harapannya. Amin Allahumma amin.

Admin.