Manusia Sekuler Ekstrim Pun Membutuhkan Syariat Islam…

September 23, 2012

Syariat Islam Melindungi Eksistensi Manusia; Jika Mereka Tahu dan Mau Jujur Mengakuinya.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebagai seorang Muslim, tentu kita mengimani Syariat Islam. Kita berusaha mempelajarinya, mempercayainya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi tidak semua orang bisa menerima Syariat Islam; banyak di antara mereka justru menolak, meremehkan, atau menganggapnya sebagai musuh kehidupan.

Elit-elit politik sekuler, mereka sangat membenci Syariat Islam. Jangankan konsep Syariat dalam suatu tatanan yang utuh, istilah “Perda Syariah” pun sudah membuat mereka muntah-muntah dan insomnia (susah tidur). Di antara elit sekuler itu ada yang bersikap ekstrim, mereka terus berkampanye agar para aktivis Islam yang membela Syariat bisa dimasukkan dalam kategori musuh negara, musuh pembangunan, dan musuh NKRI.

Selain elit politik, yang terkenal memusuhi Syariat adalah media-media massa sekuler, dan wartawan-wartawan Islam phobia; pengusaha-pengusaha sekuler yang telah menghalalkan kapitalisme dan liberalisme; para seniman, para artis, selebritis yang memuja gaya hidup hedonis dan westernis; para aktivis LSM, para aktivis HAM, para aktivis kesetaraan gender, para aktivis pluralisme, para pendukung gay dan lesbian; para pengasong aliran sesat, khususnya Syiah, Ahmadiyah, dan Liberal; termasuk juga para perwira militer sekuler, para purnawirawan sekuler, anggota militer anti Islam, serta para desertir yang kerap dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha hitam; hal serupa ada pada korp kepolisian, anggota aktif dan pensiunan yang anti Islam dan sekuler; tentu saja tidak ketinggalan, para koruptor, para mafia, bandar narkoba, bandar judi, bandar prostitusi, bandar pornografi, dll. Semua orang ini, dalam eksistensi hidupnya, memiliki sumbangan besar dalam merobohkan tata-nilai dan Syariat Allah Ar Rahmaan.

Bukan hanya orang-orang itu (yang jumlahnya banyak); tetapi juga tokoh, aktivis, pemikir, penulis, pendakwah yang melabelkan dirinya dengan komunitas Muslim; tidak jarang mereka juga bersikap anti Syariat Islam. Mereka menampakkan diri sebagai tokoh Islam, tokoh ormas Islam, sebagai cendekiawan Muslim, atau bahkan sebagai ulama; tetapi sikap dan pemikirannya cenderung paranoid dengan missi Islamisasi kehidupan. Salah satu dari mereka pernah berkata: “Kalau Syariat Islam dilaksanakan di Indonesia, maka persatuan akan berubah menjadi persatean (pembantaian).” Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam tulisan sederhana ini, saya ingin mengajak siapa saja yang merasa alergi, ketakutan, atau phobia dengan Syariat Islam. Marilah kita buka pikiran, buka kejujuran, dan bersikap apa adanya; tanpa manipulasi, tanpa kamuflase, tidak perlu berpura-pura. Marilah kita lihat Syariat Islam dari perspektif hajat hidup manusia yang paling dasar, yaitu eksistensinya.

Sebagai manusia berakal, terpelajar, dan berbudi luhur; kita pasti mendukung segala hal yang bermanfaat untuk melestarikan kehidupan manusia di muka bumi. Misalnya, kita mendukung pelestarian lingkungan; kita mendukung kampanye “Go Green“; kita mendukung pengurangan emisi karbon; kita mendukung konservasi air dan hewan langka; kita mendukung kampanye anti penebangan hutan secara semena-mena; kita mendukung pemberantasan angka kemiskinan; kita mendukung pemberantasan buta huruf dan penyakit endemik; kita mendukung larangan perdagangan manusia; kita mendukung penghormatan atas HAM; dan lain-lain. Pendek kata, apapun yang berguna untuk meningkatkan martabat hidup manusia, kita mendukungnya.

Jika kita benar-benar berkomitmen untuk pembangunan manusia dan pemuliaan harkat hidup mereka di dunia; mestinya kita juga mendukung realisasi Syariat Islam dalam kehidupan. Minimal bersikap simpati dan tidak antipati. Sebab, Syariat Islam memiliki koneksi yang sangat kuat dengan kelestarian hidup manusia. Disini setidaknya ada 5 ALASAN yang bisa kita renungkan, seputar kontribusi Syariat Islam untuk menjaga eksistensi hidup manusia.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

PKS Berhak Di-adil-i

Maret 26, 2011

Maksud kata “di-adil-i” disini bukanlah: dihakimi, disidang, atau disudutkan. Tetapi maksudnya, diberikan hak keadilan baginya. Kata adil disana bukan merupakan kata kerja, tetapi merupakan kata sifat.

PKS selama ini mengklaim sebagai partai yang punya komitmen membangun dan membela keadilan di Indonesia. Hal itu bisa dimaknai sebagai aksi dari PKS untuk masyarakat. Posisi PKS disana sebagai subyek keadilan. Namun, mereka juga berhak menjadi obyek keadilan, yaitu menerima sikap-sikap adil kaum Muslimin kepadanya.

Jaga Keadilan, Dimanapun & Kapanpun!!!

Seperti kita tahu, akhir-akhir ini PKS sedang kebanjiran masalah. Peletupnya tak lain adalah “gerakan politik” secara intensif yang dilakukan mantan elit PKS sendiri, Yusuf Supendi. Beliau mantan anggota Majlis Syura PKS, sekaligus mantan anggota DPR RI Fraksi PKS, namun tahun 2010 lalu beliau dipecat.

Bisa dikatakan, Pak Yusuf Supendi pernah mengalami perlakuan partai yang tidak menyenangkan baginya. Minimal, berupa pemecatan keanggotaan dirinya dari komunitas PKS. Lalu sebagai upaya “menciptakan keseimbangan”, beliau balik melakukan gerakan politik yang sangat tidak menyenangkan bagi komunitas PKS. Khususnya, bagi elit-elit PKS yang beliau tuduh melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Di antara tuduhan atau serangan Pak Yusuf Supendi, ada yang bisa dimaklumi secara nalar politik praktis di Indonesia. Misalnya, melaporkan kasus penggelapan uang, melaporkan ancaman kekerasan terhadap dirinya, melaporkan kebohongan publik, dan lainnya. Namun ada juga yang menyentuh masalah PRIVASI yang seharusnya tidak boleh diumbar dalam ruang publik.

Masalah privasi tersebut adalah soal POLIGAMI elit-elit politik PKS dan ancaman membeberkan riwayat “kenakalan” seorang elit PKS di masa remajanya. Kedua persoalan ini ranahnya pribadi, seharusnya tidak menjadi komoditi politik. Ya, sekesal-kesalnya kita kepada suatu kaum, tetap harus bersikap adil.

Poligami beberapa elit PKS adalah masalah pribadi yang tidak boleh “dikomoditikan” secara politik. Andaikan disana ada masalah “fasakh” (pernikahan yang dianggap batal karena tidak memenuhi unsur syar’i), hal itu tetap tidak boleh dikomoditikan. Jika kita ingin menasehati dalam konteks fasakh itu, harus memakai istilah-istilah yang bersifat umum, seperti: “Poligami elit partai tertentu”, “kehidupan poligami elit politik tertentu tidak sesuai syar’i”, “ada masalah pada poligami elit tertentu”, dan semisalnya.

Jadi, unsur nama partai atau nama personal, harus tetap disembunyikan. Ya, karena ini masalah pribadi, bukan wilayah politik yang bisa dikomoditikan. Kalau kita mengalami hal serupa, pasti akan sangat BERAT, saat melihat masalah pribadi naik ke urusan publik.

Kemudian, keinginan mengadukan “kenakalan” elit PKS di masa remajanya. Ini juga sangat salah dan seharusnya dijauhi. Seharusnya, sebagai orang yang paham agama, menghindari masuk ke masalah-masalah seperti ini. Sungguh tidak adil ingin membongkar aib-aib seorang remaja di masa lalu. Andaikan, setiap remaja Muslim boleh diumbar aib-aibnya saat masih muda, kaum Muslimin tak akan pernah punya tokoh.

Lagi pula, masa remaja itu terpisah dengan urusan politik. Seharusnya masa-masa remaja tersebut tidak dikaitkan dengan soal pemecatan diri dari suatu partai. Tidak boleh. Dan lebih tidak boleh lagi, ketika aib-aib masa remaja itu akan digunakan untuk merusak hubungan baik suami-isteri. Ini adalah tindakan khianat dan seperti perilaku syaitan yang suka menceraikan suami dari isterinya. Ini harus dihindari sejauh mungkin.

Seberat-beratnya resiko, sehebat-hebatnya badai menimpa, seburuk-buruknya realitas; tetap saja seorang Muslim harus selalu bersikap adil. Tidak boleh bersikap zhalim. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman: “Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan wa itai dzil qurba wa yanha anil fakhsya’i wal munkar wal baghyi, yaizhukum la’aakum tadzak-karun” (sesungguhnya Allah memerintahkan kita berbuat adil dan ihsan, memberi kepada karib kerabat, dan Dia melarang kita dari perbuatan keji dan mungkar, serta pembangkangan. Demikianlah Allah mengajari kalian, agar kalian mengambil sebaik-baik peringatan. Surat An Nahl).

Bila selama ini kita menuntut sikap adil dari PKS. Kini kita harus juga menunaikan hak-hak keadilan mereka. Terserah apapun dan bagaimanapun perasaan “membuncah” dalam dada kita. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Politische).