Ada Apa dengan Fahri Hamzah ???

April 10, 2016

 

Ada apa ya?

Kenapa dengan Bung Fahri?

Apa beliau dipecat?

Dilengserkan?
Jadi korban konspirasi?

Hormati Keputusan Internal Sebuah Partai

Hormati Keputusan Internal Sebuah Partai

Jadi korban politik Devide Et Impera?

Jadi korban atau pemakan korban?

Jadi pesakitan atau menyakiti?

Jadi subyek atau obyek?

Entahlah…

Kami tidak tahu.

Maklum, bukan pengurus PKS.

Kami hanya bisa berharap…

Bung Fahri baik-baik saja.

PKS baik-baik saja.

Ummat Islam baik-baik saja.

Para pembaca juga baik-baik saja.

Amin amin ya Rabb.

.

Enak begini kan?

Kalau tidak tahu, ngaku tidak tahu.

Tidak menduga-duga.

Tidak spekulasi.

Tidak nambah keributan.

Betul gak sih?

Betul ya…

.

“Betul, betul, betul!” kata Upin.

 

(Smile).

Iklan

Antara Kita, KPK, dan Fahri Hamzah

Oktober 5, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini anggota DPR Fahri Hamzah, membuat “gebrakan” lagi. Mungkin karena seringnya “gebrak-menggebrak”, mungkin suatu saat dia akan tersandung, jatuh, lalu…gedubraakkk!

Kali ini Fahri membuat usulan mencengangkan, “Bubarkan saja KPK. Ia sudah jadi institusi superbody yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi. KPK bisa seenaknya saja menyadap orang lain.” Begitulah logika sederhananya.

Silakan Nak, Hancurkan Korupsi! Babat Habis Ya...

Dalam blog ini kita sudah berikan kritik sangat pedas ke elit-elit KPK, terutama sosok seperti Chandra Hamzah, Bibit Samad, Ade Rahardja, dkk. Kesalahan elit-elit seperti ini terutama Chandra-Bibit, ialah dalam kasus “Kriminalisasi” yang melahirkan gerakan sejuta facebookers tahun lalu.

Kesalahan mereka ialah: Kemana-mana selalu berlindung di balik isu KRIMINALISASI. Tetapi ketika ditantang untuk membuktikan ada atau tidaknya kriminalisasi melalui jalur hukum; mereka tak mau. Nah, ini yang kacau. Penegak hukum kok tak mau dengan solusi jalur hukum. Seolah, sebagai pejabat KPK mereka ingin diperlakukan sebagai “insan suci”. Ini tidak benar.

Tapi meskipun begitu, kita juga tak setuju dengan ide Fahri Hamzah. Inti masalahnya ialah MENTALITAS ketua-ketua KPK yang lemah dan gampang goyang oleh tekanan-tekanan politik. Mental seperti itu harusnya diganti oleh orang yang “berani mati”. Tetapi gimana ya…mereka menjadi pejabat KPK juga dalam rangka “mencari nafkah”, kok bisanya disuruh “berani mati”? Rasanya, harapan kita terlalu muluk ya.

Singkat kata, bangsa Indonesia masih butuh KPK. Kalau mau diperbaiki, ya orang-orangnya itu di-reshuffle. Ganti saja, orang-orang kaya yang berani mati. Kalau tak ada, bolehlah KPK dibubarkan.

Sebagai rakyat biasa, kita tentu tak takut dengan KPK. Wong, memang kita tak berurusan dengan dana-dana negara kok. Bagi anggota DPR, seperti Fahri Hamzah dkk. bisa jadi mereka “ngeri juga” kalau tiba-tiba ditetapkan oleh KPK sebagai “tersangka”. Nanti mereka bersungut-sungut, “Lha wong, saya dipilih oleh puluhan ribu rakyat. Masak gerak-gerik saya dipantau terus oleh KPK? Ini namanya pelecehan. Saya tak terima deh.”

Inilah bedanya kita dengan Fahri Hamzah. Kita lebih menyoroti mentalitas pemimpin-pemimpin KPK yang sangat lemah. Sedang Fahri Hamzah justru menginginkan KPK dibubarkan karena “mengancam” kepentingan para anggota DPR.

Andaikan nanti KPK dibubarkan… Sebaiknya masyarakat mendukung gerakan “Jihad Anti Korupsi” yang sedang digalakkan oleh Habib Rieziq Shihab dan FPI. Siapa tahu, itulah cara yang efektif untuk menumpas para koruptor satu per satu. Allahumma amin.

Intinya: Berantas korupsi, jangan berantas usaha-usaha menumpas korupsi!!! Tahu kan bedanya? Semoga.

AMW.


Kembalilah Ke Jatidiri Partai Islam (Suara Seorang Simpatisan PKS)

Mei 23, 2011

 

Merindukan Partai Sejati…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini ada sebuah komentar menarik dari seorang pembaca blog. Beliau yang menamakan dirinya sebagai “Simpatisan PKS” itu dengan amat sangat berharap, agar PKS kembali ke jatidiri sebagai Partai Islam, Partai Dakwah, Partai Kader, yang lebih komitmen kepada amar makruf nahi munkar. Bukan partai terbuka, atau partai nasioalis seperti saat ini.

Karena pentingnya masukan ini, dan sebagai bagian dari upaya memperbaiki keadaan Ummat, komentar itu saya muat dalam sebuah tulisan tersendiri. Ada sedikit perbaikan-perbaikan redaksional, tanpa keluar dari substansi tulisan yang dituju oleh penulisnya. Silakan disimak dan direnungkan!

Karena 3 orang adik saya anggota PKS maka kami ( 11 bersaudara ) bersama suami, istri dan anak-anak kami yg telah dewasa, semuanya menjadi simpatisan PKS.  Berbagai stiker dan atribut PKS kami tempel di jendela dan pintu rumah sebagai dukungan nyata kami kepada PKS. Namun belakangan ini kami terkejut dengan tingkah polah elit PKS yg memalukan dan semakin jauh dari harapan….

Sebut saja sikap berang Fahri Hamzah di TV ketika SBY memilih Boediono sbg Wapres-nya dan bukan kader PKS. Terlihat jelas sikap gila jabatan dan kekuasaan elit PKS disitu !!!, Lebih miris lagi manakala dalam berpolitik ternyata PKS tidak lagi berpegang kepada amar ma’ruf nahi munkar, melainkan kepada perhitungan untung rugi yang didapat melalui lobi-lobi politik !!!

Dan yang paling mengejutkan adalah manuver politik yang dilakukan oleh Anis Matta dan Mahfudz Siddiq yang membelokan haluan partai dari partai islam (partai kader) menjadi pertai terbuka !!! Luar biasanya kedua orang ini membuka pintu partai untuk dua tujuan, yaitu mempersilahkan siapa saja (dari agama apapun ) masuk ke PKS sekaligus mempersilahkan kader (bahkan pendiri PKS) yang masih mengiginkan PKS sebagai partai dakwah, partai Islam, atau partai kader, untuk keluar melalui pintu tersebut dan membentuk partai baru. Mendapat tantangan ini, para deklarator PK yang ingin melihat PKS tetap sebagai partai dakwah pun beramai-ramai keluar dari PKS (yang dulu bernama PK ) itu….

Sebagai simpatisan, kami jelas kecewa dengan sikap elit  PKS yang lebih memilih orang luar yang tidak jelas akhlaknya dibanding para deklarator yang sudah jelas visi, misi dan tekadnya dalam menegakkan Dinul islam. Sebagai masukan bagi PKS, daya tarik PKS bagi kami adalah jati dirinya sbg partai dakwah, partai kader, dan satu-satunya partai di Indonesia yg berani menyatakan diri sbg partai Islam.

Kini setelah PKS jadi partai terbuka (nasionalis ), daya tarik itu sudah hilang, pupus, bak debu tertiup angin. Tak ada lagi daya tarik PKS yg dapat memikat hati kami dg dijadikannya PKS sbg partai terbuka, maka ia sudah tak ada beda sama sekali dg PDIP, GOLKAR, maupun Demokrat. Kalaupun ada bedanya maka itu hanya ada pada anggotanya dimana semua partai nasionalis itu anggotanya tahu kalau partainya adalah partai nasionalis; sedangkan anggota PKS tidak tahu kalau partai mereka sekarang adalah partai nasionalis juga; mereka tidak tahu kalau mereka sekarang layak disebut sbg Kaum Nasionalis !!!

Harapan kami sekeluarga, semoga PKS kembali ke jalan yg benar sbg Partai Dakwah, Partai Kader, atau Partai Islam. Dan jika harapan ini tidak terkabul, maka mohon maaf keluarga besar kami plus keluarga besar istri dan anak kami terpaksa mengucapkan….”Bye bye PKS!!!” Sekaligus mengucapkan selamat datang partai nasionalis baru yaitu PKS yg sekarang di percaturan politik tanah air. Angkatlah bendera Nasionalismemu tinggi-tinggi dg penuh kebanggaan dan jangan malu untuk mengucap, “Aku bangga dg Partai Nasionalis PKS ku !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Dan kami pun akan menyambut dg ucapan …” Selamat berjuang sendiri, wahai kaum Nasionalis !!!!!!”

BUAT SEMUA KADER “PKS”

Sebelum kami benar-benar meninggalkan PKS, ada baiknya kami sampaikan harapan terakhir kami ini, yaitu: “Jika PKS ingin mendapatkan kembali simpati dan suara kami di Pemilu yang akan datang , maka tak ada cara lain kecuali mengembalikan PKS sbg Partai Islam, Partai Kader, atau Partai dakwah yang berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar berdasar Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Bukannya menimbang segala sesuatu berdasarkan perhitungan untung rugi melalui lobi-lobi politik seperti yg belakangan ini sering dilakukan oleh elite PKS dg begitu terbuka (bahkan telanjang) di mata kami para simpatisan PKS (yang bagi kader PKS sendiri mungkin tidak terlihat ).”

Sampaikan harapan kami ini kepada elite kalian!  Sampaikan kriteria partai yg akan kami pilih di Pemilu yg akan datang ini, yaitu PKS spt yg dulu, yg penuh pesona, yg tidak tergiur oleh harta, tahta dan jabatan…. Kami menginginkan kader yg santun tutur budi bahasanya (tidak spt Fahri Hamzah yg mengumbar emosi ketika SBY memilih Boediono jadi Wapres-nya ). Kami rindu PKS spt PK dulu…. idealis, ruhamma, Islami, santun, tidak gila jabatan !!! Kami rindu akan sikap kader PKS di tingkat paling bawah yg begitu sopan santun dan bersikap lemah lembut, jauh dari kalimat-kalimat kotor dan caci maki antar sesama muslim, apalagi sesama kader PKS.

Sekarang segalanya bergantung kepada sikap para kader PKS sendiri…. Jika tetap memerlukan dukungan keluarga besar kami dan keluarga besar suami dan istri kami, maka syaratnya adalah kembalikan PKS sbg Partai Islam, Partai dakwah atau Partai Kader…. Tapi jika tidak memerlukan dukungan simpatisan dan hanya ingin mengeandalkan suara dari anggota atau kader PKS sendir maka monggoooo… Silahkan pertahankan PKS sebagai Partai terbuka alias Partai Nasionalis … dan dengan legowo kami pun akan dengan enteng mengucapkan…Bye Partai Nasionalis PKS…..
Sampaikan masukan ini kepada elite PKS yg sekarang memegang kendali Partai (banyak teman saya yg juga simpatisan PKS yg mengambil sikap seperti saya, maka jangan kaget jika PKS tetap ngotot jadi Partai Nasionalis suaranya akan jauh merosot, bahkan habis di Pemilu yg akan datang… Gak percaya ?? Monggooo, pertahankan saja PKS sbg Partai Nasionalis dan kita lihat buktinya di Pemilu mendatang…). [Selesai].

Dalam komentar di atas ada kalimat yang sangat penting direnungkan. “Jika tetap memerlukan dukungan keluarga besar kami dan keluarga besar suami dan istri kami, maka syaratnya adalah kembalikan PKS sbg Partai Islam, Partai dakwah atau Partai Kader….” Kalimat ini amat penting.

Kalau bicara politik secara riil, tentu jumlah dukungan dari sebuah keluarga, tidak mencukupi untuk memenangkan sebuah partai atau mengalahkannya. Karena untuk mendapat 1 kursi anggota DPR di suatu provinsi bisa dibutuhkan jumlah pemilih sekitar 500 ribuan. Sebuah jumlah yang tidak kecil.

Tapi di balik ungkapan itu ada suatu MAKNA yang sangat mengharukan, yaitu kerinduan hati sebuah keluarga Muslim kepada partai Islam, partai dakwah, yang komitmen dengan ajaran Islam dan amar makruf nahi munkar. Begitu besarnya kerinduan itu, sampai menjadikan dukungan keluarga sebagai “bargaining”. Siapa tahu akan dipedulikan oleh elit-elit PKS.

Masya Allah, itulah kesungguhan yang sangat berharga. Semoga Allah menerima amal dan komitmen seperti itu. Amin. Sebab Nabi Saw mengatakan, “Li kulli imri’in maa nawa” (bagi setiap orang mendapat pahala sesuai apa yang dia niatkan).

(Politische).


Catatan Sejarah Berharga

Mei 9, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini eramuslim.com memuat sebuah tulisan sangat berharga, tentang setting sejarah munculnya gerakan Neo NII. Artikel itu ditulis oleh Saudara Muhammad Fatih, isinya bisa dibaca disini: NII, Komando Jihad, dan Orde Baru: Untold Story.

Tulisan ini sangat menarik, sangat berharga, dan layak dibaca oleh para aktivis Islam, serta kalangan para dai-dai di jalan Allah Ta’ala. Sebagian dari yang dituturkan disana sudah pernah saya dengar dari sebagian aktivis Muslim, tetapi dalam tulisan itu data-data dan nama disebutkan secara detail. Ini kelebihannya daripada penuturan melalui lisan.

Pentingnya Menjernihkan Sejarah Ummat

Saya menghimbau para aktivis Islam, para pejuang Muslim, para dai untuk mengkopi tulisan itu, dan menyimpan sebagai dokumentasi dakwah Islam. Ini sangat penting dan di dalamnya terdapat banyak kebaikan yang bisa diambil sebagai hikmah, insya Allah.

Secara umum, NII sudah dibubarkan oleh Pemerintah Orde Lama (Soekarno) sejak Al Ustadz SM. Kartosoewirjo dieksekusi mati -semoga Allah merahmati beliau dan menerima amal-amalnya-. Tetapi tidak berarti seluruh kekuatan NII SM. Kartosoewirjo pupus. Tidak sama sekali. Masih ada sisa-sisa kekuatan, baik di kalangan pimpinan maupun pendukung grassroot.

Nah, sisa-sisa pendukung NII itu terbelah dua. Pertama, sisa kekuatan yang bisa dibina, direkrut, dan diarahkan oleh intelijen (Bakin). Kedua, sisa kekuatan yang ingin meneruskan idealisme NII SM. Kartosoewirjo. Dan kelompok terakhir itu dikenal sebagai Darul Islam Fillah. Atau disebut juga “Kelompok Fillah”. Kelompok ini dipimpin oleh Ustadz Djadja Sudjadi dan lainnya. Selain militan, mereka juga anti sikap kooperasi (kerjasama).

Namun kemudian pimpinan “Kelompok Fillah” itu dibunuh, sehingga yang bertahan kuat adalah kelompok NII hasil didikan Bakin dan sebagainya. Nasib “Kelompok Fillah” selanjutnya tidak banyak diketahui. Namun munculnya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan NII, yang banyak membawa paham sesat itu, tak lain sebagai buah rekayasa intelijen di era Orde Baru.

Konon ceritanya, Ustadz Djadja Sudjadi sudah disiapkan tiket pesawat agar segera pergi meninggalkan Indonesia. Tetapi sebelum tiket sampai di tangannya, beliau sudah keburu dibunuh.

Belakangan, Fahri Hamzah, salah seorang anggota DPR Fraksi PKS berkomentar tentang Negara Islam. Kepada media, Fahri mengatakan, “Siapa pun konsep negara agama tak ada, PKS juga sudah menegaskan itu. Tak ada negara Islam, Kristen, atau Hindu. Itu ide kampungan sekali.” Berita ini dikutip berbagai macam media online. Ramai beritanya di forum-forum diskusi.

Intinya, Fahri ingin menyelamatkan PKS dari serangan politik, terkait NII. Tapi caranya dengan mendestruksi ajaran Islam yang sudah baku, berupa Negara Islam atau Daulah Islamiyyah.

Seorang Muslim tidak boleh seperti itu, kalau masih sayang dengan agamanya. Menyebut Negara Islam kampungan sekali, ya sama saja dengan mencela Rasulullah Saw, mencela Khulafaur Rasyidin, serta mencela Imam-imam kaum Muslimin selama ribuan tahun.

Apa hukumnya menyebut ajaran Islam, yang bersumber dari Kitabullah dan As Sunnah, dengan ucapan “kampungan sekali”? Ya, jelas sekali, ini adalah penghujatan yang dalam terhadap ajaran Islam. Anda tahu lah, bagaimana hukumnya manusia yang menghujat agama Allah.

Rasulullah Saw ketika dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau memberikan amnesti umum kepada kaum musyrikin Makkah. Tetapi beliau tidak bisa memaafkan beberapa person orang Makkah yang telah menghujat Allah dan Rasul-Nya. Mereka dihukum mati.

Simbol-simbol Islam harus dijaga, dipelihara, dan diperlakukan secara suci. Tidak boleh ada yang menghujat Allah, Rasulullah Saw, menghujat Al Qur’an, menghujat Hadits Nabi Saw, menghujat ajaran Syariat Islam, menghujat para Shahabat Ra, menghujat konsep Islam, dan lain-lain.

Dalam hal ini Fahri Hamzah tidak memiliki udzur sama sekali. Dia tidak dimaafkan kalau mengatakan tidak tahu atau tidak mengerti ajaran Islam. Sebab usia Daulah Islamiyyah itu sudah ribuan tahun. Sejarah Nabi dan Shahabat, banyak diungkap dimana-mana. Apalagi dia adalah seorang politisi dari “partai dakwah” (kalau masih begitu ya).

Akhirnya, sejarah kaum Muslimin di negeri ini HARUS DILURUSKAN kembali. Apa yang dilakukan oleh Muhammad Fatih, merupakan salah satu upaya pelurusan itu. Semoga ia menjadi amal mulia di sisi Allah. Amin. Sedangkan pernyataan Fahri Hamzah, merupakan pernyataan negatif yang membuat sejarah itu keruh kembali. Sebagian ada yang menjernihkan; sebagian terus setia mengotori.

Begitulah ihwan insan. Ada yang berjalan istiqamah lurus, ada yang tersesat. Na’udzubillah minad dhalalah.

AM. Waskito.