Mereka Itu Main Riset Lho

Juli 15, 2015

** Indonesia jadi target kolonialisasi negara-negara kuat ekonomi. Tujuan dasar: memperluas pengaruh & eksploitasi kekayaan.
** Kelemahan orang Indonesia, karakter lemah. Islam agama superior, tapi TAK MAMPU dipahami. Islam sebatas: identitas, simbol, ritual. Hanya itu.
** Kelemahan lain, mayoritas Muslim Indonesia fakir-miskin. Keyakinan bisa diatur-atur sesuai tawar-menawar ekonomi. Siapa berani harga tinggi, akidah bisa ditukar.
** Untuk menguasai suatu bangsa, dilakukan riset terlebih dulu. Tujuannya cari data-data untuk merumuskan strategi terbaik.
** Setiap yang pernah menerima beasiswa dari NEGARA SYIAH itu, akan digunakan, untuk penggalian data. Dasarnya: mereka itu loyal ekonomi dan mau balas budi.
** Perilaku Mut’ah juga bisa menjerat. Para pelaku sudah didata pernah Mut’ah di mana dan dengan siapa?
** Segala hal tentang Muslim negeri ini diselidiki. Termasuk hal-hal remeh seperti:
= Jenis-jenis sarung yang dipakai ke masjid.
= Kebiasaan sandal ilang di masjid.
= Makanan khas buka puasa.
= Variasi bacaan tarhiman (puji pujian) yang sering dibaca di masjid-masjid.
= Model-model jilbab Muslimah, dll.
** Bahkan isu-isu KONFLIK diriset sangat detail. Misal perselisihan sedekap dalam shalat, jumlah rakaat tarawih, kirim bacaan Al Fatihah, mayat disiksa karena tangisan ahli waris, Nabi naik ke langit dengan badan-ruh atau ruh saja, dll.
** Isu konflik harus dikuasai, untuk melemahkan sebuah bangsa, lewat “debat sampai akhir zaman”. TAK ada habisnya.
** Yang mau dapat kerja, harus setor hasil penyelidikan tentang Muslim Indonesia.
** BEGITULAH… Riset besar dengan dana besar sudah dilakukan. Tujuannya “untuk panen revolusi” di suatu masa nanti.
** Mereka main riset, tapi kita tak menyadarinya. Sayang memang.
NAS’ALULLAH AL ‘AFIYAH.

(MindOn).


[10]. Harta Umat dan Eksistensi Agama

Februari 17, 2013

Peran terpenting harta benda, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, adalah untuk menjaga eksistensi agama. Dengan bekal harta, kaum Muslimin bisa mendirikan masjid, membuat pakaian yang memenuhi standar Syariat, membuat rumah dan bangunan sebagai tempat hunian, membiayai proses belajar-mengajar, menyantuni fakir-miskin dan yatim-piatu, membantu para pemuda yang mau menikah, membantu anak-anak terlantar, membantu korban bencana alam, dan seterusnya. Banyak sekali amal-amal kebaikan bisa dilakukan, dengan sarana harta.

Sejak zaman awal Islam, harta sudah banyak digunakan untuk membantu kaum Muslimin yang fakir-miskin, menyelamatkan budak-budak Muslim dari tuannya, membiayai hijrah, membiayai kehidupan saat mengalami boikot ekonomi, untuk membiayai perdagangan (bisnis), dst. Ibaratnya, dimana ada dinamika kehidupan umat, disana harta-benda dibutuhkan.

Tetapi kemudian persepsi terhadap harta ini jauh menyimpang dari koridor Syariat. Sebagian orang mencari harta-benda semata untuk konsumsi pribadi, menaikkan gengsi sosial, dan memenuhi syahwat hedonisme. Tetapi ada juga yang anti-pati kepada harta, karena ia dianggap sebagai fitnah kehidupan dunia; harus dijauhi sejauh-jauhnya. Kedua sikap ini keliru.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta itu seperti pisau. Kita membutuhkan pisau bukan karena materinya, tetapi karena manfaatnya (yaitu untuk mengiris, memotong, memangkas, membelah, dll). Harta benda itu perlu dikelola, dikembangkan, diregulasi, untuk menghasilkan manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupan kaum Muslimin. Tetapi tidak perlu juga menumpuk harta, membuang-buang harta untuk kemewahan, serta menghabiskan harta demi kesenangan sempit.

Seorang Muslim boleh hidup dalam kekurangan harta; jika seperti itu yang dia inginkan. Tetapi ummat Islam, sebagai komunitas kolektif, tidak boleh jatuh fakir-miskin; sebab jika itu terjadi, ia akan membuka pintu-pintu penderitaan hidup yang luas. Harus diingat, kemiskinan atau kefakiran, termasuk kondisi sosial yang ingin diberantas oleh Islam, melalui instrumen Zakat.

Misalnya, ketika tidak ada Muslim yang bisa membuat pabrik-pabrik, maka kaum Muslimin akan berduyun-duyun bekerja di pabrik milik non Muslim; lalu mereka dipaksa mengikuti aturan yang tidak Islami, dipaksa meninggalkan shalat, dipaksa makan makanan haram. Ketika tidak ada pedagang Muslim, maka kaum Muslimin akan menyerahkan transaksi dagangnya kepada orang lain; kemudian mereka terbawa-bawa cara berdagang bathil dan memperdagangkan barang haram. Ketika tidak ada Muslim yang mendirikan klinik, maka kaum wanita Muslimin saat berobat mereka membuka aurat di depan dokter-dokter non Muslim, bahkan melahirkan di tangan mereka. Ketika kemiskinan merajalela, maka kaum Muslimin melakukan kemusyrikan, melakukan kejahatan, melakukan penipuan, terjerumus ribawi, bahkan menjadi murtad (na’udzubillah min dzalik) karena godaan harta. Lihatlah semua ini, bahwa kelemahan dalam urusan harta-benda, membuka banyak kerusakan agama.

Maka ummat Islam harus memikirkan aset-aset ekonomi miliknya, dalam rangka menjaga eksistensi agamanya. Tanpa dukungan harta-benda, agama ini dalam bahaya. Sebaliknya, jika ummat Islam memiliki bekal harta-benda yang kuat, lalu memanfaatkannya untuk menjaga eksistensi agama, insya Allah ada harapan keterpeliharaan agama Allah.

Jagalah harta-bendamu, sebab ia berguna untuk menjaga agamamu!


Sekolah Untuk “Orang Miskin”

Mei 31, 2010

Topik ini merupakan salah satu kecaman besar saya kepada dunia pendidikan kita, khususnya terhadap paradigma berpikir yang mengistimewakan “fakir-miskin” dan “yatim-piatu” dalam pendidikan. Bukan karena saya anti kepada orang miskin atau yatim-piatu, tetapi selama ini kita sering salah kaprah.

Banyak yayasan, lembaga sosial, perusahaan, instansi, BUMN, dll. memberikan fasilitas istimewa kepada kaum fakir-miskin dan yatim-piatu. Mereka diberi beasiswa, kesempatan sekolah, tunjangan, fasilitas, dan sebagainya. Begitu istimewanya kaum fakir-miskin dan yatim-piatu, sehingga ada anak-anak dari keluarga “agak mampu” yang membayangkan keluarganya menjadi miskin, atau ayah-ibunya wafat, agar mereka mendapat fasilitas istimewa dalam pendidikan.

Pendidikan Berbasis "Rasa Kasihan".

Sebenarnya, pendidikan bagi fakir-miskin dan yatim-piatu itu sudah menjadi KEWAJIBAN NEGARA untuk melayani mereka sebaik-baiknya. Bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kesehatan, gizi, fasilitas hidup, dll. Dimana saja ada masyarakat fakir-miskin dan yatim-piatu, sudah menjadi KEWAJIBAN negara untuk memperbaiki kehidupan mereka. Hal ini bersifat wajib, tidak ada toleransi lagi. Seperti dalam UUD disebutkan, “Fakir-miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Jadi, amat sangat telat kalau kita baru sadar bahwa fakir-miskin dan yatim-piatu itu harus ditolong sebaik-baiknya.

Kalau dalam praktik ternyata fakir-miskin dan yatim-piatu diterlantarkan oleh negara, seharusnya para pemimpin itu diajukan ke pengadilan, karena telah melanggar hak-hak rakyat lemah yang seharusnya dibantu, ditolong, dan dientaskan dari penderitaan mereka. Hanya saja, pernahkah di Indonesia ada seorang pejabat diadili karena menerlantarkan fakir-miskin dan yatim-piatu? Tidak pernah ada, dan tidak ada pula yang mau mengajukan tuntutan.

Adapun soal pendidikan, itu masalah berbeda. Ketika bicara tentang pendidikan, pikiran kita harus segera menuju agenda besar, yaitu pemberdayaan SDM. Dalam konteks pemberdayaan SDM, paradigma-nya jangan kepedulian sosial untuk menolong fakir-miskin dan yatim-piatu. Jelas harus dipisahkan antara keinginan membentuk SDM yang kuat dengan kewajiban melayani fakir-miskin dan yatim-piatu. Dua hal tersebut sangat berbeda. Pembentukan SDM terkait dengan missi Departemen Pendidikan, sementara menolong fakir-miskin dan yatim-piatu berkaitan dengan missi Departemen Sosial. Ini dua hal berbeda, jangan dicampur-aduk.

Kalau mau membentuk SDM yang handal, ya bentuklah sebaik-baiknya. Cari manusia-manusia berbakat, komitmen belajar tinggi, motivasi kuat, bermoral luhur, dan sebagainya, lalu berikan bantuan kepadanya sebaik-baiknya. Tidak peduli, dia anak konglomerat atau pengusaha sekalipun. Dimana saja ada bakat-bakat yang kuat di bidang SDM, bantu mereka, didik mereka sebaik mungkin, agar terlahir tenaga-tenaga SDM yang handal.

Bakat dalam belajar, motivasi kuat, bermoral luhur, semua itu sangat dibutuhkan untuk melahirkan manusia-manusia kuat. Dimanapun bakat-bakat itu ada dan ditemukan, apakah di golongan fakir-miskin, golongan menengah, bahkan golongan elit sekalipun, bantu mereka untuk mendapat pendidikan sebaik-baiknya, seluas-luasnya. Setelah itu, kita bisa berharap mereka akan menjadi manusia-manusia handal yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat luas.

Selama ini, ada rasa sedih di hati ketika menyaksikan begitu banyaknya fasilitas kemudahan bagi fakir-miskin dan yatim-piatu. Sementara golongan lain, yaitu anak-anak dari klas “menengah ke bawah”, mereka sebenarnya juga sangat membutuhkan dukungan itu. Hanya karena mereka tidak masuk kriteria “orang miskin” dan “yatim-piatu”, akhirnya mereka diabaikan. Hal ini seringkali berakibat membunuh potensi-potensi besar yang seharusnya lahir di tengah masyarakat kita. Banyak sekali anak-anak yang mampu, berprestasi, motivasi tinggi, rajin ke masjid, patuh kepada orangtua, menghargai kaum wanita; hanya karena mereka “bukan miskin” dan “tidak yatim-piatu”, mereka tidak dibantu sama sekali dalam belajar. Akibatnya, potensi mereka tidak berkembang baik. Bagaimana akan berkembang, wong mereka tidak memiliki biaya cukup untuk mengakses fasilitas-fasilitas pendidikan?

Salah satu contoh, program Dompet Dhuafa Republika. DD Republika memiliki suatu paradigma untuk memberikan fasilitas pendidikan yang istimewa kepada anak-anak miskin yang berprestasi. Tujuan mereka, “Untuk mengentaskan mereka, agar bisa memutus rantai kemiskinan yang membelenggu keluarga mereka.” Sekilas pintas, pemikiran seperti ini benar. Tapi kalau kita kaji lebih dalam, pemikiran seperti ini justru semakin memperpanjang riwayat kemiskinan itu sendiri.

Lho, bagaimana logikanya sehingga pemikiran seperti itu malah disebut memperpanjang riwayat kemiskinan?

Baca entri selengkapnya »