Lebih Bijak Memahami Posisi Pejuang Suriah (Piagam Kehormatan Revolusi)

Mei 24, 2014

Alhamdulillahi Rabbil’alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram wa sallim ‘alaihim ajma’in. Amma ba’du.

Baru-baru pimpinan Jabhah Islamiyah Suriah, Syaiikh Hassan Aboud dan sejumlah pimpinan faksi pejuang Islam Suriah menanda-tangani teks yang disebut “Piagam Kehormatan Revolusi”. (Isi teks ini dapat dibaca pada edisi terjemahan berikut: http://www.kiblat.net/2014/05/22/tokoh-jihad-nilai-piagam-jabhah-islamiyah-diintervensi-asing/).

Setelah teks piagam ini beredar, segera mendapat tanggapan dari faksi-faksi Mujahidin, khususnya Jabhah Nushrah dan para pemimpin Jihad internasional. Jabhah Nushrah adalah sebuah gerakan Jihad Islam, telah banyak berjasa bagi Ummat ini, telah berkorban habis-habisan dalam membela Ummat di Suriah. Mereka pantas bereaksi, pantas bersikap, dan alhamdulillah pernyataan sikapnya sangat baik, tidak keluar dari ranah Syariat Islam. (Isi teks tanggapan Jabhah Nushrah bisa dibaca pada edisi terjemahan ini: http://muqawamah.com/penjelasan-sikap-jabhah-nushrah-terhadap-piagam-kehormatan-suriah.html).

Munculnya “Piagam Kehormatan Revolusi” ini bila dipahami secara tekstual, bisa menimbulkan kerugian bagi para Mujahidin, baik di Suriah atau Mujahidin secara umum. Minimal akan membuat perpecahan yang ada selama ini semakin membesar. Oleh karena itu sebaiknya kita memandang isi “Piagam Kehormatan Revolusi” itu dalam bingkai yang lebih luas; terutama berusaha menangkap pesan-pesan tidak langsung darinya.

"Jangan Tergesa Menilai. Utamakan Persatuan!"

“Jangan Tergesa Menilai. Utamakan Persatuan!”

Mari kita mulai melihat makna “Piagam Kehormatan Revolusi” ini lebih bijaksana…

[1]. Posisi Jabhah Islamiyah (di bawah pimpinan Syaikh Hassan Aboud) selama ini cukup terjepit. Mereka berada di antara dua titik berbeda, yaitu Jabhah Nushrah yang berangkat dari Irak dan kaum Muslimin Ahlus Sunnah asli Suriah. Saat Jabhah Islamiyah menandatangani piagam tersebut, bukan berarti meninggalkan Jabhah Nushrah atau membuat jarak dengannya; bukan sama sekali. Posisi Jabhah Islamiyah di sana adalah sedang dikelilingi oleh para pejuang asli Suriah yang sedang mengajukan banyak tuntutan dan tekanan. Hal demikian harus dimaklumi.

[2]. Di antara isi piagam itu memang ada yang terkait dengan posisi Jabhah Nushrah. Hal ini janganlah dipandang sebagai sikap ashabiyah kebangsaan atau kesukuan. Tapi seolah memberikan pesan, pihak-pihak internal pejuang Ahlus Sunnah di Suriah, ingin lebih dihargai, ingin memikul peran lebih besar, atau menginginkan agar Jabhah Nushrah lebih mengerem mobilitasnya. Tidak mungkin mereka menolak atau bersikap buruk kepada Jabhah Nushrah, karena memang sejak awal mereka sangat membutuhkan keberadaan para pejuang Islam dari negeri lain.

[3]. Lahirnya piagam tersebut tak bisa dipisahkan dari kejadian tragis yang menimpa mujahid Jabhah Islamiyah, Abu Miqdam rahimahullah wa taqabbalallah fihi. Tersebarnya informasi penyembelihan Abu Miqdam yang dikenal sebagai “Qanaz Dababat” sangat mengguncang para Mujahidin Suriah. Khususnya para Mujahidin Jabhah Islamiyah. Di sini muncul berbagai ketidak-percayaan mereka kepada jamaah Daulah (ISIS) dan pihak-pihak yang masih berhuhungan dengannya. Sementara itu para pejuang Suriah sangat tahu bagaimana komunikasi balas-balasan tulisan yang terjadi antara Dr. Aiman Al Zhawahiri dan juru bicara ISIS selama ini. Di sana mereka melihat, bahwa Jabhah Nushrah sedikit atau banyak masih terkait dengan ISIS. Hal itu mulai membuat kepercayaan para pejuang Mujahidin Suriah mulai melemah, meskipun mereka juga tahu bahwa Jabhah Nushrah juga sama-sama diperangi oleh tentara ISIS. Potensi fitnah ini bisa diselesaikan dengan cara pembicaraan langsung ke pimpinan-pimpinan Mujahidin Suriah, jangan melalui media. Para pejuang senior Mujahidin perlu turun untuk membendung fitnah akibat terbunuhnya Abu Al Miqdam ini.

[4]. Perlu diketahui juga, negeri Suriah berbeda dengan negeri Muslim yang lain. Mereka selama puluhan tahun ditindas oleh rezim minoritas Nushairiyah. Mereka tetap Sunni,tapi diitindas oleh minoritas Syiah. Hal ini menimbulkan kekuatan perlawanan secara luas di masyarakat Suriah, hanya saja perlawanan diam-diam. Maka itu saat terjadi konflik, banyak sekali faksi-faksi Jihad muncul dari negeri ini. Keadaan demikian berbeda dengan situasi di negeri-negeri Muslim lain ketika Jihad berkumandang, hanya kelompok Mujahidin saja yang relatif sibuk. Perlu diingat, sejak era Hafezh Assad gerakan Jihad sudah berkembang di Suriah, bersama Ikhwanul Muslimin. Bahkan mereka itu aktif berhubungan dengan kelompok perlawanan Hamas di Palestina. Maka cara kita mendekati kancah peperangan di negeri ini harus berbeda dengan negeri-negeri lain. Intinya, perlu menjaga perasaan dan kehormatan saudara yang sejak lama tumbuh di negeri perjuangan.

[5]. Selain itu, isi “Piagam Kehormatan Revolusi” itu juga terkait sikap kelompok-kelompok Jihad Suriah terhadap gerakan ISIS. Secara jelas di sana disebutkan, mereka bereaksi keras terhadap klaim murtad yang dilontarkan oleh ISIS terhadap para pejuang dan rakyat Suriah yang tidak mendukung dirinya. Secara basa-basi jubir ISIS, Abu Muhammad Al Adnani, menolak bahwa ISIS mengkafirkan kaum Muslimin. Tapi dalam statement yang berjudul “Udzran ya Amir Al Qa’idah” jelas-jelas mereka mengkafirkan negeri-negeri Muslim Arab, Mesir, dan lainnya; bahkan berniat memerangi semua itu di bawah seorang Khalifah. (Menaklukkan Nuri Al Maliki saja belum bisa, tapi mau memerangi Jazirah Arab, Mesir, Afrika, dan lainnya?). Presiden Mursi saja mereka sebut murtad. Al Adnani tak segan-segan menyebut Jabhah Islamiyah dengan sebutan “Jabhah Laa Islamiyah”. (Ada yang aneh. Al Adnani menyebut pihak tertentu sebagai kelompok “Sururiyah”; di sisi lain mereka mencela pemerintah Saudi sebagai Ibnu Salul. Padahal yang mula-mula mengenalkan istilah “Sururiyah” itu adalah ulama-ulama dukungan pemerintah Saudi. Mana ada ulama Ahlus Sunnah sedunia yang peduli dengan istilah “Sururiyah” selain yang pro pemerintah Saudi? Ini adalah fakta kecil yang bisa bermakna besar). Di titik seperti inilah banyak pihak menyimpulkan perkara khawarij pada diri mereka. Para pendukung ISIS tidak boleh marah atau mengingkari, karena ia jelas-jelas disebutkan juru bicara ISIS dalam pernyataannya. Bahkan pernyataan itu disiarkan di berbagai media pendukung, termasuk di Indonesia. Adanya pernyataan-pernyataan Al Adnani itu harus disyukuri, karena ia memperjelas posisi ISIS di mata kaum Muslimin. Menjadi hak kaum Muslimin Suriah untuk membela diri, karena dalam hadits shahih dijelaskan, siapa yang wafat karena membela harta, agama, keluarganya, dia mati dalam keadaan syahid.

[6]. Adalah suatu reaksi yang bisa dimaklumi tatkala para pejuang Suriah melancarkan perang kepada ISIS, meskipun mereka sendiri sedang diperangi Nushairiyah. Mengapa demikian? Karena selama ini mereka telah ditindas secara kejam oleh Basyar Assad, lalu mereka berjuang ingin bebas, ingin lepas, ingin merdeka dari penindasan. Tapi anehnya, saat mereka sedang berjuang melawan rezim Assad, tiba-tiba datang “penindas” lain dari arah Irak. Pakaian dan simbol mereka seperti Mujahidin, tapi maksud dan tujuan untuk menguasai negara Suriah. Kalau diumpamakan begini: Bangsa Indonesia sedang berjuang mengusir Belanda, lalu tiba-tiba datang pasukan dari Malaysia, seragam dan simbolnya sama seperti pejuang kita; tapi maksud kedatangan mereka untuk menjajah Indonesia, menggantikan Belanda. Di sini Anda bisa memahami perasaan masyarakat Ahlus Sunnah di Suriah? Mungkin ada yang akan membantah, “Jangan terpaku pada konsep batas negara menurut Sykes Picot. Lemparkan itu ke tong sampah!” Jika demikian, kami balik bertanya, “Memang batas negara ISIS itu sendiri seperti apa? Apakah ISIS punya tapal batas yang jelas? Bagaimana petanya? Bagaimana bukti penguasaan mereka atas wilayah dalam peta itu? Bagaimana wujud pemerintahan di sana?” Andaikan ISIS punya tapal batas yang benar-benar jelas, diakui oleh kawan dan lawan; apakah adil ketika mereka datang ke Suriah lalu bermaksud merebut wilayahnya, lalu memaksa rakyatnya berbaiat kepadanya? Apakah tidak sebaiknya ISIS membantu rakyat Suriah lebih dulu untuk membebaskan diri dari penindasan rezim Assad, baru setelah itu mereka memberi pilihan kepada rakyat Suriah untuk mendukung ISIS atau mandiri? Andai perjuangan ISIS di Suriah sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin di sana, pastilah mereka dengan rela akan mendukung kelompok itu. Inilah yang selalu dipertanyakan Ummat selama ini, ISIS mengklaim sebagai Daulah Islamiyah tapi tidak jelas batas dan bentuknya.

[7]. Bagi setiap Mukmin pasti sangat mendambakan sebuah Daulah Islamiyah seperti di masa-masa sejarah Islam yang sudah berlalu. Banyak gerakan-gerakan Islam modern dibangun untuk tujuan ke sana, meskipun caranya berbeda-beda. Namun Daulah ini tentulah suatu tatanan pemerintahan dan masyarakat yang membawa rahmat di muka bumi. Mereka membuka diri dari seluruh Muslim untuk berhijrah kepadanya; mereka mencintai kaum Muslimin dan tidak menuduhnya murtad; mereka menjanjikan pertolongan bagi setiap Muslim, bukan ancaman diperangi; mereka memberi keamanan dan keselamatan, bukan menebar pembunuhan, kekejaman, intimidasi; mereka menghargai kesepakatan dan perjanjian, bukan mau menang sendiri; mereka bertanggung-jawab penuh atas kesejahteraan, keamanan, dan kehidupan Umat; mereka mencintai para pejuang,memberi perlindungan, membantu keperluan, bukan memurtadkan pejuang, membunuhnya, lalu mempertontonkan kekejaman di hadapan manusia; mereka mendukung perjuangan Jihad bukan memporak-porandakan persatuan para Mujahidin; mereka memberi solusi, bukan memperparah keadaan. Kalau gambaran Daulah yang muncul itu penuh masalah, jauh dari karakter Daulah Nabawiyah; jangan salahkan kalau umat manusia meremehkan Daulah itu.

[8]. Tentang keadaan faksi-faksi Mujahidin Suriah sendiri, bisa jadi kondisi mereka saat ini sangat membutuhkan dukungan logistik, peralatan, pendanaan, dukungan politik, dan sebagainya dari internal bangsa Suriah maupun berbagai negara Muslim. Bisa jadi mereka melihat proses konflik di Suriah ini masih panjang, dibutuhkan sangat banyak bekal dan modal. Untuk itu mereka berusaha meraih simpati internal dan eksternal dengan tidak memperlihatkan permusuhan yang tegas terhadap konsep-konsep manusia seperti nasionalisme, demokrasi, sekularisme. Hal ini dipandang sebagai upaya politik, bukan sikap akidah. Betapapun faktanya negeri Suriah saat ini sudah hancur-lebur; para penduduk Suriah kehilangan negeri mereka seperti dulu; untuk membangun negeri ini kembali –sebagai suatu perkara yang memotivasi perjuangan bangsa Suriah saat ini- dibutuhkan tentusaja uluran tangan banyak pihak. Jika hanya mengandalkan modal dan kekuatan para Mujahidin, bisa jadi ada rasa kurang percaya dari diri sebagian pejuang Suriah.

[9]. Kalau dicermati tujuan “Piagam Kehormatan” ingin mencapai negara yang bebas dari penindasan, berdaulat, berkeadilan. Hal ini sebenarnya merujuk kepada konsep-konsep kenegaraan Islam, hanya dibahas dengan ungkapan yang bersifat umum. Bukankan setiap negara berdasar Syariat Islam diharamkan penindasan, rakyatnya merdeka, dan keadilan terlaksana di sana? Hal-hal demikian mesti dibaca sebagai kalimat diplomasi, bukan akidah sekuler. Tidak mungkin para pejuang Islam akan menggadaikan keyakinan dengan kekuasaan sekularisme. Mereka tidak perlu berjuang sebagai Mujahidin jika tujuannya sekularisme.

[10]. Juga perlu dipahami posisi gerakan Ikhwanul Muslimin di Suriah, sebelum pecah konflik dan sesudahnya; kemudian dikaitkan dengan posisi IM di Timur Tengah secara umum. Jabhah Islamiyah diyakini banyak didukung oleh para pejuang Al Ikhwan. Bahkan disebut-sebut, mereka adalah putra-putra para pejuang Islam di era Hafezh Assad di masa lalu. Al Ikhwan saat ini menghadapi tekanan sangat hebat dari pemerintah Saudi, Mesir, UEA, Bahrain, Israel, dan lainnya. Syaikh Al Qaradhawi sampai pindah ke Tunisia, setelah posisi Al Ikhwan di Qatar terdesak. Faksi-faksi Jihad yang berafiliasi ke Al Ikhwan di Suriah berada pada posisi sulit. Maka itu, satu sisi mereka terus mendukung perjuangan untuk menggulingan Bashar Assad, di sisi lain mereka tidak mau membuat musuh baru dari negara-negara di Timur Tengah dan lainnya. Kebijakan pemerintah As Sisi di Mesir benar-benar membahayakan posisi Al Ikhwan, terutama setelah penangkapan tokoh-tokoh seniornya. Bukan hanya itu, asset kekayaan, saluran dana, komunikasi, dll. juga banyak dibekukan. Kalau dikatakan lahirnya piagam itu karena “tekanan eksternal”, mungkin saja. Sebab bagaimanapun, yang berjasa memperpanjang umur gerakan perlawanan Suriah, sebagian besar dari luar.

Demikian, semoga pandangan seperti ini bisa memberikan nuansa lebih bijak tatkala kita melihat realitas perjuangan di bumi Syam yang diberkahi Allah dan didoakan Sayyidul Mursalin SAW. Amin Allahumma amin. Terimakasih.

(Mine).

Iklan

PERINGATAN: Bantu Jihad Suriah dengan Tidak Mempromosikan Perselisihan Antar Para Mujahidin !!!

Februari 27, 2014

Bismillahirrahmaanirrahim. Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Kaum Muslimin rahimakumullah, mari kita mencermati beberapa fakta penting tentang Jihad di Suriah dan keadaan kita disini. Mari kita lihat…

FAKTA 1: Telah terjadi pertikaian serius antar faksi-faksi Mujahidin di Suriah. Terlibat di dalamnya ISIS, Jabhah Nusrah, Ahrar Syam, dan berbagai milisi perjuangan lainnya.

Dukung Mujahidin Bersatu. Bukan Memperparah Pertikaian.

Dukung Mujahidin Bersatu. Bukan Memperparah Pertikaian.

FAKTA 2: Perselisihan di medan Jihad Suriah telah merebak, menyebar, meluas hingga ke negeri-negeri Muslim di dunia, melalui media, Youtube, jejaring sosial, dan seterusnya. Termasuk masuk ke Indonesia.

FAKTA 3: Perselisihan antar Mujahidin sudah sering terjadi di medan Jihad. Misalnya dalam Jihad Afghanistan, Irak, Aljazair, Somalia, Filipina, dan lainnya. Dan kini perselisihan serupa berbiak kembali di Suriah.

FAKTA 4: Akhir dari perselisihan antar Mujahidin seringkali berakibat: (a). Gagalnya membangun missi perjuangan Islami; (b). Semakin kuat dan tangguhnya kekuatan musuh yang hendak melenyapkan Islam dan Umatnya. Jadi perselisihan seperti ini akibatnya hanya mematikan tujuan Jihad itu sendiri.

FAKTA 5: Mayoritas kaum Muslimin, atau pendukung Jihad di Indonesia, bukanlah orang-orang yang terlibat dalam Jihad di Suriah. Umumnya hanya sebagai pendengar, pembaca, penerjemah, pengamat, komentator, dan sebagainya. Perkataan kita, lewat lisan atau tulisan, tak banyak artinya bagi kemenangan Jihad di Suriah.

FAKTA 6: Andaikan terjadi perselisihan antar faksi Mujahidin di Suriah, secara hakiki kita tidak tahu siapa yang benar di antara mereka, dan siapa yang salah? Lalu siapa yang paling tahu hakikat kebenaran di antara faksi Mujahidin? Yang tahu, bukan ulama ini ulama itu, bukan media ini media itu, bukan penerjemah ini dan itu, bukan komandan ini dan itu. Yang tahu adalah ALLAH Subahanu Wa Ta’ala. Manusia berpendapat, Allah yang lebih tahu hakikat sebenarnya.

FAKTA 7: Al Islam mengajarkan agar kita bersatu, bersaudara, saling tolong-menolong, saling menguatkan satu sama lain. Dalam kehidupan damai di negeri damai, kewajiban BERSATU ini sangat ditekankan, apalagi di medan Jihad? Bukankah di medan Jihad sudah berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh? Kalau berselisih disana, bukanlah itu sama dengan membinasakan diri sendiri?

Setelah menyadari fakta-fakta di atas, lalu lihatlah apa yang terjadi di antara kita ini? Tatkala para pejuang Islam berselisih disana, kita justru semangat giat mengkampanyekan perselisihan tersebut? Apa tujuan kampanye perselisihan faksi Mujahidin yang hari ini menghiasi media-media Islam itu? Apa kita ingin menolong para Mujahidin? Apa kita empati dengan mereka? Atau kita ingin merusak Jihad itu sendiri?

Katanya kita ini menjungjun Tauhid. Buktinya, kita suka perjuangan ini terpecah-belah. Katanya kita menjungjung Sunnah. Apakah ada Sunnah Nabi yang memerintahkan perpecahan Umat? Katanya kita pro Syariat Islam. Bagaimana Syariat bisa tegak dengan permusuhan dan saling memerangi? Katanya kita ini bagian dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Tapi faktanya kita gemar dengan fitnah tafarruq dan bi’dah ‘adawah (permusuhan). Katanya kita ahli Jihad dan hanya mengenal satu-satunya manhaj (yaitu Jihad). Tapi nyatanya, di bumi Jihad sendiri, amalan Syariat yang agung ini kita hancurkan dan hitamkan wajahnya.

Mana yang benar? Setumpuk klaim atau kenyataan? Mana yang bisa dilihat sebagai bukti Tauhid, Sunnah, Syariat, Jihad, dan Jamaah? Nyatanya kita benar-benar lemah dan rapuh dalam landasan agama ini. Media dan fanatisme telah membesarkan image kita. Citra yang muncul, kita laksana raksasa-raksasa hebat, padahal sejatinya hanya seperti kelinci mungil. Antara klaim dan kenyataan, terlalu jauh.

Di Afghan kita telah merasakan perihnya harga perpecahan. Di Irak tidak kalah perihnya. Di Somalia, Yaman, Aljazair, Filipina, dan lainnya, kita juga merasakan kepedihan yang serupa. Bila suatu masa Allah kehendaki terjadi seruan Jihad di Indonesia, karena agressi kaum penindas; sepertinya perselisihan itu akan kembali terjadi disini. Inikah takdir kita sebagai “Ahlus Sunnah Wal Jamaah”? Inilah takdir kita sebagai penegak Tauhid dan Syariat? Inikah takdir kita sebagai Firqatun Najiyah?

Orang kafir memecah belah barisan pejuang. Itu pekerjaan mereka. Orang kafir berbuat konspirasi. Kita sudah tahu dari dulu. Orang kafir menikam para pejuang Islam. Lha, apa baru tahu? Orang kafir ingin melemahkan Jihad. Memang, mereka akan beramal apa lagi? Orang kafir ingin memadamkan cahaya Allah. Apa Anda bermimpi mereka akan menerangkan cahaya Allah?

Jangan melulu salahkan orang kafir. Mereka berbuat ini itu, semua Mukmin sudah tahu tabiat seperti itu. Kita harus INTROSPEKSI (muhasabah) diri. Perbuatan orang kafir sudah inheren dengan akidah mereka. Tak usah ditanyakan lagi. Justru kita ini, sebagai Umat Muslimah, harus berbenah diri. Terus memperbaiki persatuan. Jangan lemah tuk terus menjalin kekuatan antar kaum Mukminin.

Maka kami menasehatkan kepada para pemuda Islam, media-media Islam, para aktivis, dan pendukung Syariat Jihad Fi Sabilillah:

[1]. Mari kita berhenti memberitakan, membicarakan, menyebarkan, mengomentari, mengulang-ulang berita seputar pertikaian antar faksi-faksi Mujahidin di Suriah (dan negeri-negeri lain). Tutup mulut! Karena perintah Syariat disini adalah: Fa ashlihuu baina akhawaikum (damaikan antara kedua saudaramu yang berselisih).

[2]. Mari kita beritakan yang baik-baik saja tentang para Mujahidin. Misalnya beritakan kemenangan mereka, kemajuan kerja mereka, capaian-capaian hebat mereka, persatuan mereka, kasih sayang antar mereka, dan lainnya. Jangan beritakan yang buruk-buruk.

[3]. Kalau ada Mujahidin, ulama, juru bicara faksi ini dan itu, menyebarkan berita-berita permusuhan antar Mujahidin, katakan saja kepada mereka: “Kami selama ini memandang keadaan Anda baik-baik, Anda bersatu padu melawan musuh. Kalau kini Anda beritakan hal-hal buruk, ini pasti ada solusinya. Masalah ini akan berakhir, Allah akan mendatangkan pertolongan. Yakinlah, sebentar lagi Anda semua akan bersatu lagi dan saling kasih-sayang.” Jangan menanggapi berita-berita pertikaian Mujahidin dengan emosi.

[4]. Yakinlah saudaraku, para Mujahidin kalau kita biarkan menyelesaikan sendiri masalah-masalahnya, tanpa kita memperbesar-besarkan perselisihan mereka, solusi itu akan tiba. Sebaliknya, kalau kita ikut memanaskan perselisihan ini, itu pertanda kita tidak menyukai bersatunya barisan Umat, khususnya para Mujahidin fi Sabilillah. Allah sudah menjanjikan akan menolong para Mujahidin.

Perhatikan ayat-ayat ini:

Wahai orang-orang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7).

Dan benar-benar Allah akan menolong siapa yang menolong agama-Nya.” (Al Hajj: 40).

Dan siapa yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al Ankabuut: 69).

Apakah Anda tidak percaya bahwa Allah akan menolong para Mujahidin? Ayat-ayat di atas sebagai dalilnya. Mereka akan ditolong oleh Allah, ASALKAN kita tidak semakin menambah buruk perselisihan di antara mereka. Siapapun yang menambah buruk perselisihan di antara para Mujahidin, layak dicatat sebagai penyumbang saham kekalahan Islam.

[5]. Doakan selalu para pejuang Islam di Suriah (dan dimana saja) dengan doa yang baik. Misalnya doakan dengan teks seperti berikut:

Allohummanshur lil Mujahidina mukhlishina fi kulli makan wa kulli zaman.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Suriah.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Afghan.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Su’udiyah.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Iraq.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Filistin.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Mishri. 

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi Andunisiya.

Allahummanshur lil Mujahidin mukhlishina fi sa’iril ‘alam.

Doakan, doakan, doakan selalu dalam kebaikan, dalam persatuan, saling tolong-menolong, saling berkasih-sayang, saling menguatkan. Amin Allahumma amin.

Janganlah kita bicarakan yang buruk-buruk tentang Mujahidin, meskipun mereka ingin agar kita membicarakannya. Karena pembicaraan dalam hal ini sama dengan GHIBAH yang dilarang. Jika kita tuduh satu kelompok Jihad, itu sama dengan Ghibah atas mereka. Begitu juga jika kita tuduh kelompok lain, itu juga Ghibah atas mereka. Tahanlah lisan dan kalam akan hal ini. Ingat selalu firman Allah: “Ayuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhihi maitan fa karihtumuhu” (apa salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati, pastilah kalian benci melakukan itu).

Maka kini, kami menghimbau kaum Muslimin di negeri ini, juga di negeri-negeri lain untuk BERHENTI BICARA PERSELISIHAN MUJAHIDIN di Suriah (dan lainnya). Serta tidak membicarakan mereka, selain yang baik-baik saja. Kalau mereka berselisih, biarkan saja mereka cari solusi sendiri. Kita tak usah memperbesar perselisihan itu. Jika Jihad yang mereka laksanakan adalah ikhlas li wajhillah, yakinlah mereka akan diberi jalan keluar dan BERSATU.

Kita nanti akan mendukung siapa saja di antara para Mujahidin yang berhasil mengalahkan musuh dan membangun peradaban Islami. Kita tak peduli siapapun diri mereka, selama masih Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

(Mine).


Memandang Masa Depan Suriah (Tetap Optimis)

Februari 4, 2014

(Edited).

“Assalamu’alaikum. Ustadz ane sedih sekali. Kenapa para Mujahidin di Syam bertikai? Ane kecewa ustadz, juga sekaligus bingung. Bingung banget.. Ustadz bagaimana ini? Tolong jelaskan Ustadz! Ane gak semangat hari-hari ini  jadinya. Jazakallah.” (UTA, dari Riau).

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ya rata-rata kaum Muslimin sedih, risau, dan bimbang melihat kenyataan konflik internal antar faksi-faksi Mujahidin di Suriah (Syam) saat ini. Kita mesti bersyukur manakala rasa kepedulian itu masih ada; kita senang      dengan kabar baik seputar nasib Umat dan sedih dengan  musibah yang menimpanya. Itu pertanda, kita masih Mukmin. Alhamdulillah.

Konflik antar Mujahidin di Suriah adalah sesuatu  yang pasti terjadi. Lambat atau cepat ia akan terjadi. Alasannya:

Jangan Lemah. Perjuangan Masih Panjang.

Jangan Lemah. Perjuangan Masih Panjang.

[a]. Sudah menjadi Sunnatullah bahwa Allah akan menyeleksi para pejuang di jalan-Nya, sampai terlihat mana yang benar-benar loyal, dan mana yang palsu loyalitasnya. Lihat Surat Muhammad: 31. Hal semacam ini terjadi saat Perang Uhud, di zaman Rasulullah Saw.

[2]. Kemenangan para Mujahidin (Islamis) tidak disukai Israel, Amerika, Eropa, raja-raja monarkhi Arab, dan sebagainya. Mereka pasti tidak akan tinggal diam. Seperti adanya kelompok tertentu yang sengaja dibentuk untuk membuat onar di tengah para pejuang. Fitnah keonaran ini dulu dilakukan kaum munafik di bawah Abdullah bin Ubay bin Salul.

[3]. Banyak di antara kaum Mujahidin yang ingin CEPAT-CEPAT meraih kemenangan, sebelum syarat-syarat kemenangan itu matang. Jika ada yang menghalangi jalannya, mereka langsung emosi, menuduh orang lain tidak loyal, khianat, dan sebagainya. Padahal dalam Jihad amat sangat dibutuhkan KESABARAN tinggi. Dalam hidup sehari-hari harus sabar, apalagi dalam Jihad. Betapa Nabi Saw atas kekalahan di Uhud, atas pengkhianatan Yahudi, pengkhianatan munafik, atas pukulan hebat di Hunain, dan sebagainya.

Kalau memandang fakta Jihad di Suriah, pikiran kita jangan dibatasi oleh skup waktu 2-3 tahun ke depan (atau ke belakang); tapi lihatlah masa depan Suriah ini dalam 10 atau 15 tahun ke depan. Kalau solusi yang kita inginkan bersifat instan, pastilah di bumi Suriah kini tak akan bangkit   peradaban Islam yang lebih baik. Maka berbagai konflik, kenyataan buruk, intrik dan sebagainya yang ada saat ini; jangan melemahkan perhatian terhadap masa depan bumi Syam  yang lebih baik ke depan.

Bumi Syam (Suriah) kini sudah terbakar, dan tak bisa dipadamkan oleh siapapun; hatta itu Amerika, China, Rusia, Israel, Saudi, UEA, Iran, Libanon, Eropa, dan sebagainya. Apalagi oleh Basyar Assad Cs. Bumi Syam sudah masuk ke bumi perjuangan; sulit akan kembali ke masa-masa sebelumnya. Bumi ini lambat atau cepat akan berubah seperti suasana di Palestina, dimana hawa perjuangan Islam sangat kuat memancar disana. Banyak pengamat mengatakan: Suriah akan menjadi pusaran Jihad yang jauh lebih besar dari Palestina. Mengapa? Karena Suriah lebih terbuka; berbeda dengan Palestina yang dikepung wilayah Israel dan lautan.  Para pejuang Islam lebih mudah masuk ke Suriah daripada ke Palestina.

Inilah kesalahan terbesar Barrack Obama yang akan memicu kemarahan Yahudi dunia. Obama ingin meruntuhkan rezim Assad; rezim Assad membantai rakyatnya; lalu para pejuang Islam turun ke Suriah untuk menolong kaum Muslimin. Itulah kesalahan terbesar Obama yang akan membuat posisi Israel jauh lebih rawan dari  sebelumnya. Obama hanya ingin mengalihkan dukungan Suriah dari pro Iran ke pro Amerika; tapi akibatnya meledak NUKLIR JIHAD Fi Sabilillah yang tak pernah diperkirakan oleh siapapun juga, di bumi Syam.

Maka kita harus tetap optimis memandang keadaan di Suriah saat ini. Para pejuang Islam butuh waktu untuk saling sinergi, mengerti, memahami, dan memposisikan saudara-saudaranya. Itu butuh waktu dan tidak sebentar. Yang jelas, Suriah kini sudah terbakar. Hasil-hasil capaian pemerintah Assad sejak era Hafezh Assad sudah luluh-lantak, jadi puing-puing. Suriah kini sudah berbeda dengan Suriah masa lalu. Bukan hanya fisik yang berbeda, tapi karakter masyarakatnya juga berbeda. Kini mereka lebih siap hidup seperti saudara-saudaranya di Palestina.

Kaum Muslimin harus bersabar, sebagaimana para pejuang di Suriah membutuhkan kesabaran. Kemenangan akan tiba, meskipun tidak bisa INSTAN. Demikian, semoga renungan sederhana ini bermanfaat dan layaknya kita TETAP OPTIMIS. Insya Allah.

Wallahu a’lam bisshawaab.

(Mine).