MASALAH IRJA’ ITU SANGAT BESAR

September 30, 2015

Banyak orang berprasangka buruk, menuduh, atau memfitnah sebuah Dewan Fatwa ulama dunia terkait fatwa “blacklist” ke seorang tokoh tertentu. Bukan cuma ustadz kecil yang kena telunjuk mereka, sampai dewan ulama global pun disikat. Mungkin, itulah buah dari “berkah ilmu”. Astaghfirullah…
==
Coba kami beri gambaran sederhana tentang masalah Irja’ (paham Murji’ah) ini. Meskipun asalnya, ini tidak sederhana.
==
Salafus Shalih (Rasulullah Saw & Khulafaur Rasyidin Ra) sepakat tentang wajibnya menegakkan hukum Syariat dalam kehidupan negara. Hal itu merupakan konsekuensi IMAN mereka. Dan kita pun mengetahui itu lewat amal mereka.
==
Bila ada insan SALAF yang enggan melaksanakan Syariat, ada dua kemungkinan: dia fasik atau munafik. Keduanya bisa berakibat rusaknya iman.
==
Sedangkan perbuatan seperti: a. Menyingkirkan hukum Allah; b. Menghalangi hukum Allah; c. Memberantas hukum Allah; d. Membendung hukum Allah; e. Menetapkan hukum non Islam sebagai ganti hukum Allah. Semua ini termasuk AMAL KEKUFURAN. Ia berlawanan dengan IMAN dan AMAL Salafus Saleh.
==
Tapi di zaman masa kini ada tokoh yang membawa konsep aneh. Semua perbuatan (menyingkirkan Syariat) itu tidak masuk kekufuran, selama pelakunya TIDAK JUHUD (menolak Syariat), TIDAK TAKDZIB (mengklaim hukum manusia datangnya dari Allah), dan TIDAK ISTIHLAL (menghalalkan yang haram).
==
Di zaman Salafus Salih, orang yang memusuhi Syariat hukumnya diperangi; tapi dalam konsep baru itu, si pelaku bisa diakui tetap sebagai Muslim. Maka konsep itu pun DICINTAI REZIM SEKULER DI SELURUH DUNIA.
==
Ini tidak jauh dari pandangan kaum LIBERAL yang membatasi Syariat hanya pada urusan pribadi. Atau kaum Shufi yang fokus soal ibadah ritual. Atau Snouck Hurgronje yang melarang Islam bicara politik, ekonomi, kekuasaan. Ujungnya ke sana. Tapi penampilan khas “ahli ilmu”.
==
Konsep bid’ah yang tidak ada landasan dari Salafus Shalih itu SANGAT BERBAHAYA. Ia bisa menyingkirkan Syariat dari muka bumi; dan menghalalkan segala bentuk hukum non Islam.
==
KENAPA? Karena perbuatan “menyingkirkan Syariat Islam” dianggap boleh. Pelakunya tidak divonis kafir, selama TIDAK JUHUD, TIDAK TAKDZIB, TIDAK ISTIHLAL.
==
Misal ada penguasa yang menghapus hukum Syariat dan menetapkan hukum lain. Dia ditanya: 1. Apa Anda menolak hukum Islam? Jawab: “Tidak. Saya mengimani kok. Tapi saat ini menurut saya lebih tepat pakai hukum lain.” 2. Apa Anda klaim hukum Anda itu dari Allah? Jawab: “Demi Allah, ini hukum akal saya sendiri. Bukan dari Allah.” 3. Apa Anda menghalalkan yang haram? Jawab: “Tidak. Kami larang apa yang dilarang hukum Islam. Hanya saja kami larang berdasar sains, bukan iman ke Syariat.”
==
Nah dengan model jawaban seperti itu, maka Syariat Islam bisa disingkirkan dari muka bumi; dan hukum jahiliyah bisa berlaku di mana-mana.
==
Oh ya, paham Irja’ dalam hukum itu MASIH SATU PAKET dengan: konsep Ulil Amri sekuler, selama KTP Muslim. Itu seperti dua sisi mata uang.
==
DEMIKIANLAH… Maka paham Irja’ (Murji’ah) dalam hal PENETAPAN HUKUM sangat membahayakan agama dan kehidupan insan.
==
Maka di sana ada fitnah yang bercokol di hati-hati manusia. Akibat sikap buruk kepada fatwa Dewan Ulama dunia. Nas’alullah al ‘afiyah. Wallahul Musta’an.

(WeLook).

Iklan

Fatwa Pemilu Ulama Salafi (dari Situs Ustadz Firanda)

April 8, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut sebagian isi fatwa dari situs http://www.firanda.com tentang partisipasi Umat Islam dalam Pemilu 9 April 2014. Judul asli tulisan: Memilih Siapa di Pemilu 2014? (Lmpiran Fatwa Terbaru Dr. Saad Asy Syitsri tentang Bolehnya Mencoblos di Pemilu 2014 Indonesia). Kalau mau lengkapnya, silakan berkunjung ke situs Ustadz Firanda.

Isi tulisan kurang lebih sebagai berikut (maaf tidak kami kutip secara penuh):

Berdasarkan fatwa para ulama besar yang memiliki pandangan yang tajam, fikih yang tinggi, serta ketakwaan kepada Allah (seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahumullah) demikian juga fatwa Ulama Besar Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizohullah, dan juga beberapa ulama lainnya yang sempat kami minta nasehat dari mereka, maka kami mengikuti nasehat para ulama tersebut untuk menganjurkan kaum muslimin untuk ikut mencoblos dalam pemilu -sebagai pengamalan dari kaidah fikih (ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ) atau “menempuh mudhorot yang teringan”, terlebih lagi mengingat kondisi Tanah Air yang cukup mengkhawatirkan.

Setelah itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk menganjurkan kaum muslimin melakukan hal berikut:

(1).  Jika mengenal caleg yang terbaik dan cenderung kepada sunnah dan membela kepentingan Islam maka pilihlah caleg tersebut.

(2). Berilah peringatan terhadap caleg Nashrani, Syiah, maupun liberal, walaupun dari partai Islam.

(3). Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS. Walaupun kami tetap menyatakan haramnya demokrasi, karena bagaimanapun PKS –dengan segala kekurangannya- masih merupakan partai yang secara umum masih diharapkan bisa memberi kontribusi kepada Islam dan Kaum Muslimin. Namun tetaplah berhati-hati terhadap caleg Syiah dan non Muslim walaupun dari PKS.

SERUAN kami kepada PKS agar terus membenahi diri, dan mencari keridhoan Allah, dan tidak mencalonkan non Muslim, Syiah, maupun liberal. Sesungguh kemenangan bukanlah pada jumlah yang banyak akan tetapi pada meraih keridoan Allah dengan  menjalankan Syari’at-Nya dan menjauhi sebisa mungkin larangan-Nya.

Akhirnya kami mengharapkan kaum Muslimin menyatukan suara mereka demi Islam, dan terus berdoa dengan tulus dan membenahi ibadah masing-masing, karena penolong hanyalah Allah semata. Semoga menjadi kemaslahatan bagi kaum muslimin. Allahul musta’an.

Perlu dipahami, fatwa di atas adalah dari Ustadz Firanda dan kawan-kawan alim dan penuntut ilmu di Madinah (Saudi). Sedangkan fatwa Dr. Sa’ad Asy Syitsri adalah sebagai berikut:

Pertanyaan (sore 7 April 2014): Kepada Syaikh yang mulia semoga Allah menjaga Anda.. Apakah boleh berpartisipasi didalam pemilu di negeri kami Indonesia? Perlu diketahui bahwasannya kancah politik terbagi ke dalam banyak kelompok dan pemikiran.. akan tetapi ditakutkan bahwasannya bahaya akan kemajuan (tersebarnya) Syiah sangat besar..demikian juga dengan kaum sekuler.
Maka apakah boleh memberikan suara kepada kelompok jama’ah atau orang yang paling dekat kepada Sunnah? Akan tetapi yang perlu diketahui juga bahwasannya apabila jama’ah tersebut menang (ataupun orang tersebut masuk ke dalam parlemen) maka akan sulit bagi mereka menerapkan Syari’ah kecuali hanya mengurangi sebagian dari keburukan-keburukan dan kerusakan-kerusakan dan bahkan kebanyakan dari mereka terfitnah atas agama mereka dan dunianya.. Maka bagaiman nasihat dari Anda??  Semoga Allah membalas segala kebaikan Anda..

Jawaban Dr. Saad Asy Syitsri:

Kegiatan politik tersebut dibagi menjadi dua jenis: Jenis pertama, siapa yang masuk (dalam perpolitikan) dengan maksud untuk mencalonkan diri ke dalam parlemen atau selainnya, semisal ini tidaklah dibenarkan bagi penuntut ilmu karena hal ini bukanlah bagian dari urusannya. Hal itu dikarenakan pentingnya menunaikan pengajaran kepada manusia dan kembalinya mereka kepada Allah Jalla wa ‘Ala lebih agung daripada pentingnya menyibukkan diri terhadap perkara tersebut (politik). Dan juga dikarenakan perkara (politik) tersebut menjerumuskan pelakunya ke dalam perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak sesuai dengan jati diri penuntut ilmu yang mengacaukan ucapan-ucapannya. Dan penuntut ilmu adalah sebagai pendidik dan pengayom dari semuanya. Dan sesungguhnya sistem demokrasi ini di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang menyelisihi Syariat, baik pada pondasinya maupun bangunannya yang menyelisihi jalannya ulama sehingga terkadang tidak sesuai dengan maksud syariat.

Adapun (jenis kedua) memberikan suara, maka kita katakan bagian dari mengambil yang paling ringan mudhorotnya untuk menolak yang paling besar mudhorotnya. Maka janganlah kita masuk ke dalam kerusakan-kerusakan bersama mereka yang berlomba-lomba kepada kursi (parlemen) tersebut, sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Adapun berpartisiapsi di dalam memberikan suara maka tidaklah mengapa dengan syarat kuatnya prasangka seseorang yang dipilihnya adalah paling memberikan maslahat yang dapat menolong manusia (untuk kembali) kepada Allah Jalla wa ‘Ala.. Wallahu a’lam..

Jadi sebenarnya Dr. Saad Asy Syitsri sendiri tidak menyebut PKS secara khusus, namun Ustadz Firanda dan para alim dan penuntut ilmu yang bersama beliau yang menyebut PKS sebagai jamaah yang diyakini lebih dekat ke Sunnah. Dr. Saad Asy Syitsri meyakinkan tentang buruknya dunia politik bagi penuntut ilmu, namun beliau membolehkan ikut dalam pemilu selagi ada tujuan melindungi kehidupan Umat Islam.

Semoga bahan tulisan ini bermanfaat. Amin Allahumma amin. Yang jelas, para ulama dan alim di atas, insya Allah termasuk kalangan yang -meminjam istilah Ustadz Hartono Ahmad Jaiz- waras. Jadi jangan terlalu galak ke saudara sendiri!

(Admin Blog).