Bisakah Indonesia Bebas Korupsi?

November 15, 2010

ARTIKEL 02:

Korupsi di Indonesia sudah sangat dahsyat. Kabar terakhir ialah kaburnya Gayus Tambunan dari Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Ini adalah rutan dengan tingkat kewaspadaan tinggi, sebab selama ini dipakai untuk menahan pemuda-pemuda yang didakwa sebagai teroris. Tetapi dengan “seni diplomasi” Gayus bisa lolos, bahkan sampai jalan-jalan ke Nusa Dua Bali, nonton turnamen tennis.

Ya begitulah Indonesia… Wabah korupsi berkembang dimana-mana; sejak urusan parkir mobil di pinggir jalan, sampai urusan kontrak karya pertambangan, sampai urusan pemilu/pilpres/pilkada penuh korupsi. Bisa jadi negara ini memang selama ini EKSIS di atas “Sistem Korupsi”. Masya Allah.

Kalau disebut istilah korupsi, jangan bayangkan seorang pejabat terima dana Rp. 10 juta,- untuk keperluan rakyat. Lalu oleh pejabat itu uang Rp. 1 juta dia ambil untuk diri sendiri, sementara yang Rp. 9 juta diserahkan untuk rakyat. Model seperti ini adalah korupsi klasik, korupsi yang sangat elementer. Ilmu perkorupsian di Indonesia sudah sangat luar biasa, sangat canggih, dengan modus yang hebat. Bahkan bisa mengelabui ketentuan-ketentuan hukum yang ada.

Bangsa Kita Dijebak dalam Sistem Korupsi yang Sangat Dalam.

Contoh, lihat kasus IPO Krakatau Steel! Menurut aparat birokrasi, IPO tersebut sudah “sesuai aturan yang berlaku”. Tetapi ya itu tadi, aturan sudah dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga tetap saja praktik korupsi yang merugikan negara dan rakyat tetap terjadi. Malah kalau melihat bagaimana dunia peradilan, masya Allah korupsinya juga ampun-ampunan deh. Pejabat MA, pejabat Kejaksaan Agung, pejabat Kepolisian, tidak sedikit yang tersangkut kasus hukum. Di antara mereka ada yang sudah dijebloskan ke penjara.

Kalau digambarkan, kondisi Indonesia itu seperti: Perlombaan berebut fasilitas negara dan harta rakyat, demi memperkaya diri dan keluarga, dengan segala macam modus, baik legal maupun ilegal. Perlombaan ini diikuti oleh pejabat negara, aparat hukum, anggota dewan, politisi, media massa, pakar/pengamat, akademisi, kaum pendidik, bisnisman, konglomerat, dll. sampai orang-orang kecil di jalan-jalan, di pasar-pasar, di terminal, dll. …pantes ya kalau Indonesia sering dilanda benacana. Ya bagaimana tidak? Wong negara ini seperti NEGARA KORUP BERJAMAAH.

Lalu pertanyaannya: “Bisakah bangsa kita bebas korupsi? Bisakah korupsi dihapus di negeri ini? Bisakah korupsi dihancurkan sampai ke akar-akarnya? Bisakah Indonesia sejahtera, tanpa korupsi?”

Sejujurnya, saya mengatakan: “Bangsa ini tidak mungkin bisa bebas korupsi. Bangsa ini sangat sulit untuk keluar dari belitan korupsi. Bangsa ini susah untuk bersih dari korupsi. Bangsa ini benar-benar malang, karena tertimpa BENCANA KEMANUSIAAN yang bernama korupsi berjamaah ini. Sungguh sulit bagi bangsa Indonesia untuk bebas korupsi.”

Lho, kok bisa begitu? Bukankah itu pesimisme, keputus-asaan? Bukankah itu mencerminkan jiwa kita mulai kalah, semangat kita mulai runtuh? Bukankah tidak boleh kita bersikap menyerah seperti itu?

Bukan, bukan, bukan begitu…Saudaraku. Ini bukan putus-asa. Tetapi mencoba realistik dengan keadaan yang ada. Anda perlu tahu PENYEBAB HAKIKI dari fenomena korupsi ini. Penyebabnya bukan: Aparat kurang gaji, bukan mental masyarakat kita sudah rusak, aturan tidak tegas, dan lain-lain. Bukan itu.

Lalu apa dong?

Penyebab utama bangsa kita terjebak dalam kanker korupsi yang sangat susah disembuhkan, adalah: KARENA KORUPSI INI MEMANG SENGAJA DICIPTAKAN. BANGSA KITA MEMANG DI-SETTING AGAR TERJEBAK DALAM KORUPSI YANG SANGAT AKUT.

Korupsi yang melanda Indonesia ini memang di-setting oleh para penjajah asing, para kolonialis asing, yang sangat berkepentingan untuk mempertahankan praktik penjajahannya di Indonesia. Negara-negara asing, korporasi asing, lembaga-lembaga donor internasional, para investor dunia, dll. mereka sengaja menciptakan kondusi SERBA KORUP seperti yang kita saksikan selama ini.

Mengapa bisa seperti itu?

Sebab kalau bangsa Indonesia bebas korupsi, aturan main ditaati secara konsisten, aparat negara bekerja secara bersih, korupsi 0 %, tidak ada pelanggaran penggunaan uang negara, prosedur administrasi dipenuhi, dan sebagainya, maka PRAKTIK PENJAJAHAN MODERN DI INDONESIA TIDAK AKAN BISA BERKEMBANG!!!

Nah, itulah masalah utamanya! Antara PENJAJAHAN dan PEMERINTAHAN BERSIH adalah dua sisi yang sangat berbeda. Keduanya akan saling menghancurkan. Penjajahan akan menghancurkan Pemerintahan Bersih; sebaliknya, Pemerintahan Bersih akan menghapuskan penjajahan.

Kalau Anda pelajari sejarah, kolonial Belanda dulu selalu menghujani sultan-sultan, penguasa-penguasa pribumi dengan sogokan, suap, upeti, dll. untuk mendapatkan pengaruh dan mempertahankan penjajahan. Dimanapun ada negara terjajah (baik secara de facto atau de jure), korupsi pasti berkembang subur disana. Negara-negara boneka dimanapun tak akan bisa hidup bersih, sebab mereka dikendalikan untuk terus korup.

Kini Anda tahu semua masalah intinya. Jadi, pada hakikatnya korupsi di Indonesia itu sengaja diciptakan. Kalau negara-negara Barat membuat lembaga monitoring korupsi (seperti Transparency International), ya semua itu hanya untuk lip service belaka. Biar Barat selalu tampak sangat mendukung clean governement. Sejatinya mereka menggunakan cara-cara korup untuk menjajah bangsa-bangsa lemah seperti kita ini.

Jangan percaya deh dengan seruan “Anti Korupsi”, sebab persoalan intinya bukan disana! Intinya adalah: korupsi itu diciptakan oleh para penjajah untuk melestarikan penjajahan mereka! Ituh…

Segala puji bagi Allah yang menurunkan Islam sebagai agama anti korupsi lahir batin, dunia Akhirat. Hanya sayangnya, mayoritas rakyat Indonesia lebih suka menjilati kakinya para penjajah.

Abu Muhammad.

Iklan

Kasus KPK dan Kekalutan Regim NEOLIB

November 3, 2009

Saat ini masyarakat lagi ramai-ramainya membicarakan perseteruan antara KPK dan Polri yang kerap digambarkan sebagai pertarungan “Cicak Vs Buaya”. Isu sangat kuat ketika beredar transkrip rekaman pembicaraan telepon yang disinyalir sebagai upaya KRIMINALISASI pejabat-pejabat non aktif KPK. Lebih kuat lagi, ketika Chandra Hamzah dan Bibit Samad Irianto ditahan pihak Kepolisian dengan alasan-alasan yang (kata para praktisi hukum) lemah. Begitu kuatnya isu ini sampai Presiden RI turun tangan, memanggilkan tokoh-tokoh tertentu, lalu mendorong dibentuknya TPF dalam kasus penahanan Bibit-Chandra. Banyak tokoh nasional, cendekiawan, mahasiswa, santri, dan masyarakat luas mendukung KPK dan pembebasan Bibit-Chandra. Dari komunitas facebookers, saat ini sudah terkumpul dukungan bagi Bibit-Chandra sekitar 500 ribu pengguna.

Kalau mau jujur, sebenarnya ini masalah apa sih? Apa itu kasus KPK? Kriminalisasi pejabat KPK? Apa itu “Cicak Vs Buaya”? Apa itu “Lautan Nyamuk Korupsi” di Indonesia? Mengapa ada dukungan bagi gerakan anti korupsi? Mengapa pihak Kepolisian terkesan membela pejabatnya (Susno Duadji)? Dan lain-lain pertanyaan.

BUKAN MASALAH SEPELE

Sepintas lalu, masalah yang timbul di atas adalah kasus perseteruan antara Bibit-Chandra dan pejabat-pejabat Polri. Atau lebih meluas, perseteruan wewenang antara KPK dan Polri. Tetapi sejatinya, masalah ini tidak sesepele itu. Di balik masalah ini ada PERSETERUAN POLITIK yang amat sangat kuat. Hanya masalahnya, apakah kita bisa membaca ke arah sana atau tidak? Semoga Allah memberi pengetahuan yang bermanfaat. Amin.

Singkat kata, kasus KPK ini kuat kaitannya dengan regim NEOLIB yang berkuasa saat ini. Berkaitan dengan fenomena korupsi yang sudah berurat-berakar di Tanah Air. Berkaitan dengan kepentingan negara-negara asing yang ingin mempertahankan kuku KOLONIALISME-nya di Indonesia. Berkaitan dengan nasib kehidupan bangsa Indonesia ke depan. Bahkan berkaitan dengan eksistensi Indonesia itu sendiri.

Lho, kok sebegitu jauh ya? Ya memang, sedemikian jauh. Oleh karena itu bersabarlah untuk memahaminya.

Fakta Regim NEOLIB

Kita sudah sama-sama tahu bahwa Pemerintah KIB II ini tidak jauh beda dengan KIB I lalu. Haluan Pemerintahannya NEOLIB. Indikasinya adalah tim ekonominya tidak berubah dari sebelumnya. Bahkan disana seorang mantan pejabat elit IMF, Boediono, diangkat sebagai Wapres sekaligus mengepalai tim ekonomi. Boediono-lah yang selama menjabat menjadi Menkeu menjadi operator penerapan butir-butir Letter of Intents IMF yang akibatnya melumpuhkan ekonomi nasional. Boediono, Sri Mulyani, Marie Elka Pangestu, Purnomo Yusgiantoro (waktu itu Menteri ESDM) sudah sangat dikenal sebagai tim Neolib Indonesia.

Jadi fakta ini sudah tidak terbantahkan lagi. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menyebut KIB II sebagai Regim Neolib. Banyak pakar dan cendekiawan yang bisa memberikan data-data lebih luas lagi.

BARAT Benci Korupsi???

Di mata negara Barat, Indonesia sudah terkenal sebagai negara terkorup. Sejak jaman Soeharto “gelar terkorup” itu sudah nangkring di pundak Indonesia. Begitu pula ketika di jaman Reformasi, korupsinya semakin gila-gilaan. Bayangkan, seorang Kabareskrim Polri sampai ketahuan meminta jatah “uang jasa” karena berhasil mencairkan uang pengusaha dari Bank Century sekian-sekian. Itu contoh terbaru yang masih “panas”. Bank Century sendiri merupakan Mega Skandal yang sedang diproses di DPR untuk tujuan penerapan Hak Angket. Intinya, Indonesia sudah lama terkenal sebagai negara terkorup.

Pertanyaannya, apakah Barat benci dengan fenomena korupsi di Indonesia?

Jawabnya:

[1] Di atas permukaan, Barat sangat membenci fenomena korupsi itu, sebab selama ini mereka mengklaim sebagai negara-negara yang bersih dari korupsi. Wajar, jika mereka mengklaim anti korupsi. Bahkan Barat membiayai LSM-LSM “nyamuk” sekedar untuk membuktikan ke publik Indonesia bahwa mereka benci korupsi.

[2] Di bawah permukaan, Barat sangat senang dengan segala bentuk kebejatan korupsi, penyelewengan wewenang, kolusi, suap, mark up, dan segala bentuk praktik korupsi. Demi Allah, sebenarnya Barat amat sangat senang dengan segala kebejatan korupsi ini. Demi Allah, suburnya korupsi di Indonesia itulah yang Barat inginkan.

Lho, kok bisa bangsa-bangsa Barat suka dengan korupsi di Indonesia?

Jelas, dan sangat jelas itu. Hanya jika di Indonesia subur korupsi, maka mereka akan mampu menguasai negara ini dengan jaring-jaring Kapitalisme-nya. Kalau Indonesia bersih korupsi, bersih penyimpangan, bersih kolusi, dll. maka ekonomi Kapitalis-Liberalis Barat tidak akan hidup di Indonesia. Dalam keadaan Indonesia bersih korupsi, bersih lahir-bathin, dari Pusat sampai Daerah, maka tidak mungkin Barat akan mampu menguasai sumber-sumber ekonomi di Indonesia. Itu mustahil dan sangat mustahil.

Kalau Indonesia bersih korupsi, maka para pejabat akan hidup jujur, tidak menerima suap, sangat nasionalis, peduli dengan pekerjaan, taat dengan tugas, komitmen mensejahteraan rakyat. Tetapi kalau Indonesia subur korupsi, maka Barat akan sangat mudah membeli pejabat-pejabat Indonesia, membeli Presiden, Wakil Presiden, Menteri-menteri, Gubernur, Walikota, dll. Dengan sedikit trik korupsi, suap, dan kolusi, pejabat-pejabat itu tak berdaya dengan iming-iming harta berlimpah. Akhirnya, mereka menggadaikan negara demi melayani Barat. Regim NEOLIB tidak akan mampu bangkit di Indonesia, kalau negeri ini bersih korupsi.

Perlu diingat, strategi debt trap (jebakan hutang) yang diterapkan di Indonesia sejak jaman Soeharto, hal itu bisa berhasil karena suburnya iklim korupsi di negeri ini. Sebaliknya, ketika China menghukum mati ratusan koruptor-koruptornya, negara itu semakin peduli dengan nasib rakyatnya sendiri. Jadi korupsi itu berbanding terbalik dengan nasib baik sebuah bangsa.

AKAR KORUPSI

Korupsi di Indonesia sudah mendarah daging. Hampir setiap orang yang memiliki kuasa dan kesempatan, cenderung melakukan korupsi. Apalagi hukum di Indonesia mudah dibeli oleh para koruptor. Contoh sederhana, beberapa waktu lalu kita semua melihat betapa populernya kasus “Rekaman percakapan Artalita Suryani” dengan pejabat-pejabat Kejaksaan Agung. Coba lihat, apa kasus itu tidak penting? Apa sikap arogan Artalita yang begitu mudah menginjak-injak institusi Kejaksaan Agung sesuatu yang sifatnya remeh? Tetapi saat ini, masalah Artalita ini sudah seperti “peti mati” yang tidak diungkit-ungkit lagi. Begitu cepat kasus terkenal, begitu cepat dilupakan.

Korupsi di Indonesia sudah begitu mengerikan. Hampir setiap meja birokrasi, semua “berbau” korupsi, termasuk birokrasi di Departemen Agama yang seharusnya lebih mengerti tentang moral. Korupsi aparat penegak hukum bukan barang baru lagi. Sampai ada ungkapan “Mafia Peradilan”. Itu bukan pepesan kosong.

Kekalutan NEOLIB

Lalu dimana letak kekalutan regim Neolib?

Regim ini ingin membuat citra dirinya sebagai Pemerintahan yang anti korupsi, bebas korupsi, dan sangat menentang praktik korupsi. Tetapi di sisi lain, kalangan Barat yang pro Neolib, mereka sangat senang dengan kondisi rakyat Indonesia yang dipenjara oleh merebaknya kasus-kasus korupsi. Bahkan kalau perlu, mereka akan mempertahankan fenomena korupsi itu, lalu meneguhkannya sebagai “Kebudayaan Resmi Indonesia”. Kalau Indonesia bersih dari korupsi, dijamin 100 % kepentingan bisnis kotor negara-negara Kapitalis-Liberalis akan hengkang dari negeri ini. Mereka tidak akan tahan lama-lama menjarah kekayaan Indonesia, sebab aparat Indonesia semua anti korupsi, sejak dari tingkat Pusat sampai Daerah.

Kemudian, Regim Neolib ini juga tidak bisa memungkiri kenyataan, bahwa akar korupsi di Indonesia sudah terlalu amat sangat dalam. Sulit dan sulit memberantasnya. Toh, di antara pejabat-pejabat itu sebenarnya banyak yang “bekerja untuk orang lain”. Contoh, Boediono dan Sri Mulyani, sekian lama menjadi pejabat IMF.

Satu sisi, Regim Neolib sedang dipelototi oleh seluruh masyarakat Indonesia karena merebaknya kasus-kasus korupsi, misalnya dalam kasus KPK (Bibit-Chandra). Tetapi di sisi lain, regim ini tidak sanggup menghadapi kemauan Barat (asing) yang ingin tetap menyuburkan korupsi di Indonesia. Juga ketika struktur korupsi di tubuh birokrasi negeri ini telah menjadi kanker yang bisa merusak kekuasaan regim itu.

Disinilah kekalutan Regim Neolib. Maunya selalu “jaga image”, agar dipuji-puji sebagai Pemerintahan yang bersih korupsi, pembela terdepan gerakan anti korupsi. Namun realitasnya, Neolib itu sendiri subur karena merebaknya korupsi dimana-mana. Juga birokrasi di Indonesia telah hancur-lebur digerogoti oleh kanker korupsi. Persis seperti ungkapan Susno Duadji “Seperti Cicak Vs Buaya dalam lautan nyamuk korupsi di Indonesia”.

Maka itu Neolib, janganlah kalian sombong atas kekuatan kalian…

AMW.