Pemikiran Politik Salafi (Bagian 3)

Februari 4, 2009

Masalah 21


Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menghadapi pemerintah muslim adalah patuh dan taat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [QS.an-Nisa : 59].

Catatan AMW 21:

Ya sepakat, kita harus taat kepada Pemerintah Muslim, yaitu Pemerintahan yang taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, bukan yang takluk kepada hukum Belanda, Perancis, Inggris, dan lainnya. Sama seperti ketika Anda (Abu Ammar) ketika mengatakan tentang kebathilan demokrasi: “Cukuplah bahwa hukum ini milik Alloh, maka Demi Alloh… produk hasil olahan manusia utk mengatur kemaslhatan dunia ini tidak akan pernah mencapai tujuannya.”

Kalau ada Pemerintahan yang tidak taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, kita tidak wajib taat kepadanya. Buat apa taat kepada mereka, sementara mereka sendiri tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Alasan apa yang membuat orang-orang durhaka itu harus ditaati, jika mereka tidak menjalankan Syariat Islam? Apakah Allah mewajibkan orang-orang beriman taat kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya dan Rasul-Nya? Ya, Anda tahu jawabannya.

Termasuk salah satu kesesatan Salafi, yaitu mengklaim setiap Pemerintah yang pimpinan tertingginya ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri. Meskipun mereka berakidah demokrasi, Nasionalisme, Sekularisme, Pluralisme, Sosialisme, kerjasama dengan Zionisme, dan lain-lain. Padahal cara-cara seperti inilah yang menyebabkan syiar keimanan semakin meredup, sementara syiar-syiar kekafiran terus berkibar-kibar. Mengklaim setiap pemimpin ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri, meskipun dalam praktiknya dia anti Islam (seperti Husni Mubarak di Mesir), akibatnya tersebarlah kekafiran seluas-luasnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Selesai].

Masalah 22


Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Artinya : “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu : ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan ke-pada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perka-ra yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’” [HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, dan Syaikh al-Albany menshahihkan juga hadits ini].


Perhatikanlah hadits mulia ini. Sekalipun seorang budak yang menjadi pemimpin. Maka ketaatan itu tidak boleh dicabut. Tahukah engkau wahai penulis??? Jika salah satu syarat menjadi pemimpin itu adalah seorang yang merdeka.
Lantas bagaimana seorang budak bisa menjadi penguasa??? Dengan cara apa dia menjadi penguasa??? Tidakkah terpikir olehmu??? Engkau kemanakan petunjuk yang mulia dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini???

Catatan AMW 22:

Dalam sejarah Islam pernah terjadi, kalangan budak menjadi Khalifah kaum Muslimin. Itulah yang dikenal sebagai era Dinasti Mamluk (atau Mameluk). Kalau membaca sejarah, sebenarnya mereka bukan budak, tetapi proses sosial yang terjadi ketika itu membuat mereka “terbudakkan”. Ketika itu muncul seorang ulama yang menggugat posisi “kebudakan” Khalifah itu. Beliau adalah Al ‘Izz bin Abdus Salam rahimahullah. Beliau menuntut agar Khalifah memerdekakan dirinya terlebih dulu, sebab tidak sah seorang pemimpin negara Islam berstatus budak. Maka dengan terpaksa, Khalifah di masa itu menuruti tuntutan tersebut. Sehingga disana muncul kalimat bernada humor, “Al malik yuba’” (dijual seorang raja). Padahal seharusnya dikatakan, “Al mamluk yuba’” (dijual seorang budak).

Ya, beginilah sederhananya. Kalau pemimpin itu Muslim dan menegakkan Syariat Islam, apakah dia merdeka atau budak, apakah kulit hitam atau putih, apakah dia zhalim atau adil, maka kita wajib mentaatinya. Dia mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka kita pun rela mentaatinya. Sebaliknya, andai ada seorang pemimpin yang sifat-sifatnya nyaris sempurna, tetapi dia meletakkan hukum Allah dan Rasul-Nya di telapak kakinya, maka pemimpin seperti itu tidak layak ditaati. Atas dasar apa meletakkan ketaatan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?

Kalau Salafi rela mentaati siapapun yang ber-KTP Islam, meskipun ideologinya Sekuler, Nasionalis, Sosialis, dan lainnya, maka itu terserah mereka. Jelas kita berlepas diri dari sikap wala’ kepada orang-orang berideologi non Islam. Mendaulat pemimpin ber-KTP Islam sebagai Ulil Amri, meskipun dia berideologi non Islam, hal itu sama saja dengan memberikan pakaian Islam kepada sesuatu di luar Islam. Jelas ini kemungkaran besar. Na’udzubillah min dzalik. Dan hal-hal seperti inilah yang selama ini terus melemahkan kaum Muslimin dan membuat mereka hina. Jika menyebut seorang kafir sebagai Muslim, hal itu bisa menyebabkan kerusakan; apalagi jika mengislamisasikan kepemimpinan negara yang sebenarnya tidak Islami? Pasti kerusakan yang terjadi jauh lebih dahsyat lagi. Seharusnya Salafi mengingkari para pemimpin berideologi Sekuler, Nasionalis, Sosialis, Kapitalis, Kesukuan, dll. sebagaimana mereka bisa dengan sangat keras mengingkari demokrasi. [Selesai].

Baca entri selengkapnya »

Iklan