Allah Ta’ala Ada di Langit!

November 28, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, kita mensyukuri bahwa ajaran Islam adalah agama yang mudah dipahami, mudah dimengerti dan diamalkan. Rasulullah Saw, para Shahabat Ra, dan para Salafus Shalih menerima agama ini dalam kemudahan, lalu mengamalkannya secara konsisten, sampai akhir hayat.

Namun ketika peradaban Islam mulai bersentuhan dengan dunia Barat yang membawa paham filsafat (ilmu kalam), mulai muncul aneka pertanyaan-pertanyaan rumit. Sesuatu yang semula mudah, menjadi sulit, dan pelik. Tak jarang, banyak manusia tersesat karena fitnah akal yang bersumber dari filsafat itu. Lahirnya kelompok-kelompok teologi seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, ‘Asyariyah, Maturidiyyah, Zindiq, dll. tidak lepas dari pengaruh benturan antara peradaban iman (Islam) dengan pola pikir filsafat.

Salah satu topik yang layak dibahas ialah seputar “Allah ada di langit”. Topik ini telah membuka perdebatan panjang antara kalangan TATS-BIT (memilih menetapkan Sifat Allah apa adanya), TA’WIL (mengartikan istilah-istilah tertentu ke pengertian lain, dengan niatan menyucikan Allah), TAF-WIDH (menerima istilah-istilah itu, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah). Hingga hari ini, perdebatan tersebut belum tuntas. Kalau sering-sering membuka laman blog, diskusi internet, dll. kita akan menyaksikan bahwa perdebatan itu semakin panas dan pelik saja. Wallahul Musta’an.

Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang jelas:

 إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy.” (Al A’raaf: 54).

Ayat-ayat lain yang senada dengan ini, yang menunjukkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy ada 6 ayat lagi, yaitu:  Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 13, Ar Rahman ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Semuanya ada 7 ayat yang senada.

Namun, kejelasan ini kemudian dimentahkan, ketika sebagian orang mulai mempertanyakan ayat-ayat di atas. Mereka mulai berkata: “Tunggu dulu! Jangan cepat menyimpulkan. Ayat-ayat itu tak menunjukkan bahwa Allah ada di atas langit. Sekarang kami bertanya, Arasy itu apa? Ber-istiwa’ (bersemayam) itu apa? As sama’u (langit) itu apa? Semua ini masih bisa ditafsirkan dengan pengertian tidak seperti yang Anda pikirkan.”

Lebih jauh mereka beralasan, “Allah itu tidak di langit. Allah itu tidak di tempat yang tinggi. Dia tidak berada dalam ruang. Ruang itu adalah makhluk. Mustahil Allah terikat oleh makhluk. Allah tidak berada dalam ruang, tidak berada di luar ruang (sebab “luar ruang” juga makhluk), dan tidak berada di antara keduanya.”

Dari pengertian mudah, bahwa Allah itu bersemayam di atas Arasy. Dan Arasy sebagaimana disebutkan para ulama, berada di atas langit tertinggi. Namun karena akal banyak bertanya (seperti sindrom Bani Israil), maka terbuka lebar kesulitan-kesulitan.

Berkata Ibnu Taimiyah: “Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagimana diriwayatkan dalam As-Sunan karya Abu Daud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im.” Disana sebutkan, “Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rab dan berkata, ‘Ya Rasulullah, jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan…  sampai pada perkataan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-langit dan bumi, seperti begini.’ Dan beliau memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 1/252).

Adapun tentang ketinggian Arasy, Rasulullah Saw.:

إِذَا سَأَلْتُمُ الله فَاسْأَلُوْهُ اْلفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ وَسَطُ اْلجَنَّةِ وَ أَعْلاهَا وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Artinya, “Jka kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya. Kitab Tauhid, Bab Wa Kaana Arsyuhu Alal Ma’i). [Perkataan Ibnu Taimiyyah dan dua riwayat di atas, dinukil dari tulisan Ustadz Khalid Syamhudi, dari situs almanhaj.or.id, berjudul “Aqidah Ahlus Sunnah Seputar Arasy”].

Jelas sekali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Arasy ada di atas langit tertinggi. Bahkan disebutkan, Arasy itu ada di atas air. Di atas Arasy ada Kursyi (sehingga kita mengenal istilah Ayat Kursyi). Allah bersemayam di atas itu semua.

Lalu mengapa semua ini begitu sulit dipahami (terutama oleh kalangan ‘Asyariyin dan kawan-kawan)?

Mereka beralasan, “Allah tidak di langit, atau di atas Arasy. Sebab semua itu adalah ruang. Ruang adalah makhluk. Allah tidak boleh terikat oleh ruang, sebab itu sama dengan Allah terikat oleh makhluk.”

Letak kesalahan utama orang-orang itu ialah: “Mereka menyifati Allah dengan ciri-ciri makhluk yang membutuhkan tempat, arah, dan ukuran. Andaikan mereka bisa melepaskan diri dari gambaran makhluk, ketika mereka berbicara tentang Sifat-sifat Allah, maka hal itu akan menyelesaikan masalah ini.”

Contoh, dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Allah Ta’ala setiap akhir malam turun ke langit dunia, untuk melihat siapa yang berdoa, lalu dikabulkan-Nya; untuk melihat siapa yang mohon ampun, lalu diampuni-Nya. Hal ini mudah dipahami, dan tinggal kita amalkan dengan shalat malam, berdoa, serta memohon ampun di sepertiga akhir malam.

Tapi di hadapan akal-akal yang aneh, mereka mempertanyakan banyak hal. “Dengan apa Allah turun ke langit dunia, dengan Dzat-Nya atau Ilmu-Nya? Kalau Allah turun, berarti nanti Dia akan lebih rendah dari makhluk-Nya. Kalau setiap akhir malam Allah turun, lalu saat pagi Dia balik ke atas lagi, berarti kerja-Nya bolak-balik saja, dong? Kan bumi itu bulat, mana atas mana bawah?”

Begitulah, orang-orang itu menikmati sekli hujatan-hujatannya terhadap sebagian Sifat Allah yang Dia ajarkan melalui Sunnah Rasul-Nya. Seakan, ketika mereka telah melontarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu, mereka telah menang; mereka telah ngangkangi dunia; mereka merasa puas karena “telah menaklukkan” Allah. Masya Allah, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semua pikiran-pikiran itu bukan menunjukkan kepintaran, tetapi bukti AROGANSI. Apa bedanya pikiran semodel itu dengan perkataan Bani Israil, ketika mereka mengatakan, “Yadullah maghlulah” (Tangan Allah itu terbelenggu). Laa ilaha illa Allah, laa ilaha illa Allah, Maha Suci Allah dari segala kekotoran yang mereka pikirkan.

Bantahan atas pikiran-pikiran kotor itu sederhana saja. Mereka kesulitan mengimani ayat-ayat atau hadits Rasulullah Saw seputar Sifat-sifat Allah, karena: mereka memahami posisi Allah seperti mereka memahami makhluk-Nya. Kalau sebuah benda turun, pasti dia akan lebih rendah dari benda di atasnya. Ini adalah tabi’at makhluk. Kalau benda turun-naik, berarti benda itu selalu bolak-balik. Ini juga tabi’at makhluk. Kalau benda ada di atas bumi yang bulat, berarti sisi atasnya bisa ke segala arah. Lagi-lagi ini adalah sifat makhluk. Kalau benda punya letak (misalnya di langit), berarti dia punya tempat dan volume. Lagi-lagi, wahai Kangmas dan Mbakyu, itu adalah sifat makhluk. Kalau Allah menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah? Untuk kesekian kalinya, suatu eksistensi yang ada karena diciptakan, ia adalah SIFAT MAKHLUK.

Allah tidak punya sifat seperti itu. Dia adalah Rabb, Ilah, Malik, atau Dzat yang memiliki Sifat tersendiri. Bebas dari sifat-sifat makhluk. Apa yang tidak mungkin di tangan makhluk, sangat mudah terjadi pada Allah; kalau Dia menghendaki hal itu terjadi. Kalau makhluk terjadi selalu karena diciptakan, maka Allah bisa Wujud tanpa mengalami penciptaan. Lho kok bisa begitu? Ya, karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Laisa ka mits-lihi syai’un wa huwa sami’ul bashir. Bukankah ayat ini sudah populer?

Sebagai Muslim, kita tidak akan ditanya, “Allah ada di dalam ruang atau di luar ruang?” Tidak, demi Allah kita tak akan ditanya seperti itu.

Lalu orang ‘Asyariyin berkata, “Allah tidak boleh di dalam ruang, karena ruang adalah makhluk-Nya. Allah itu Suci, Dia tak membutuhkan apapun. Allah tidak terikat oleh ruang. Dia bebas mandiri dari unsur makhluk-Nya.”

Sebenarnya, bagi kita semua, apakah Allah ada di dalam ruang atau tidak, TIDAK MASALAH. No problem, anything! Kalau Allah menetapkan diri-Nya dalam ruang, kita mengimaninya. Kalau Allah tetapkan diri-Nya di luar ruang, kita pun akan mengimani-Nya. Apa yang Allah inginkan tentang diri-Nya dengan segala Sifat-Nya, kita imani. Kita akan mengatakan, “Amanna bihi kullun min ‘indi Rabbina” (kami mengimani-nya, semua itu dari sisi Rabb kami).

Jadi dalam hal seperti ini, JANGAN IKUT CAMPUR apa-apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya. Andaikan Allah berada dalam ruang, dan hal itu yang Dia kehendaki; maka sungguh tidak akan berkurang Kesucian-Nya. Andaikan Allah berada di luar ruang, seandainya itu yang Dia inginkan, juga tak akan berkurang Kesucian-Nya. Sebab, Allah sudah Suci sejak sedia kala, tanpa membutuhkan cara-cara kita untuk mensucikan-Nya.

Kalau Allah menggunakan makhluk-Nya untuk suatu keperluan, hal itu tak membuat Allah kehilangan Kesucian-Nya. Jelas-jelas Allah berada di atas Arasy, sedangkan Arasy itu juga makhluk. Lihatlah disana, ada beribu-ribu Malaikat, bahkan jumlahnya tak terhitung, kecuali hanya Allah yang Tahu. Apakah karena “dibantu” para Malaikat, kemudian Dia menjadi tidak Suci? Tidak demikian. Begitu juga, dengan para Nabi dan Rasul. Mengapa bukan Allah saja yang dakwah ke umat manusia, mengapa harus “meminta bantuan” Nabi dan Rasul? Begitu juga, mengapa untuk memberi rizki manusia, Allah mesti “meminta bantuan” angin, tanaman, hewan, sungai, hujan, dll.?

Subhanallah, Allah tidak tergantung kepada makhluk-Nya, bahkan Dia yang memberi kekuatan, eksistensi, dan manfaat pada makhluk-Nya. Dengan segala Kehendak dan Qudrah-Nya, Allah menjadikan yang mati menjadi hidup, dan yang hidup menjadi mati. Atas segala hal itu, Dia selalu Suci.

Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 26 disebutkan, bahwa “Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk, atau yang lebih rendah dari itu.” Ayat ini menjadi bukti, bahwa Kesucian Allah tidak ternoda hanya ketika Dia mengambil perumpamaan sebuah makhluk kecil yang bernama nyamuk. Kesucian Allah juga tak ternoda ketika Dia bersumpah dengan makhluk-makhluk-Nya, seperti malam, siang, waktu, matahari, bulan, jiwa, buah tin, buah zaitun, dll.

Akan tetapi, akidah Islam ini membawa kita untuk keluar dari semua perdebatan aqliyah. Allah hanya menetapkan, “Diri-Nya bersemayam di atas Arasy.” Artinya, kita tak usah meributkan soal “dalam ruang” atau “di luar ruang”, sebab penjelasan ayat-ayat Allah itu sudah gamblang: Dia berada di atas Arasy. Disini kita tak perlu memikirkan, apakah Allah ada dalam  ruang atau tidak. Karena masalah itu tidak disinggung dalam ayat-Nya atau hadits Nabi-Nya.

KAIDAH dasarnya sebagai berikut: Saat berbicara tentang Sifat Allah, disana ada Sifat Dzatiyyah (sifat yang terkait dengan Diri Allah Ta’ala) dan Sifat Fi’liyyah (sifat yang terkait dengan Perbuatan Allah). Kalau bicara soal Dzatiyyah Allah berlaku kaidah “laisa ka mitslihi syai’un” (tidak ada yang serupa dengan-Nya satu pun). Dalam hal ini, jangan sekali-kali memahami Allah dengan paramter makhluk-Nya; kalau begitu, kita pasti akan tersesat. Kalau bicara tentang Fi’liyyah Allah berlaku prinsip “idza arada syai’an an yaqulu kun fa yakun” (kalau Dia menghendaki sesuatu, Dia tinggal mengatakan ‘kun’, maka jadilah hal itu).

Inti kesalahan orang ‘Asyariyyun ialah ketika mereka bicara Dzat Allah, mereka serupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya; sehingga mereka merasa bahwa dengan keadaan itu Allah menjadi “tidak suci”, sehingga butuh akal-akalan mereka, agar Allah menjadi “suci”. Sebaliknya, ketika bicara tentang Perbuatan  Allah, mereka bebaskan Allah sama sekali dari urusan makhluk-Nya; padahal Allah berhak mengatur makhluk-Nya sekehendak-Nya. Makhluk-Nya mau dibuat hitam atau putih, itu terserah Iradah-Nya.

Betapa agung perkataan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang Istiwa’. Kata Imam Malik, “Istiwa’ itu sudah maklum, bagaimananya tidak dikenal. Mengimaninya wajib, mempersoalkannya bid’ah.” Ini adalah ungkapan pendek yang meliputi seluruh metode yang dibutuhkan untuk mencapai hakikat keimanan yang lurus terkait Sifat-sifat Allah.

Sungguh, seorang pendosa yang berlumuran dosa, kalau hatinya lurus dalam mengimani Sifat-sifat Allah ini, masih masih memungkinkan dia akan diampuni. Sebaliknya, seorang ustadz yang sepanjang waktunya, pagi sampai sore, petang sampai fajar, mengisi hidupnya hanya dengan dzikir sambil bercucuran air mata, sementara hati dan akalnya dipenuhi penyifatan-penyifatan kotor tentang Dzat Allah dan Perbuatan-Nya; kelak dia akan berhadapan dengan kesulitan besar di hadapan Allah. Dia akan dituntut atas pelanggaran-pelanggaran terberat menyangkut hak-hak Allah.

Bertaubatlah wahai insan, selama nafasmu masih bisa dipakai bertaubat! Tidak ada yang sulit dari agama ini, kalau hatimu ikhlas. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.

Iklan