Jokowi Menang di Pilkada DKI Putaran 2

September 17, 2012

Sebentar lagi, tanggal 20 September 2012, akan digelar Pilkada Jakarta putaran ke-2. Ya seperti yang dimaklumi, pasangan Jokowi-Ahok akan bertarung melawan pasangan Foke-Nara. Bertarung disini maksudnya bukan dalam arena duel “master martial art”, tapi dalam even Pilkada biasa.

Dari berbagai pertimbangan politik, ada dugaan kuat, pasangan Jokowi-Ahok akan memenangkan Pilkada Jakarta 2012. Ini bukan karena ramalan, berdasarkan wangsit, atau ilmu gathuk-gathuk-an. Juga bukan karena melihat hasil surve-surve yang aneh itu. (Surve-surve begituan tak perlu dianggap; intinya mereka kan mencari uang, bukan melayani kebenaran). Tetapi memang disini ada pertimbangan sains politiknya.

Pemilih Wanita Lebih Melihat Penampilan, Bukan Ideologi.

Ada beberapa analisis yang bisa menguatkan peluang Jokowi-Ahok untuk memenangkan Pilkada Jakarta, antara lain:

[a]. Sejak kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 lalu, kandidat-kandidat yang menang dalam pemilu, rata-rata bukan karena faktor ideologis; bukan pula karena faktor program dan agenda yang hebat; tetapi lebih karena faktor OPINI MEDIA dan STRATEGI VISUALISASI. Mayoritas pemilih lebih melihat penampilan kandidat dan popularitasnya. Calon yang tampak ganteng, muda, keren, dan didukung selebritis; sering kali memenangi pemilu.

[b]. Kondisi dalam poin ‘a’ di atas terjadi, karena sebagian besar para pemilih adalah kaum wanita (perempuan). Mereka ini sikap politiknya sangat dipengaruhi oleh PERASAAN, bukan timbangan ideologi. Ketika Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf memenangi Pilkada Jabar tahun 2008, hal itu karena penampilan mereka dianggap lebih fresh, dinamis, dan tersohor lagi.

[c]. Dalam Pilkada DKI tahun 2007, media-media massa seluruhnya mendukung pasangan Foke-Prijanto. Hal itu terjadi karena lawan dari Foke adalah pasangan Adang Dorodjatun dan Dany yang didukung PKS. Media massa ingin mengambil posisi berseberangan dengan PKS. Pada Pilkada 2012 ini media massa justru sebagian besar mendukung Jokowi-Ahok. Hingga presenter-presenter TV banyak memakai baju “kotak-kotak”, dan mereka tidak ada yang sengaja mempromosikan “kumis”.

[d]. Secara visual, ketika dipadukan antara gambar Foke-Nara dan Jokowi-Ahok; pasangan Jokowi lebih disukai, karena dia mencerminkan penampilan kalem, rendah hati, muda, energik, dan -yang paling penting- enak dilihat. Air muka Jokowi yang sering tersenyum, ramah, dan santai; hal itu sangat kontras dengan air muka Foke yang terkesan kaku, kethus, arogan, dan formalis. Para pemilih wanita, cenderung lebih menyukai Jokowi.

[e]. Slogan kampanye yang diusung Jokowi, untuk mengadakan perubahan di Jakarta, cukup mengena. (Soal nanti terjadi perubahan positif atau negatif, itu lain soal). Tapi ide perubahan ini cukup mengena di hati masyarakat. Sedangkan ide “bersatu” yang dibawa oleh Foke seolah mengesankan, di Jakarta sedang ada konflik sehingga masyarakat perlu bersatu.

[f]. Banyaknya pihak (terutama aktivis Muslim) yang ikut menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok melalui isu-isu tertentu; hal tersebut akan membuat pasangan itu mendapat peluang melalui tema “pihak terzhalimi”. Hari ini aparat Jakarta dikerahkan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak memilih pemimpin non Muslim; juga munculnya isu-isu sejenis yang bersifat emosi keagamaan; hal ini bisa dimanfaatkan oleh tim sukses Jokowi-Ahok untuk memposisikan pasangan mereka sebagai orang “yang terzhalimi”.

Begitulah sebagian analisa yang bisa dikemukakan. Ini hanya analisa; yang terjadi di lapangan adalah apa yang Allah kehendaki harus terjadi. Dari segi apapun, kaum Muslimin harus siap menghadapi kenyataan nanti. Baik Jokowi maupun Foke, tidak ada yang ideal menurut kepentingan maslahat kaum Muslimin di Jakarta (dan Indonesia).

Jika benar Jokowi-Ahok yang menang; maka para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus memikirkan bagaimana caranya agar gubernur yang terpilih itu tidak melakukan “balas dendam politik” karena mereka telah disudutkan sedemikian rupa, sebelum Pilkada terjadi.

Kalau Foke-Nara yang terpilih, para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus juga ikut bertanggung-jawab; mereka harus mendorong agar Foke melakukan perubahan positif yang besar di DKI Jakarta; sebab jika tidak terjadi perubahan, nanti kondisi stagnan itu akan dianggap sebagai hasil kampanye politik Ummat Islam yang telah menolak Jokowi-Ahok.

Pada pagi hari, 20 September 2012 Pilkada Putaran ke-2 bergulir; mulai jam 12.00 siang, perhitungan quick count mulai bergerak; pada jam 17.00 atau 18.00 sudah kelihatan siapa pemenangnya. Yang jelas, Provinsi Jakarta bisa dipimpin oleh siapa saja; rakyat Jakarta bisa kecewa untuk kesekian kalinya; sementara media-media massa panen keuntungan terus.

Aku sendiri hanya “khawatir”…bagaimana kalau Jokowi benar-benar menang? Maksudnya, ada partai tertentu yang semula antipati dengan Foke; lalu mereka ingin menjalin aliansi dengan Jokowi dalam menghadapi Foke; ternyata kemudian dia “menjilat ludah sendiri” dengan mendukung Foke. Bagaimana kalau Jokowi menang, lalu mereka secara unyu-unyu datang ke kantor Jokowi untuk mengusahakan share kekuasaan?

Ya di dunia masa kini, media massa menjadi kekuatan tirani tak berperasaan. Semoga ke depan Pak Jokowi tidak melakukan diet, agar badannya tidak semakin mirip “tiang listrik”. Semoga juga Pak Foke mau mencukur kumisnya yang mbaplang itu, sebab itu tidak sesuai Sunnah Nabi.

Mine.

Iklan

Silakan Anti Ahok, Tapi Jangan Kaitkan Foke dengan Islam!

Agustus 18, 2012

Seiring semakin dekatnya akhir Ramadhan, dan menjelang bulan Syawal, satu penjelasan kecil ingin disampaikan, terkait Pilkada DKI 2012 putaran II, yang akan berlangsung September nanti. Hal ini disampaikan agar tidak muncul salah paham.

[1]. Adalah hak warga Muslim Jakarta, atau Muslim di tempat lain, untuk memilih atau mendukung calon pemimpin yang diyakini akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan ke depan. Karena lazimnya seorang Muslim, dia mendambakan maslahat dan berusaha sekuat tenaga menjauhi madharat. Sesuai prinsip Syariat Islam: jalbu al mashalih wa daf’u al mafasid (mencapai kebaikan dan menolak kemadharatan).

“Simbol Kumis” Sangat Jauh dari Pesan Islami. Ini Tidak Mewakili Aspirasi Islam.

[2]. Warga Muslim Jakarta sangat berhak bersikap apapun, seperti menolak pasangan Jokowi-Ahok, lalu memilih pasangan Foke-Nara. Hal ini boleh semata, sebagai bagian dari hak kebebasan menyalurkan aspirasi politik. Misalnya, alasannya Jokowi cenderung Kejawen; Ahok seorang non Muslim, China lagi; kalau Jokowi menang, khawatir nanti Jakarta akan semakin dikuasai oleh non Muslim dan China. Alasan demikian, secara politik, sifatnya boleh, tidak ada larangan.

[3]. Jika Muslim Jakarta menolak pasangan Jokowi-Ahok dengan alasan di atas (poin ke-2), itu sudah cukup. Itu sudah sah dan standar, bagi siapa saja yang memiliki hak suara. Namun, jika sudah beralasan seperti itu, jangan lantas menganggap pasangan Foke-Nara sebagai pasangan yang Islami. Jangan demikian, sebab itu jelas mendustakan kebenaran. Silakan saja anti Jokowi atau anti Ahok; tapi jangan beralasan bahwa Foke-Nara lebih Islami. Ini sebuah kedustaan yang nyata. Foke-Nara itu jelas-jelas didukung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PDS, PKB, PKS, PAN, dan lainnya. Partai-partai Neolib dan sekuler mendukung dirinya; atau mendukung “Simbol Kumis” Foke. Bagaimana hal ini dianggap sebagai pasangan Islami? Kalau mengaitkan Foke dengan perjuangan Islam, sementara buktinya tidak ada, jelas ini sebuah kedustaan yang nyata.

[4]. Kemudian, jika warga Muslim Jakarta mendukung Foke-Nara, jangan karena alasan: Foke-Nara anti Wahabi atau hal itu dilakukan demi menjaga persatuan Ummat. Alasan demikian sangat menyakitkan hati saudara-saudaramu sesama Muslim; ia jelas-jelas memecah-belah barisan Ummat; dan merupakan fitnah bagi gerakan dakwah Wahabi. Tolonglah, jangan dipakai alasan keji seperti itu. Kalau tetap dipakai, jangan salah kalau akan bermunculan sikap anti Foke-Nara secara ideologis dari semua kalangan gerakan dakwah Wahabi.

[5]. Siapapun yang nanti terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta, bukan berarti masalah-masalah Ummat Islam akan otomatis selesai, atau semakin ringan. Jangan bermimpi terlalu jauh! Kita masih ingat, tahun 2004 lalu, DKI Jakarta secara politik dikuasai oleh PKS. Mereka mendominasi perolehan suara di tingkat parlemen DKI Jakarta. Gubernur Jawa Barat sekarang, Ahmad Heriyawan, adalah termasuk anggota DPRD DKI Jakarta periode itu. Tapi Ummat Islam bisa merasakan sendiri, sejuhmana dampak kemenangan politik PKS di Jakarta ketika. Ngaruh tidak? Kalau setingkat PKS saja tidak banyak pengaruhnya, apalagi sosok Foke yang membanggakan Kumis-nya. Maksudnya, bila nanti Foke berkuasa lagi, dan ternyata tidak banyak perubahan; ya mesti bersabar. Namanya juga sistem sekuler, mau dibolak-balik seperti apapun, hasilnya sama; ngenes.

Demikian yang bisa disampaikan. Selamat menyambut Idul Fithri 1 Syawal 1433 H. Taqabbalallah minna wa minkum shalihan a’mal. Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan bathin.

Abu Muhammad (Joko) Waskito.