[03]. Islam dan Teori Evolusi

Februari 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masih ada relevansinya kita membahas teori evolusi, meskipun sifatnya praktis. Singkat kata, dalam Al Qur’an terdapat Surat Al Baqarah ayat 164. Disana terdapat penggalan ayat yang berbunyi sebagai berikut: “Wa maa anzalallahu minas samaa’i min maa’in, fa ahya bihil ardha ba’da mautiha, wa bats-tsa fiha min kulli daabbah” [dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, yang dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah matinya (tandus); kemudian Dia sebar-luaskan di permukaan bumi itu segala macam makhluk melata (hidup)].

Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang Kemurahan Allah Ta’ala yang menjalankan mekanisme siklus air. Dia menurunkan air dari langit dalam bentuk hujan; lalu hujan itu menyirami tanah-tanah tandus, sehingga ia hidup kembali sebagai tanah subur. Saat mana tanah sudah subur, tanam-tanaman hidup menghijau, maka makhluk berupa hewan maupun manusia akan singgah dan menetap di tempat itu.

Alam Diciptakan dalam Keragaman Luar Biasa. Setiap Makluk Sudah FINAL.

Alam Diciptakan dalam Keragaman Luar Biasa. Setiap Makluk Sudah FINAL.

Tapi ada satu pelajaran besar di balik ayat ini. Bahwa mahkluk hidup itu eksis di muka bumi karena proses PENYEBARAN. Mereka semua disebarkan oleh Allah Ta’ala. Sebagai makhluk yang disebarkan, tentu ia sudah jadi, sudah sempurna, sudah finalisasi dalam segala aspeknya (bentuknya, ukurannya, tabiatnya, peranannya, serta ketergantungannya satu sama lain). Tidak mungkin Allah menyebarkan makhluk “setengah jadi”, lalu mereka menjadi sempurna melalui proses-proses alam. Tidak demikian.

Makhluk (terutama hewan) ketika hidup di muka bumi, jenisnya sangat beragam, ukurannya sangat beragam, fungsi dan tabiatnya juga beragam. Mereka semua adalah makhluk yang telah sempurna, telah jadi, telah berada dalam proporsi FINAL. Keragaman makhluk yang luar biasa itu, menandakan Kebesaran Allah Ta’ala. Makhluk-makhluk ini tak pernah berubah wujud ke bentuk-bentuk lain, selain dirinya. Ia berada dalam koridor aslinya, sebagaimana saat pertama diciptakan.

Perlu dicatat, setiap makhluk ini memiliki batas ambang eksistensi. Ia adalah sejumlah kondisi dimana makhluk itu masih bisa eksis dalam batas-batas kemampuan adaptasinya. Kalau ia menghadapi kondisi ekstrem sehingga keluar dari batas-batas kemampuan adaptasinya; maka otomatis makhluk tersebut akan punah. Ia tak pernah berubah ke dalam bentuk lain, karena kondisi ekstrem di luarnya. Sampai disini, teori evolusi dengan sendirinya gugur di titik “ulu hati” paling krusial.

Singkat kata, tidak ada teori evolusi. Yang ada adalah fakta keragaman penciptaan. Allah Ta’ala menciptakan makhluk hidup beragam di muka bumi. Amat sangat beragam, sehingga untuk menjelaskan semua bentuk keragaman itu, kita tak akan mampu melakukannya. Setiap jenis makhluk yang diciptakan telah memiliki sifat-sifat khusus, dan memiliki ambang toleransi dalam proses adaptasinya. Jika menemui situasi ekstrem, apalagi dalam tempo lama, makhluk itu tidak akan berevolusi menjadi makhluk lain, tetapi ia akan punah karena ketidak-mampuannya bertahan.

Lalu bagaimana degan fosil-fosil yang ditemukan di masa lalu?

Fosil-fosil itu mencerminkan bentuk makhluk yang pernah ada di masa lalu. Fosil itu tidak pernah berubah menjadi fosil lain, atau merupakan hasil perubahan dari fosil sebelumnya. Ia tetap dalam bentuknya sebagai makhluk mandiri; asalnya begitu, anak keturunannya juga begitu.

Pendek kata, tidak pernah ada evolusi semacam tikus menjadi marmut, marmut menjadi kelinci, kelinci menjadi domba, domba menjadi sapi, dan seterusnya. Itu hanyalah lamunan orang-orang bodoh yang tersesat di belantara ilmu pengetahuan modern. Nas’alullah al ‘afiyah.

Sedangkan manusia sendiri; manusia bukanlah makhluk yang berasal dari bumi. Manusia berasal dari sepasang manusia tertua, Adam dan Hawwa. Keduanya semula ada makhluk dari langit. Jadi generasi manusia tidak mengalami proses apapun di bumi. Manusia sepenuhnya dari Adam dan Hawwa, keduanya dari langit. Kita ini sudah given atau build up seperti ini sejak nenek-moyang kita.

Nabi Saw pernah berkata: “Antum banu adama, wa adama min turab” (kalian itu anak-cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah). Sekali lagi: no evolution in universe!

Iklan