Mahasiswa Seperti Dihujani “Bom Cluster”

Maret 31, 2012

Tadi malam, Jum’at tanggal 30 Maret 2012, sekitar pukul 08.00 malam, terjadi kericuhan yang mencekam di depan Gedung DPR/MPR RI.

Ribuan demonstran mahasiswa dan lainnya, mereka dihalau oleh aparat polisi keluar dari halaman Gedung DPR RI dengan gas air-mata dan tembakan “bola-bola api”. Tidak jelas, apakah “bola api” itu merupakan jenis gas air mata; ataukah ia merupakan petasan atau kembang api seperti yang disebutkan oleh beberapa media. Tetapi penembakan “bola-bola api” ini berhasil menghalau ribuan mahasiswa hanya dalam waktu beberapa menit saja.

Menghalau Demonstran dengan Efek Api. Seperti dalam Suasana Perang.

Kalau melihat tembakan-tembakan “bola api” itu bentuknya seperti bom cluster yang banyak dipakai Israel untuk menghujani warga Palestina di Ghaza. Tentu saja, ia bukan bom cluster, sebab bom itu sangat mematikan. Tetapi pola cahayanya ketika di udara sangat mirip sekali. Ia seperti lemparan “bola api” lalu di udara terpecah-belah menjadi serpihan bola-bola api yang lebih kecil. Karakter cahaya bom cluster di udara seperti itu. Biasanya ia dilemparkan dari atas pesawat tempur atau helikopter sejenis Apache.

Kalau tidak salah, di antara jenis gas air mata, memang ada yang mengeluarkan cahaya-cahaya berpendar yang sangat silau sekali. Jenis gas seperti itu juga dipakai di tanah konflik Palestina untuk menghalau para demonstran anti Zionis. Sebagai perbandingan, dalam pertandingan-pertandingan bola, kadang suporter ada yang membawa semacam petasan yang mengeluarkan api dan cahaya berpijar yang sangat terang. Kalau ia keluar cahayanya, stadion yang semula gelap bisa terasa terang-benderang.

Gas air mata atau apalah namanya seperti yang ditembakkan di depan gedung DPR itu, tidak mematikan; meskipun namanya juga “bola api” kalau mengenai tubuh, juga bisa menimbulkan luka-luka bakar tertentu. Tetapi efek yang paling besar, adalah efek MAKING FEAR (membuat rasa takut). Karena bentuk cahayanya seperti bom cluster, banyak orang meyakini mereka seperti sedang dihujani bom. Tentu saja mereka akan lari menyelamatkan diri. Dan setelah para demonstran bisa dihalau dari posisi yang didudukinya, mereka menyaksikan bahwa efek “bola-bola api” itu tidak membahayakan secara fisik. Efek hangus di jalan-jalan ada, tetapi ia tidak menimbulkan kerusakan berarti.

Apa yang terjadi semalam, sebagaimana ditayangkan di TV, seperti dalam suasana perang. Ya intinya, tolak kenaikan harga BBM, karena subsidi BBM itu hanya rakyat. Negara tidak berdosa memberi subsidi apa saja untuk rakyatnya. Sedangkan para pejabat, seperti SBY sekalipun, hakikatnya hanya “numpang” di atas hak-hak rakyat.

“Hidup kesengsaraan rakyat! Eh maaf, maksudnya: JANGAN MENYENGSARAKAN RAKYAT !!!”

(Sahawae).

Iklan