Catatan Berserak dari Aksi GMJ 10 November 2014

November 12, 2014

Bismillah. Berikut adalah catatan berserak, pandangan mata jurnalis dari lapangan; yang kebetulan informasi-informasi ini banyak tidak tercover oleh media. Anda siap membaca informasi-informasi berikut? Mari ikuti…

*) Aksi massa GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta) 10 November 2014 merupakan tekanan politik yang sangat kuat dan hebat. Bukan saja ke personal Ahok, tapi kepada kekuatan-kekuatan di baliknya. Karena kita tahu, tak mungkin Ahok berani celamitan, kecuali memang disuruh begitu.

*) Aksi ini oleh MetroTV disebut diikuti oleh 500 orang. Ha ha ha…para jurnalis kalau matanya rabun, hasil laporan pun jadi jauh dari kenyataan. Tidak ada jurnalis terbodoh yang mengatakan, peserta hanya 500 orang, kecuali MetroTV. Maklumlah…

"Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi"

“Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi”

*) Sehari sebelum aksi massa 10 November, beredar broadcast dari aparat polisi tentang perkiraan massa peserta demo. Katanya, hanya sekitar 1000 orang; telah diberangkatkan 5 bus FPI asal Surakarta; paling akan terjadi sambit-sambitan batu seperti massa tawuran. Prediksi tersebut salah besar dan sesat. Demo diikuti setidaknya 10.000 massa. Mereka melakukan tekanan politik sangat kuat dan nyaris mendominasi lapangan.

*) Dikatakan, demo itu didukung oleh massa FPI. Sebagai motor gerakan, iya benar. FPI memang dominan. Tapi tanpa dukungan elemen-elemen massa lain, gerak aksi ini tidak akan sekuat itu. Banyak elemen Islam/Muslim terlibat dalam demo ini, meskipun tetap bintangnya adalah FPI.

*) Fenomena yang hebat: pesan besar dalam demo ini adalah SERUAN REVOLUSI ANTI AHOK. Atau katakanlah, masyarakat Muslim Jakarta tidak menghendaki Ahok jadi Gubernur DKI. Dalam aksi ini para demonstran hanya memberi pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur DKI. Alasannya, masyarakat Muslim Jakarta “sudah gak demen sama elo”.

*) Jargon yang populer dalam demo ini adalah: “Gue gak mau tahu, yang penting Ahok turun.” Ini adalah yel-yel dengan nuansa revolusi. Seperti yel-yel perjuangan masa lalu: “Merdeka atau mati!”

*) Tokoh-tokoh pendukung demo ini membaca dengan jelas arah dari kebijakan dan statement-statement Ahok selama ini, yaitu kehendak ingin menghapuskan Islam dari Jakarta. Faktanya: Ahok melarang takbir keliling, tapi memfasilitasi acara-acara hedonisme tahun baru; mempersulit izin pengajian dan majelis dzikir; membuldozer masjid-masjid tanpa memberi ganti; melarang penjualan hewan qurban di pinggir jalan; melarang penyembelihan hewan qurban di sekolah-sekolah dan instansi; mengganti pakaian religius pelajar Jakarta pada hari Jumat dengan pakaian adat; hendak menghapuskan kolom agama dalam KTP; hendak melegalisasi komplek pelacuran; berulang-ulang menghina Islam dan kaum Muslimin; dan sebagainya. Arah sekularisasi dari kebijakan dan statement Ahok sangat jelas.

*) Dr. Sri Bintang Pamungkas, dia menyatakan bukan bagian massa FPI, tapi dia mencintai Islam. Dia sangat marah karena Ahok pernah mengatakan agar aparat keamanan memenuhi senjata mereka dengan peluru tajam dan mengisi water canon dengan bensin; tentu tujuannya untuk membunuhi para demonstran Muslim. Itu kata Dr. Sri Bintang dalam orasinya.

*) Salah besar orang yang mengatakan bahwa demo ini hanya dilakukan oleh FPI. Salah besar. Bahkan di sana tampil sekumpulan pelajar memakai baju batik warna biru dan celana putih, mereka dari komunitas PERSATUAN ISLAM (Persis) Jakarta. Bahkan seorang ibu Muslimah, dua kali memberikan orasi, menggugah semangat Jihad para pemuda Islam; beliau dari komunitas Muhammadiyah. Demo ini diikuti oleh ibu-ibu juga, sekitar 100 orang; karena mayoritas adalah kaum laki-laki dan pemuda.

*) Alhamdulillah, demo berjalan lancar, tidak ada aksi anarkhis. Tampaknya panitia telah menyiapkan segala perangkat untuk menghindari anarkhisme. Berulang-ulang mereka mengingatkan bahaya provokasi. Mereka juga mengamankan seorang provokator yang terus menerus berteriak: “Bunuh Ahok! Ahok halal darahnya!” Posturnya tinggi besar, berkendaraan motor, dan memakai seragam/atribut FPI.

*) Jumlah massa yang hadir sangat banyak. Ada masa jalan kaki, masa kendaraan motor, massa kendaraan mobil. Ketika kita di satu titik di Jalan Thamrin, lalu melihat jauh ke arah peserta demo; seolah di ujung pandangan mata massa demo terus mengalir. Ia laksana aliran air bah yang menggenangi Jl. Thamrin, lalu masuk Jl. Kebon Sirih, sampai ke Balai Kota Jakarta. Mungkin serupa seperti aksi massa yang biasa dilakukan PKS, tapi ini dominan kaum laki-laki dan santri Betawi.

*) Media Islam yang lumayan obyektif dan proporsional meng-cover berita seputar demo ini adalah situs Suara-islam.com. Yang lain seperti kurang semangat, padahal tujuan aksi ini adalah untuk: menghadang sekularisme di Jakarta dan Indonesia secara umum. Sayang sekali.

*) Mungkin kita punya banyak perbedaan dengan FPI atau Habib Rizieq Shihab; tapi bukankah tujuan mereka adalah membela Islam di Jakarta dan tentu saja di Indonesia? Apakah tidak bisa kita tepiskan dulu perbedaan-perbedaan, lalu kita bersatu hadapi common enemy? Bagaimana Anda akan bisa mendukung perjuangan Ummat di negeri-negeri lain, kalau dalam hal seperti ini saja selalu ragu dan mengutamakan egoisme? Musuh sudah semakin jelas akhi/ukhti; maka bersatulah demi kemenangan bersama!

*) Satu hal yang menarik dari demo ini, yaitu kemampuan panitia untuk menggabungkan semangat revolusi dengan seni shalawatan. Dari kendaraan sound para orator terus membangkitkan semangat massa, tapi mereka juga bershalawatan dengan irama mendayu. Akibatnya, demo ini menarik simpati banyak orang di jalanan, di kantor-kantor, di kendaraan umum, bahkan anak-anak sekolah juga berebut melihat aliran massa. Termasuk pegawai gedung-gedung tinggi di kawasan Thamrin tidak henti-hentinya meliput massa dengan kamera ponsel mereka. Kami sendiri melihat ada seorang wanita Tionghoa meliput demo dengan Ipad dari serambi rumah/kantornya yang tinggi. Wong memang ini aksi damai.

*) Di depan Balai Kota diperagakan aksi pencak silat Betawi oleh beberapa orang. Judulnya kira-kira begini: “Kalau Ahok membawa jurus dewa mabuk. Kita akan hadapi dengan jurus kemplang babi.” Di antara orator juga ada yang berkata begini: “Wahai Ahok Lu pernah mengancam kite dengan pistol. Keluarkan pistol Lu Ahok. Kami siap mati di sini.”

*) Kebijakan yang sangat baik dari Polda Metrojaya, yaitu bersikap simpatik sepanjang pengamanan demo. Polisi bersikap simpatik, memudahkan, dan tidak memprovokasi. Sempat di Balai Kota polisi mengeluarkan 4 anjing pelacak; hal ini membuat sedikit kegaduhan; tapi anjing-anjing itu segera ditarik. Kalau polisi bersikap beringas, dapat diperkirakan akan terjadi kerusuhan hebat, karena mayoritas peserta demo sudah siap bertarung; meskipun mereka tidak membawa senjata tajam.

*) GMJ dan FPI sudah menjelaskan sikap politik mereka. Hanya satu pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur Jakarta. Jika tetap dipaksakan, gerakan santri dan aktivis Islam Jakarta menolak keras dan berjanji akan melakukan perlawanan. Jadi, naiknya Ahok menjadi Gubernur Jakarta adalah: POTENSI KONFLIK BESAR di Jakarta. Kita tahu, aset-aset besar ekonomi dan pemerintahan ada di Jakarta. Maka hendaknya pemerintah berhati-hati, karena yang mereka hadapi adalah grassroot kaum santri Betawi.

*) Kami hanya ingin mengingatkan kejadian kerusuhan di komplek makam Mbah Priok beberapa tahun lalu. Cukuplah hal itu menjadi peringatan bagi Pemda Jakarta dan Pemerintah RI. Jangan sampai hal seperti ini terjadi dan terulang di pusat-pusat kota Jakarta. Ingat, komunitas yang dihadapi di Priok saat itu identik dengan yang beraksi saat ini di jalanan Jakarta. Bahkan dukungan Habib-habib dalam hal ini lebih luas lagi.

*) Aparat sekuler sering menyamakan antara Jakarta dan Kairo. Kalau Al Ikhwan di Kairo bisa dibabat habis, maka aktivis Islam di Jakarta juga bisa dibabat habis. Itu teori mereka. Tapi tunggu dulu, Al Ikhwan rata-rata didukung kaum intelektual dan kelas menengah. Sedangkan komunitas GMJ, FPI, FBB, Habib-habib, ormas-ormas Islam, rata-rata didukung oleh massa grassroot yang mengakar di masyarakat. Cara mereka berpikir tentang tingkat risiko sangat berbeda.

*) Terakhir, sebagai penutup. Dalam aksi massa di depan Gedung DPRD Jakarta kemarin, seorang habib bercerita. Saat tanggal 10 November itu, beliau teringat pahlawan nasional (yang lambat sekali mendapat pengakuan sebagai pahlawan) yaitu Bung Tomo di Surabaya. Kata beliau, Bung Tomo yang mempopulerkan pekik Takbir dalam perang Jihad. Beliau habiskan masa tuanya di Makkah, sampai meninggal. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di pekuburan Ma’la Makkah. Setahun kemudian pemerintah Indonesia mengutus seorang perwira (letnan kolonel) untuk mengurus kepulangan jenazah Bung Tomo ke Indonesia. Sang perwira itu adalah murid dari habib tersebut. Subhanallah, meskipun sudah wafat selama setahun, jenazah Bung Tomo rahimahullah masih utuh dan menebarkan aroma harum. Ini tanda-tanda karomah seorang pejuang. Hal ini perlu diketahui kaum Muslimin.

Baik, demikian saja yang bisa kami sampaikan, sebagai laporan pandangan mata dari lokasi aksi perjuangan rakyat Jakarta. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Antara FPI dan Pancasila

Februari 16, 2011

Saat ini FPI mendapat serangan dari berbagai arah. Media-media liberal seperti MetroTV tidak henti-hentinya menyerang FPI. Termasuk tentunya para aktivis liberal, aktivis demokrasi, politisi, pejabat negara, dan lain-lain. Mereka saat ini sepakat untuk menghajar FPI. Kalau bisa, dalam waktu dekat FPI dibubarkan. Itu targetnya!

MetroTV sebagai jongos pelayan kepentingan bisnis China, tentu sangat membenci FPI. FPI adalah penghalang terbesar proses SEKULARISASI dan LIBERALISASI, seperti yang diperjuangankan MetroTV dan Surya Paloh. Mereka dalam persekutuannya dengan pemodal-pemodal China, pasti akan menghajar terus FPI. Apapun istilah akan mereka angkat, demi tujuan yang diinginkan pemodal-pemodal China, FPI dibubarkan. FPI jelas akan menjadi penghalang terbesar proses ANEKSASI bangsa Indonesia oleh jaringan bisnis China, yang saat ini sedang bersekutu mesra dengan MetroTV dan Surya Paloh. Surya Paloh sendiri punya obsesi besar untuk: “Merestorasi Indonesia dengan menggandeng kekuatan modal dan filosofi China.” Maka tidak heran, saat ini MetroTV benar-benar seperti “kantor kebudayaan China” yang sangat agressif dalam mempromokan keindahan budaya MUSYRIK China.

Ya Ummat Islam perlu berdoa, agar orang-orang MetroTV ini diberi hidayah, sehingga tidak menjadi jongos kaum penjajah. Di sisi lain, mereka jangan mempromokan budaya etnis China secara massif, sehingga kelak ia akan mengancurkan budaya nasional sendiri. Kalau mereka tidak mau berubah dan bersikap fair, kita doakan saja, agar MetroTV dihancurkan oleh Allah Ta’ala, dibuat porak-poranda lahir-batinnya, ditimpakan kehinaan dan kekacauan sistemik di dalam dirinya. (Amin Allahumma amin).

Disini banyak pertanyaan yang harus dijawab dan diuraikan…

Kerusuhan Ambon: Sejak Lama Kita "Diasuh" oleh Tragedi dan Kekerasan. Tiada Aparat yang Sudi Membela. Kita Membela Diri Sekuat Tenaga. Salah-satunya, FPI.

Mengapa aktivis FPI kerap terlibat kerusuhan atas nama agama? Mengapa FPI sering melakukan sweeping tempat-tempat maksiyat? Mengapa Burhanuddin Muhtadi menyebut FPI sebagai “polisi swasta”? Mengapa FPI kerap dituduh sebagai ormas Islam radikal dan anarkhis?

Masalah-masalah ini kalau Anda tanyakan ke MetroTV dan jongos China lainnya, juga ke orang-orang liberal, dan kawan-kawan, pasti tidak akan ketemu jawabannya. Sebab darah mereka memang mendidih ingin agar FPI segera dibubarkan. FPI adalah target utama penjajah untuk disingkirkan. Para komprador penjajah pasti membenci FPI.

Pada dasarnya, cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah TIDAK BAIK dilakukan. Oleh siapapun. Kalau suatu problem bisa diatasi dengan cara dialog atau berembug, itu lebih baik.

Tetapi sepanjang sejarahnya, Ummat Islam di Indonesia tak henti-hentinya dianiaya, diserang, dibantai, dimusnahkan kampung dan rumahnya, dan lain-lain. Itu terjadi dalam masa yang panjang. Mulai Tragedi Priok, Tragedi DOM di Aceh, Tragedi Banyuwangi, Situbondo, Tasikmalaya, Tragedi di Ambon, Maluku Utara, NTT, Timor-Timur, Sambas, Sampit, dan lainnya. Terlalu banyak tragedi kekerasan yang menimpa Ummat Islam sejak masa lalu. Di jaman Reformasi juga banyak muncul tragedi, terutama TRAGEDI TERORISME. Densus88 tidak henti-hentinya mengejar pemuda Islam, mengepung mereka, menyerang, membunuhi di jalan-jalan, memfitnah, menyiksa, dan seterusnya.

Ummat Islam sejak merdeka sampai saat ini dibesarkan dalam ASUHAN tragedi demi tragedi. Disinilah terlihat betapa jahat dan keji opini yang disebarkan oleh MetroTV, wartawan-wartawan atheis dan amoral, aktivis liberal terlaknat, aktivis HAM, demokrasi, politisi, tokoh agama, dll. dimana mereka SANGAT TIDAK ADIL dalam menilai dan memvonis. Termasuk di dalamnya, A. Syafi’i Ma’arif, tokoh sepuh yang sok bijak, tetapi sering berlaku sewenang-wenang. Katanya dia melek sejarah. Tetapi tidak pernah menakar harga darah dan air-mata Ummat Islam yang pernah tertumpah dalam tragedi demi tragedi itu. Itukah yang disebut Buya? Masya Allah.

Gerakan Islam seperti FPI, dan tidak semua gerakan Islam seperti ini. Mereka lahir di atas latar-belakang sejarah yang dipenuhi rasa sakit hati, dendam kepada orang kafir, rasa ketidak-percayaan kepada aparat, dan permusuhan total kepada aliran-aliran sesat. Karena mereka itulah yang dianggap sebagai SUMBER TRAGEDI kehidupan Ummat Islam di Indonesia.

Andaikan, di negeri ini, para aparat baik Polisi atau TNI, mereka benar-benar bertindak adil, jujur, tidak menjadi alat kekuasaan; tentu tidak perlu terjadi aneka rupa tragedi mengerikan yang menimpa Ummat Islam. Pada gilirannya, FPI tidak perlu mengibarkan “bendera perlawanan”.

Apa yang kini FPI lakukan, ialah pembelaan maksimal yang mampu mereka lakukan, untuk menjaga Ummat, membela Ummat, dan memelihara kehidupan Ummat Islam di negeri ini. Tidak bolehkah FPI membela Ummat ketika Ummat ini tidak lagi dibela oleh para aparat? Kalau cacing saja bisa membela diri, bagaimana dengan manusia? Bagaimana dengan FPI?

Surya Paloh, MetroTV, dan manusia-manusia atheis musuh Allah lainnya, mereka tak henti-hentinya mengecam FPI sebagai: ormas anarkhis, kelompok Islam radikal, ekstrim agama, dll. Tapi mereka tidak pernah mengaca diri, bahwa diri mereka adalah: Sekuler radikal, Liberal ekstrim, kapitalis egois, dan seterusnya. Hanya FPI yang boleh menyandang istilah radikal dan ekstrim. Sementara mereka lupa bila dirinya sendiri sekuler radikal, liberal ekstrim, kaki-tangan kapitalis.

Banyak orang kini berlinang air-mata menangisi korban dari jamaah Ahmadiyyah. Seakan, di dunia ini tidak pernah terjadi tragedi lebih mengerikan, selain peristiwa di Monas, peristiwa Cikeusik, Pemalang, dll. Padahal mereka belum tahu, bagaimana keadaan pemuda-pemuda Islam ketika dibantai di Tanjung Priok tahun 1984, bagaimana kejamnya DOM di Aceh, bagaimana sadisnya pembantaian di Poso oleh kaum Protestan, bagaimana sadisnya peristiwa di Lampung Selatan. Termasuk bagaimana perih dukanya pemuda-pemuda yang ditembaki aparat karena dituduh sebagai TERORIS. Darah warga Ahmadiyyah begitu harum di hidung mereka. Tetapi darah ratusan, ribuan Ummat Islam, terasa busuk di hidung mereka.

Pertanyaanya, katanya Indonesia ini bangsa berdasar PANCASILA. Dalam Pancasila itu ada sila: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Jika benar bangsa Indonesia berdasar Pancasila: “Mengapa mereka membiarkan terjadi kerusuhan Ambon, Maluku, Poso, Sampit, Sambas, dll. yang korban Ummat Islam di dalamnya hingga ribuan orang? Mungkin bisa mencapai puluhan ribu. Mengapa negara ini lebih mencintai sekularisme dan hedonisme, dan anti nilai-nilai Islam? Mengapa negara ini memakai APBN untuk merusak, memfitnah, memecah-belah, mengadu-domda Ummat Islam? Mengapa negara ini toleran kepada aliran-aliran sesat? Mengapa negara lebih mencintai para kapitalis China dan kapitalis asing lainnya, daripada putra bangsa sendiri seperti FPI? Mengapa negara lebih banyak menelan fatwa-fatwa kaum kafir liberal, daripada fatwa ulama yang lurus?” Dan lain-lain pertanyaan.

Jadi, benarkah bangsa ini berdasarkan Pancasila? Kalau benar, pasti negara sudah lama membubarkan Ahmadiyyah, karena mengganggu keyakinan mayoritas Ummat Islam Indonesia. Dan negara akan bersikap tanggap dan sigap atas segala masalah Ummat, tidak menanti FPI turun tangan. Itu kalau benar negara ini berdasarkan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Selama bangsa ini tidak pernah mau melaksanakan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” secara murni dan konsekuen; yakinlah kerusuhan agama akan terus terjadi di negeri ini; yakinlah FPI akan terus eksis di bumi Nusantara ini; sebab mereka akan terus berusaha membela Islam, ketika negara tidak mau membela Islam.

Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang dan membela agama-Nya. Allahumma amin.

AMW.


Tsunami 4: Keajaiban Seputar Evakuasi Jenazah Korban

Desember 30, 2008

Sampai 45 hari pasca bencana (8 Februari 2005 –pen.), sedikitnya 112.000 jenazah korban Tsunami sudah ditemukan dan dikuburkan. Diperkirakan masih banyak jenazah yang belum ditemukan, baik yang ada di bawah reruntuhan, gedung, rumah, atau terendam rawa-rawa.

Selain Satkorlak Nasional, FRONT PEMBELA ISLAM (FPI) sangat giat mengirim relawan untuk melakukan evakuasi jenazah. Sejak bencana, FPI telah mengirim 1.300 anggotanya. Mereka bertugas secara bergiliran. Setiap hari rata-rata terdapat 600 relawan FPI yang mencari jenazah korban di seluruh wilayah Aceh. Dalam sehari mereka bisa menemukan 100 hingga 300 jenazah.

Sekjen FPI, Husni Harahap, mengemukakan alasan di balik pengiriman relawan evakuasi ke Aceh. “Alasan kita terus mencari mayat, karena menyelesaikan jenazah hukumnya fardu kifayah. Kita yakin orang yang mati tenggelam adalah syahid. Kita tidak mau membiarkan orang mati syahid, dibiarkan begitu saja. Di Aceh ini masih banyak mayat dengan kondisi rusak, bahkan ada yang dimakan anjing. Itu tidak bisa kita biarkan, maka FPI terus berusaha mencari mayat-mayat disini.”

Proses evakuasi jenazah merupakan pekerjaan yang berat. Selain jumlah jenazah yang dicari begitu banyak, medan yang harus dilalui para relawan juga sangat berat. Bisa dikatakan, tingkat kesulitan yang dihadapi relawan sama sulitnya antara hari pertama pasca bencana dengan hari ke-45. Namun para relawan itu seperti tidak kenal lelah. Setiap hari mereka mencari, mengais-ngais di antara reruntuhan, untuk kemudian mengangkat dan menguburkan jenazah-jenazah di tempat yang sudah disediakan. Mereka tidak dibayar. Bahkan mereka datang ke Aceh dengan ongkos sendiri, setiap hari makan dengan uang sendiri.

Di balik tugas besar mengevakuasi jenazah-jenazah korban bencana, lalu menguburkannya secara layak, muncul begitu banyak keajaban-keajaiban. Hal itu diakui oleh berbagai pihak yang melakukan proses evakuasi, baik dari relawan FPI, SAR Nasional dan pihak-pihak lain. Di bawah ini beberapa contoh keajaiban tersebut, yaitu sebagai berikut:

[1] Pengalaman Heru, seorang relawan FPI dari Jakarta ketika mengevakuasi jenazah di daerah Lampeuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Ketika itu evakuasi sudah memasuki minggu ke-3. Heru bersama rekan-rekan sedang mengangkat mayat-jenazah yang masih berserakan. Disana dia menemukan satu jenazah yang masih utuh, padahal setelah minggu ke-3, jenazah-jenazah lain sudah rusak. Jenazah itu terlihat masih berusia muda dan ia menebarkan aroma harum. “Saat mengangkat mayat itu, kita semua tertegun. Biasanya, mayat-mayat yang lain saat diangkat baunya menusuk hidung. Tapi mayat yang satu ini, malah harum. Saya yakin, Allah telah menjaga jenazah itu,” kenang Heru.

Baca entri selengkapnya »


Sikap Adil Kepada FPI (Pasca Kasus Kekerasan di Monas)

Juni 4, 2008

Sikap Adil Kepada FPI (Pasca Kasus Kekerasan di Monas)

Oleh Abu Muhammad Waskito *)

Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh sebagian aktivis Front Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang menamakan diri sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para aktivis FPI terhadap massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung Ahmadiyyah. Disana ada aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas sound system, kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat prihatin melihatnya.

Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. Melalui jubir kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi anarkhis aktifis FPI di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, disiarkan TV-TV, bahwa dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku kekerasan ditindak secara hukum. SBY juga menekankan, “Negara kita negara hukum.” Gayung bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan di Monas. Baca entri selengkapnya »