Kasus Jemaat HKBP: Sabar Wahai Ikhwah!

September 16, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti sudah sama-sama kita ketahui. Pasca Idul Fithri 1431 H ini kita bicara tentang insiden “penusukan jemaat HKBP” di Ciketing Bekasi. Sebelum membaca lebih jauh, ada baiknya Anda baca dulu artikel muhasabah dari Al Ustadz Habib Riziq Shihab berikut ini: Ummat Islam Bekasi Vs HKBP.

Ya, kita semua telah tahu. Setiap ada peristiwa terorisme SBY akan buru-buru mengutuk pemuda-pemuda Islam, yang dia sebut sebagai biang onar dan mengganggu pembangunan. Sebaliknya, ketika ada kasus kecil yang merugikan kaum non Muslim, SBY akan segera pasang badan, menunjukkan kehebatan mantra-mantra pidatonya: “Tegakkan hukum! Jangan biarkan kekerasan berkuasa! Polisi harus usut tuntas! Tindak pelaku-pelaku kekerasan yang merugikan bangsa (baca: merugikan kekasih-kekasihku)!”

"Kita tidak mencari musuh. Tetapi bila musuh ada di depan mata, kita tidak boleh lari."

Memang lain ya, seseorang yang beriman kepada Allah Al Wahdah, pasti akan loyal kepada sesama kaum Mukminin. Itu pasti! Sekalipun orang-orang Mukmin itu menjadi bulan-bulanan media massa, tetap saja, iman yang lurus berbanding lurus dengan solidaritas kepada saudara Mukmin. “Innamal mu’minuna wal mu’minati ba’dhuhum auliya’u ba’dhin” (bahwasanya orang Mukmin laki-laki dan Mukmin wanita itu, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain).

Beda dengan iman yang rusak, bahkan mungkin kekafiran yang sudah menguasai jiwa dan akal. Disana, solidaritas justru terbalik. Kepada wali-wali Allah keras mengutuk, sedangkan kepada wali-wali kekafiran justru memberikan peluk-cium, dengan segunung cinta. Ya begitulah, iman yang sudah rusak, orientasi hidup yang sesat, eksistensi diri yang telah menjadi pion-pion gerakan fasad di muka bumi. Na’udzubillah min dzalik.

Saya masih ingat dulu, di era Presiden Megawati, dengan Wakil Presiden Bapak Hamzah Haz -semoga Allah membalas kebaikannya kepada Ummat Islam, amin-. Di masa itu Bapak Hamzah Haz berani terang-terangan melindungi kepentingan Ummat Islam, meskipun ditekan oleh isu terorisme dari sana-sini. Insya Allah, disana ada jejak-jejak keimanan itu. Berbeda sekali dengan Indonesia ketika dipimpin Si Ono A dan Si Ono B itu.

Kembali ke masalah “penusukan jemaat HKBP”. Sebenarnya, masalah ini bisa dianggap sepele, bisa juga dianggap serius.

Kalau dianggap sepele. Lakukan saja pengusutan yang adil dan obyektif. Siapa yang salah, dari kedua belah pihak, tinggal ditangkap, diadili di pengadilan, diberi hukuman seperti yang diinginkan institusi hukum. Sudah selesai, begitu saja. Tidak usah dibawa kemana-mana.

Tetapi bisa juga dibawa ke ranah serius. Misalnya, seperti klaim orang-orang dari HKBP atau melalui media-media sekuler, yang menganggap kejadian itu sebagai Tragedi 12 September 2010.

Kalau usul saya, jemaat HKBP bisa membawa kasus itu ke DK PBB, agar ia disetujui sebagai TRAGEDI PEMBANTAIAN UMAT KRISTEN TERBESAR di dunia, selama-lamanya. Saya kira upaya itu bisa dicoba. Nanti ke anak-cucu kita perlu diajarkan, bahwa tanggal 12 September 2010, terjadi TRAGEDI KEMANUSIAAN atau sebut saja TRAGEDI PEMBANTAIAN besar-besar oleh pemuda Islam di Bekasi. Korbannya, dua orang terluka, dan sekarang sedang tahap penyembuhan. Bisa itu, kejadian tersebut diklaim lebih keji dari pembantaian Nazi Jerman, atau pembantaian Polpot di Vietnam.

Ya, namanya juga kedengkian orang-orang kafir. Apapun bisa mereka lakukan, demi memuaskan kedengkian di hatinya.

Kasus Ciketing bisa saja diklaim lebih hebat dari pembantaian Kristen atas kaum Muslimin di Ambon, Maluku Utara, pada 1999-2000 lalu. Bisa juga dianggap lebih hebat dari pembantaian Kristen atas Ummat Islam di Poso, pembantaian Katholik di Kupang, dan Tim-tim. Bisa dianggap lebih gila dari pembantaian LB Moerdani di Tanjung Priok, pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. Bahkan bisa dianggap lebih kejam dari penjajahan Protestan Belanda di Indonesia, selama 3,5 abad.

Bahkan kita bisa luaskan masalah ini ke fakta lain, seperti pembunuhan George Bush atas jutaan warga Irak dan Afghanitas. Pembantaian Katholik Serbia atas 50.000 warga Muslim Bosnia-Herzegovina. Bahkan bisa dibawa ke arah nostalgia Perang Salib di masa lalu. Bisa dibawa ke arah ini, kalau kita mau serius.

Shabar wahai ikhwah…

Ya, kita harus sabar. Sebab saat ini kita sedang diperangi oleh media-media massa, dan regim politik yang tidak pro Islam. Namanya juga diperangi, kita pasti disudutkan terus. Ya, itulah resikonya menjadi orang ISTIQAMAH di jalan Islam. Pasti kita akan selalu berbenturan dengan agen-agen kerusakan di muka bumi. Ya, wali Allah akan sangat sulit akur dengan wali-wali kekafiran.

Shabar wahai ikhwah…

Ada masanya, sesuatu yang sepele menjadi serius, insiden kecil menjadi arena Jihad Fi Sabilillah, jika Allah menghendakinya. Bila masa itu tiba, kita tak boleh lari ke belakang; sebaliknya, bila belum ada, kita juga tak perlu mengangan-angankannya. Seperti filosofi lebah, “Tidak mencari-cari musuh. Tetapi bila musuh sudah di depan mata, pantang lari ke belakang.”

Demi Allah, manakala momentum Jihad itu tiba, di bumi manapun yang Allah kehendaki, orang-orang yang paling banyak bicara saat ini, adalah mereka yang nanti akan bersembunyi di barisan paling belakang. Mereka berkomentar macam-macam, lebih karena alasan “mencari makan”.

Kaum Muslimin perlu waspada dan senantiasa menjalin komitmen kesatuan dengan sesama. Kita harus siap menghadapi kasus “jemaat HKBP” bila mau dibawa SEPELE; dan harus siap juga bila ia mau dibawa SERIUS.

Maklum, konflik antara Islam dan Protestan bukan saat ini saja. Kasus Ambon, Maluku Utara, Poso, Westerling, penjajahan Belanda, dll. berbicara banyak tentang fakta-fakta konflik itu. Intinya, Ummat Islam itu tidak bodoh kok… Kita sehari-hari dididik dengan Al Qur’an, mustahil akan menjadi kaum yang bodoh, mustahil sekali.

Maka shabarlah wahai ikhwah…sabar atas apapun resiko yang Antum terima di Jalan Allah. Ingat wahai ikhwah, inallah ma’as shabirin (Allah itu bersama orang-orang yang shabar).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.