Seorang Tokoh Meninggal…

Desember 31, 2009

Sore kemarin saya ikuti berita di TV, “Suara Anda”. Tapi lucu juga. Pertama-tama, TV itu salah menempatkan berita. Tertulis di teks pilihan berita soal buku “Gurita Cikeas”. Tapi tayangan yang muncul, tentang Kejaksaan mau banding kasus Prita.

Kelucuan kedua, belum juga acara “Suara Anda” dilanjutkan, presenter “disela” oleh telepon dari belakang (pengarah acara). Katanya, kondisi Abdurrahman Wahid di RSCM kritis. Perhatian tiba-tiba diarahkan ke topik “Gus Dur” ini. Maka semua skema berita pada “Suara Anda” itu langsung diganti “Breaking News”. Waktu saya ganti channel ke TV lain, disana sudah dikhabarkan dengan status “wafat”.

Begitu tergopoh-gopohnya media massa, sampai seperti kehilangan kontrol. Semua agenda yang mau diberitakan mendadak diganti. Bahkan “pemukulan George Aditjondro” kepada Ramadhan Pohan sampai dilupakan. Mungkin George “Gurita Cikeas” Aditjondro saat ini lagi bersyukur berkali-kali. “Syukur, syukur, syukur ada berita lain… Jadi orang-orang lupa dengan ‘jurus sabet buku’ yang kemarin baru saya peragakan.” Mungkin begitu ‘kali kata hati George.

Oh ya, kembali ke topik Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Media-media massa seperti merasa sangat terpukul dengan meninggalnya tokoh satu ini. Mereka sebut Gus Dur sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan prinsip Egaliter, Humanis, Pluralis.  Maka berbagai ungkap duka nestapa segera tumpah, mengantar kematian Gus Dur. Media-media massa berdatangan ke Jombang. Pesantren Tebu Ireng seketika menjadi perhatian luas, setelah sebelumnya kampung Ponari di Jombang menjadi perhatian juga.

Lalu, siapakah Gus Dur ini? Mengapa bangsa Indonesia harus berduka karena kepergiannya?

Helmi Faisal, menantu Gus Dur sekaligus pejabat Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal (atau apa ya tepatnya?), berkali-kali mengatakan, bahwa: “Gus Dur adalah manusia besar.”

Apa yang dikatakan Helmi itu bukan isapan jempol. Gus Dur memang tokoh besar. Betapa tidak, dia pernah menjadi Ketua PBNU selama puluhan tahun. Juga pernah menjadi Ketua Dewan Syura PKB, juga pernah menjadi Presiden RI. Memang, dia adalah orang besar. Tidak bisa dipungkiri lagi.

Sumber foto: http://akhdian.net/

Hanya mungkin persoalannya, “Besar dilihat dari kepentingan siapa?” Kalau dari kepentingan Ummat Islam di Indonesia, wah sangat keliru menyebut Gus Dur sebagai orang besar. Gus Dur itu hampir tidak memiliki kontribusi berarti bagi kemajuan kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Jika jasanya diakui, paling di kalangan NU. Bukan di mata Ummat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Tapi kan Gus Dur ini tokoh demokrasi?

Iya, seorang demokrat yang aneh. Katanya demokrat, tapi mengingkari kenyataan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas. Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.

Tapi kan Gus Dur tokoh humanis?

Kalau humanis sejati, tentu tidak akan mengabaikan nasib ratusan juta Muslim Indonesia. Mereka manusia juga kan? Masak yang disebut manusia hanya orang-orang minoritas saja?

Gus Dur itu sangat hebat peranannya di forum-forum diskusi, di kalangan LSM, partai politik, pengusaha keturunan China, komunitas gereja, dll. Mana pernah Gus Dur turun ke gang-gang sempit di perumahan-perumahan kumuh, di rumah-rumah tikus di bantaran kali Ciliwung, di pasar-pasar tradisional di desa-desa, masuk ke pelosok-pelosok kampung, dll.

Kalau humanis sejati, dia tidak akan lepas hidupnya dari mengurusi orang-orang miskin. Contoh, Madame Theresia di India, selain sebagai penginjil, dia juga dekat rakyat miskin di India. Atau seperti Lady Di, dia turun langsung ke daerah-daerah yang banyak konflik, mengkampanyekan perang anti ranjau.

Ya, kalau gaulnya sama wartawan melulu, itu sih bukan humanis sejati. Tapi humanis “on air”.

Tapi kan Gus Dur itu pembela hak-hak minoritas?

OK, kita tanya, pembela apa dia? Apa dia membela minoritas etnis Madura yang dibantai di Sampit dan Sambas? Apa dia membela pemuda-pemuda Tanjung Priok yang dibantai militer tahun 1984? Apa dia pembela ratusan ribu korban DOM di Aceh? Apa dia pembela kaum gelandangan, pengemis, pengamen, WTS, dan sebagainya? Apa dia pembela petani, nelayan, pedagang pasar yang usaha mereka menjadi mainan para kapitalis?

Dia menjadi pembela minoritas, hanya dalam isu, opini, atau wacana saja. Pendek kata, yang berhubungan dengan media massa lah. Kalau tidak ada ekspose media massa, sepertinya dia tidak bisa berbuat banyak. Antara Gus Dur dan media massa itu seperti hubungan antara ikan dan air; keduanya saling membutuhkan.

Tapi bagaimanapun dia kan tokoh Muslim, kyai haji lagi?

Ya, di jaman sekarang sih, kalau mau menjadi “orang besar”, tergantung bagaimana peran media massa. Kalau media ekspose seseorang besar-besaran, dalam sebulan dia bisa menjadi tokoh besar. Kalau media memboikot seseorang, jangan harap akan menjadi tokoh besar. Besar atau kecilnya tokoh Indonesia saat ini, bukan karena kualitas dirinya atau sumbangan-sumbangan pemikiran dan ilmunya, tetapi karena popularitas dia di mata media massa. Itu saja kuncinya.

Secara jujur, Gus Dur itu memang pintar. Kalau tidak pintar, mustahil dia akan diangkat menjadi sebuah “maskot”. Tetapi kepintaran Gus Dur tidak berarti kalau dibandingkan peranan media massa yang membesarkan dirinya. Dari keluarga KH. Hasyim Asyari dan anak-cucunya, bukan hanya ada Gus Dur, tapi ada banyak orang lainnya. Tapi kan yang “mencorong” hanya tokoh satu ini. Sekali lagi, media massa telah membesarkan dia, sehingga menjadi tokoh besar, karena popularitas yang melimpah-ruah.

Sebuah fakta yang sangat unik. Menurut informasi media, jam 16.30 SBY datang ke RSCM menjenguk Gus Dur. Jam 16.45, dia meninggal. Maka vivanews.com menulis berita: Gus Dur Meninggal di Depan SBY.

Fakta yang unik juga. Gus Dur meninggal menjelang tutup tahun 2009. Menjelang tahun baru 2010. Ini jelas “menyulitkan” posisi orang-orang. Mereka mau seneng-seneng, ada orang meninggal. Tidak seneng-seneng, masak harus menunggu setahun lagi? Begitu deh.

Yang mau sedih, silakan sedih. Tapi saya menghimbau Ummat Islam, agar tidak terbawa kepada irama emosi yang dimainkan media-media massa. Ya, Anda tahu sendirilah. Media massa kan seperti itu. Mereka bekerja untuk suatu kepentingan; sedangkan posisi kepentingan itu dengan missi Islam, terpisah jauh.

Nabi Saw pernah mengatakan kepada seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, beliau mengatakan, “Innaka ma’a man ahbabta” (engkau akan bersama orang yang engkau cintai).

Maka berhati-hatilah dalam mencintai. Cintailah orang yang benar, yaitu pribadi Muslim yang shalih, alim, berakhlak mulia, dan muttaqin. Jangan mencintai orang yang salah, sekalipun dia -misalnya- dikenal sebagai tokoh pejuang egalitarian, humanis, pluralis. (Apalagi prinsip-prinsip egaliter, humanis, pluralis itu mengingatkan kita kepada slogan-slogan yang banyak dipakai Freemasonry).

Selamat jalan wahai tokoh… Pengadilan kubur telah menanti di depan! Semoga engkau diberi balasan, sesuai amal-amalmu! Amin.

AMW.

Iklan

Antara Ja’far Umar dan Gus Dur

Januari 16, 2009

Oleh Tohir Bawazir

(Pemerhati gerakan dakwah Islam di Indonesia).

Sebetulnya agak malas juga fudhul (ingin tahu) terus mencermati sepak terjang Ja’far Umar Thalib (kadang disingkat JAMARTO), sang mantan Panglima Laskar Jihad yang kini tambah hari tambah aneh saja sikapnya.Terus terang ada rasa khawatir dituduh sebagai sikap ghibah, hasad dan dengki terhadap seseorang.

Namun saya pikir tidak apa jika yang dibicarakan memang orang yang senang memamerkan sikap dan tindak-tanduknya secara terbuka di masyarakat baik melalui ceramah, pidato dsb. apalagi sampai masuk di televisi segala, maka bukan mengungkap aib lagi namanya karena yang bersangkutan sudah terang-terangan tampil terbuka. Lebih-lebih yang bersangkutan sudah menjadi panutan bagi sebagian orang, jadi kalau sikapnya perlu dikritisi adalah pilihan yang wajar. Tidak ada yang boleh kebal kritik.

Masalahnya saya sejak dahulu sudah dikenal suka fudhul terhadap segala tingkah polah baik ucapan maupun tindakan Gus Dur yang dikenal sebagai raja nyleneh di Indonesia. Namun walaupun umat Islam begitu gerahnya dengan segala ulah Gus Dur, toh dia tetap survive bahkan kayaknya happy terus dengan sikapnya, bahkan malah tambah terkenal saja sehingga setiap ada momen besar pasti Gus Dur akan berbicara walau yang dibicarakan selalu akan berseberangan dengan pendapat mayoritas ummat Islam, padahal dia mengaku sebagai kyai, bahkan cucu pendiri organisasi NU.

Kalau ummat Islam bilang kanan, Gus Dur akan bilang kiri, ummat ingin A Gus Dur akan bilang B, begitu seterusnya. Tinggal kita saja, kuat atau tidak menghadapi orang model begini. Nampaknya penyakit ‘asal beda’ yang selama ini hanya diidap oleh Gus Dur sekarang mulai diidap oleh Ja’far Umar Thalib. Ketika kelompoknya bikin Laskar jihad, ummat Islam mayoritas pada simpati terhadapnya, sehingga banyak dukungan dan dana yang mengalir kepadanya, apalagi kelompok salafi model ini menyerukan fatwa “fardhu ‘ain jihad di Ambon” bagi ummat Islam di Indonesia. Walaupun fatwanya banyak ditolak oleh komunitas salafi lainnya, namun pamornya Ja’far Thalib naik daun dengan membikin Laskar Jihad. Sehingga yang dulunya dia hanya dikenal di kalangan warga Al-Irsyad dan Salafi, mendadak dia jadi tokoh nasional bahkan mulai dikenal di dunia internasional.

Namun anehnya begitu ada pergolakan berbau SARA di Poso, dimana ummat Islam disana dibantai Nasrani, keberadaan Laskar Jihad waktu itu nampaknya tidak diterima oleh ummat Islam disana, karena Laskar Jihad tidak mau bergabung dengan Forum Komunikasi Ummat Islam di Poso, yang merupakan satu-satunya wadah persatuan dan perjuangan ummat Islam di Poso untuk menghadapi kekerasan yang dipicu oleh orang-orang Kristen. Anehnya sikap Ja’far Thalib terhadap penderitaan ummat Islam di Poso dan tokoh-tokohnya sudah berbalik total dengan sikapnya dia waktu di Ambon, yang dulu dia bersikap bagai pahlawan ummat, giliran di Poso sikapnya malah menyudutkan ummat Islam, apalagi ketika mantan muridnya , Luqman Ba’abduh menulis buku “Mereka Adalah Teroris” maka kondisi pejuang Islam di Poso jadi semakin disudutkan oleh militer. Yang dulunya ummat Islam adalah korban keganasan Nasrani, berubah menjadi pelaku teroris disana. Sedangkan kejahatan ummat Kristen yang membantai ummat Islam cukup diwakili oleh tiga orang pelaku yang dihukum mati yaitu Tibo cs. Selebihnya ‘penjahat dan teroris’ sudah berpindah menjadi milik ummat Islam.

Buku tulisan Luqman Ba’abduh disebarkan disana untuk menyudutkan ummat Islam, masyarakat Muslim Poso tidak akan melupakan ‘jasa’ Ja’far dan Luqman Baabduh dalam menyudutkan ummat Islam. Semangat ‘asal beda’ terus saja setiap harinya dijaga dan dipupuk oleh Ja’far dan salafi kelompoknya terhadap keberadaan organisasi dan kelompok ummat Islam lainnya, entah itu terhadap kelompok salafi lainnya apalagi terhadap organisasi-organisasi Islam lain baik yang sudah lebih dahulu ada seperti Al-Irsyad Al-Islamiyyah, NU, Muhammadiyah maupun untuk organisasi yang dikategorikan baru seperti MMI, FPI, HTI, PKS dsb.

Semangat kebencian dan permusuhan kelompok ini sangat terlihat jelas karena semua kelompok dan organisasi Islam di luar kelompoknya dituduhnya sebagai sururi, ahlul bid’ah, haroki, hizbiyyah dsb. Namun anehnya sikap garang justru tidak diperlihatkan ketika menghadapi kelompok-kelompok yang sudah jelas menyimpang seperti Ahmadiyah, kelompok Liberal bahkan terhadap Yahudi sekalipun. Ini sangat aneh, walau bisa dipahami, semua sikapnya dalam rangka menjaga perbedaan dan permusuhan dengan ummat Islam lainnya.

Logika ‘asal beda’ terus saja dijaga, sehingga di Metro TV di awal Ramadhon lalu dia malah mengusulkan agar gerakan-gerakan Islam yang dianggap radikal agar diberantas saja sampai ke akar-akarnya, dengan sasaran utama adalah FPI dan MMI. Tempo hari ketika kasus Bom Bali meledak, mereka mengusulkan kepada Wapres Jusuf Kalla agar buku-buku yang ditulis oleh ulama-ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan Albanna dan Sayyid Quthub agar dilarang beredar karena isinya dapat menyuburkan terorisme. Lagi-lagi salafi telah melemparkan pelurunya ke sesama ummat Islam.

Anehnya, ketika ummat Islam Palestina dibombardir dan dibantai oleh Yahudi Israel laknatullah, lagi-lagi Ja’far bikin statemen di Global TV beberapa hari lalu yang menyatakan perang yang terjadi di Palestina bukan jihad, dan orang-orang yang terlalu getol menyuarakan jihad di Palestina lagi numpang kesohor. Sehingga berita pernyataan Ja’far ramai beredar di sms. Banyak yang marah dan geram dengan statemen Ja’far ini. Bagi saya, Ja’far sedang ingin tetap ‘konsisten’ untuk menjaga prinsip ‘asal beda’. Kalau Ja’far bikin statemen pro jihad Palestina (padahal dulunya bikin pasukan jihad) nanti dia bisa sama dan ketemu dengan komunitas Islam lainnya, dan itu pasti akan dia hindari. Masak Ja’far akan seia sekata dengan Ikhwani, Sururi, FPI, MMI dan ratusan juta ummat Islam lainnya yang sama-sama marah dan menyerukan jihad di Palestina. Maka biar konsisten bikinlah statemen yang berbeda. Soal dalil agama, itu urusan mudah. Tinggal dipilih ayat al-Qur’an dan Hadits yang cocok buat seleranya, lalu bikinlah pernyataan, statemen ataupun fatwa atau apalah, yang penting beda dengan yang lain. Ini sama persis dengan gaya Gus Dur, asal beda. Biar beda yang penting kesohor.

Dan saya yakin Ja’far akan semakin sering tampil di TV, maupun media lainnya sebagai narasumber, karena media memang butuh orang-orang yang berbeda dan nyleneh, apalagi penggede nyleneh sudah mulai tua dan sakit-sakitan, pasti dibutuhkan tokoh baru. Kebetulan dia bersorban dan berjanggut. Cocok.

[Dipublikasikan atas persetujuan penulis. Terimakasih. AMW].