List Artikel Seputar Syiah (Rafidhah)

Maret 5, 2012

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Berikut ini beberapa artikel seputar Syiah yang telah dimuat di blog “abisyakir”. Sengaja dimuat sebagai list, untuk memudahkan menelaah. Selamat membaca, semoga bermanfaat!

[o]. Jangan Sampai Pejuang Islam Jadi Tunggangan Syiah.

[o]. Untuk Allah, Lalu Untuk Sejarah.

[o]. Cara Misionaris Syiah Menjerat Manusia.

Kalau tanganmu panas tersentuh api, hindarilah induknya segala api (neraka), selagi masih ada kesempatan hidup…

[o]. Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an.

[o]. Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

[o]. Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran.

[o]. Kebohongan Syaikh Idahram Atas Nama Arifin Ilham.

[o]. Said Aqil Siradj dan Syiah Dihempas Tsunami.

[o]. Antara Anjing dan Manusia.

[o]. Wahai Muslimin Tolonglah Saudaramu di Suriah!

[o]. Pernahkah Syiah Melawan Zionis?

Tulisan-tulisan ini lumayan untuk berbagi pengetahuan. Bisa ditambahkan juga, artikel berjudul: 10 Logika Dasar Penangkal Syiah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari kesesatan dan bid’ah dan memberikan husnul khatimah. Allahumma amin.

Admin blog.

Iklan

Haidar Bagir dan Tuduhan Tahrif Al Qur’an

Februari 4, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam tulisan opini di Republika, edisi 27 Januari 2012, Dr. Haidar Bagir menulis artikel berjudul, “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat“. Artikel ini merupakan jawaban atas tanggapan yang diberikan oleh Fahmi Salim, MA dan Prof. Dr. Muhammad Baharun yang mengkritik tulisan Haidar Bagir di media yang sama, pada edisi-edisi sebelumnya.

Singkat kata, dalam tulisan tersebut, juga tulisan Haidar Bagir sebelumnya, si penulis menampilkan STRATEGI KOMUNIKASI yang unik sekali. Sebenarnya, bagi para pembaca risalah-risalah kaum Syiah, hal ini bukan sesuatu yang baru. Tetapi dalam tulisan Haidar Bagir nuansanya seperti seseorang yang -oleh pakar psikologi- kerap disebut split personality. Satu sisi Haidar Bagir menjelaskan, bahwa dalam kalangan Syiah banyak sisi-sisi kesamaan dengan akidah Ahlus Sunnah pada umumnya. Tetapi pada saat yang sama, Haidar Bagir juga melontarkan kritik khas Syiah terhadap akidah Ahlus Sunnah. Dalam hal ini yang sangat kita garis-bawahi adalah tuduhan seputar adanya TAHRIF Al Qur’an (perubahan teks  dari aslinya).

Untuk lebih jauh memahami jalannya polemik Fahmi Salim & Prof. Muhammad Baharun versus Haidar Bagir, silakan lihat silsilah polemiknya di tulisan berikut ini: Perang Opini Sunni-Syiah di Republika. Dalam silsilah itu bisa dilihat jawaban-jawaban yang dikemukakan Fahmi Salim maupun Prof. Muhammad Baharun. (Semoga bermanfaat untuk mencerdaskan Ummat! Amin).

Disini kita ingin menyinggung satu materi dari tulisan Haidar Bagir. Dalam artikel di atas, Haidar Bagir memberikan tambahan bukti tentang adanya perubahan-perubahan dalam Al Qur’an. Dia mengatakan:

Selain hadis tentang ayat Alquran dalam simpanan Siti Aisyah yang hilang itu, terdapat pula riwayat dalam Musnad Ahmad dan dinukil dalam Al-Itqan karya Imam Suyuthi bahwa Siti Aisyah mengatakan, “Pada masa Nabi, surah al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Usman menulis mushaf, ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang.“ Seperti kita ketahui bahwa surah al-Ahzab yang ada di mushaf sekarang ini adalah 73 ayat. Berarti menurut riwayat itu ada 127 ayat yang hilang dari surah ini. Sejalan dengan itu, Tafsir al Qurthubi menukilkan hadis dari Ubay bin Ka’b yang menyebut jumlah ayat dalam surah yang sama adalah 286. Rawi yang sama sebagaimana dinukil Al-Itqan menyebut bahwa jumlah surah Alquran adalah 116, bukan 114 yang kita miliki sekarang karena adanya dua surah yang hilang dan disebut-sebut bernama Al Hafd dan al-Khal’.

Dalam pernyataan ini disebutkan, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam hadits Imam Ahmad mengatakan, bahwa mulanya Surat Al Ahzab itu dibaca 200 ayat. Namun kemudian hanya tersisa hanya 73 ayat saja (atau hilang sekitar 127 ayat). Dalam Tafsir Al Qurthubi (bukan menurut Al Qurthubi lho ya) Surat Al Ahzab semula berjumlah 286 ayat (sehingga kalau kini tinggal 73 ayat, berarti sudah hilang sebanyak 213 ayat). Dengan dasar-dasar ini, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Al Qur’an sudah mengalami Tahrif (distorsi, perubahan, pemalsuan, dan semisalnya).

Lalu bagaimana menjawab pendapat seperti di atas?

Mari kita memohon karunia ilmu dan petunjuk kepada Allah Al ‘Alim; lalu kita melindungi Kemurnian dan Kesucian Al Qur’an Al Karim, sekuat kemampuan; karena memang setiap insan diberi beban Syariat, sesuai kesanggupannya. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq untuk menetapi jalan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

[1]. Adanya satu atau dua riwayat yang mengatakan ini dan itu, di luar pemahaman mainstream para ulama, tidak boleh langsung diterima begitu saja. Harus dilakukan tash-hih (penshahihan) dulu, apakah riwayat tersebut shahih atau tidak. Riwayat-riwayat yang mengatakan telah terjadi perubahan pada Al Qur’an, rata-rata tidak diterima. Karena alasannya: (a) Bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia pula yang menjaganya; (b) Bertentangan dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, bahwa Al Qur’an itu sempurna, tidak mengalami perubahan; (c) Bertentangan dengan Ijma’ kaum Muslimin sejak masa Rasulullah dan para Shahabat, sampai hari ini. Dengan alasan itu, maka dari sisi telaah Dirayah (substansi hadits), hadits-hadits yang menjelaskan adanya Tahrif itu tertolak. Dalam ilmu hadits, sebuah hadits yang bertentangan secara pasti dengan riwayat-riwayat yang lebih kuat, ia tertolak.

[2]. Dalam ilmu hadits disebutkan sifat Hadits Mutawatir. Ia adalah hadits yang paling kuat, karena diriwayatkan dari satu generasi ke generasi lain secara kolektif. Bukan sejenis hadits Ahad yang diriwayatkan oleh perawi personal. Orisinalitas Al Qur’an termasuk bagian dari warisan Islam yang diriwayatkan secara Mutawatir oleh para Shahabat, kemudian ke Tabi’in, ke Tabi’ut Tabi’in, dan seterusnya. Dalam hal ini berlaku sebuah kaidah penting: “Tidak mungkin manusia yang banyak, di zaman Shahabat, akan bersepakat untuk dusta bersama-sama menutupi adanya kenyataan bahwa Al Qur’an mengalami distorsi.”

[3]. Metode pewarisan Al Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan cara sebagai berikut: Diajarkan secara talaqqi (pengajaran langsung) dari guru ke murid; ayat-ayat dihafal secara sempurna dan muraja’ah terus-menerus; penulisan Mushaf yang disaksikan oleh para Shahabat dan diteliti ulang oleh mereka; adanya periwayatan silsilah secara bersambung dalam bidang bacaan dan hafalan. Dengan metode demikian, sangat mustahil akan ada distorsi, karena sistemnya telah diproteksi secara ketat. Sampai saat ini, baik bacaan maupun hafalan Al Qur’an, ada silsilah sanad-nya sampai ke Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

[4]. Kalau benar perkataan bahwa Surat Al Ahzab telah berubah (semula 200 ayat, lalu jadi 73 ayat), tentulah hal itu akan diketahui secara MUTAWATIR oleh para Shahabat. Tidak mungkin hanya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha saja yang mengetahui. Sangat tidak mungkin hanya Aisyah yang tahu, sementara yang lain lalai. Kesimpulan seperti itu sama saja dengan mengatakan, bahwa: para Shahabat Nabi sepakat untuk berbohong secara berjamaah. Hal ini adalah tuduhan berbisa. Tuduhan semisal ini kalau muncul dari kalangan Syiah, tidak dianggap aneh. Sebab, salah satu “amal shalih” ajaran kekufuran mereka, adalah mencaci-maki para Shahabat dan menistakan kehormatan mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[5]. Harus dipahami, bahwa Mushaf Utsmani bukanlah Mushaf yang pertama kali ditulis oleh para Shahabat. Mushaf yang pertama adalah Mushaf Induk yang ditulis oleh panitia yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu. Mushaf itu disusun atas usul Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu kepada Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu, ketika dalam satu pertempuran ada sekitar 70 hafizh Al Qur’an wafat dalam peperangan. Kalau Mushaf tidak segera ditulis, khawatir nanti Ummat Islam akan kesulitan menjaga orisinalitas Al Qur’an. Dari motivasi penyusunan Mushaf ini saja sudah tampak, bahwa tujuannya adalah menjaga ORISINALITAS Al Qur’an. Dan para Shahabat di zaman Khalifah Abu Bakar sudah Ijma’ menerima keaslian Mushaf itu. Tidak ada penolakan sedikit pun di kalangan mereka. Sedangkan Mushaf Ustmani, yang ditulis di masa Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, hal itu sifatnya hanya PENGGANDAAN saja, bukan penulisan Mushaf sejak awal. Mushaf Induk dari zaman Khalifah Abu Bakar disalin empat, sehingga semuanya ada 5 Mushaf. Tujuan penggandaan ini adalah untuk menyatukan bacaan Al Qur’an kaum Muslimin, agar tidak terjadi pertikaian antar mereka karena soal perbedaan bacaan. Lihatlah, disana lagi-lagi ada upaya pemeliharaan orisinalitas Al Qur’an, dengan upaya mengeliminasi aneka perbedaan bacaan. Jadi, Mushaf Ustmani itu sifatnya hanya MENYALIN saja, bukan menuliskan Al Qur’an sejak awal.

[6]. Sebenarnya, upaya penjagaan orisinalitas Al Qur’an sudah dilakukan sejak zaman Nabi masih hidup. Dalam hadits shahih dijelaskan, bahwa setiap bulan Ramadhan tiba, Jibril ‘Alaihissalam selalu memeriksa bacaan Al Qur’an Nabi. Saat beliau menjelang wafat, pemeriksaan bacaan di bulan Ramadhan itu dilakukan 2 kali. Hal ini sudah menunjukkan, bahwa Malaikat Jibril pun sejak awal sudah ikut menjaga Al Qur’an dengan memeriksa bacaan Nabi sesuai bacaan asli yang beliau (Jibril) ajarkan kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

[7]. Para Ahli Tafsir dari kalangan Ahlus Sunnah, mereka adalah orang-orang yang mumpuni seputar Al Qur’an, seperti At Thabari, Al Qurthubi, Al Baghawi, Ibnu Katsir, Al Alusy, Al Jalalain, Rasyid Ridha, Ahmad Syakir, Al Maraghi, As Sa’diy, Wahbah Az Zuhaily, dll. dari para ahli tafsir; mereka sepakat bahwa tidak ada Tahrif (distorsi) dalam Al Qur’an. Kalau ada pemikir Syiah, cendekiawan Syiah, atau ulama Syiah mengatakan adanya Tahrif, ya dimaklumi saja. Wong, mereka bukan Ahlus Sunnah. Kalangan Ahlus Sunnah tidak menjadikan ulama-ulama Syiah sebagai panutan. (Bahkan Quraish Shihab yang notabene banyak terpengaruh pemikiran Syiah itu, dalam Tafsir Al Mishbah hasil karyanya, dia tidak mengklaim ada distorsi dalam Al Qur’an).

Demikian, dapat dipahami bahwa bahwa dalam Al Qur’an tidak ada distorsi. Riwayat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang mengatakan bahwa Surat Al Ahzab semula adalah 200 ayat; riwayat seperti ini tidak bisa diterima, karena bertentangan dengan pendapat Jumhur para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Pendapat Shahabat dalam masalah ini adalah IDENTIK dengan sikap penerimaan mereka terhadap Mushaf Induk (atau Mushaf Madinah) yang disusun oleh panitia yang dipimpin Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu di masa Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu.

Semoga kajian sederhana ini bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Cimahi, 4 Februari 2012.

[Abahnya Aisyah, Fathimah, Khadijah].