Perselisihan Gerakan Islam di Palestina

Agustus 21, 2009

Saat kita sedang intens mengikuti perkembangan berita-berita seputar terorisme di Indonesia, di Ghaza Palestina terjadi konflik yang cukup memprihatinkan. Sebuah milisi Islam yang menamakan diri sebagai Jundul Ansharullah terlibat konflik dengan HAMAS. Dilaporkan media, 24 orang anggota Jundul Ansharullah meninggal akibat serangan pasukan Hamas, termasuk pemimpin mereka, Syaikh Abdul Lathif.

Pihak Jundul Ansharullah (JA) seketika memberikan reaksi. Mereka berjanji akan balas menyerang posisi-posisi Hamas. Mereka juga menghimbau masyarakat Palestina agar menjauhi kantor-kantor Hamas. Di TV ditayangkan sikap militansi anggota JA yang berniat melaksanakan aksi balasan. Menurut informasi media, milisi JA ini merupakan sayap gerakan Al Qa’idah dan menuntut diberlakukannya Syariat Islam di Palestina.

Jika saat ini kita memposisikan diri di pihak Hamas dan menyalahkan JA; atau kita berdiri di pihak JA dan menyalahkan Hamas; hasilnya, perselisihan seperti ini bukan mustahil akan semakin hebat. Bukan hanya di Palestina, bahkan bisa nular sampai ke Indonesia. Di tengah perselisihan antar sesama Muslim, maka yang terbaik adalah mengimani ayat berikut ini: “Bahwasanya orang-orang beriman itu saling bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati.(Al Hujurat: 10).

Kita Semua Prihatin

Perselisihan antara elemen-elemen Islam di Palestina akan semakin membuat ruwet persoalan. Patut dipahami, bahwa realitas konflik di tubuh bangsa Palestina sendiri bukan masalah kecil. Sejak Hamas mengendalikan Pemerintahan di Palestina, mereka sudah berseteru dengan PLO, khususnya dengan sayap militernya, Fatah. Di Palestina sendiri, selain PLO yang berhaluan nasionalis dan Hamas yang merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin, disana juga ada Jihad Islam, Hizbut Tahrir, dan termasuk Salafi. (Saat Syaikh Al Albani rahimahullah meninggal, ada ucapan bela sungkawa yang disampaikan oleh komunitas Salafi Palestina).

Masing-masing gerakan dakwah memiliki pendirian dan sikap yang berbeda-beda. Meskipun Pemerintahan Palestina dikelola oleh Hamas, sebagai konsekuensi kemenangan Pemilu, tidak otomatis mampu menyeragamkan perbedaan-perbedaan pandangan itu. Sebagai contoh, PLO sangat menginginkan agar Hamas melunak sikapnya, agar Palestina tidak diembargo oleh dunia internasional. Sementara Hamas tidak mau kompromi dengan mengakui Israel, sebab mereka didukung masyarakat Palestina dalam Pemilu justru karena sikap konsistennya dalam menolak eksistensi negara Israel di Tanah Palestina.

Dalam menyikapi Tragedi Ghaza beberapa waktu lalu, mereka juga berbeda sikap. Hamas secara nyata memilih jalur perang melawan invasi Israel. Sementara Mahmud Abbas dan PLO-nya lebih setuju dengan perundingan. Lain lagi Salafi, mereka menyalahkan Hamas sebagai pemicu serangan Israel itu.

Adanya konflik baru antara Jundul Ansharullah dengan Hamas, jelas semakin memperumit masalah. Apalagi milisi JA memiliki kemampuan tempur yang tidak berbeda jauh dengan Hamas (dari sisi keahlian, bukan jumlah kekuatan). Mereka merupakan gerakan kombatan, anti Israel, dan sangat menginginkan tegaknya Syariat Islam di Palestina. Kalau dua kekuatan yang sama-sama berciri militer berbenturan, tentu akibatnya akan sangat mengkhawatirkan.

Konflik antara Hamas dan JA saat ini adalah tidak menguntungkan. Bahkan akan melahirkan banyak masalah, antara lain:

[o] Kalangan Yahudi Israel laknatullah akan berpesta-pora merayakan meletusnya pertikaian antara kedua belah pihak. Itulah momentum besar yang sangat mereka tunggu-tunggu.

[o] Pertikaian itu akan menambah beban kaum Muslimin Palestina, lalu melupakan mereka dari musuh utama, kaum durjana Yahudi Israel laknatullah. Kekuatan mereka semakin melemah, sementara kekuatan Yahudi semakin menguat.

[o] Pertikaian itu akan terus dipelihara oleh Yahudi laknatullah, sebagaimana mereka memelihara pertikaian antara Hamas dan PLO. Bukan mustahil, perselisihan antara Hamas dan JA merupakan hasil rekayasa agen-agen Yahudi juga. Agen-agen Yahudi akan terus mencari-cari cara agar Hamas terus bentrok dengan JA. Dengan cara itu, bangsa Palestina akan melemah sendiri, tanpa perlu diserang oleh Israel. Bukan mustahil, kelak Israel akan memanen kemenangan di Palestina sambil ngopi, ongkang-ongkan kaki, dan membaca Playboy.

Perselisihan antar sesama Muslim akan semakin melemahkan perjuangan. “Dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan, maka kalian menjadi gentar dan hilanglah wibawa kalian. Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang shabar.” (Al Anfaal: 46).

Kekalahan kaum Muslimin di berbagai medan peperangan tidak selalu karena kalah kekuatan dengan musuh. Kerap terjadi, kita kalah karena berhasil diadu-domba oleh orang-orang kafir. Istilah “Devide Et Impera” bagi orang Indonesia tentu bukan rahasia lagi. Begitu pula, istilah politik “Belah Bambu” bukanlah sesuatu yang samar bagi para aktivis Islam.

Perluasan Area Konflik

Perselisihan antara Hamas dan JA, kalau kita runut ke belakang, ia bermula dari kancah peperangan di Irak. Hamas merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin, sementara JA mengklaim sebagai bagian dari Al Qa’idah. Al Ikhwan sebagaimana komitmennya dengan Jihad Fi Sabillah, mereka juga terlibat membela kaum Muslimin di Irak. Sementara Al Qa’idah merasa sangat gembira saat Amerika membuka front pertempuran di Irak. Bagi Al Qa’idah, langkah Amerika itu ibarat, “Pucuk dicinta, ulam tiba.” Masuknya Amerika ke Timur Tengah akan lebih memudahkan Al Qa’idah menyerang mereka.

Baca entri selengkapnya »