Tafsir Film “?” Menurut Hanung

April 15, 2011

Ada perdebatan menarik antara sutradara film “?” dengan wartawan Suara Islam. Debat itu dimuat di situs voa-islam.com. Berikut ini artikelnya: Inilah Perdebatan Hanung Bramantyo Vs Wartawan Via Facebook. Jika ingin tahu lengkapnya, silakan baca artikel itu terlebih dulu.

Disini saya ingin membahas secara sekilas tentang TAFSIR sutradara film itu, Hanung Bramantyo, terhadap film yang dia buat sendiri. Tafsiran ini dimuat di bagian akhir artikel di atas. Ya, semoga kita bisa memetik hikmah dan pengetahuan dari debat dengan insan film semacam Hanung ini. Amin.

HANUNG: Terima kasih sudah menyaksikan film saya sekaligus mengkritik film tersebut. Saya sangat menghargai pandangan anda. Sebagai sebuah tafsir atas ‘teks’ saya anggap itu syah. Namun sayangnya, anda tidak memberikan kemerdekaan bagi yang menafsir ‘teks’ film tersebut dalam makna lain. Anda sudah terlanjur melakukan judgment berdasarkan ‘teks’ yg anda baca dan tafsirkan. Disini, saya akan mengajak anda untuk menafsir ‘teks’ film dalam kerangka berfikir yang lain. Tidak untuk menandingi, tapi untuk mengajak anda melihat tafsir dalam kerangka berfikir yang berbeda.

Katanya Sineas Cerdas. Padahal...

Komentar: Menjudgement suatu pandangan, pemikiran, sikap, pernyataan, dll. adalah SAH. Kita diberi kebebasan berekspresi. Kita boleh bersikap bagaimanapun, sejauh masih dalam lingkup OPINI. Toh, wartawan Muslim itu tidak menjatuhkan vonis hukum ke Hanung. Iya kan? Sebagai seorang Muslim, menjudgement pandangan kufur, syirik, dan sesat adalah hak yang sepenuhnya dilindungi Kitabullah dan As Sunnah. Kecuali kalau men-judgement amal baik, keshalihan, keadilan, ma’ruf, dll. Jelas itu salah.

HANUNG: 1. A. Anda mengatakan bahwa adegan kekerasan: penusukan pastur dan pengeboman dilakukan oleh orang Islam. Padahal dalam dua adegan tersebut saya sama sekali tidak menampilkan orang Islam (setidaknya orang berbaju putih-putih, bersorban atau berkopyah). Di adegan penusukan pastur, saya menampilkan seorang lelaki berjaket coklat memegang pisau dan seorang pengendara motor. Kalau itu ditafsir orang Islam, itu semata-mata tafsir anda.

B. Di awal Film saya justru menampilkan sekelompok remaja masjid (bukan orang tua) yang melakukan perawatan atas masjid. Bukankah dalam hadist dianjurkan seorang pemuda menghabiskan waktunya untuk mengelola dan merawat masjid? Apakah saya menampilkan seorang pemuda Islam sembahyang atau merawat gereja? atau pemuda gereja, pastur sembahyang di masjid? Jadi tafsir atas pencampur adukan ajaran agama bukan tafsir saya.

Komentar: Pada adegan pertama, tentang penusukan pastur dan pengeboman, mengapa Hanung tidak membuat adegan semacam ini: Yang ditusuk seorang ustadz atau kyai yang baru keluar dari masjid, atau yang dibom adalah masjid yang lagi penuh jamaah? Mengapa Hanung tidak membuat hal itu? Jika dia buat AWAL film-nya dengan adegan penyerangan ustadz/masjid, otak para penonton akan segera SIMPATI kepada ustadz/masjid itu. Namanya hati manusia, pasti simpati pada orang yang menjadi korban kekerasan.

Lalu, apakah ada hadits Nabi Saw yang menyuruh remaja menghabiskan waktunya untuk merawat masjid? Tidak ada. Yang ada adalah siapapun yang mu’allaqun qulubuhum bil masjid (terikat hatinya kepada masjid). Itu adalah salah satu dari 7 golongan yang mendapat naungan di Akhirat. Sangat berbeda dengan orang yang menghabiskan waktunya untuk merawat masjid. Beda konteksnya.

HANUNG: 2. Rika Murtad. Bahwa tafsir Rika murtad karena sakit hati dengan suaminya yang mengajak poligami saya benarkan. Tapi bukan berarti ‘teks’ tersebut mendukung poligami. Sejak awal keputusan Rika sudah ditentang oleh Surya, anaknya dan orang tuanya. Bagian mana yang menyatakan dukungan?

Coba perhatikan shotnya: Surya berdialog dengan Rika: Kamu menghianati 2 hal sekaligus: perkawinan dan Allah! kalau toh disitu Surya diam saja ketika Rika menyanggahnya, bukan berarti Surya mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan Rika. Hal itu tertera dalam surat Al Hajj ayat 7 : ‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’.

Komentar: Hanung ini kelihatan pintar, padahal kurang berpengetahuan. Lihatlah, dia menggurui kita dengan shoot (bidikan kamera). Namanya dia sutradara, pasti tahu detail shoot yang dia ambil. Kalau kita, apalagi penonton, apa bisa sejeli itu? Masya Allah. Inilah egoisme seorang sutradara.

Hanung tak mau dituduh mempromokan sikap MURTAD. Tetapi dia memberi peran besar dalam film itu kepada person murtad, Rika. Namanya peran besar dalam film, pasti tindak-tanduknya ingin dipromokan secara intens ke para penonton. Kita boleh curiga, Hanung ini otaknya sudah error berat. Jadi pandangannya pun tidak karu-karuan.

Sikap Surya yang mendiamkan isterinya murtad adalah sikap SALAH. Sikap yang benar harusnya, “Wahai orang-orang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari siksa neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (At Tahrim: 6). Seharusnya ayat ini yang dipakai, karena konteksnya kehidupan keluarga. Sedang ayat yang dipakai Hanung itu terlalu umum, dan maksudnya tidak seperti itu.

HANUNG: Sikap Surya juga merupakan cerminan dari firman Allah : ‘Engkau (Muhammad) tidak diutus dengan mandat memaksa mereka beragama, tapi mengutus engkau untuk MEMBERI KABAR GEMBIRA yang orang mengakui kebenaran Islam dan kabar buruk dan ancaman bagi yang mengingkarinya.’

Abi, anak Rika, juga tidak mendukung sikap Rika ‘yang Berubah’. Abi protes dengan ibunya dengan cara enggan bicara. Bahkan hanya sekedar minum susu dikala pagi saja Abi tidak mau menghabiskan di depan ibunya. Demikian halnya Abi juga tidak mau makan sarapan yang disajikan ibunya. Itu adalah sikap protes dia kepada sang Ibu yang murtad.

Jika toh Abi kemudian bersikap seperti Surya, bukan berarti abi mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan. Lihat dialog Abi saat bersama Rika: … Kata Pak Ustadz, orang islam gak boleh marah lebih dari tiga hari. Apakah dialog tersebut diartikan mendukung kemurtadan? Bukankah makna dari dialog tersebut adalah mencerminkan sikap orang muslim yang murah hati: Pemaaf dan bijaksana (jika marah tidak boleh lebih dari tiga hari).

Sikap murah hati juga ditunjukkan orang tua Rika pada adegan terakhir. Orang Tua Rika datang pada saat acara Syukuran Khatam Quran Abi. Coba perhatikan shot tersebut: Adakah dialog atau gesture yang menyatakan dukungan atas kemurtadan Rika? Dalam shot tersebut saya menggambarkan Rika menghambur memeluk ibunya dengan erat. Sementara ayahnya hanya diam, menggandeng Abi. Adegan tersebut sama sekali tidak menyajikan ‘teks’ dukungan atas kemurtadan. Tapi hubungan emosional antara ibu dan anak. Lagi-lagi saya menggambarkan sikap bijaksana seorang muslim sebagaimana firman Allah dalam quran sebagaimana diatas tadi.

Jadi jika anda membaca ‘teks’ dalam adegan tersebut sebagai sebuah dukungan terhadap kemurtadan, maka itu tafsir anda. Bukan saya …

Komentar: Masya Allah, ck ck ck… (kalau anak saya mengucapkannya “ceka ceka”). Hanung ini pintar mengelabui orang.

Pertama, Rika sudah murtad. Ya, itulah yang terjadi. Lalu keluarga Rika melakukan protes dengan cara masing-masing. Tapi harus diingat, posisi Rika dalam film itu sangat kuat. Ini menandakan, bahwa film itu ingin menunjukkan KEMULIAAN HATI orang murtad.

Kedua, sikap tradisional masyarakat kita kepada orang murtad adalah MENJAUHI (paling beratnya memusuhi), tetapi sikap itu disalahkan oleh Hanung. Tandanya, di ending cerita, orang-orang yang benci sikap Rika itu tetap menerima dia. Hal ini kan maknanya, “Orang murtad akhirnya diterima, setelah sebelumnya ditolak dengan aneka sikap protes.” Ini sama saja dengan mempromokan kemurtadan di mata masyarakat luas. Rika dianggap sebagai teladan dalam soal itu.

Ketiga, hal paling munafik dari Hanung ialah ketika Rika digambarkan mengajari anaknya mengaji, sampai Khatam. Coba Anda cari di dunia ini, apa ada orang murtad dengan hati mulia seperti itu? Bahkan seharusnya, anak Rika itu berguru ke orang lain yang Muslim, bukan ke ibunya yang murtad. Sebab belajar Islam, harus dari sesama Muslim, agar ilmunya berkah. Ilmu Islam itu terpakai sampai Hari Kiamat, bukan sekedar “ilmu dunia” yang ditunjukkan dengan perayaan Khataman Qur’an seperti itu. Meskipun banyak yang protes atas kemurtadan Rika, tetap saja di ending cerita, semua orang menerima keputusan Rika.

Keempat, seorang wanita murtad dari agama, hukumnya sangat berat. Selain dia menjadi kafir, pernikahannya juga batal, atau dianggap zina. Dia tidak boleh bersama suaminya lagi. Bahkan anak-anaknya yang Muslim tak boleh diasuh oleh dia. Wanita seperti itu tidak mendapat harta warisan, dan tidak mewariskan harta ke anak-anaknya yang Muslim. Kalau mati, tidak boleh dishalati dan dikuburkan di pemakaman Islam. Konsekuensinya berat, tapi dalam film Hanung digambarkan, “Murtad itu okay saja. Enak kok. Boleh dicoba siapa saja.” Na’udzubillah min dzalik.

Bisa dibilang film “?” itu membawa missi besar: “Memasyarakatkan kemurtadan dan memurtadkan masyarakat.” Wal ‘iyadzu billah. Semoga Erick Tohir, Hanung, dan kawan-kawan menerima balasan keras atas dosa besar yang mereka lakukan dalam film itu. Wong masih dikasih sehat, melakukan hal-hal seperti itu. Ntar kalau sehatmu dicabut, akan merasa bagaimana perihnya sikap ingkar.

HANUNG: 3. Menuk adalah perempuan muslimah. Dia nyaman bekerja di tempat pak Tan karena pak Tan adalah orang yang baik. Selalu mengingatkan karyawan muslimnya sholat. Bagian mana yang anda maksud bahwa babi itu halal?

Saya menggambarkan adegan yang membedakan Babi dan bukan babi lebih dari sekali adegan. Pertama, pada saat Pembeli berjilbab bertanya soal menu makanan restoran pak Tan. Menuk mengatakan bahwa panci dan wajan yang dipakai buat memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. (di film terdapat shot wajan, dan shot Menuk yang dialog dengan ibu berjilbab. Dialog agak kepotong karena LSF memotongnya. Alasannya silakan tanyakan kepada LSF)

Kedua, pada saat Pak Tan mengajari Ping Hen (anaknya) mengelola restoran. Pak Tan dengan tegas menyatakan pembedaan antara babi dan bukan babi: … Ini sodet dengan tanda merah buat babi, dan yang tidak ada tanda merah bukan babi …

Jika saya menghalalkan Babi, tentunya saya tidak akan menggambarkan pemisahan yang tegas antara sodet, panci, pisau, dsb tersebut. Jadi tafsir anda yang mengatakan bahwa saya menghalalkan babi, semata-mata bukan tafsir saya …

Saya justru menggambarkan sikap Menuk sebagai Muslimah yang menolak pernikahan beda agama dengan cara lebih memilih menikah dengan soleh (yang muslim) meski jobless, dibanding hendra. Padahal cintanya kepada hendra: … Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buat saya adalah hal yang indah … karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agama yang berbeda … (Dialog Menuk kepada Hendra di malam Ramadhan)

Saya juga menggambarkan sikap pak Tan yang menghargai Islam dengan cara meminta buku Asmaul Husna milik Menuk. Dan di akhir adegan, Pak Tan membisikkan sesuatu kepada Hendra yang mana kemudian Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya: menjadi Mualaf dan merobah restorannya menjadi Halal. Lihat kata-kata isteri pak Tan di akhir film: … Pi, hari ini Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya SEPERTI YANG PAPI MINTA …. (Dialog tersebut sebenarnya ungkapan dari pak Tan secara tersirat kepada “Hendra untuk berubah” )

Jadi tafsir Hendra pindah agama hanya ingin menikahi menuk adalah Tafsir anda.

Lagipula, dalam film jelas-jelas tidak ada gambaran pernikahan antara Menuk dan Hendra. Ending Film saya justru menggambarkan Menuk menatap nama Soleh yang sudah menjadi nama Pasar … Darimana anda bisa menafsirkan bahwa Hendra pindah agama hanya karena ingin menikah sama menuk?

Komentar: Katanya Hanung itu sineas cerdas. Kalau membuat film selalu dimulai dengan riset. Dalam banyak adegan film itu, termasuk soal Menuk kerja di restoran China ini, sangat kentara bahwa Hanung sangat memaksakan diri. Dia membuat suatu gambaran berlebihan, tanpa didukung fakta-fakta di lapangan. Apakah Anda bisa menemukan, seorang Muslimah yang taat dalam shalat, malah berjualan makanan haram?

Kalau memang dia Muslimah yang baik, tekun shalat, pasti akan meninggalkan pekerjaan itu. Meskipun Menuk tidak makan babi, tetapi dengan MELAYANI restoran yang menjual makanan babi, dia sama saja dengan BERSERIKAT dalam perdagangan barang haram. Ini sama seperti Muslimah menjual minuman keras, menjual daging anjing, menjual bangkai, menjual darah mengalir, menjual narkoba, dll. Lalu dimana letak akal Hanung? Dia membuat gambaran yang sangat kontras, sekedar untuk meyakinkan penonton bahwa sikap seperti Menuk itu ada dan boleh ditiru. Ini adalah pikiran orang ngaco.

Hanung Hanung, kamu itu ingin menyesatkan kaum Muslimin dengan membuat fantasi-fantasi yang tidak realistik. Masya Allah. Apa yang kamu tampilkan dalam film itu, hanya modal KHAYALAN doang. Tidak ada realitasnya!

HANUNG: 4. Surya adalah seorang aktor figuran. Di awal Film dikatakan dengan tegas lewat dialog: … 10 tahun saya menjadi aktor cuma jadi figuran doang!!

Sebagai aktor yang selalui hanya jadi figuran, dia frustasi. Hingga menganggap bahwa hidupnya cuma sekedar numpang lewat. Dia diusir dari kontrakan karena menunggak bayar. Rika membantunya dengan menawari pekerjaan sebagai Yesus dengan biaya Mahal (perhatikan dialognya di warung soto). Semula Surya menolak. Tapi dia menerima hanya karena selama hidupnya dia tidak pernah mendapatkan peran Jagoan …

Itu adalah alasan yang sangat manusiawi. Namun alasan itu tidak begitu saja dia gunakan untuk melegitimasi pilihannya. Dia konsultasi dengan Ustadz Wahyu (David Khalil). Menurut Ustadz, Semua itu tergantung dari HATIMU, maka JAGALAH HATIMU.

Dari perkataan David Khalik tersebut, adakah kata yang menyarankan atau mendorong Surya menjadi Yesus? David Khalik memberikan kebebasan buat Surya untuk melakukan pilihannya. Dan Surya sudah memilih. Ketika di Masjid, David Khalik mengulang bertanya: Gimana? Sudah mantap hatimu? Lalu dijawab oleh Surya: Insya Allah saya tetap Istiqomah. Dijawab oleh David Khalik: Amin …

Dari adegan tersebut, adakah saya melecehkan Islam? Apakah dengan menghargai pilihan seseorang itu sama saja melecehkan Islam?

Komentar: Disini kekacauan pemikiran Hanung semakin menjadi-jadi. Disana jelas, Rika bukan murtad biasa, tetapi dia juga menjadi aktivis gereja, dan tim sukses acara religi yang dibuat gereja. Begitu ngeyelkan Rika sampai mencari pemeran seorang Muslim yang baik. Itu membuktikan bahwa peranan Rika yang toleran di tengah keluarganya yang Muslim, tidaklah tulus. Sebab tak akan ada seorang aktivis gereja yang kenceng, dia kenceng juga dalam melayani keluarganya yang beribadah Islam.  Itu tak pernah terjadi, dan tak ada.

Disini Hanung hendak mengolok-olok dua kaum beragama sekaligus, kaum Muslim dan kaum Kristiani. Pertama, karena saking tidak adanya pekerjaan, seorang pemuda Muslim mau menjadi tokoh Yesus. Kalau mengucapkan “Selamat Natal” saja dilarang oleh MUI, apalagi menjadi pemeran Yesus. Kedua, apakah di kalangan Kristen tidak ada lagi stok manusia, sehingga harus “mengimpor” pemeran Yesus dari Muslim? Disini digambarakan, seolah orang Kristen pada bodo-bodo. [Bisa jadi, dengan peran Surya sebagai Yesus, hal itu dimaksudkan untuk mengadu-domba Muslim dan Kristen. Orang Muslim marah sebab ada yang menjadi Yesus; orang Kristen juga marah, sebab tokoh Yesus kok diperankan orang non Kristen].

Sangat konyol ialah sikap ustadz (diperankan David Khalik). Kok bisa-bisanya setuju dengan pilihan Surya menjadi Yesus. Sebagai pemeran Yesus, Surya kan bukan hanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan Kristen secara intens. Bahkan dia menjadi sosok “tuhan” yang dipuja oleh warga Kristen itu sendiri. Ini bukan pilihan pribadi lagi, tetapi sikap membangkang terhadap aturan-aturan aqidah Islamiyyyah. Seakan, aturan aqidah itu hanya etika kecil yang tidak perlu dianggap serius. Kalau Surya mantap hati menjadi pemeran Yesus, meskipun hanya dalam drama/film, dia bisa murtad dari agamanya (Islam).

Apakah tidak cukup kita paham, bahwa Hanung telah melecehkan Islam dan Kristen sekaligus?

HANUNG: Pada saat dialog dengan Ustad tersebut, Surya tidak langsung ke gereja. Dia melakukan tafakur di masjid dengan melihat asma Allah yang tertempel diatas dinding Mihrab. Lagi-lagi dia meyakinkan hatinya

Jadi, tidak ada sedikitpun adegan yang menyatakan pelecehan terhadap agama Islam. Surya melakukan tugasnya sebagai aktor karena dia harus hidup. Bahkan untuk beli soto untuk sarapan saja dia tidak sanggup. Lagipula drama Paskah bukan ibadah. Tapi sebuah pertunjukan drama biasa. Ibadah Misa Jumat Agung dilaksanakan setelah pertunjukan Drama. Dalam hal ini Surya tidak melakukan ibadah bersama jemaah Kristiani di gereja.

Setelah melakukan pekerjaan sebagai aktor di malam Jumat Agung Surya membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang sambil menangis untuk menguatkan hatinya kembali sebagaimana yang disarankan Ustadz.

Adakah dari adegan tersebut saya melecehkan Islam? Silakan di cek lagi …

Komentar: Tidak diperbolehkan seorang Muslim terjun dalam drama/film dengan setting agama lain, meskipun alasannya untuk “cari makan”. Dalam mencari makan harus mencari jalur-jalur yang halal dan baik. Mencari makan dengan melacur itu haram, dosa besar. Tetapi pelakunya tidak otomatis kufur. Lalu ini mencari makan dengan melayani acara-acara yang merupakan syiar orang kafir. Ia lebih berat hukumnya, sebab sudah menyangkut kaum non Muslim. Melayani urusan kekafiran lebih berat daripada urusan maksiyat. Kelihatan sekali, betapa Hanung “nol besar” pemahaman agamanya.

HANUNG: 5. Saya benar-benar kagum dengan penafsiran anda soal adegan dalam film saya. Tidak heran anda menjadi seorang wartawan. Hehehe.

Jika anda benar-benar mengamati adegan demi adegan, anda akan menemukan maksud dari penyerbuan tersebut. Pertama, Penyerbuan itu didasari karena egositas dari hendra (ping Hen) yang hanya ingin mengejar keuntungan. Maka dari itu libur lebaran yang biasanya 5 hari, dipotong hanya sehari. Akibatnya, Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan liburan lebaran.

Kedua, Soleh (yang di adegan sebelumnya bertengkar dengan Hendra karena cemburu) merasa panas hati ketika mendengar Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan. Karena rasa cemburu berlebihan, Soleh bersama para preman pasar dan takmir masjid yang di awal adegan bertengkar dengan hendra, melakukan pengeroyokan.

Dalam adegan tersebut jelas tergambar SIKAP CEMBURU, MEMBABI BUTA, BODOH dan TERGESA-GESA pada diri Soleh yang mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal. Sikap tersebut membuat Soleh menjadi rendah di mata Menuk: Lihat adegan selanjutnya: Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : …. Mas, jangan disini ya minta maafnya. Dirumah saja …

Dijawab oleh Soleh: Kamu dirumah terlalu sibuk dengan Mutia … Menuk menimpali: … dimana saja ASAL TIDAK DISINI …

Komentar: Saya tidak menyalahkan kalau ada yang berkomentar bahwa film “?” ini MENJIJIKKAN. Tidak bisa komentar, wong memang realitasnya begitu. Sangat kampungan dan katro sekali. Masya Allah. Apa Hanung tidak mengerti sama sekali cita rasa film berkualitas ya? Kasihan sekali…

Gambaran yang ditampilkan Hanung itu sangat memaksakan diri. Dia ngaco dengan angan-angan kehidupan TOLERAN yang dia inginkan. Maunya membuat suasana toleran, tetapi malah membuat kerusuhan pelik di hati masyarakat. Coba bayangkan: Siapa orangnya, orang China seperti apapun, yang akan membuat masyarakat Muslim marah saat Idul Fithri? Lalu apakah sikap Ummat Islam, termasuk takmir masjid, akan begitu saja menghajar orang China itu, sampai mati? Waduh, waduh, benar-benar khayalan yang amat sangat mengerikan.

Inilah film dari Erick Tohir, dari Grup Mahaka, yang tentu saja disokong oleh Republika. Kasihan deh… Katanya kelompok intelektual, tetapi kepekaan akal mereka terhadap realitas, sangat jauh. Kasihan sekali. Coba lihat film-film top asal Amrik, misalnya US Marshall, Fugitive, Cast Away, The State Enemy, The Bourne Ultimatum, Saving Private Ryan, dll. Mereka saat membuat film tentu tidak gegabah main KHAYAL doang, asal perasaan puas. Kasihan banget…

Moga-moga film “?” benar-benar gagal dan tidak laku, serta membuat malu pembuat dan produsernya. Ya, karena hati mereka sendiri sudah tidak jujur dari awal. Ingin berbuat kebaikan, tetapi caranya TIDAK BAIK.

HANUNG: Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya, Agar dia menjadi BERARTI dimata isterinya ….

Apakah adegan di Film tersebut menggambarkan Menuk bahagia dengan kematian Soleh, sehingga dengan begitu dia bebas menikah dengan Hendra? Apakah adegan di Film menggambarkan hendra juga bahagia dengan kematian Soleh sehingga hendra bisa punya kesempatan menikah sama Menuk?

Sungguh, saya kagum dengan tafsir anda. Hingga andapun bisa bebas sekali menafsirkan hidup saya. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi lebih dekat sehingga anda bisa mengenal saya lebih baik, mas …

Komentar: Dalam tafsiran film versi Hanung ini, seolah kita dapati dia berhati-hati dalam membuat setiap adegan. Tetapi sifat SENTIMEN-nya itu tak bisa ditutup-tutupi. Lihatlah, saat dia memakai adegan penusukan pastor, pengeroyokan rumah makan China, bom bunuh diri, dll. Seolah setiap adegan ini punya cerita sendiri. Tetapi akal orang Indonesia sudah paham selama puluhan tahun, bahwa adegan-adegan itu merupakan STIGMA yang kerap menimpa kaum Muslimin di Tanah Air. Stigma yang sama juga diperlihatkan Hanung dalam film, Perempuan Berkalung Sorban.

Disini kelihatan betapa munafiknya seorang Hanung. Satu sisi, ingin menghindar dari tuduhan menjelek-jelekkan Ummat Islam. Di sisi lain, adegan-adegan penting yang dia ekspose memakai aksi-aksi kekerasan yang biasa dituduhkan kepada organisasi-organisasi Islam selama ini.

Kalau dengan orang berpaham sesat semisal Hanung ini, tidak berlaku istilah shilaturahim. Shilaturahim hanya berlaku antar sesama Muslim. Kepada orang semacam Hanung itu yang ditawarkan: dakwah, debat, adu hujjah, dan semisalnya. Bukan shilaturahim.

HANUNG: 6. Tentang Asmaul Husna yang dibacakan Pastur Dedi Sutomo bagi saya merupakan sebuah pesan teologis dari Islam yang saya selipkan di gereja. Jika tafsir anda saya melecehkan Islam, justru saya heran. Asmaul Husna merupakan nama ALLAH yang meliputi segala yang Indah di Bumi dan Langit. Tidak ada nama Indah selain diriNya yang dimiliki agama lain.

Maka ketika Pastur Dedi Sutomo meminta Rika untuk menuliskan kesan TUHAN DIMATAMU, maka Rika kesulitan. (lihat adegannya, ketika dia kebingungan sendiri menuliskan itu). Lalu, dengan berat hati Rika menuliskan kesan TUHAN dengan menyebut rangkaian nama-nama Indah dalam Asmaul Husna … Apakah itu melecehkan Islam?

Komentar: Lagi-lagi dalam bagian ini Hanung memperlihatkan dirinya yang tidak tahu soal agama, tetapi bersikap seolah tahu, sehingga bisa membuat TAFSIRAN menurut seleranya sendiri. Adalah sangat bodoh membawa Asmaul Husna dalam ritual orang Kristen, karena Asmaul Husna itu merupakan Nama dan Shifat Allah yang Maha Agung. Jika orang gereja paham maksudnya, tentu mereka akan masuk Islam. Dalam Asmaul Husna ada nama Al Ahad atau Al Wahid (Yang Maha Satu), sementara doktrin gereja adalah Trinitas. Disana juga ada nama Al ‘Aly, Al ‘Azhim, Al ‘Aziz, Dzul  Jalali Wal Ikram, dan lainnya. Nama-nama itu mencerminkan Sifat Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Perkasa, Memiliki Keagungan dan Kemuliaan; sementara tuhan dalam versi Kristen digambarkan sebagai person manusia (Yesus) yang banyak kekurangan. Membawa Asmaul Husna masuk gereja hanyalah sia-sia. Kecuali, kalau orang gereja itu didakwahi dengan Asmaul Husna, agar mau masuk Islam. Itu lain perkara.

Lewat adegan seperti itu kan seolah Hanung sudah membawa nama baik Islam di mata gereja. Itu dalam persepsi otaknya yang picik. Apalah artinya membawa Asmaul Husna ke gereja, kalau orang gereja tetap meyakini Trinitas, personifikasi tuhan dalam tubuh manusia, dll.? Apa artinya Hanung? Betapa kelihatan sekali, engkau hanya pintar mengkhayal.

HANUNG: Dari diskusi ini saya menyimpulkan bahwa setiap Tafsir atas Teks FILM memiliki RUANG, WAKTU dan PERISTIWANYA sendiri. Saya sangat menghargai anda dalam melakukan tafsir. Tapi hargai pula orang yang melakukan tafsir yang berbeda dengan anda. Jika anda melihat secara jeli dan terbuka, saya justru banyak menyisipkan teologi Islam ke dalam gereja.

Lihatlah ketika adegan Jesus disalib yang dimainkan Surya. Angle kamera saya diposisi rendah dengan foreground jamaah. Adegan itu menggambarkan semua jemaah Kristen memuja Jesus. Tapi sebenarnya saya menggambarkan jamaah tersebut memuja Islam. Lalu setelah adegan tersebut saya menyelipkan ayat Al Aikhlas yang menyatakan : Tuhan itu Satu, Tidak beranak dan diperanakan …

Jujur, saya geli dengan anda dan umat Islam yang sepikiran dengan anda. Segitu protesnya anda dan umat Islam sepikiran dengan anda ketika Haji Ahmad Dahlan dimainkan oleh seorang Murtad. Tapi tidak ada satupun yang protes dari kaum Kristen ketika Jesus dimainkan oleh figuran seperti Surya. Malah anda sekarang yang protes, menuduh saya melecehkan Islam. Hehehe …

Mari kita sama-sama terbuka. Kita saudara. Sama-sama pengikut Rosululloh. Sesama Muslim saling mengingatkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi pembelajaran kita bersama. Amin ….

Komentar: Ya, kita menghargai tafsiran Anda dalam soal film itu. Tapi masalahnya, Anda sangat memaksakan diri. Apa yang Anda tampilkan mengesankan konsep film yang PENUH KEBINGUNGAN (jadi tepat ia diberi judul “?”. Tepat sekali). Anda memakai adegan-adegan yang sudah terlalu sering menjadi alat STIGMA terhadap organisasi-organisasi Islam. Di sisi lain, Anda ingin semua orang rukun damai, meskipun beda-beda akidah; tetapi Anda sendiri menciptakan banyak konflik dalam film itu antar elemen-elemen pemeluk agama. Harusnya Anda menawarkan solusi. Tetapi malah seperti menyiram bensin ke atas bara api. Disini sangat kelihatan, betapa munafik diri Anda. Pura-pura cinta damai, tetapi sebenarnya sangat menikmati konflik antar ummat beragama.

Untuk membela Islam, Anda tidak usah menjelek-jelekkan kaum Kristen, seperti yang Anda sengaja dalam pengambilan gambar itu. Tidak perlulah begitu. Kita bersikap biasa saja sebagai Muslim, secara tekun mengikuti jalan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Nanti ummat manusia dan alam, akan menyaksikan bahwa konsistensi itu membawa rahmat yang luas. Jadi tidak usah seperti itu caranya.

Tentang protes terhadap sosok pemeran Haji Ahmad Dahlan. Memang protesnya seperti apa gitu Hanung? Apakah protes dengan membakar ban, membuat unjuk rasa, menyerang gereja atau kaum murtad? Kan “protes” hanya dalam opini. Iya kan? Dalam opini semisal ini saja Anda sebut “protes”. Toh, Ummat Islam menerima kok film Sang Pencerah itu. Apa ada tuntutan agar film itu ditarik karena pelakunya non Muslim? Ada gitu?

Kata Anda, kok gak ada yang protes dari kalangan Kristen karena Yesus diperankan oleh Surya. Jawabnya, ya Anda tanyakan sendiri ke kaum Kristen, Hanung. Kok Anda malah tanya ke kaum Muslim? Ini aneh sekali. Meminta protes kaum Kristen, tetapi sasaran yang dituju Ummat Islam. Ya, tidak nyambung itu.

Anda jelas telah melecehkan seorang Muslim (Surya). Karena pengangguran, dia mau jadi pemeran Yesus. Seolah begitu nistanya Ummat Islam, sampai mau bermain-main dengan area kekufuran, hanya karena soal “mencari makan”. Banyak sisi-sisi yang melecehkan Islam dan Muslimin dalam film Anda itu. Itu nyata dan faktual. Soal Anda akan geli dan lainnya, ya itu tergantung kesehatan ruhani masing-masing orang.

Anda mengklaim sebagai Muslim, pengikut Rosulullah Saw. Anda anggap kita saling bersaudara. Tetapi apa artinya klaim seperti itu, kalau sikap Anda sendiri tidak mencerminkan SIKAP dan JIWA seorang Muslim. Film-film yang Anda buat, selain Sang Pencerah, tidak mencerminkan diri Anda yang mengikuti tuntunan Islam dan jalan Rasulullah. Apalagi dalam film “?” ini, sikap agressi Anda kepada nilai dan kultur Islam di Indonesia, sangat kuat.

Kalau memang Muslim, jangan cuma mengklaim, tapi buktikan diri Anda Muslim; bukan atheis, bukan liberalis, bukan pluralis, bukan hedonis, bukan westernis, bukan penyokong kapitalis.

Kalau cuma mengklaim saja, ya semua pabrik kecap akan mengatakan, “Ini kecap nomer 1.”

Ya, begitulah. Semoga ada guna dan manfaat yang bisa kita peroleh. Singkat kata, saat membuat film “?” Hanung berada dalam kebingungan persepsi luar biasa, berada dalam keguncangan jiwa besar. Antara gengsi sebagai sutradara “cerdas”, missi liberalisasi, ketakutan kepada kaum Muslimin, sok menggurui Ummat, serta hasrat keduniaan, bercampur-aduk jadi satu.

Nah, itulah dia inti film “?”. Seperti judulnya, film ini menandakan konstruksi pemikiran sang sutradara dan produsernya yang belum terjaga dari tidur secara sempurna. Bangun, bangun, hari sudah siang! TAMMAT.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.


Hanung Bramantyo Lagi…

April 12, 2011

Belum lama lalu diluncurkan film dengan judul sangat unik. Judulnya hanya simbol tanda tanya (?). Mungkin dalam sejarah perfilman Indonesia, baru ini ada film dengan judul sangat unik.

Film ini disutradarai anak muda yang cukup dikenal, Hanung Bramantyo. Dia sutradara film pluralis, Ayat Ayat Cinta. Juga sutradara film Sang Pencerah, yang menampilkan sosok KH. Ahmad Dahlan. Termasuk film yang menghujat para aktivis Islam dan pesantren, Perempuan Berkalung Sorban. Film ini diproduksi oleh grup MAHAKA, induk media Republika, dan dikendalikan oleh usahawan, Erick Tohir.

Saat me-launching AlifTV, Erick Tohir didaulat untuk memberikan sambutan. Disana Erick Tohir mengklaim bahwa AlifTV ditujukan untuk menyebarkan konsep Islam “rahmatan lil ‘alamiin”. Maksudnya Islam yang bagaimana? Itu Islam yang cinta damai, anti kekerasan, pluralis; serta konsekuensinya menerima konsep ekonomi liberal, menerima budaya Barat, serta toleran terhadap gerakan-gerakan kolonialisasi Barat. Ibaratnya, Islam yang enak di kita dan enak di mereka (orang non Muslim).

Sosok seperti Erick Tohir tentu jangan bayangkan akan mengembangkan versi Islam seperti Rasulullah Saw. Ya, jauhlah. Islam dalam pandangan Erick tentu bukan ISLAM ASLI, tetapi Islam yang sudah sedemikian rupa dipoles, dipermak, dimodifikasi, sehingga sesuai dengan peradaban kapitalisme Barat. Nah, itulah yang lalu diklaim sebagai “Islam rahmatan lil ‘alamiin”.

Hanung: Menyimpan Dendam Kepada Islam.

Terkait dengan film “?”, pihak Mahaka dan Republika jelas sangat memuji. Ya, pusat pujian ada pada persoalan: film itu menawarkan toleransi, bukan Islam galak, tidak menghakimi, memandang semua agama sama, semua budaya baik, dan seterusnya. Pendek kata, dalam film ini posisi Syariat Islam tidak dipandang sama sekali.

Dari sisi kalkulasi bisnis, sepertinya pihak Mahaka tidak takut rugi. Mungkin karena film semacam ini lebih banyak mengkampanyekan budaya, bukan dilihat dari sisi bisnisnya. Kan kita tahu, kapitalis China sangat berkepentingan agar kaum Muslim Indonesia semakin sekuler saja. Ide-ide pluralisme merupakan tangga menuju tujuan itu.

Dan mengapa harus Hanung Bramantyo yang menjadi sutradara? Nah, ini menjadi tanda tanya, persis seperti judul film itu sendiri.

Hanung ini kan lulusan sekolah agama di Yogya. Background keluarga Muhammadiyyah. Dia mengerti sedikit-sedikit tentang konsep dan wawasan Islam. Dalam pernikahan yang kedua, dia menikah dengan Zaskia Mecca, artis yang populer dalam sinetron “Para Pencari Tuhan”. Sebelum menikah, mereka berdua sudah gandeng-renteng gak karu-karuan. Sehingga kawan-kawannya, sesama artis, sangat mendorong agar mereka berdua segera menikah. Konon, mereka akhirnya menikah ketika perut Zaskia semakin menonjol ke depan.

Kehidupan kaum LIBERALIS seperti berada dalam dua dunia. Dunia pertama, istilah-istilah keren, intelektualis, pemikiran-pemikiran progressif, dan seterusnya. Dunia kedua, kehidupan manusiawi mereka yang tidak terungkap di depan publik. Dalam dunia “tidak tampak” itu kualitas moral mereka sangat buruk. Misalnya, sudah dikenal bahwa di markas JIL di Utan Kayu itu banyak ditemui botol-botol minuman keras.

Film Hanung sendiri sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. Tetapi bahwa dia memang membenci kalangan Islamis karena telah mengekang hawa nafsunya, sejak dia masih remaja, memang benar adanya. Isi film Hanung cenderung ingin “membalas dendam” atas kultur Islam yang pernah membesarkannya.

Film Ayat Ayat Cinta berjalan sukses, karena didukung promo besar-besaran, baik promo resmi maupun tak resmi. Sukses novel AAC itu sendiri sudah menjadi promo besar bagi filmnya. Setelah namanya mulai berkibar, Hanung menyerang Islam lewat film, Perempuan Berkalung Sorban. Namun film terakhir ini tidak sukses, malah menuai protes dari banyak kalangan Islam.

Ketika filmnya kurang laku, Hanung coba-coba mencari momen bagus untuk buat film. Setelah berpikir dalam, lalu catch…dapat man! Dia pun mengajukan rancangan film “Sang Pencerah” dengan mengangkat sosok KH. Ahmad Dahlan. Siapa yang dibidik dari film ini? Ya, warga Muhammadiyyah, almamater Hanung sendiri. Secara umum, film itu cukup sukses di pasaran warga Muhammadiyyah. Pundi-pundi keuangan Hanung pun menebal. Setelah uang di tangan, lagi-lagi Hanung membuat film, untuk memuaskan hobi lamanya, menyerang konsep Islam yang menurutnya tidak toleran, kolot, demen kekerasan, eksklusif, dan seterusnya. Nah, itulah dia film “?”.

Padahal intinya, Hanung merasa konsep Islam tidak bisa memuaskan hawa nafsunya. Dia ingin agama yang bisa memuaskan hawa nafsunya, sepuas-puasnya, tanpa limit, tanpa kekangan apapun. [Maka dari sini kita bisa melihat bagaimana masa depan pernikahan Hanung dengan Zaskia. Wong agama saja tidak dipedulikan, apalagi keluarga?].

Rasanya tidak malu ya. Saat kantong kering, mencari penonton dari Ummat Islam. Setelah kantong tebal, segera menyerang dakwah Islam. Tapi apa mau dikata, begitulah sosok sutradara itu. Kalau dibilang kejam, ya kejam; kalau dibilang sadis, ya sadis; kalau dibilang curang, ya curang. Begitulah cara Hanung dalam menyerang ajaran-ajaran Islam yang tidak bisa memenuhi hasrat hawa nafsunya.

Kasihan banget ya, agama yang suci dipaksa memuaskan hawa nafsu seorang manusia. Bagaimana kalau ada banyak orang semisal dia, sama-sama meminta agama melayani hawa nafsunya sepuas-puasnya? Kok bisa ya, agama hendak diperbudak oleh hawa nafsu manusia. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sosok seperti Hanung itu seperti manusia yang sudah KEHILANGAN JATI DIRI. Secara spiritual, batere jiwanya seperti sudah drop total. Maka yang keluar dari dirinya bukan ekspresi jiwa yang murni dan lurus, tetapi hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran yang kalah. Kalau Hanung berekspresi ini dan itu, ia hanyalah seperti ungkapan orang-orang frustasi yang sudah tak bisa berbuat apa-apa.

Kalau dalam Al Qur’an digambarkan, “Khatamallah ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ala absharihim ghisyawah, wa lahum adzabun ‘azhim” (Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, lalu di atas penglihatan mereka diberi tutupan, dan bagi mereka adzab yang besar).

Rata-rata para penggiat paham SEPILIS seperti itu. Secara batin atau jiwa, mereka sudah dianggap tidak ada. Atau dianggap sebagai eksistensi kegelapan. Maka tidak keluar dari jiwa semacam itu selain kegelapan, kecurangan, kelicikan, kesadisan pemikiran, kekejaman nalar, dll; intinya ekspresi kefrustasian.

Ya, inilah sekilas “resensi film” berjudul “?” (tanda tanya). Lalu apa makna “?” disana? Ya jelas sekali. Pembuatnya adalah sosok misterius yang DIPERTANYAKAN kesehatan ruhaninya. Terimakasih.

AM. Waskito.


Menggugat Hanung Bramantyo

Februari 15, 2009

Baru-baru ini muncul film kontroversial, Perempuan Berkalung Sorban. Hasil garapan sutradara Hanung Bramantyo. Hanung adalah sutradara muda yang berperan di balik film, Ayat Ayat Cinta. Nama dia melambung setelah fil AAC sukses di pasaran. Hanung sendiri adalah alumni sekolah Islam terkenal di Yogya, lalu masuk IKJ. Dia tadinya terobsesi oleh pesan ibunya untuk membuat film bertema Islam.

Namun munculnya film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) mengundang kontroversi luas. Banyak kalangan Islam menuduh film itu melecehkan pesantren, melecehkan Syariat Islam, dan menuduh ajaran Islam menindas kaum wanita. Salah satunya, Ustadz Ridwan Saidi; beliau menyimpulkan bahwa film PBS sepenuhnya adalah propaganda untuk memperburuk citra Islam.

Hanung Bramantyo membela diri dengan mengatakan, bahwa film PBS adalah produk seni, bukan ajaran agama; dia tidak memiliki tendensi melecehkan Islam, pesantren, kyai, dan lainnya; dia mengaku Muslim, dan tidak ada niatan menistakan Islam; dia hanya mengangkat fakta tertentu di pesantren, agar menjadi pelajaran bagi masyarakat luas; dia hanya ingin menyuarakan tuntutan, agar Ummat Islam lebih menghargai martabat wanita; dan lain-lain.

Disini ada 10 pertanyaan untuk Hanung Bramantyo. Pertanyaan-pertanyaan ini untuk membuktikan apakah dia berkata benar, atau hanya berdusta saja dengan ucapan-ucapannya. Sekaligus pertanyaan ini untuk membantah para sineas yang berlagak idealis, tetapi mendengki kepada ajaran Islam.

[1] Apakah Hanung telah memikirkan tentang resiko kontroversi jauh-jauh hari sebelum beredarnya film PBS itu, atau ia tidak memikirkannya sama sekali?

(Sebagai seorang seniman film, adalah sangat bodoh kalau Hanung tidak memikirkan resiko kontroversi itu, sebab sebelumnya telah muncul kontroversi-kontroversi dengan hadirnya film tercela, seperti Fitna, Buruan Cium Gue, ML, dan sebagainya. Hanung pasti sudah menyadari resiko, dan dia memang sengaja ingin memicu kontroversi luas di tengah-tengah Ummat Islam. Ada baiknya sebagian aktivis Islam memperkarakan film Hanung ini ke pegadilan).

[2] Apakah film yang dibuat Hanung itu merupakan produk seni belaka, yang tidak boleh dikait-kaitkan dengan agama (Islam) sama sekali?

(Lalu bagaimana dengan film Ayat Ayat Cinta yang pernah dia sutradarai? Bukankah film itu sarat dengan muatan-muatan agama, bahkan konsumen terbesarnya pun adalah kaum Muslimin. Dalam film itu, adegan pelukan antara Fahri dengan Aisyah dibuat dengan teknik tidak bersentuhan, sebab keduanya bukan mahram. Begitu juga apa artinya “film Islami” yang dipesankan ibu Hanung kepada dirinya? Apakah itu juga hanya seni belaka? Jika demikian, duhai betapa hambarnya jiwa seorang Hanung Bramantyo. Jiwanya telah menyatu dengan seni, dan kering dari nilai-nilai agama. Na’udzubillah min dzalik).

Baca entri selengkapnya »