Haruskan Menonjolkan Sentimen Etnis?

September 11, 2009

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu, Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam rangka memanfaatkan momen-momen berharga selama Ramadhan 1430 H ini dengan wawasan-wawasan penting, saya sengaja menurunkan beberapa artikel. Salah satunya adalah “Sentimen Anti Jawa” ini. Tidak berarti saya keluar dari komitmen semula. Tidak, hanya memanfaatkan momen Ramadhan dengan wawasan-wawasan yang mudah-mudahan bermanfaat, insya Allah. Niatnya, ingin merealisasikan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah.

Tulisan “Sentimen Anti Jawa” ini terinspirasi dari seorang teman. Katanya, akhir-akhir ini berkembang sentimen anti Jawa di forum-forum diskusi internet. Hal itu terjadi sejak meluasnya sikap anti Malaysia di masyarakat. Ya, kasus pencurian budaya, klaim pulau, penghinaan lagu kebangsaan, sampai video penyiksaan TKI oleh manusia-manusia berhati syaitan di Malaysia sana. Katanya, pelecehan martabat bangsa secara kasar oleh Malaysia tidak lepas dari para pemimpin Indonesia yang rata-rata dipegang oleh orang Jawa. Singkat kata, karena para pejabatnya orang Jawa, maka martabat Indonesia bisa dilecehkan oleh Malaysia.

Sebenarnya bukan saat ini saja saya mendengar sikap anti Jawa. Sebagian teman saya di Bandung pernah mengartikan kata Jawa dengan kata: “Jajah wilayah.” Seorang profesor di Bandung juga pernah mengusulkan, agar Bandung menjadi kota tertutup dari pendatang luar (termasuk etnis Jawa). Namun ide itu kemudian mendapat kecaman keras. Di masjid di komplek kami, ada mantan Ketua DKM yang anti terhadap para pendatang non Sundanese. Sepertinya, di mata orang itu, para pendatang menjadi sebab kesengsaraan warga pribumi.

Sejak lama saya juga mendengar, sebagian warga Aceh sangat anti orang Jawa. Hal itu terutama ketika belum ada perjanjian damai antara RI dan GAM. Mereka menyebut Jawa sebagai “penjajah”, bahkan dianggap “orang kafir”. Konon, waktu itu di Aceh, jika mereka mendapati seseorang ber-KTP Jawa, bernama Jawa, atau berlogat Jawa, darah pun akan ditumpahkan. Karena kesalahan kebijakan politik Soeharto Cs, kaum Muslimin berlatar-belakang Jawa memikul akibatnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Karena masalah ini sangat penting, disini saya coba membahasnya. Semua ini menjadi renungan bagi semua pihak.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai manusia, sesungguhkan Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13).

Ayat di atas merupakan prinsip besar yang melandasi kehidupan setiap Muslim. Perbedaan suku atau etnis adalah masalah kodrati (sudah ditentukan oleh Allah). Ia merupakan Sunnatullah yang pasti terjadi dalam kehidupan ini. Sebagaimana pula Allah telah menciptakan hewan dan tumbuh-tumbuhan bermacam-macam, tidak hanya satu jenis saja. Maka Islam memberi panduan yang lurus; perbedaan tidak masalah, sebab hal itu sudah Sunnatullah. Sebaik-baik manusia, bukan dilihat dari aspek kesukuannya, tetapi TAQWA-nya.

Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa orang Arab tidak lebih baik dari orang ‘Ajam (non Arab), melainkan karena takwanya. Begitu pula sebaliknya, orang ‘Ajam tidak lebih baik dari orang Arab, melainkan karena takwanya juga.

KASUS PELECEHAN MALAYSIA

Ya, semua pihak prihatin dengan sikap melecehkan yang dilakukan warga atau Pemerintah Malaysia terhadap martabat bangsa Indonesia. Hal itu tidak mencerminkan sikap negara jiran (tetangga) yang baik. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Sikap buruk Malaysia tidak lepas dari kehidupan materialisme yang membuat mereka semakin sejahtera, semakin konsumtif, dan semakin rakus.

Indonesia pun, kalau memiliki kondisi ekonomi sebaik Malaysia saat ini, mungkin kita juga akan menerkam satu demi satu negara kecil di sekitarnya. Hanya karena Indonesia ini lemah, maka tidak mau mengganggu tetangga-tetangganya. Kehidupan sejahtera menjadi cita-cita perjuangan politik setiap bangsa. Tetapi kerap kali, kesejahteraan itu bukan membuat manusia makin mawas diri, tetapi semakin rakus materi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi menjadi sangat mengherankan, ketika sikap lemah Pemerintah RI kepada Malaysia, hal itu dikaitkan dengan etnis Jawa. Lho, apa hubungannya? Apakah ada korelasi rasional antara keduanya?

Kalau mau jujur, Permadi yang berbicara meledak-ledak di TV mengecam sikap lembek Pemerintah dan mendorong agar Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Dia orang Jawa. Soekarno yang dulu menyerukan gerakan Ganyang Malaysia juga orang Jawa. Perwira TNI yang bersuara keras ketika Malaysia mengklaim blok Ambalat, juga dari Jawa. Bahkan prajurit TNI yang diturunkan untuk operasi-operasi menjaga teritorial nasional, kebanyakan juga dari Jawa. Kok bisa etnis Jawa disalahkan dalam perkara seperti ini?

Kalau karakter SBY memang lembek, ya jangan menyalahkan orang Jawa. Itu salah Anda sendiri yang telah memilih SBY dalam Pilpres kemarin. Jujur saja, kami sekeluarga kemarin memilih JK-Wiranto. Bagi kami, mau orang Bugis, orang Aceh, Padang, Lombok, atau apapun, kalau memang qualified, kami akan mendukung. Sebaliknya, meskipun orang Jawa, kalau pro Amerika, ya harus ditolak. Anda lihat di TV, bagaimana seorang Sudjiwo Tedjo sangat mendukung Jusuf Kalla. Konon, dia selama ini selalu golput. Tapi saat ada pilihan Pak JK, dia mendukungnya. Sudjiwo Tedjo sampai bersumpah atas nama bundanya, Ibu Sulastri. (Meskipun, bersumpah atas nama selain Allah, itu termasuk sikap yang keliru). Dan menariknya, di luar Jawa, suara SBY menang mutlak. Hingga di Aceh saja, perolehan JK-Wiranto hanya sekitar 8 %. Padahal orang Aceh tahu jasa JK dalam perdamaian Aceh.

Kalau kemudian SBY bersikap begini dan begitu, ya itu sudah konsekuensi dari pilihan rakyat Indonesia sendiri, sejak Aceh sampai Papua. Hal ini tidak bisa dikaitkan dengan etnis Jawa. Cara berpikir seperti itu sangat picik. Lihatlah dengan mata jujur! Disana ada Prabowo Subianto yang bersuara keras tentang ekonomi Neolib. Beliau dari Jawa. Ada Pak Wiranto dan Hanura yang juga mengkritisi ekonomi liberal selama ini. Beliau juga orang Jawa.

Kalau ingin melihat etnis Jawa, jangan hanya melihat para koruptor. Tetapi lihat juga sosok Panglima Besar Jendral Soedirman dan Bung Tomo rahimahumallah yang sangat komitmen terhadap negara ini. Atau lihat juga sosok SM. Kartosoewiryo rahimahullah, seorang pemimpin Islam yang berani menyuarakan gerakan Negara Islam secara gentleman. Atau lihat sosok Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, tokoh senior Muhammadiyyah. Beliau sampai akhir hayatnya selalu merindukan tegaknya Piagam Djakarta.

Dulu di jaman Orde Lama, beberapa pemimpin Masyumi mendapatkan teror dari PKI. Mereka lalu menyeberang ke Sumatera Barat untuk menyelamatkan diri. Kemudian mereka terlibat dengan PRRI. Keterlibatan elit-elit Masyumi itu, terutama Muhammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, oleh Soekarno dianggap sebagai pengkhianatan besar. Akibatnya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Waktu itu pimpinan Masyumi berada di tangan Bapak Prawoto Mangkoesasmito rahimahullah. Beliau menolak pembubaran Masyumi karena alasan PRRI. Secara resmi waktu itu Masyumi mengecam gerakan PRRI di Bukit Tinggi. Tetapi Soekarno meminta supaya Masyumi mengutuk pemimpin-pemimpinnya yang terlibat PRRI. Maka jawaban Bapak Prawoto kepada Soekarno sangat tegas, “Sebelum kami mengutuk mereka, kami terlebih dulu akan mengutuk Bapak (Soekarno)!” Nah, ini salah satu tipikal pemimpin santri Jawa yang layak dikenang. Padahal waktu itu, nama besar Soekarno sangat disegani semua orang.

Almarhum KH. AR. Fachruddin, tokoh Muhammadiyyah Yogya. Tahun 80-an Soeharto memaksakan agar semua organisasi, termasuk ormas Islam, menjadikan Pancasila sebagai Azas Tunggal. Pak AR. Fachruddin sebagai Ketua Umum Muhammadiyyah dipanggil oleh Soeharto untuk diajak bicara. Soeharto mengancam akan membubarkan organisasi apa saja yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai azasnya. Maka Pak AR tidak kalah sengit dalam merespon tekanan Soeharto. Beliau mengecam Soeharto, “Tetapi Bapak tidak bermaksud membubarkan Islam kan?” Setelah itu beliau pamitan meninggalkan Soeharto. Mana ada di jaman itu orang yang berani bersikap tegas kepada seorang Soeharto?

Adalah sangat tidak adil mengukur sesuatu dengan parameter keetnisan. Sama seperti Ruhut Sitompul ketika beberapa waktu lalu melecehkan etnis Arab. Atau ekstremnya, seperti Yahudi yang menganggap manusia selain Yahudi sebagai Ghayim (Gentiles). Semua orang Ghayim di mata Yahudi dihalalkan segala-galanya. Dan tidak adil pula, ketika menilai etnis itu hanya dari sisi buruknya, tidak dilihat sisi baiknya. Sebab di dunia ini, setiap etnis pasti ada sisi baik dan buruknya. Tidak ada satu pun etnis yang merasa suci dari kesalahan, melainkan ia pasti SESAT.

Baca entri selengkapnya »