Memahami Realitas “Perang Energi”

Oktober 27, 2008

Selama ini perang energi sering dikaitkan dengan rebutan minyak bumi. Minyak bumi sendiri menjadi bahan baku utama BBM. BBM menurunkan produk, antara lain: Avtur (untuk pesawat terbang), pertamax (kualitas di atas bensin), premium (bensin), solar, minyak tanah, sampai bahan penyulingan paling kasar, yaitu aspal. Jadi hampir keseluruhan materi minyak bumi (oil) itu bermanfaat, sampai sampah lumpurnya sekalipun. Kalau tidak ada manfaatnya, mungkin asapnya.

Kebutuhan manusia kepada minyak bumi sebagian besar untuk transportasi di darat, laut, dan udara. Selain itu adalah untuk menggerakkan mesin-mesin industri dengan berbagai macam jenis, spesifikasi, dan produknya. Industri militer sangat-sangat membutuhkan BBM; tanpa BBM mereka lumpuh. Lain itu, industri plastik sangat butuh minyak bumi, sebab bahan baku plastik adalah hasil penyulingan padatan minyak bumi (seperti aspal). Selain itu jalan raya butuh minyak bumi (aspal). Jika demikian, alangkah hebatnya minyak bumi. Bahkan, industri listrik pun tidak bisa dilepaskan dari BBM. Wajar jika setiap hari masyaarakat dunia puzzzinnggg memikirkan BBM. Dunia modern akan kembali ke jaman manual, natural, dan hand made tanpa minyak bumi.

Sampai disini wajar jika orang mengartikan perang energi sebagai perlombaan rebutan minyak bumi. Tetapi sebenarnya, perang energi tidak hanya menyangkut minyak bumi. Banyak hal bisa dikaitkan dengan energi, misalnya batu-bara, gas bumi, bio energi (seperti minyak sawit), sumber air, uranium (untuk membuat listrik), dll. Sebab bahan-bahan itu juga sangat dibutuhkan manusia modern, dan bisa menghasilkan energi. Di Eropa, minyak sawit (Crude Palm Oil atau CPO) bisa dibuat menjadi bahan bakar kendaraan, pengganti bensin. Bahkan di sebagian SPBU Pertamina, sudah dijual bio-fuel dari bahan tetes tebu. Ternyata, bukan hanya minyak bumi yang menghasilkan energi. Biji-biji jarak pun saat ini mulai dipakai sebagai pengganti minyak tanah. Dulu Jepang memaksa masyarakat menanam jarak untuk alternative pengganti minyak.

Bahkan air pun sebenarnya juga sumber energi. di Afrika dan Timur Tengah, pengelolaan air bisa menjadi sumber konflik antar negara-negara yang berkepentingan. Mesir harus berdamai dengan negara tetangganya dalam soal Sungai Nil. Kalau tidak, mereka bisa kelabakan jika hulu sungai Nil dirusak oleh negara tetangganya. Israel juga punya ambisi untuk membendung Sungai Eufrat dalam rangka mengamankan pasokan air bagi rakyatnya. Meskipun resikonya mematikan sumber air bagi negara lain. Bagi negara seperti Singapura, pasir bisa menjadi material yang sangat fundamental, sebab mereka membutuhkan pasir untuk melebarkan wilayah negaranya yang sangat kecil. Singapura sangat rakus dalam mengimpor pasir dari Indonesia, meskipun resikonya kita bisa kehilangan pulau-pulau gara-gara pasirnya terus ditambang untuk dijual ke Singapore itu.

Baca entri selengkapnya »

Iklan