Kala Hary Tanoe Dikemplang Vicky…

September 18, 2013

Di-kemplang itu maksudnya seperti orang yang meminjam uang, lalu tidak dibayar sama sekali; malahan si pemberi pinjaman diambili barangnya oleh si peminjam. Jadi benar-benar rugi. Kata orang Betawi, tekor bandar.

Singkat kata, Hary Tanoesoedibjo bersama tim MNC sudah tiga tahunan mempersiapkan acara Miss World di Indonesia. Acara itu pun berhasil dilaksanakan, tetapi hanya dalam lokal Bali saja. Ajuan Hary Tanoe agar acara diadakan di Sentul Bogor, gatot alias gagal total; karena mendapat tekanan besar dari ormas-ormas Islam.

Kegagalan melaksanakan acara Miss World di Jakarta (Bogor) sudah tentu menimbulkan kerugian besar bagi Hary Tanoe dan kawan-kawan, secara itung-itungan bisnis. Apalagi acara ini sudah disiapkan sejak 3 tahunan lalu.

Secara missi dekonstruksi moral, acara itu jelas tidak sukses. Karena kalau diadakan di Bali, semua orang Indonesia (atau dunia) sudah tahu, bahwa di sana memang tidak ngurusi yang berbau moralitas seperti tuntutan Umat Islam selama ini. Ya tahulah kondisi Bali kayak apa…

Tapi ada satu yang lebih menyakitkan bagi Hary Tanoe… Saat acara Miss World dilaksanakan, perhatian masyarakat kurang tentang isu tersebut. Masyarakat tahu ada Miss World, tapi mereka seperti kurang peduli.

Lalu perhatian masyarakat teralihkan kemana?

Justru masyarakat banyak memperhatikan “bahasa Vicky” atau sosok Vicky Prasetyo yang berbicara “intelek maksa”. Vicky yang namanya Hendrianto itu justru kini sangat terkenal seindonesia; malah ibunya juga ikut-ikutan terkenal. Nah, sosok yang “intelek maksa” ini justru lebih heboh dari lenggang-lenggok wanita-wanita peserta Miss World…

Hary Tanoe pasti tahu itu, bahkan mungkin dia terpingkal-pingkal saat melihat omongan Vicky. Siapa tahu nanti Hary Tanoe tertarik menjadikan Vicky sebagai calon legislatif Partai PERINDO… Eh maaf, belum jadi partai ya.

Lucunya, wawancara Vicky itu berasal dari acara Cek and Ricek milik RCTI, yang notabene masih di bawah naungan Hary Tanoe (MNC) juga. Waduh, jadi apes berlipat ganda deh…

Sudah MIss World kurang bergema; persiapan dan keluar biaya sangat banyak; isunya kalah oleh Vicky Prasetyo; wawancara itu sendiri asalnya dari program Cek & Ricek RCTI. Ya begitulah…

Kalau ingat Hary Tanoe sendiri, jadi ingat saat dia keluar dari Nasdem. Sebelum itu Hary Tanoe selalu beriklan di TV. Bicaranya begini: “Biasanya para pengusaha menjauhi politik. Tapi saya tidak. Saya berpolitik untuk memperbaiki… ini itu dan seterusnya.”

Kini iklan Hary Tanoe bisa di-translete ke dalam bahasa Vicky. Kira-kira isinya jadi begini: “Menurut kontroversi hati aqyu… politikisasi bisnis untuk mengkudeta profit sharing, demi happy birthday di Karang Tengah nation independen, untuk melenyapkan konspirasi Miss World dan kudeta apa lagi ya… ”

Begitulah… pastilah Pak Hary Tanoe lebih pintar memahami bahasa Vicky, wong itu bersumber dari acara RCTI. Okelah… selamat menu kemplang mengemplang.

Tapi bagi yang masih inshaf, manusiawi, mencintai keadilan dan kelurusan hidup; ya jangan kemplang-mengemplang; jangan juga jadi korban “kemplangisasi kepentingan”, agar tidak “labil ekonomi”.

Ya hanya sekedar share dan heurey…

Aqyuww…¬†

Iklan

Hary Tanoe, Surya Paloh, dan Nasdem

Januari 26, 2013
Sudah Ngacir, Sebelum Perang Dimulai.

Sudah Ngacir, Sebelum Perang Dimulai.

Ibarat partai politik, Nasional Demokrat (Nasdem) belumlah berkiprah apa-apa. Ia masih sebatas dinamika internal, promo politik, penggalangan massa, membuat opini, dan seterusnya. Belumlah bermain dalam tataran politik sesungguhnya, karena Nasdem belum pernah ikut pemilu; ia baru saja diakui sebagai peserta pemilu 2014 nanti dengan nomer urut 1.

Tapi Nasdem seperti seorang pelari marathon, yang muntah-muntah sebelum bendera start dikibarkan. Beberapa pengurus teras Nasdem seperti Hary Tanoe, Ahmad Rofiq, Jefry Geovani, beberapa pimpinan daerah, pimpinan cabang luar negeri, serta kader-kadernya banyak yang keluar dari partai ini. Alasannya, rata-rata mereka tidak suka Surya Paloh menjadi Ketua Umum Nasdem. Ibarat perang belum dimulai, para prajurit dan komandan sudah pada ngacir.

Kalau mendengar¬† isi Editorial Media Indonesia (MetroTV) dari waktu ke waktu, rasanya kenyataan ini sangat IRONIS. Seolah orang-orang media ini paling pintar, suci, dan serba ideal. Tapi fakta berbicara, mereka tidak lebih baik dari partai-partai lain yang tidak mengalami kekisruhan “sebelum bertanding”. MetroTV sendiri tampaknya tidak mau membahas soal “kisruh internal” Partai Nasdem ini, karena khawatir akan men-demarketing partai itu di panggung politik nasional.

Hary Tanoe sendiri sangat khas dengan iklan-iklan yang dia tayangkan di media-media dalam MNC Grup. Dia terus mengklaim, atau semacam mengajari bangsa Indonesia, tentang pentingnya pengusaha terlibat politik. “Sebagai pengusaha biasanya tidak mau terlibat dalam politik. Tapi saya sengaja terlibat untuk memperbaiki bangsa dan negara.” Ya begitulah kira-kira ucapan Hary Tanoe yang telah terekam dalam benak ratusan juta manusia di Indonesia dan lainnya.

Tapi fakta memberikan jawaban sangat memalukan bagi Hary Tanoe. Belum juga dia bertanding dalam gelanggang politik secara head to head, dia sudah mundur dari partai yang ikut didirikannya. Malah keluarnya Hary Tanoe ini seperti membawa “gerbong para pengikut” dan menyebarkan aroma tidak sedap dari dapur internal Nasdem. Ya mungkin Hary Tanoe akan tetap bermain politik, sebagai pilihannya; tapi sikap menggurui rakyat Indonesia, dengan kalimat-kalimat santun, moralis, dan seterusnya; sementara mental politik dia sendiri temperamental (tidak sabaran); hal itu jelas tidak klop. Kalau mau menggurui sebuah bangsa, buktikan dulu kinerja dan perjuangan Anda. Belum apa-apa sudah berlagak “paling hero”, tetapi bersabar sedikit saja dalam negosiasi posisi politik, sudah tidak tahan. Hal itu menjawab sebuah dugaan, bahwa niat Hary Tanoe masuk dunia politik bersifat pragmatis, bukan berjuang bagi bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, kita tak mau mengadili Nasdem, karena memang partai ini masih baru. Berilah dia kesempatan untuk terlibat, berkiprah, dan seterusnya demi kebaikan rakyat Indonesia (seperti yang dicita-citakannya). Biarlah dia berdinamika dengan kondisi internalnya, lalu bersiap menyongsong Pemilu 2014. Soal posisi Surya Paloh atau siapapun, ya biar saja, kan itu urusan internal mereka. Siapapun yang terpilih, itu sudah termasuk hak-hak politik mereka yang mesti dihargai. Hanya saja, kita mengkritik sikap “sok menggurui” atau “sok pintar sendiri”. Itu saja. Maka buktikan semua klaim dengan karya nyata; jangan sebatas retorika.

Bagi Nasdem, jika mereka berhasil keluar dari “kemelut besar” ini, ia akan jadi pelajaran berharga bagi mereka. Bisa jadi nanti mereka lebih mampu menghadapi aneka dinamika internal partai. Tapi kalau akibat kisruh itu mereka “gugur sebelum berbunga”, ya sangat menyedihkan saja.

Oke. Itu dulu. Mari kita lihat para anak negeri sedang berjuang memperbaiki bangsanya, lewat jalur politik praktis.

Mine.