Hijaber Tapi Hedon…

Februari 10, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kami mendengar info-info miring seputar komunitas Hijabers. Mereka sering kongkow-kongkow di cafe, ngobrol rame, cekikikan, larut dalam party-party, gadget mania, dan seterusnya. Seakan hidupnya tak beda jauh dengan kaum hedonis perkotaan; hanya bedanya, mereka memakai kain menutupi rambut dan leher. Disebut “memakai kain” karena yang mereka kenakan itu memang bukan JILBAB atau HIJAB yang disyariatkan dalam Islam. Nama “hijab” cuma merek saja.

Seorang teman mengatakan, “Mereka itu brutal!” Ya, aku tidak sekeras dia dalam menilai. Tapi memang di sini ada yang aneh. Bawaannya kalau bicara tentang komunitas “hijabers” ini cenderung negatif.

Tapi kemarin waktu ada acara walimah seorang kenalan, di sebauh gedung, kami benar-benar menyaksikan CORAK GAYA sebagian anak-anak hijaber ini. Sedih melihatnya. Tapi ya gimana lagi, itulah kenyataannya. Mereka itu menurutku seperti wanita-wanita yang kehilangan arah… mau jadi salehah, gak bisa; mau meninggalkan dunia hedon, tak mampu; menjadi orang serba tanggung, iya. Mungkin nanti di Akhirat, setengah badan mendapat surga, setengah sisanya mendapat neraka. Ya itu sekedar intermezzo-nya. Nas’alullah al ‘afiyah.

Kami datang terlambat ke acara walimah, ketika MC sudah mau menutup acara. Panitia dan shahibul walimah tampak sibuk menyambut acara penutupan. Sebagai persembahan terakhir, dimainkan musik berirama jazz, sebagai penutup. Aku pikir itu hanya menyanyi biasa. Ternyata, disana anak-anak muda berjoget-joget mengikuti irama jazz itu. Mereka ini tentu bukan pengantin, tapi semacam teman-teman pengantin, atau komunitasnya.

"Hijab Rasa Hedon"

“Hijab Rasa Hedon”

Paling parah, yang membuat hati sedih… sepasang anak muda, laki-laki dan wanita, mereka berjoget ria seperti orang-orang Barat itu. Dua orang itu berpasangan, yang laki-laki bergerak dinamis, sambil memutar-mutar badannya si cewek. Mereka berjoget ala Amerika Latin disaksikan banyak orang di gedung. Parahnya…si cewek itu memakai jilbab. Itu yang sangat parah.

Ya Ilahi…zaman sekarang parah banget. Masak ada wanita berjilbab berjoget ria semacam itu? Parah banget. Orang-orang beginian mending tidak usah memakai jilbab. Mereka buka saja jilbabnya. Itu lebih adil, agar kelakuan mereka tidak mengotori nama baik Islam.

Jadi kalau dipikir, untuk apa mereka berjilbab? Apa beda kain jilbab mereka dengan lap meja, atau lap lantai? Tak ada bedanya kan…sekedar selembar kain belaka. Jilbab mereka tak ngaruh terhadap kelakuan dan tindak-tanduknya.

Ya Allah ya Rahmaan, kami memohon kepada-Mu setulus hati agar kaum wanita kami, anak-anak kami benar-benar komitmen dengan JILBAB dan HIJAB…bukan berkelakuan aneh seperti orang-orang itu. Amin Allahumma amin.

Di antara tokoh komunitas Hijabers itu ada yang membuat pemakluman: “Tidak setiap wanita berhijab memang salehah, tetapi wanita salehah pasti berhijab.” Kata-kata begini dianut seperti ayat Suci Al Qur’an, sehingga dengan dalil kata-kata ini mereka seolah bebas berkelakuan seperti apapun juga.

Harusnya Mbak, kata-kata begitu diganti begini: “Memang memakai hijab tidak menjamin seseorang sudah salehah, tapi kami akan terus berusaha untuk lebih baik dari waktu ke waktu.” Kata-kata begini lebih baik, sebab ada keinginan untuk berubah lebih baik; bukannya MENCARI PEMBENARAN.

Oke deh…sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat ya. Kalau ada salah-salah kata, mohon maaf. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah).

Iklan

Setelah Hedon…Mau Ngapain?

Oktober 14, 2012

Hedonisme: Hidup Hura-hura Selalu! Menghamba Syahwat Doang.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini sebuah tulisan unik tentang gaya hidup hedonis, having fun selalu. Intinya, hidup seperti itu bukan model hidup yang selama ini kita jalani; tapi alhamdulillah, kita bisa tahu liku-liku hidup seperti itu. Sekalipun kita tidak pernah kesana, kita bisa tahu apa yang ada disana. Lewat informasi, bahan bacaan, mendengar penuturan, diskusi, ngobrol, dll. akhirnya kita tahu juga. Disini coba kita buat gambaran hidup seorang laki-laki hedon. Penuturan ini fiktif belaka, hanya reka-reka. Gambaran fiktif ini sengaja kita buat, sebagai pelajaran hidup bagi kita semua, terutama anak-anak muda Muslim. Okeh…

===============================================================

Sebutlah nama pemuda itu Andre (maaf kalau ada kesamaan nama ya). Dia seorang eksekutif muda. Usianya sekitar 30 tahun, masih seger-segernya. Dia bekerja sebagai seorang manajer program entertainment sebuah stasiun TV. Dia diberi space khusus untuk mengisi acara TV di jam prime time. Isinya tentu acara entertainment yang mengundang banyak minat pemirsa, bisa acara film box office, acara komedi, acara reality show, acara idol mania, dll. Kebetulan, program yang dia kelola tentang bincang-bincang artis dengan suasana humor dan interaktif.

Andre tinggal di sebuah apartemen mewah yang sudah disediakan oleh stasiun TV. Letaknya tidak jauh dari kantor pusat TV itu. Di apartemen itu sudah ada layanan sempurna untuk laki-laki seperti Andre yang belum menikah itu. Jangan tanya soal ruang tidur, kamar tamu, dapur, dan sejenisnya; di apartemen itu ada kolam renang, fasilitas SPA, home theater (bebas milih film dari jenis apapun, dari yang paling sopan dan melodrama, sampai hardcore berlumuran darah ada), pijat relaksasi (dari jenis pijat kesehatan murni sampai plus-plus dengan terapi mesum), cafe, supermarket, dan seterusnya. Soal menu makan, Andre bisa memilih dan memesan menu makanan apa saja, jenisnya apapun yang dia minta (menu vegetarian, menu organik, sampai daging babi, daging anjing, jantung monyet, sampai empedu ular Cobra bisa dipesan). Di rumah Andre sendiri sudah ada mini bar, berisi koleksi minuman macam apa saja, dari soft drink, “moderate drink”, sampai Tequila dan Vodka, ada semua.

Soal layanan seks, tentu saja. Kalau seminggu tidak main seks, Andre merasa pusing. Untuk main seks, Andre harus nyediain uang minimal 10 juta untuk sekali main. Dia pilih-pilih cewek, harus yang cantik, sehat, tidak terkena penyakit HIV. Budget Andre itu termasuk kecil, sebab kalau mau main sama artis sinetron terkenal, sekali main bisa keluar 500 juta lebih. Lawan main seks Andre macam-macam. Ada mahasiswi yang berprofesi sebagai “ayam kampus”, ada anak SMP/SMA yang masih ingusan, ada cewek-cewek cantik yang nyari kerja ke kantor Andre (lalu disyaratkan kalau mau diterima kerja, harus tidur dulu sama dia), ada teman sekantor Andre sendiri, ada kekasih dia pemain sinetron yang dia janjiin mau dinikahi baik-baik, bahkan ada wanita-wanita yang sudah bersuami (Andre seneng juga main yang berbau selingkuhan begitu).

Andre termasuk tipe laki-laki yang sudah kehilangan keperjakaan sejak SMP. Itu bermula dari kebiasaan nonton BF dengan kawan-kawannya. Pengalaman seks ilegal pertama dia dengan pacarnya; setelah beberapa kali melakukan Andre ketagihan; tentu saja pacar korban pertama dia itu sudah dia campakkan. Kata Andre di masa remajanya: “Hidup ini harus berani mengambil risiko. Berani menikmati yang enak-enak, dan berani menginjak-injak orang lain. Cuma itu kiatnya, supaya kamu bisa hidup menyenangkan.” Dengan prinsip begini, Andre sudah punya banyak bekal untuk masuk ke Dunia Media; dunia dimana dia akan bertemu kawan-kawan yang paling mesum, paling tega hati, paling muak moral.

Andre tidak mau segera menikah. Sudah banyak orang menggodanya supaya cepat menikah. Tapi dia berprinsip, “Kalau gue nikah, ntar kebebasan gue terampas. Gue tidak mau pusing mikirin anak, mikiran bini. Gue pingin seneng-seneng dulu. Ntar kalau sudah tak kuat seneng-seneng lagi, gue bakal menikah. Gue bakal nyari perempuan berjilbab yang baik-baik. Itu juga kalau gue sudah mau tobat.” Seolah, dengan semua dunia having fun itu, Andre bisa mengatur kehidupan ini sesuka hatinya.

Hampir setiap bulan sekali Andre pergi ke luar negeri dengan anak buahnya. Kadang mereka bergantian ikut menemani Andre. Bagi anak buah cewek yang diajak ke luar negeri, dia harus siap-siap melayani badan Andre nanti di luar negeri. Maka itu dia selalu memilih anak buah yang cantik dan seger-seger. “Lumayan, bisa main seks gratis. Hemat anggaran,” kata Andre beralasan sambil cekikikan. Di luar negeri, selain ada urusan kerja, nyari bahan dan inspirasi tayangan entertainment yang dijamin laku dan dapat ratting selangit; Andre tentu tak lupa acara Dugem. Main ke diskotik-diskotik, minum-minum sampai mabuk, makan apa saja (yang tadi kita bilang, berbahan babi dan seterusnya), dan menjajal cewek-cewek luar negeri. Untuk sekali kunjungan ke luar negeri, Andre bisa mengeluarkan duit hingga 100 juta, dari kantong dia sendiri. Biar menghemat anggaran, untuk akomodasi dia numpang ke anggaran kantor. “Gue harus pintar-pintar ngatur duit, biar bisa terus seneng-seneng,” kata Andre jujur.

Baca entri selengkapnya »