Ciri Kehidupan Manusia Zaman Sekarang…

September 29, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah 3 ciri khas kehidupan manusia modern:

[1]. Hidupnya digunakan untuk mencari uang. Siapa saja pelakunya, dimana saja tempatnya, bagaimana saja caranya, pokoknya cari duit dan cari duit. Slogan yang sering diucapkan: “Time is money.”

[2]. Setelah mendapat uang, hidupnya diisi dengan acara senang-senang melulu, memuaskan hawa nafsu sepuas yang mereka mampu. Istilahnya, having funs. Slogan yang sering mereka ucapkan: “The life is too short, so play more!” (hidup terlalu singkat, maka bermainlah sebanyak-banyaknya).

[3]. Bertahan hidup agar bisa melakukan poin 1 dan 2. Cara bertahan hidup misalnya ikut fitness, jaga kebugaran fisik, rajin kontrol kesehatan, melakukan general check up setiap tahun, konsumsi makanan bergizi, memakai obat natural, ikut terapi ini dan itu. Juga menempelkan sticker “safety driving and riding” karena takut kecelakaan. Kalau ditanya, kenapa sih mesti ikut ini dan itu? Jawabnya: “Biar bisa terus cari duit dan senang-senang.”

Poin 1 dikenal dengan istilah MATERIALISM (hidup untuk cari duit). Poin 2 dikenal sebagai HEDONISM (hidup untuk senang-senang). Poin 3 dikenal sebagai SURVIVALISM (hidup untuk terus hidup).

“Selagi masih bisa….”

Siapa saja yang termasuk kelompok orang-orang ini…

Banyak ya. Para politisi Senayan, para pejabat birokrasi haus kuasa, para pengamat berjiwa selebritis, para elit politik, para komedian politik; para artis, pemain sinetron, gadis-gadis model, pemain boy band, vokalis band (yang kemarin baru keluar penjara itu), para komedian asli, para presenter TV, para model iklan (meat show profile); para bisnisman kapitalis, para eksekutif muda hedonis, para penyuka seks ilegal, para penyuka seks sejenis; para operator korupsi, makelar kasus, makelar proyek (cara-cara hitam), mafia, dan seterusnya; termasuk di dalamnya orang-orang yang menjadikan agama sebagai komoditi, apapun bungkus dan retorikanya.

Sayangnya, orang-orang gituan kini banyak menjadi social model di negeri kita. Masyarakat menjadikan mereka role model, lalu meniru, mengagumi, hingga menangis haru untuk manusia-manusia begituan.

Padahal Al Qur’an sudah berbicara tentang manusia-manusia semodel itu…

7:179

“Dan sungguh Kami akan memenuhi neraka jahannam itu dengan kebanyakan dari manusia dan jin. Mereka memiliki hati-hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka memiliki mata-mata, tetapi tidak digunakan untuk mendengar; mereka memiliki telinga-telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [Al A’raaf: 179].

Kami ingin memberikan nasehat kepada kaum Muslimin, kepada orang-orang beriman:

“Hendaklah Anda semua selalu istiqamah di jalan Islam ini; jangan lemah, jangan putus asa, jangan gentar hati melihat kelakuan manusia-manusia aneh di sekitar Anda. Mereka telah menempuh jalannya, dan kita pun menempuh jalan kita. Mereka didukung oleh kekuatan sekuler, hedonis, jahiliyah; tetapi kita didukung oleh ALLAH Rabbul ‘Alamiin, Sang Penguasa langit dan bumi. Sulitnya hidup kita di zaman ini adalah ujian keimanan semata. Bersabarlah, bersabarlah, dan bersabarlah melihat kelakuan manusia-manusia yang kelak akan binasa itu. Kesabaranmu akan menjadi hujjah bagi Rabb-mu untuk menasehati manusia-manusia yang lalai itu.”

RAHASIA: Orang-orang yang hidupnya untuk mencari duit dan senang-senang itu, wallahi sungguh mereka tidak pernah mendapatkan bahagia sebenarnya. Apa yang mereka dapat hanya kepalsuan dan kegembiraan artifisial saja. Pada hakikatnya jiwa mereka merana, hati mereka gelisah, nurani mereka meronta. Apa yang mereka klaim sebagai jalan bahagia itu, ternyata hanya kepalsuan belaka. “Wa man yata’adda hududallah faqad zhalama nafsah” (dan siapa yang melanggar batas-batas Allah, sejatinya dia telah menganiaya dirinya sendiri). [At Thalaq: 2]

Demikian, semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran. Amin.

Mine.


Manusia dari Kaleng…

Februari 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seorang kawan bercerita. Dia kini punya kantor resmi di Jakarta. Bukan sekedar kerja biasa, tetapi dia punya saham di kantor itu. Dia sudah dianggap masuk jajaran “Dewan Direksi”. Pemilik saham terbesar orang-orang China (lokal). Umumnya beragama non Muslim.

Dia biasanya kerja lapangan, sebagai peneliti, surveyor, dan lainnya. Namun kemudian harus sering ngetem di kantor, berdampingan dengan para bos. Saya pernah bertanya, “Apa bos-bos itu tidak memaksakan gaya hidupnya?” Apalagi mereka kan non Muslim. Singkat kata, pengaruh itu ada, tetapi kata kawan, dia masih bisa mengeliminir pengaruh buruknya.

Dari obrolan ini, dia tahu gaya hidup kawan-kawan kantornya yang memang tergolong level eksekutif muda. Sekali lagi, mereka non Muslim. Kawan saya itu tentu diajak-ajak “mencicipi” gaya hidup itu, tetapi dia dengan sopan menolak. Kawan saya selalu beralasan “ingat anak-isteri di rumah”.

Hidup Seperti Robot. Ada Raga, Namun Tiada Jiwa.

Salah satu gaya hidup yang diceritakan. Di antara eksekutif muda itu, kalau habis capek kerja, mereka datang ke tempat SPA. Disana dia dipijit dari ujung rambut sampai ujung kaki; dalam keadaan “tanpa sehelai benang”. Yang melakukan pemijitan itu cewek-cewek cantik. Biasanya sekali masuk SPA tarif mencapai Rp. 250.000 (setara dengan honor kalau aku mengisi bedah buku. He he he). Durasi SPA itu selama 2 jam.

Setelah dipijit-pijit secara sempurna, tentu termasuk selangkangan juga. Laki-laki eksekutif itu lalu diberi “sentuhan spesial” (baca: masturbasi). Setelah mencapai puncaknya… Lalu dia istirahat. Katanya, setelah semua proses itu, badannya merasa segar dan ringan kembali. (Heran juga ya, kok bisa badannya jadi segar bugar? Tidak terbalik tuh?).

Kawan saya kalau dipijat dengan cara refleksi, oleh pemijat tunanetra. Tentu saja laki-laki. Dan tidak ada sentuhan-sentuhan seks-nya. Tapi eksekutif muda di atas dan yang semisalnya tidak puas sekedar dipijat saja. Harus ada plus-plus-nya… Ya begitulah kaum hedonic mania!

Malah katanya, bisa lebih parah dari itu. Bisa mengarah ke model pelacuran, meskipun cover-nya layanan SPA. Maka harus hati-hati terhadap layanan seperti ini. Termasuk bagi kaum wanita. Harus pilih-pilih secara teliti.

Tapi ada satu hikmah yang menarik…

Nah, untuk itu pula, saya sengaja menulis artikel ini.

Kalau dilihat dari sisi moral, para eksekutif itu jelas bobrok, rusak, dan  mengerikan. Ya, namanya manusia yang sehat, benar, dan bermoral, sudah semestinya menghindari hal-hal tercela seperti itu. Bukan hanya soal SPA oleh perempuan, masturbasi, hingga seks pelacuran. Tetapi semua itu sudah menjadi gaya hidup, dan ingin ditular-tularkan ke orang lain.

Di atas budaya hidupnya yang rusak itu, TERNYATA…ini harus benar-benar kita camkan…orang-orang itu memiliki skill kerja, pengetahuan, pengalaman, dan keahlian. Bisa jadi, kemampuan SDM yang mereka miliki, melebihi kemampuan orang-orang shalih (aktivis Islam).

Inilah yang membuat kita sangat MIRIS…

Ternyata, di balik kebobrokan moralnya itu, mereka memiliki kemampuan, keahlian, dan pengalaman kerja. Kalau mereka bobrok moral plus letoy kerja, mungkin kita bisa memaklumi, “Ya maklumlah, mereka bobrok!” Tapi ternyata, mereka punya keahlian juga.

Disini kita dapati sebuah kenyataan yang bisa disebut “sindrom manusia kaleng”. Maksudnya, ada sekumpulan manusia yang punya keahlian, kecakapan, dan pengalaman kerja; tetapi moralnya bobrok. Diri mereka seperti sebentuk tubuh terbuat dari kaleng. Fisiknya ada, berdiri kokoh, dan bisa jadi pintar. Tetapi jiwanya kosong, moralnya rusak, hati nuraninya “mati”.

Anda masih ingat sebuah “tragedi kemanusiaan” yang terjadi di China beberapa waktu lalu. Ketika itu ada anak kecil tertabrak kendaraan, lalu dibiarkan saja oleh manusia yang lalu-lalang di jalan. Nah, seperti itulah “sindroma manusia kaleng”. Fisiknya ada, kehidupan ada, tetapi nurani mati.

Banyak pejabat, politisi, perwira, tokoh publik, artis, dll. mereka juga terkena “sindroma manusia kaleng” itu. Fisiknya ada, kaya raya, terkenal, bahkan cantik dan tampan; tetapi hati nurani lenyap, moral bobrok, kesantunan diri nihil. Mereka disebut dengan istilah “mayat hidup” gentayangan. Fisik masih hidup, tetapi jiwa sudah mati. Makan-minum jalan terus, tetapi ekspressi hati nurani tidak ada.

Di zaman modern, banyak manusia-manusia kaleng itu. Mereka memiliki raga, tanpa jiwa. Mereka hidup, padahal hakikatnya “mati”. Kehidupan modern membuat mereka menjauhi hakikat agama, dan terjerumus memuja hawa nafsu. Akibatnya fatal, mereka hanya memiliki kehidupan fisik belaka, tanpa reputasi kebaikan insani.

Na’udzubillah wa na’udzubillah bi izzatillahil karim min kulli dzalika, wa ilallahi nas’alul ‘afiyah lid dina wad dunya wal akhirah. Amin Allahumma amin.

Mine.


Mau Kemana Ya Hidup Ini…

Juli 9, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Kalau kita melihat kehidupan riil masyarakat kita, isinya lebih didominasi khabar-khabar duka cita daripada khabar gembira. Mengapa demikian? Ya, karena kesulitan hidup itu sudah merajalela dimana-mana. Orang-orang yang menjerit, berkeluh-kesah, bertengkar, stress, terlibat konflik, bahkan -maaf- hilang ingatan; sudah bukan kenyataan aneh lagi. Dimana-mana ada hal seperti itu.

Kesulitan ekonomi merupakan pemicunya. Ada ungkapan, “Kalau urusan asap dapur berguncang, sampai urusan ranjang pun akan berguncang.” Artinya, dari masalah ekonomi efeknya merembet kemana-mana. Sejak tahun 80-an, Soeharto ingin dijatuhkan oleh Barat, tetapi selalu gagal. Maka tahun 1997, Soeharto dihantam oleh Krisis Moneter. Terbukti, dalam waktu kurang dari setahun, Soeharto jatuh. Padahal semula dia diklaim sebagai “orang kuat” di Asia. Kalau jaman sekarang ya semodel Hugo Chaves atau Fidel Castro.

Lihatlah, gara-gara kesulitan ekonomi, kekuasaan politik Soeharto ambruk. Begitu pula, akibat kesusahan ekonomi, banyak keluarga-keluarga di Indonesia berantakan. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa ahlina jmai’an. Amin.

Ketika Hidup Terasa Begitu Buntu...

Sebenarnya, kehidupan manusia tidak harus kandas karena masalah EKONOMI. Namun persoalannya, kehidupan kita telah di-setting sedemikian MATERIALIS. Dalam segala sisi, mulai sektor pendidikan, jasa, konsumsi, kebudayaan sosial, pemikiran, politik, ilmu pengetahuan, sampai urusan agama; telah sedemikian rupa DIMATERIALISASIKAN. Bahkan yang disebut peradaban jaman modern sebenarnya adalah: materialisasi absolut!

Bayangkan saja, kita mengenal istilah Prinsip Ekonomi. Apa isinya? “Berusaha dengan modal sekecil-kecilnya, untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya.” Prinsip ini kan jelas-jelas telah mempertuhankan materi. Prinsip ini benar-benar G.I.L.A !!!

Dalam Islam diajarkan, “Wa laa ta’kulu amwalakum bainakum bil bathili, illa antakuna tijaratan antaradhin minkum” (jangan kalian makan harta sesama kalian dengan cara bathil, kecuali atas perniagaan yang saling ridha/sinergi di antara kalian). Betapa bedanya prinsip sinergi ini dengan prinsip ekonomi. Kalau Islam mengajarkan kerjasama mutualisme, sementara prinsip ekonomi justru mengajarkan sikap saling terkam dan habisi. Masya Allah.

Nah, inilah masalah utamanya. Kehidupan kita telah dibuat sedemikian MATERIALIS, sehingga kita begitu bergantung ke materi (uang). Akibatnya ketika urusan ekonomi diguncang, maka terguncang pula kehidupan kita. Dan hal ini nanti relevan dengan konspirasi Zionis untuk menumpuk cadangan emas, lalu membuat kekacauan ekonomi dimana-mana. Dengan cadangan emas di tangan, mereka bisa leha-leha, tak pernah takut terkena krisis ekonomi.

Dalam situasi demikian, yang paling menyesakkan dada ialah, ketika mayoritas masyarakat enggan diajak berjuang memperbaiki keadaan. Mereka tidak mau berjuang dengan alasan: berjuang itu tidak menghasilkan duit, hanya menyita tenaga-pikiran. Mereka baru mau berjuang kalau ada duitnya, ada untungnya. Kasihan sekali!

Jadi masyarakat kita itu seperti anak-anak ayam yang kebingungan. Satu sisi, mereka merasakan sekali betapa susah dan perihnya kehidupan saat ini. Kemudian mereka juga tahu, bahwa untuk berubah dibutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras. Tetapi kemudian mereka tidak mau terlibat dalam perjuangan itu. Tangan mereka tak mau berdebu karena perjuangan. Mereka bersikap seperti Bani Israil. Bani Israil ingin masuk Palestina, tetapi menyuruh Musa As dan Allah Ta’ala berjuang sendiri. Ina lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Lalu masyarakat sendiri bagaimana? Perjuangan apa yang mereka sukai dan bela dengan sepenuhnya?

Ya itulah: nonton TV, main HP, dan menghabiskan waktu percuma dengan FB. Inilah gaya hidup masyarakat kita, termasuk kaum Muslimin.

Jadi, kehidupan sudah susah dengan segala problem, karena masalah ekonomi. Kemudian hal itu diperparah dengan mentalitas phobia berjuang. Tidak mau, emoh, muak, untuk berjuang mengubah keadaan. Mereka emoh, karena sehari-hari jiwanya diguyur oleh tontonan-tontonan hedonis di TV, ponsel, internet, dan seterusnya. Benar-benar masyarakat yang memuja nafsu, memuja kesenangan, minim militansi dan gerak perubahan.

Mau dibilang kasihan, ya kasihan. Tetapi kita tak berdaya. Masyarakat memang hidup susah, tetapi susah yang dibuat sendiri, lantaran tidak mau berjuang, bekerja keras, mengubah keadaan.

Di titik itulah kondisi kaum Muslimin Indonesia, saat ini. Masyarakat kita berada dalam kebingungan besar, dan tak tahu harus berbuat apa. Tetes-tetes air mata terus berjatuhan di pipi; keluh kesah dan jerit tangis, tiada putus menghiasi siang dan malam; wajah-wajah putus-asa mudah ditemui di sepanjang jalan dan tempat. Namun, untuk keluar dari semua JERATAN KEHIDUPAN ini, tiada daya. Hati ingin segera pergi dari semua kesusahan, tetapi tapak kaki tak mau beranjak. Persis seperti keadaan seorang manusia yang biasa meninggalkan Shalat. Hati kecilnya meronta, merasa berdosa, bersalah, dan sangat gelisah, karena tidak menjalankan Shalat. Hanya sayangnya, diri orang itu tidak tergerak sedikit pun untuk menyentuh air wudhu, menggelar sajadah, atau memakai kopiah.

Masyarakat kita kini berada dalam kebingungan besar. Mereka tidak tahu, harus bagaimana menjalani hidup ini? Hendak kemana mereka melangkah? Mau berjalan maju takut diterkam binatang buas; mau berjalan mundur, takut jatuh ke jurang; mau diam saja, takut tertimpa batu meteor; mau maju-mundur-dan diam, takut tertimpa ketiga bahaya itu sekaligus; mau berpikir, takut stress; mau diam tak berpikir, takut kerasukan jin; mau setengah berpikir dan setengah diam, takut menjadi gila karena tidak memiliki kejelasan sikap.

Maka Allah Ta’ala memberikan solusi, ANDAIKAN MEREKA MAU MENERIMA. “Wa man yakfur bit tha-ghuti wa yu’min billahi, faqadis tamsaka bil ‘urwatil wuts-qa lan fishama laha” [dan siapa yang kufur terhadap thaghut (segala sesembahan selain Allah) lalu dia beriman tauhid kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada tali (agama Allah) yang sangat kuat yang selamanya tak akan putus. Al Baqarah: 256].

Kini silakan tinggal pilih jalanmu. Siapa yang suka, berimanlah kepada Allah Azza Wa Jalla, dan siapa yang suka, silakan ingkar. Allah Ta’ala Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan amal-amal manusia. Andaikan semua manusia menjadi shalih, hal itu tak akan menambah Kemuliaan Allah, sebab Dia sudah Mulia sejak sedia kala. Andaikan semua manusia durhaka, hal itu tak akan mengurangi Kemuliaan-Nya sedikit pun; Dia sudah Mulia, tak akan berubah Kemuliaan-Nya karena kedurhakaan manusia. Demikianlah, amal-amal baik itu hakikatnya adalah untuk diri manusia sendiri.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Depok, 9 Juli 2011.

AMW.


Pahami Makna “Agama”!

Juli 28, 2010

Bismillahirahmaanirrahiim.

Akhir-akhir ini saya kebanjiran komentar-komentar keras dari para pendukung Gusdur. Di antara komentar itu ada yang langsung dibuang, karena terlalu sarkastik. Mereka marah dengan terbitnya buku, “Cukup 1 Gusdur Saja“, yang terbit beberapa bulan lalu.

Tetapi anehnya, mereka tidak pernah marah ketika kehormatan Islam diinjak-injak oleh Gusdur selama puluhan tahun. Seolah, di dunia ini, Gusdur boleh secara bebas menghina Islam, lalu kita dilarang 100 % menyampaikan pembelaan atas kehormatan Islam. Masya Allah, itulah “sikap adil” yang diyakini oleh orang-orang ini. Allahu Akbar!!!

Dalam buku itu, alhamdulillah -dengan segala pertolongan Allah Ta’ala- saya membantah secara telak pemikiran-pemikiran dominan Gusdur. Buku itu sangat telak, sehingga bila saya sendiri membacanya lagi, rasanya masih tercenung. Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya kepada Allah jua.

Saya sarankan, para pembaca supaya membaca buku itu. Masya Allah, rasanya beda dibandingkan buku-buku saya lainnya. Kalau tidak mampu beli, silakan pinjam milik teman. Kebetulan, saat ini ada promo buku murah dari penerbit. Silakan cari di link ini: Download Katalog Buku Super Murah. Harga yang ditawarkan penerbit, Rp. 15.000,-. Setengah dari harga semula.

Semua manusia pasti memilih "agama". Terserah, apakah agama itu berbentuk, atau tidak berbentuk.

Metode yang saya gunakan dalam menulis buku itu, antara lain: (1) Menyampaikan fakta kejadian seperti apa adanya, seperti yang dimuat oleh media-media massa, baik umum maupun media Islam. (2) Membuat analisis kejadian itu sesuai timbangan Islam, baik melalui analisis Al Qur’an, As Sunnah, kaidah fiqih Islam, kaidah akidah Islam, dan pendapat tokoh-tokoh Muslim. (3) Tambahan, berupa analisis politik dan sosial.

Ketika para pemuja Gusdur marah-marah, hal itu mengingatkan kita pada suatu persoalan prinsip: Sejauhmana kita memahami konsep agama Islam ini? Mengapa harus marah ketika ditunjukkan kebenaran dengan dasar analisis fakta, Kitabullah, dan As Sunnah?

Berikut ini saya sampaikan runutan pokok-pokok pemikiran seputar makna agama yang selama ini kita anut.

[1] Agama, berasal dari a-gama. Kata orang, arti a-gama adalah tidak kacau. Orang beragama, agar hidupnya tidak kacau. Tetapi yang dimaksud disini adalah agama sebagai religion atau din.

[2] Dalam pemahaman formal, yang dinamakan agama ya seperti Islam, Nashrani, Yahudi, Zoroaster, Hindu, Budha, Konghuchu, dll. Pokoknya yang dikenal sebagai nama-nama agama formal di dunia. Tetapi pandangan ini kurang memuaskan, sebab banyak manusia menjalani kehidupan di luar aturan-aturan agama, tetapi mereka tidak mau disebut atheis.

[3] Bertrand Russel, seorang ahli Fisika sekaligus filosof matarialis modern, dia pernah mengatakan, bahwa: “Atheisme sebenarnya agama juga.” Pernyataan ini sangat menarik. Atheisme disebut agama, padahal mereka mengaku sangat anti agama. Seolah Bertrand Russel ingin mengatakan, “Orang yang ‘anti agama’, hakikat agama mereka ya sikap ‘anti agama’ itu.”

[4] Sebagian orang mengklaim, “Saya tidak percaya kepada doktrin-doktrin agama. Saya lebih percaya pada akal bebas, free thinking. Tidak ada dogma, yang ada adalah kebebasan berpikir.” [Komentar: Berarti agama orang itu, ya kebebasan berpikir itu sendiri. Dia tidak boleh marah, kalau manusia yang lain memilih “ketidak-bebasan berpikir”]. Kemudian ada yang mengklaim, “Bagi kami agama itu adalah rasio. Apa saja yang sesuai rasio, itulah agama kami. Rasio adalah tuhan bagi kami.” [Komentar: Berarti, agama mereka adalah agama rasio itu sendiri, sebab mereka mau terikat dengan aturan yang mendewa-dewakan rasio. Sebaliknya, mereka tidak boleh marah kepada orang yang mengagungkan ajaran “non rasio”]. Ada lagi yang lain, “Sudah, sudah, sudah. Semua ini omong kosong. Saya tidak percaya nilai apapun, saya tidak percaya kebenaran. Saya tidak percaya apapun. Saya memilih jalan hidup kosong, nihil, tanpa nilai apapun.” [Komentar: Nah, dia juga beragama dengan nihilisme-nya itu. Iya kan? Dia memuja tuhan “kosong”, tuhan “nilai nol”, tuhan “tanpa nilai”. Iya kan]. ===> Singkat kata, manusia itu makhluk IDEOLOGIS. Mereka mau memilih apapun, itulah agamanya. Jadi, pada hakikatnya tidak ada manusia yang tak beragama.

[5] Misalnya, kalangan Freemasonry. Mereka menyembah setan, memuja sihir, memuja baphomet, memiliki ritual tersendiri, membangun gerakan rahasia, memiliki aturan-aturan, pro Zionis, dll. Katanya, mereka punya missi menghapuskan semua agama yang ada. Nah, itulah agama mereka. Itulah ideologi dan jalan hidup mereka. Mereka adalah pemeluk agama, Freemasonry. Biarpun mereka mau jumpalitan gak karu-karuan, tetap saja mereka adalah pemeluk agama, yaitu agama Freemasonry.

[6] Agama di dunia ini dibagi 3: (1) Dinul Hanif yaitu AL ISLAM, yang meyakini Ke-Esaan Allah dan taat kepada Syariat Nabi Saw. (2) Dinul Ahlil Kitab, yaitu Yahudi yang berpegang kepada Taurat, dan Nashrani yang berpegang kepada Injil. (3) Dinul Musyrikah, agama kemusyrikan, yaitu agama-agama apapun selain Islam, Yahudi, dan Nashrani. Baik yang punya bentuk formal, atau merupakan madzhab pemikiran.

[7] Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang sering dibaca oleh para khatib, “Huwalladzi arsala Rasulahu bil huda wa dinil haq, li yuzh-hirahu ‘alad dini kullihi” (Dialah -Allah- yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Dia menangkan agama itu atas segala agama). Kata-kata ‘alad dini kullihi, seolah memberikan pengertian, bahwa agama yang dipeluk manusia itu banyak. Tidak hanya Islam, Yahudi, dan Nashrani saja. Selain Ahli Kitab, juga banyak PAGANISME  dengan segala macam cabang-cabangnya. Bahkan tidak berlebihan jika Bertrand Russel menyebut atheisme sebagai agama juga. PKI adalah kaum beragama juga, tetapi agamanya di atas keyakinan: menolak Tuhan, membenci agama formal, meyakini sistem sosial tanpa kelas, dst.

[8] Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Ilah (Tuhan), itu adalah segala sesuatu yang dicintai, ditaati, dan mendominasi hidup seseorang. Apapun yang dicintai lahir-batin, ditaati aturannya, diagungkan simbolnya, ia adalah Ilah. Hingga Al Qur’an menyebut suatu kaum yang mempertuhankan hawa nafsunya sendiri. (Al Jatsiyah, 23).

[9] Anak-anak muda hedonis, berkata dengan angkuh, “Hidup ini adalah kesenangan. Selagi masih hidup, habiskan untuk senang-senang. Gak usah ibadah bro, gak usah bersujud. Sudah happy-happy aja terus. Hidup ini kesenangan, bro. Jangan mau tertipu oleh ceramah ustadz-ustadz. Ayo bro. Jangan munafik. Ayo seneng-seneng. Cewek, miras, narkoba, judi, diskotik, hayo apa saja yang bikin lu seneng.” Nah, ini pemeluk agama juga. Agama hedonisme, agama memuja hawa nafsu. Ritual mereka ya seneng-seneng itu. Prinsip agama mereka, ya seperti perkataan itu.

[10] Liberalisme, Gusdurisme, SEPILIS-isme, dll. juga bagian dari agama. Mereka memiliki pemikiran, tokoh, sikap, dan simbol-simbol. Mereka penganut agama juga, meskipun secara label KTP tertulis Islam. Semua ini agama juga, hanya para pelakunya tidak sadar-sadar.

[11] Kalau penganut Gusdurisme itu berdiri di atas ajaran Islam, bukan sekedar berlabel KTP Muslim, mereka pasti akan rujuk dengan Syariat Islam dalam memandang segala sesuatu. Kalau Nabi mereka adalah Nabi Muhammad Saw, yang katanya sangat mereka harapkan syafaat beliau, pasti mereka akan menghormati Sunnah Nabi. Kalau Kitab Suci mereka Al Qur’an, mereka pasti akan mengutuk ucapan Gusdur yang sangat hina dan keji itu. Kalau fiqih mereka adalah fiqih Islam, misalnya mengambil madzhab Imam Syafi’i, mereka pasti murka jika ada tokohnya yang bermesraan dengan Yahudi. Nah, itulah masalahnya. Orang-orang itu mengaku Islam, tetapi tidak memahami konsep paling mendasar dari ajaran Islam. Sebaliknya, mereka tak mau disebut sebagai penganut Gusdurisme, tetapi bukti-bukti di lapangan menunjukkan hal itu.

[12] Terakhir, dalam Surat Al Isra’ dikatakan, “Faqul ja’al haqqa wa zahaqal bathila, innal bathila kaana zahuqa” (Katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan hancurlah kebahilan, karena kebathilan itu pasti hancur). Islam pasti dimenangkan oleh Allah menghadapi semua agama yang ada di muka bumi ini. Itu pasti. Hanya saja, ketika Islam tidak memiliki pelindung, berupa Daulah Islam atau Khilafah Islam, kekuatan agama ini tidak tampak, selain seperti cahaya kunang-kunang di malam hari. Cahaya-nya indah, kelap-kelip, tapi tak bisa menerangi malam.

[13] Kelak di Akhirat, semua manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar. Ketika itu muncul aneka rupa bendera, sesuai dengan banyaknya aliran, agama, ideologi yang dianut manusia di dunia. Setiap orang akan menggabungkan diri dengan salah satu dari bendera itu. Para pengikut Rasulullah Saw akan berdiri di belakang beliau. Maka saudaraku, hati-hatilah Anda dalam memilih bendera ketika hidup di dunia ini. Pilihlah bendera Sayyidul Mursalin, Muhammad Rasulullah Saw!!!

Maka disini, kita memohon kepada Allah Ta’ala Ar Rahmaan Ar Rahiim, agar:

Dia memberi hidayah kepada para pemuja Gusdur itu, menunjuki jalan mereka ke jalan yang lurus, memimpin mereka keluar dari kegelapan, memberikan kepada mereka cahaya, agar bisa berjalan di muka bumi di atas al haq. Jika tidak demikian, semoga mereka diam, bersikap pasif, dan dicegah dari segala perbuatan yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Semoga Allah menahan lisan, tangan, dan perbuatan mereka dari kejahatan-kejahatan. Jika yang demikian pun tidak dikabulkan, ya kita pasrahkan mereka sepenuhnya ke Tangan Allah Ta’ala. Biarlah Allah memperlakukan mereka, sekehendak-Nya.

Rabbana, inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal ‘akhirah. Allahumma amin, wa shallallah ‘ala rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Krisis Militansi Pemuda Islam

November 21, 2009

Bismillahi Allahu Akbar.

Apalah artinya suatu masyarakat, tanpa peranan para pemuda? Bagaimana agama akan tegak berdiri menatap segala tantangan, tanpa peranan pemuda? Mungkinkah Islam akan sampai ke hadapan kita, tanpa peranan pemuda? Betapa besar posisi para pemuda dalam kebangkitan. Tidak ada khilaf lagi.

Kalau ingin melihat masa depan sebuah masyarakat; kalau mau melihat masa depan sebuah bangsa; kalau mau menyaksikan eksistensi agama di masa nanti; kalau mau menyaksikan kemegahan sebuah peradaban; lihatlah semua itu dengan parameter keadaan para pemuda di hari ini. Bagaimana keadaan mereka? Menggembirakankah atau sangat mengecewakan?

Pemuda memiliki sifat istimewa dibandingkan generasi-generasi lainnya, yaitu MILITANSI-nya. Mereka bersemangat besar dalam beramal; mereka memiliki fitrah bersih untuk menolong kebenaran dan membela keadilan; mereka memiliki kekuatan berkorban, tanpa pamrih; mereka memiliki ketulusan hati, tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan sempit, baik uang, wanita, atau kekuasaan. Justru, sifat-sifat baik inilah yang selalu dilekatkan kepada para pemuda. Mereka disebut pemuda karena memiliki militansi tinggi, rasa pengorbanan kuat, optimisme menyala-nyala, serta ruh kebangkitan mengharukan.

Militansi tidak identik dengan aksi-aksi serangan bom disana-sini, atas nama jihad melawan Amerika. Militansi juga tidak selalu diterjemahkan sebagai kemampuan konflik, terlibat battle, sampai berdarah-darah. Militansi adalah kesiapan diri bekerja dan berkorban membela kebenaran yang diyakini. Militansi dalam Islam bisa dimaknai sebagai MUJAHADAH.

Contoh amal-amal yang mencerminkan militansi seorang Muslim, misalnya:

[o] Datang ke Masjid untuk mengajar Al Qur’an kepada anak-anak, meskipun jarak cukup jauh, meskipun hari sedang hujan, meskipun saat tiba di Masjid tidak ada satu pun anak yang dijumpainya.

[o] Pulang dari Masjid sambil telanjang kaki, karena sandal yang dipakainya diambil orang, dengan tidak ada niatan dalam hati untuk mengambil sandal orang lain.

[o] Menyerahkan sisa uang di tangan untuk orang lain yang sangat membutuhkan, meskipun dirinya sendiri juga membutuhkan.

[o] Tidak malu berjualan kalender di pinggir jalan raya, untuk mengumpulkan dana bagi rumah perlindungan anak yatim.

[o] Mengendarai motor dalam keadaan hujan deras, demi meyampaikan bulletin ke tangan pembaca, sesuai jadwal terbitnya.

[o] Menempuh perjalanan berkilo-kilo meter sambil jalan kaki, untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat.

[o] Menyelesaikan tugas yang diamanahkan, meskipun harus bergadang sepanjang malam, sambil tubuh terhuyung-huyung menahan kantuk.

[o] Menepati janji, mengingat-ingat janji, sekalipun untuk hal-hal yang kecil.

[o] Tekun dan sabar menjalankan tugas yang berulang-ulang, meskipun hanya berupa menyapu lantai Masjid setiap sore hari. (Bukan kecilnya pekerjaan yang dilihat, tetapi konsistensinya mengerjakan tugas itu).

[o] Menolak pekerjaan yang mengkhianati Ummat. Atau menolak menerima suap, meskipun resikonya harus keluar meninggalkan pekerjaan.

[o] Berani meninggalkan penghasilan besar, demi terjun dalam urusan-urusan pelayanan Ummat. Dan tidak menangisi hilangnya penghasilan itu, ketika suatu hari hidupnya terpuruk dalam kesulitan.

[o] Bersikap solider kepada sahabat. Tidak menciderai hak-hak sahabat, menolongnya dalam kesusahan, menemaninya dalam keterasingan, menghiburnya dalam kesedihan. Berani mengakhirkan kepentingan diri demi kebaikan sahabat.

[o] Berani melindungi kehormatan Islam, ketika ada yang terang-terangan meghina simbol-simbol syi’ar Islam.

[o] Mengorbankan uang yang dimiliki untuk kepentingan Islam, dengan tidak mengingat-ingat kembali pengorbanan itu.

[o] Teguh menjaga amanah-amanah Ummat, sekalipun mengalami berbagai kesulitan dalam menjaga amanah tersebut.

[o] Membela hak hidup seorang Muslim yang terancam bahaya, meskipun jiwanya sendiri terancam.

[o] Menjaga kehormatan wanita, tidak menghinakannya, meskipun dengan cara-cara yang diminta sendiri oleh wanita itu.

[o] Berani membela orang-orang yang terzhalimi, sekalipun berhadapan dengan jaringan “mafia” yang memiliki kekuatan besar.

[o] Menghormati kaum tua, bersikap sopan kepada mereka, tidak merendahkan mereka, meskipun dirinya di atas kebenaran. (Kecuali kepada kaum tua yang telah terkenal kezhaliman dan kesesatannya).

[o] Jelas dalam meyakini suatu pendapat, terbuka dalam berdiskusi, berani mengakui kesalahan diri, serta tidak menzhalimi orang-orang lemah.

Al Qur’an menggambarkan militansi seorang pemuda, yaitu Nabi Yahya عليه السّلا م. Beliau tidak gentar menghadapi para tiran, meskipun resikonya adalah kematian. Beliau lembut hati, sehingga dicintai para makhluk, termasuk binatang-binatang. Begitu juga dengan pemuda-pemuda Al Kahfi. Mereka adalah orang-orang terpandang di kaumnya, namun rela meninggalkan gemerlap kehidupan demi membela keyakinan. Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Mush’ab, Sa’ad, dll.رضي الله عنهم    adalah para pemuda Mukmin yang tangguh di awal Islam. Mereka menjadi pilar kebangkitan agama ini.

Teringat ungkapan heroik dari seorang tokoh dakwah di Mesir. Beliau rahimahullah pernah mengatakan, “Datangkan kepadaku 5 orang pemuda Islam yang tangguh, maka dengan mereka aku akan menaklukkan dunia!”

Namun Saudaraku… Namun saat memandang realitas masa kini, kita seperti terpana. Kita seperti memandang sesuatu yang menakjubkan.

Saat menyaksikan wajah pemuda-pemuda Islam jaman sekarang, seketika hati kita diliputi berbagai kesedihan. Dada bergemuruh menahan beban kecemasan besar. Lisan pun tak henti-hentinya mengucapkan…astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah al ‘Azhim.

Ya Allah ya Rabbi, harapan kepada para pemuda itu begitu tingginya, tetapi kehidupan mereka sangat jauh. Mereka bukan hanya tidak mengenal kata militansi; bahkan mereka telah menjadi bagian terbesar dari budaya hedonisme yang merajalela saat ini. (Di dunia hedonisme, tidak dikenal istilah Tuhan. Tuhan mereka adalah kesenangan itu sendiri). Para pemuda telah memindahkan kata militansi dari kamus perjuangan dipindah ke kamus budaya permissif. Mereka ridha menjadi hamba hedonisme. Mereka rela menjadi sekrup-skrup mesin Kapitalisme, dengan segala loyalitas dan kemampuan yang dimiliki. Allahu Akbar!!!

Pemuda-pemuda hari ini bertingkah sangat mengecewakan. Mereka berbangga dengan bedak, lotion, cream, SPA, dan perawatan salon. Dari kaki sampai ujung rambut, mereka senang memamerkan merk-merk terkenal. Tubuhnya selalu wangi, berbangga dengan bilangan jumlah mandi setiap setiap hari. Mereka muntah mencium aroma keringat dari medan perjuangan. Mereka mengejek pakaian sederhana, meremehkan sandal jepit, membuang muka dari rambut kusut. Justru para pemuda itu menjadikan para banci sebagai idola. Takut melihat ular. Selalu mencari aman. Tidak mau menetes keringatnya, karena takut kehilangan “kecantikan”.

Potret Pemuda Masa Kini. Sebagian Besar Muslim.

Pemuda di hari ini menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang tidak jelas. Di setiap sakunya ada HP, dengan merk berbeda-beda. Sangat hobi berfoto-foto, untuk menampakkan kegenitan diri. Tiada hari tanpa SMS romantis; tiada hari tanpa “taushiyah” berujung cinta; tiada hari tanpa meng-up date status di facebook; tiada hari tanpa diskusi sia-sia di forum internet (diskusi tanpa hasil, tanpa perubahan); tiada hari tanpa menghabiskan umur percuma.

Saat pagi mereka bangun, komik, novel romantis, dan majalah life style sudah menanti. Saat Dhuha sebelum keluar rumah, mereka berpantas-pantas diri di depan cermin, lebih satu jam. Saat siang bertemu kawan-kawan, segala obrolan tentang kesenangan dan menghabiskan umur, habis mereka telan. Saat sore, ketika mulai lelah, mereka buka media-media pornografi. Saat petang menjelang malam, nongkorng di kafe-kafe. Saat malam telah sempurna, mereka berduyun-duyun mendatangi arena-arena konser musik. Saat merebahkan badan di tempat tidur, mereka berfantasi hal-hal yang mesum. Ketika pagi bangun kembali, mereka siap mengulang-ulang “ibadah hedonisme” seperti itu.

Pemuda hari ini rupanya akan segera meniti jejak pemuda-pemuda sebelumnya. Mereka hidup, berjalan-jalan kesana-kemari sebagai raga tanpa jiwa, sebagai diri tanpa missi, sebagai hidup tanpa karya. Mereka hendak meniti sunnah orang-orang hina, menjalani hidup sekedar menghabiskan umur. Pembicaraan manusia seperti itu tidak lepas dari 3 urusan saja: cari uang, makan-minum, dan bersenang-senang. Dirinya dianugerahi kebaikan yang luas, tetapi disia-siakan. Masya Allah.

Pemuda hari ini bukanlah pemuda yang memiliki missi besar, yang berpandangan jauh ke depan, yang bertanggung-jawab memikul amanah peradaban Islam, yang siap meletakkan hidupnya sebagai sebuah bata di antara ribuan bata konstruksi kehidupan Islami. Pemuda hari ini bukanlah mereka yang berjalan meniti lintasan perjuangan para pendahulu Salaf yang shaleh. Mereka justru terkurung dalam penjara-penjara budaya syahwat yang diciptakan Yahudi. Mereka terpenjara dalam lautan hedonisme yang melemahkan iman dan merusak moral.

Keadaan yang lebih ironis, di antara pemuda itu ada yang “menghedonisasi” (terinspirasi dari istilah “kriminalisasi”) simbol-simbol perjuangan. Mereka berteriak tentang jihad, mengupas syiar peperangan, meng-capture aksi para mujahidin, membawa simbol-simbol para martir, dll. Tetapi semua itu sekedar kendaraan untuk bersenang-senang, sekedar alat untuk menghabiskan umur. Atau sekedar simbol untuk meraih gengsi tertentu di mata manusia yang lain. Adapun nilai perjuangan mereka sendiri, hampir tidak ada. Maklum, sebagian besar amal mereka geluti hanyalah having funs (bersenang-senang) atas nama kemuliaan para mujahidin.

Dalam kesepian jiwanya, di pojok kehampaan hidupnya, para pemuda itu bersenandung, “Ya, aku suka berjuang, aku militan, aku pembela keadilan. Tetapi aku lebih suka berjuang bersama akhwat, misalnya melalui SMS, chatting, e-mail, diskusi di internet, atau rapat bersama mereka sampai larut malam. Aku lebih enjoy berjihad bersama akhwat. Mereka memicu semangatku, membuatku termotivasi belajar, untuk mengejar nilai tinggi, serta mempersiapkan karier yang cemerlang. Inilah inti perjuanganku, inilah jihadku, demi mencapai Ridha Allah, demi fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina adzaban naar. Ya Allah ya Rabbi, semoga nanti karierku bagus, moga-moga bisa jadi anggota dewan, atau dipanggil jadi Menteri, buat membahagiakan ayah-ibuku, kakak-adikku, tante-tanteku. Jadi idola para akhwat, so pasti. Ya Allah ya Rasulullah, amin, amin, amin. Akhirnya, mari bersama-sama kita membaca Al Fatihah: ‘Audzubillah…”

Ngenes, ngenes, ngenes sekali… Sejauh itukah keadaan para pemuda kita? Hanya kepada Allah kita berharap karunia dan menyandarkan  pertolongan.

Betapa sulit saat ini mencari pemuda Islam yang militan. Kebanyakan pemuda telah terkurung dalam penjara-penjara hedonisme yang diciptakan Yahudi, baik mereka sadari atau tidak. Yahudi sangat mengenal tabiat mereka, meneliti relung-relung kepribadiannya sampai sedemikian mendalam. Kemudian Yahudi sukses menciptakan segala macam mainan (games) untuk menyibukkan pemuda-pemuda itu. Tanpa disadari, Yahudi laknatullah menggiring para pemuda itu dalam keadaan tangan dan kakinya diborgol, lehernya terikat, kepalanya diber nomer, mereke berjalan tertunduk lesu; menuju liang-liang penjara kehidupan. Dalam keseharian, para pemuda itu tampak hidup bebas lepas, tanpa kendali. Padahal sebenarnya jiwa mereka terkurung oleh penjara-penjara maya (invisible jails).

Selagi para pemuda itu tidak mau keluar dari dunia hedonismenya… Selagi mereka terus menghabiskan umur percuma… Selagi mereka tidak menyadari life style yang diciptakan Yahudi… Selagi mereka anti militansi untuk membela Islam… Selagi mereka menjalani hidup sebagai manusia-manusia tanpa jiwa… Maka akibatnya, suramlah masa depan Islam, suram nasib kehidupan manusia, bahkan suram juga masa depan mereka sendiri.

Tulisan ini sengaja ditulis, sebagai “BOM” untuk meledakkan penjara-penjara maya yang mencengkram akal para pemuda Islam. Mohon dimaafkan bila ada kalimat-kalimat yang tidak berkenan di hati. إن أريد إلا ألصلح ما إستطعت (tidaklah yang aku kehendaki melainkan melakukan perbaikan, sekuat kesanggupanku).

Bukan hanya Islam yang membutuhkan militansi para pemudanya. Ideologi apapun juga membutuhkan militansi pemuda, agar tetap eksis. Bahkan Yahudi bisa “mencengkram dunia”, juga karena militansi. Maka bangkitkan militansimu, untuk membela agamamu! Saat ini, atau tidak sama sekali!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.