Logika Profesor Hukum Vs Logika Al Qur`an

Oktober 17, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Malam kemarin, 16 Oktober 2012, saya mengikuti sebagian diskusi di Indonesia Lawyers Club, TVOne. Topik utamanya tentang pemberian grasi presiden bagi para terpidana narkoba. Namun diskusi berkembang ke arah, perlu tidaknya hukuman mati berlaku dalam sistem peradilan Indonesia.

Kadang Hukum Kematian Dibutuhkan Untuk Menjaga Kehidupan.

Seorang profesor pakar hukum, Prof. M. Laica Marzuki diminta pendapatnya tentang vonis mati. Dia mengatakan tidak setuju ada hukuman mati. Bukan hanya terhadap terdakwa kasus narkoba, tetapi dalam semua bentuk kejahatan yang terjadi; termasuk pada pembunuhan yang paling sadis sekali pun (seperti genocida). Pendapat ini didukung oleh Ifdhal Kasim, dari Komnas HAM. Sosok Fajroel Rahman juga seide dengan mereka. Ifdhal mengatakan, meskipun hukuman mati berlaku di Amerika, dalam hal ini bangsa Indonesia tidak harus meniru Amerika.

Landasan pemikiran Prof. Laica adalah UUD 1945, pasal 28, bagian I1. Bunyi lengkapnya sebagai berikut:

(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Berdasarkan dalil hukum ini, maka manusia di Indonesia tidak boleh dicabut atau dikurangi hak hidupnya (dimatikan), dalam keadaan apapun. Termasuk jika dia melakukan kejahatan apapun. Begitu logika yang dikembangkan Prof. Laica. Dia tidak menampik hukuman berat bagi kasus narkoba, tetapi bentuknya bukan hukuman mati. Menurutnya, kalau diterapkan hukuman mati, berarti melanggar Konstitusi (UUD 1945).

Menurut saya, pandangan Prof. Laica terlalu TEKSTUALIS atau LITERAL. Seperti kalau seseorang melihat dengan “kacamata kuda”, tidak bisa belok-belok, tetapi harus lurus ke depan…selamanya.

Cara pandang demikian dalam khazanah fiqih Islam mirip dengan pandangan-pandangan kaum Zhahiri (pengikut Abu Dawud Azh Zhahiri rahimahullah). Jadi kesimpulan-kesimpulan hukum diambil melalui pemahaman secara literal terhadap teks-teks ayat atau hadits Nabi.

Beberapa catatan penting:

[1]. Pasal 28 UUD 1945 tentang HAM, salah satu tujuannya ialah menjaga kehidupan manusia. Menjaga kehidupan manusia itu bukan hanya bisa ditafsirkan dengan: meniadakan hukuman mati. Tetapi bisa juga ditafsirkan: mencegah terjadinya pembunuhan. Bukankah kita sama-sama tahu, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

[2]. Adanya ancaman hukuman mati, akan membuat banyak manusia lebih menghargai kehidupan orang lain. Sebab vonis mati adalah hukuman terberat yang diterima manusia; jika ancaman itu ada, manusia akan berpikir 1000 kali sebelum membunuh orang lain. Jadi hukuman mati bisa bermakna “menakut-nakuti manusia” agar tidak membunuh.

[3]. Bagaimana mungkin akan tercapai keadilan, jika seorang pembunuh bisa hidup dan menikmati kehidupan (meskipun dalam penjara), padahal dia telah menimbulkan kematian bagi orang lain? Dimana letak keadilannya, sang pembunuh sudah melenyapkan nyawa orang lain? Bukankah nilai kehidupan korban pembunuhan sama mahalnya dengan nilai nyawa sang pembunuh? Meniadakan vonis mati sama dengan melestarikan kezhaliman, terutama dalam kasus-kasus penghilangan nyawa orang lain.

[4]. Adalah benar belaka bahwa kita harus menjaga kehidupan manusia, tetapi harus diingat, bahwa manusia itu bisa melenyapkan kehidupan orang lain. Dia bukan saja bisa dibunuh (melalui vonis mati), tetapi bisa juga membunuh orang lain (dengan segala alasannya). Maka posisi hukuman mati bukanlah untuk meremehkan nyawa si pembunuh, tetapi untuk mengakhiri kesempatan baginya untuk membunuh manusia yang lain (lagi). Kalau tidak dimatikan, dia bisa melakukan penghilangan nyawa kembali.

[5]. Pembunuh yang tidak dihukum mati, akan menimbulkan rasa dendam, frustasi, dan marah di pihak keluarga korban pembunuhan. Dendam itu belum akan tuntas, sebelum si pembunuh juga dibunuh. Dendam ini bisa memicu kekerasan dan konflik berkepanjangan antar keluarga dan anak-keturunannya. Artinya, meniadakan vonis mati sama dengan melestarikan kekerasan dan pembunuhan berkepanjangan.

2:179

Bagi kalian, dalam hukum qishash itu, ada kehidupan, wahai para Ulul Albaab, agar kalian bertakwa.” (Al Baqarah: 179).

Hukuman mati bagi para pembunuh (secara sengaja dan zhalim) adalah instrumen yang bisa memberi kehidupan bagi manusia. Pertama, ancaman sanksi mati akan membuat manusia berpikir 1000 kali sebelum membunuh orang lain. Jika dia membunuh, sanksinya akan dibunuh. Kedua, menjaga kehidupan tidak hanya ditafsirkan menjaga nyawa si pembunuh; tetapi ditafsirkan juga sebagai menghargai sangat mahal nyawa korban yang sudah dibunuh. Selagi nyawa dianggap murah, disana pembunuhan dan kekerasan akan merebak. Ketiga, memberikan hukuman mati kepada si pembunuh, hal itu akan menerbitkan keadilan dan menghentikan segala konflik, dendam, dan balas-membalas nyawa. Berarti ada lebih banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Demikian diskusi kecil ini. Kadang pemikiran seorang profesor tidak menyampaikan ke arah kebenaran (persepsi) dan keadilan (hukum). Islam telah mengajarkan timbangan-timbangan keadilan. Semoga kita memahami. Amin.

(Abah Syakir).

Iklan

Hukum Bagi Penghujat Agama

Februari 2, 2010

PERTANYAAN: “Bagaimana hukumnya orang-orang yang terbukti melakukan tindakan penghujatan terhadap ajaran Islam?”

JAWAB: Bismillahirrahmaanirrahim. Para penghujat agama haruslah benar-benar terbukti melakukan penghujatan agama. Hal itu misalnya dibuktikan dengan pernyataan di media massa, rekaman ceramah, rekaman video, karya tulis, foto perbuatan, buku, dan lain-lain. Harus ada bukti otentik terlebih dulu.

Jika sudah ada bukti otentik, perlu diverifikasi, apakah suatu perbuatan masuk kategori penghujatan atau tidak. Apakah disana ada kata-kata, kalimat, atau perbuatan yang melecehkan, menghina, menghujat Allah, Rasulullah Saw, Islam, Al Qur’an, As Sunnah, para Shahabat Ra, dan sebagainya. Kalimat seperti, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an.” Ini merupakan contoh nyata perbuatan menghujat agama. Kalimat seperti, “Al Qur’an harus diedit lagi,” ini juga contoh sikap menghujat agama. Diperlukan verifikasi untuk memastikan apakah suatu perbuatan masuk kategori penghujatan agama.

Sanksi bagi penghujat agama adalah LAKNAT ALLAH. Mengapa demikian? Hal itu sesuai dengan kejadian di masa Nabi Saw. Waktu itu beliau masih berdakwah di Makkah. Beliau pernah mengundang para pemuka Quraisy Makkah untuk bertemu di Bukit Shafa. Dalam pertemuan itu beliau bertanya, apakah hadirin dalam pertemuan itu percaya kepada beliau jika dikatakan bahwa di balik bukit ada musuh? Seluruh hadirin mengatakan percaya. Lalu beliau tegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan Laa ilaha illa Allah, wa Muhammad Rasulullah. Mendengar ucapan Nabi, Abu Lahab segera bangkit lalu mencela Nabi dengan ajakannya itu. Abu Lahab mementahkan dakwah Nabi seketika itu, dan menghina beliau dengan kekasaran sikapnya. Atas perbuatan ini, lalu Allah Ta’ala menurunkan Surat Al Lahab atau Al Massad. “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa.” (Al Lahab: 1).

Siapapun yang menghujat Islam, apapun alasannya, dia mendapat laknat dari Allah Ta’ala. Bentuk laknat itu berbagai macam, berupa hal-hal yang menyusahkan, menyakitkan, kesempitan hidup, dan lain-lain yang menimpa mereka, keluarganya, dan kawan-kawannya yang sepakat dengan dirinya.

Contoh, ada orang yang terkenal permusuhannya kepada Islam. Dia pernah mengalami stroke dua kali, lalu menderita buta, menderita lumpuh. Kemana-mana selalu memakai kursi roda. Kalau berbicara otot pipinya bergerak-gerak, sikapnya meledak-ledak, tetapi tidak konsisten. Kalau dia bicara, manusia menanti-nanti lelucon yang keluar dari ucapannya. Mereka menanti dengan hati berdebar-debar, lalu geeerrr… Jadi akhirnya, seperti tontonan humor.

Allah berjanji akan menjaga agama ini dari serangan para penghujat. “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dihinakan sebagaimana orang-orang sebelum mereka dihinakan. Dan sungguh telah Kami turunkan ayat-ayat yang jelas, dan bagi orang-orang kafir itulah adzab yang pedih.” (Al Mujaadilah: 5).

Hukum bagi pelaku penghujatan Islam ada dalam dua kondisi. Pertama, hukum ketika posisi kaum Muslimin kuat untuk menerapkan hukum Islam. Kedua, hukum ketika kaum Muslimin lemah dan tidak berdaya melaksanakan hokum Islam.

Dalam kondisi Ummat Islam kuat dan mampu menegakkan hukum Islam secara kaaffah, maka para penghujat agama itu dihukumi dengan HUKUMAN MATI. Hal ini sesuai dengan perbuatan Rasulullah Saw ketika dalam Futuh Makkah. Ketika penaklukan Makkah, Rasulullah menerapkan sanksi hukuman mati kepada 8 orang laki-laki dan 6 orang wanita yang pernah menghujat Islam. (Lihat Sirah Nabawiyyah, Al Mubarakfury, Pustaka Al Kautsar, cetakan 13, hal. 533-535).

Anda mungkin pernah ingat ketika KH. Athian Ali M. Da’i bersama FUUI (Forum Ulama Ummat Indonesia) mengeluarkan pernyataan, bahwa penghujat Islam, seperti pendeta Suradi Ben Abraham dan Ulil Abshar Abdala, menurut hukum Islam, sanksinya adalah dihukum mati. Apa yang beliau katakana tidak jauh dari kebenaran, sebab Rasulullah Saw pernah menerapkan hukum demikian.

Namun dalam kondisi Ummat Islam lemah, ketika tidak mampu menerapkan hukum Islam, maka kita harus secara sungguh-sungguh memanfaatkan sarana-sarana hukum, politik, lobi, dan apapun yang memungkinkan, untuk menghentikan penghujatan itu, dan memberikan sanksi yang akan membuat pelakunya jera, dan membuat orang lain tidak ikut-ikutan melakukan penghujatan.

Jika negara secara konsisten bisa mengambil beban urusan ini, dengan menjaga agama, melindungi kehormatan agama dari penistaan dan penghujatan, memberikan sanksi berat bagi pelaku penghujatan, serta melarang masyarakat melakukan perbuatan itu; maka sepenuhnya kita serahkan urusan ini kepada negara. Tetapi jika negara tidak bisa melindungi kehormatan Islam, kaum Muslimin lah yang harus melindunginya secara sungguh-sungguh.

Jika sampai para penghujat Islam dibiarkan merajalela di muka bumi, nantikanlah Allah akan mengaduk-aduk bumi itu dengan bencana-bencana. Tentu kita masih ingat ketika Nabi Saw dihinakan oleh penduduk Kota Thaif, dihina, dicaci maki, dikejar-kejar, dilempari batu. Atas perbuatan penduduk Thaif itu, mereka nyaris ditimbun dengan gunung oleh Malaikat, seandainya Nabi tidak memaafkan mereka. Bani Israil juga begitu. Ketika mereka melontarkan ucapan-ucapan keji yang menghina Musa dan Allah, mereka ditimpa kilat, dikutuk menjadi kera, dibiarkan kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih.

Jadi sanksi bagi penghujat agama itu amat sangat keras. Hanya saja, orang-orang terkutuk dari kalangan Liberaliyun, kerap kali tidak memahaminya. Semoga semua ini menjadi pelajaran. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.