Tanah Suci di Hati Ummat

Mei 11, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

>> Bila kau dengar ada saudaramu akan melaksanakan Haji/Umrah ke Tanah Suci…gembirakan hatimu, jangan merasa iri atau sesak dada.

>> Doakan barakah baginya. Doakan mendapat rahmat & ampunan Allah.

>> Jangan berprasangka buruk. Jangan meremehkan. Jangan mencela.

Tanah Suci Menguji Setiap Muslim Sesuai Keadaannya

Tanah Suci Menguji Setiap Muslim Sesuai Keadaannya

>> TAPI jangan juga merasa minder, merasa kecil, merasa lebih buruk iman Islam, merasa “tak layak jadi tamu Allah”. Jangan berkecil hati.

>> FAKTA, ada yang sehari-hari mukim di Tanah Suci, tapi tak lepas dari makriyat dan khianat. Tak ada beda baginya Tanah Suci atau negeri lain. Iman tidak memperbaiki amal-amalnya.

>> FAKTA LAIN…ada yang hidupnya habis untuk membela agama dan Ummat; tapi seumur hidup tidak pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Contoh, Sultan Shalahuddin Al Ayyubi. Belum pernah Haji/Umrah sampai wafatnya.

>> Sering atau jarangnya manusia bisa ziarah ke Tanah Suci. Tidak membuktikan dia LEBIH BAIK di sisi Allah Ta’ala. Ada yang ke sana untuk mengejar dunia; ada yang tulus lillahi Ta’ala.

>> Sering ziarah ke sana tidak menjadi bukti ketakwaan, sebagaimana jarang ke sana juga bukan bukti kelemahan iman.

>> Allah SWT berkata: “manistatha’a ilaihi sabilan” (bagi yang mampu menempuh jalan ke sana). Artinya, Allah saja memaklumi ketidakmampuan insan; selama bukan berpura-pura tidak mampu.

>> Berkunjung ke Tanah Suci seperti BERTAMU ke rumah Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau adalah BAPAK TAUHID dan simbol LOYALITAS Syariat. Berkunjung ke Tanah Suci tanpa membawa keduanya (tauhid & loyalitas), ya hanya seperti rekreasi belaka.

>> Tidak ada PARAMETER PASTI tentang kualitas ketakwaan seseorang terkait ibadah Haji/Umrah. Manusia satu berbeda dengan lainnya. Masing-masing punya warna, takaran, martabat di sisi Allah Al ‘Azhim.

>> Maksudnya, ada orang yang setiap tahun bolak-balik ke sana, lalu merasai kebosanan, kemudian mengeras hatinya, lalu memburuk akhlaknya. Ada pula, yang mati-matian untuk sampai ke sana; setelah sampai, dia lakukan IBADAH TERBAIK sekali seumur hidupnya. Hanya sekali. Namun setelah itu tak henti-hentinya dia memuji Ar Rahmaan atas nikmat ibadah itu.

>> Mana yang TERBAIK bagimu: sekali namun sangat berkesan, lalu dibawa mati dalam keadaan BERSYUKUR; atau berulang kali, tapi semata hanya mengejar dunia, sampai hati mengeras laksana batu granit? Mana yang kau pilih?

>> TANAH SUCI adalah syiar Allah Ta’ala di muka bumi. Sebagai TANAH BARAKAH dan NEGERI NAN AMAN. Setiap Muslim DIUJI dengannya sesuai keadaan dirinya masing-masing.

>> Jangan meremehkan yang tertinggal. Sebagaimana jangan silau dengan yang selalu menziarahi. Setiap orang diuji sesuai keadaan, tempat, dan peluangnya.

>> “Wasykuruu lillahi in kuntum iyyahu ta’buduun” (dan bersyukurlah kepada Allah, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya).

>> KUNCI mencintai Tanah Suci adalah dengan BERSYUKUR kepada Allah Al Ghafuur.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Selamat IDUL ADHA 1430 H

November 28, 2009

Selamat IDUL ADHA 1430 H. Taqabbalallah Minna Wa Minkum.

Alhamdulillah, kita masih bersua dengan IDUL ADHA. Allah Maha Pemurah, Dia memperpanjang dan memberkahi nikmat-Nya untuk kita. Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

Setiap berjumpa hari ini, kita bergembira, berbahagia, merasakan besarnya syi’ar Allah di muka bumi. Mengenangi teladan penghulu Millah, yaitu Ibrahim As dan Ismail As.

Hari Idul Adha merupakan nikmat yang sangat unik. Di hari ini kaum Muslimin disyariatkan berkorban. Sebagian berkorban harta, fisik, dan mental, dengan ziarah ke ‘Arafah dan Baitullah. Sebagian berkorban hewan ternak sebagai ibadah taqarrub kepada-Nya. Bumi pun dibasahi cairan merah darah dari hewan-hewan yang tunduk melayani Sunnah QURBAN ini. Mereka rela dikorbankan oleh orang yang baik, dari harta yang baik, untuk tujuan TAQARRUB kepada Allah Rabbul ‘Alamiin.

Saat kapan Anda mendengar bacaan TAKBIR terdengar, saat itu pertanda Allah sedang mencurahkan nikmat-Nya luar biasa kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mencintai-Nya.

Namun saudaraku… Berita yang sampai kepada kita dalam momen Idul Adha 1430 ini, tidak selalu menggembirakan. Ternyata, banyak juga peristiwa-peristiwa yang membuat kita bersedih hati. Setidaknya, ada kesedihan di sebagian sudut hati kita.

Beberapa warga masyarakat dihukum hanya karena kesalahan kecil. Ada yang diadili hanya karena nge-charge HP di apartemen; ada yang dihukum karena mengambil 2 butir buah kakao; ada yang dihukum karena luru (mengais sisa-sisa) panen kapuk randu; ada yang ditahan 2 bulan sampai saat ini hanya karena mengambil sebutir semangka.

Kemudian di Saudi terjadi banjir besar, lebih dari 50 orang meninggal. Ratusan ribu jamaah Haji Indonesia mengeluh, karena jauhnya jarak pemondokan di Makkah ke Masjidil Haram (sekitar 4-5 km). Kalau mereka mau ke Masjidil Haram, harus berjalan kaki sekian jauh, atau berebut naik bis yang jumlahnya terbatas. Itulah ujian untuk para jamaah Haji.

Sedih memikirkan Pemerintah Saudi saat ini. Mereka robohkan ratusan (atau mungkin ribuan) bangunan di sekitar Masjidil Haram, dibersihkan sampai rata dengan tanah. Di atas itu mereka akan membangun puluhan hotel-hotel pencakar langit, untuk melayani jamaah Haji. Atau dengan bahasa yang lugu, mereka hendak mengeksploitasi Masjidil Haram sebagai obyek wisata sedalam-dalamnya. Buktinya, mereka kini memperbolehkan jamaah Haji memakai paspor hijau (internasional) yang biasa dipakai para wisatawan dunia. Padahal semula, mereka sangat angkuh dengan aturan “wajib paspor coklat“. Ini tandanya, Masjidil Haram akan jadi pusat wisata spiritual yang tentu efeknya akan sangat jauh. Anda tahu sendiri, dimana ada pusat wisata, maka disana ada pusat maksiyat pula.

Mungkin, rizki yang mereka terima dan kuasai selama ini belum cukup, sehingga harus mengimpor nafsu Kapitalisme ke halaman Baitullah Al Haram. Masya Allah. Kepada Allah kita memohon agar Dia menghentikan tangan-tangan kotor yang akan merusak kesucian Haramain Syarifain. Ya Allah lindungi Baitullah dan ibadah kaum Muslimin dari tangan-tangan zhalim yang haus kekayaan. Amin Allahumma amin.

Di Indonesia sendiri, seperti telah menjadi “ritual tahunan”, yaitu rebutan hewan qurban. Yah, Anda semua sudah mengetahuinya. Sampai saat ini, masyarakat kita begitu miskin dan hidup susah. Mereka tidak malu mempertaruhkan kehormatan demi sekantung daging, tidak sampai setengah kilogram, itu pun banyak tulangnya.

Yah, itulah dampak nyata dari kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Di negeri sekuler yang tidak menghargai agama Allah, segala kemelaratan dan sengsara bisa terjadi.

Semoga semua ini bisa menjadi nasehat bagi kita untuk lebih bertanggung-jawab menolong agama Allah, sekuat kesanggupan. Mari kita berlatih menjadi militan, dalam arti semakin meneguhkan jiwa TADHIYAH (pengorbanan) demi kemuliaan Islam dan Muslimin.

Fakta berbicara: Islam mulia karena pengorbanan Ummat-nya, bukan karena egoisme yang menjadi panglima.

SELAMAT IDUL ADHA 1430 H.

= AMW =