Wanita Dermawan Itu Wafat dalam Damai

April 26, 2013

Hari Selasa, tanggal 23 April 2013, saat menjelang Shubuh, wafat salah seorang hamba Allah yang dermawan. Dia adalah Ibu Jamilah Haidarah, atau sering dipanggil Ummi. Beliau menghabiskan sisa umurnya di Kota Bandung, tepatnya di kawasan Jl. Ahmad Yani.

Wanita ini bukan sosok public figure yang namanya disebut dimana-mana. Sosoknya tak pernah menghiasi layar TV. Beliau juga bukan seorang da’iyah yang banyak menasehati Ummat lewat ceramah-ceramah. Namun beliau memiliki banyak keutamaan.

Amal-amalnya tersebar bagaikan angin, bertiup tanpa suara kemana-mana, cepat dirasakan manfaatnya. Kebaikan-kebaikannya mengalir bagaikan air, memenuhi tempat-tempat yang rendah, bisa direguk siapapun yang kehausan. Ia memancar kebaikan, tak putus-putusnya, sampai akhir hayat.

Ummi Jamilah Haidarah mengelola toko meubel di Jl. Ahmad Yani Bandung. Usahanya laris manis, mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Dari usaha itu beliau banyak membelanjakan harta untuk membantu kaum Muslimin yang membutuhkan. Keutamaan-keutamaan amalnya sungguh mengagumkan. Disini kami sebutkan sedikit yang bisa diceritakan.

Ummi Jamilah rahimahallah semasa hidupnya sering berkunjung kesana kemari, menjenguk orang sakit, melihat orang yang kesusahan, takziyah kepada yang meninggal, shilaturahim kepada sanak-kerabat, dan sebagainya. Setiap berkunjung, kepada orang yang dikenal atau tidak dikenal, beliau selalu membawa uang atau makanan untuk disedekahkan. Jika mendengar ada orang sakit, dirawat di rumah sakit, meskipun bukan keluarga sendiri, beliau membantu dari sisi biaya atau mengirim makanan bagi pasien dan orang-orang yang menjenguk.

Beliau menyantuni warga sekitar, terutama fakir-miskin dan orang menderita. Bahkan dirinya membantu preman-preman di sekitar Jl. Ahmad Yani, mengasihi mereka, membina mereka, mengajak mereka kembali menjadi orang yang baik-baik. Banyak orang merasa kehilangan saat dia wafat.

Beliau memiliki rumah besar di Cirebon yang sengaja disediakan untuk para tamu dan orang-orang yang membutuhkan. Rumah itu bisa menampung 20 hingga 30-an orang. Siapa saja yang membutuhkan dipersilakan memakai tempat tersebut. Disana sudah disediakan ruang tamu, tempat tidur, dan aneka fasilitas. Orang yang memakai ruang itu tak dipungut biaya. Berkali-kali rumah itu ditawar oleh pebisnis, tapi tak diberikan, karena memang didedikasikan untuk kebaikan.

Beliau bersikap murah hati kepada para karyawan yang bekerja padanya. Selain mendapatkan upah, mereka juga diberi tempat tinggal dan mendapat tunjangan kebutuhan. Bagi Ibu Jamilah Haidarah, tidak ada kata merugi dalam bersedekah, beliau terus membantu kaum Muslimin melalui titipan harta yang sampai padanya. Seakan harta-harta itu hanya “lewat” di tangannya, lalu diterima oleh orang lain dalam bentuk manfaat dan pemenuhan kebutuhan.

Sebelum wafat, beliau telah mengalami sakit. Beberapa hari sebelum meninggal, beliau tampak sehat kembali. Kesempatan itu beliau gunakan untuk berkunjung ke Cirebon. Sepulang dari Cirebon, kondisinya semakin lemah.

Malam hari sebelum wafat, beliau sempat membangunkan pembantunya untuk menjalankan shalat malam bersama. Setelah shalat malam, beliau istirahat kembali. Tampaknya, itulah istirahat terakhir beliau di dunia ini. Ketika saat Shubuh, beliau telah wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Beliau berpulang menghadap Rabb-nya dalam damai dan tenang.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Rabb-mu dalam keadaan ridha dan diridhai, masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam jannah-Ku.” (Surat Al Fajr: 27-30).

Sekeping doa terhatur dari kami:

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha, wa akrim nuzulaha wa wassi’ mudkhalaha waghsilha bil maa’i wats tsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadhu minaddanas, wa abdilha daaran khairan min daariha wa ahlan khairan min ahliha wa zaujan khairan min zaujiha, wa adkilhal jannah wa a’idzha min adzabil qabri au min ‘adzabin naari.”

(Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, berikan keselamatan kepadanya, maafkan kesalahannya. Muliakan tempat tinggalnya, luaskan tempat masuknya –ke alam barzakh-, mandikan dia dengan air, salju, dan air dingin. Bersihkan dia dari kesalahan seperti Engkau membersihkan kain putih dari kotoran. Gantikan baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya –di dunia-, keluarga yang lebih baik dari keluarganya –di dunia-, pasangan hidup yang lebih baik dari pasangannya –di dunia-. Masukkan dia ke dalam surge, jauhkan dia dari adzab kubur atau adzab neraka). HR. Muslim, dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Saat pemakaman, manusia membludak menghantarkannya. Kendaraan dan jalan macet karena begitu banyaknya manusia yang partisipasi. Kata Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, kalau seorang insan disaksikan BAIK oleh manusia di sekitarnya, dia pun menjadi BAIK di sisi Allah. Amin ya Rahiim.

Pada akhirnya, dunia ini harus diisi dengan kebaikan-kebaikan yang tulus. Bila ada yang wafat, maka silsilah kebaikan harus diteruskan oleh generasi berikutnya. Demikian seterusnya, hingga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pijar keutamaan agama-Nya lewat hamba-hamba yang saleh.

Semoga sedikit tadzkirah ini bermanfaat sebagai peringatan dan nasehat, bagi kami, Anda, dan kita semua. Setiap insan pasti akan wafat, hanya soal momentumnya. Ya Allah kami memohon husnul khatimah kepada-Mu dan jauhkan kami dari su’ul khatimah. Amin Allahumma amin.

(Abinya Syakir).

Iklan