Icon Amerika di SBY

Mei 28, 2009

Banyak orang marah kalau SBY dikaitkan dengan Amerika. Mereka tidak suka sosok idolanya dikaitkan dengan negara adidaya yang sekarang sedang menderita krisis ekonomi luar biasa itu. Tapi masalahnya, orang berkesimpulan SBY pro Amerika justru karena melihat cara-cara SBY sendiri, selama ini.

Bukan kita yang memposisikan dia sebagai tokoh pro Amerika, tetapi sikap-sikap SBY sendiri yang menunjukkan hal itu. Anda tidak percaya? Berikut ini sebagian bukti-bukti yang bisa disebutkan:

[-] Saat terjadi dialog antara SBY dengan Kadin, ditayangkan TVOne 22 Mei 2009. SBY adalah satu-satunya Capres yang paling banyak memakai bahasa Inggris. Padahal dia tahu, kalau siaran itu disiarkan ke seluruh Indonesia oleh TVOne. Megawati sendiri beberapa kali menyebut istilah bahasa Inggris, tetapi selektif dan tepat momentum.

[-] Ketika SBY diberi kesempatan menyampaikan kalimat penutup, dia menyebutkan sebuah slogan politiknya: “Development for all.” Bagi orang yang kritis, slogan ini bisa ditelusuri sedalam-dalamnya. Tetapi anggaplah itu tidak penting, namun tetap saja dia tampak begitu silau dengan istilah-istilah Inggris. Masalahnya, dia itu seorang Presiden RI yang seharusnya member contoh yang baik bagi rakyatnya.

[-] Dalam deklarasi pencalonan pasangan SBY-Boediono sebagai Capres dan Cawapres di Sabuga, konsep acaranya menjiplak gaya kampanye Barack Obama. Sampai kalimat-kalimat di baliho besar di latar panggung, memakai istilah yang dipakai Obama. Bahkan sampai pin, kaos, aksesoris yang disebar disana juga “Obama banget”. Hal ini dikatakan oleh Tina Talisa dari TVOne yang pernah meliput kampanye Obama.

[-] Dalam materi iklan SBY, dia dibangga-banggakan sebagai satu dari 100 tokoh berpengaruh di dunia, versi majalah Times. Nah, majalah Times itu darimana? Ya, semua orang tahu. Ia adalah media prestisius Amerika.

[-] Dalam sidang ADB (Bank Pembangunan Asia) beberapa waktu lalu di Bali, Pemerintah SBY diwakili Sri Mulyani, selaku Menteri Keuangan. Keputusannya, Indonesia tetap mendukung ADB, dan menambah kesertaan modal (saham) di bank itu. Siapa ADB? Ya, tahulah, dia kan konco-konconya IMF, World Bank, CGI, dan sebagainya.

[-] SBY termasuk pemimpin nasional yang tidak malu-malu mengaku terinspirasi oleh barrack Obama di Amerika. Di berbagai kesempatan, terutama bulan-bulan menjelang Pemilu presiden di Amerika, SBY begitu peduli dengan Barack Obama.

[-] Tidak lama setelah menang Pemilu di Amerika, Dino Pati Jalal mengklaim bahwa SBY baru saja melakukan sambungan telepon langsung dengan Obama, ketika presiden Amerika itu sedang transit di Singapura. Konon, dalam pembicaraan itu Obama bertanya soal Menteng dan makanan-makanan khas Indonesia tertentu.

[-] SBY pernah berkunjung ke George Bush di Amerika, lalu mengundang Bush datang ke Indonesia. Di Indonesia, Bush disambut istimewa di Istana Bogor. Tidak kurang wilayah Bogor waktu itu disterilkan oleh gabungan aparat Amerika-Indonesia.

[-] Dalam kunjungan ke Amerika, SBY mampir ke kantor Microsoft Inc. Dia bertemu Bill Gates dan mengundangnya dating ke Indonesia. Benar saja, kemudian Gates datang ke Indonesia, member kuliah visi teknologi di depan SBY, para pengusaha, eksekutif, intelektual, dan lainnya. Masak memperlakukan pengusaha asing seperti memperlakukan tamu kehormatan Negara? Harusnya, SBY mengajak komunitas Linux untuk menyambut Bill Gates di Jakarta.

[-] Selama masa Pemerintahannya, SBY tidak tampak ketegasannya kepada perusahaan-perusahaan Amerika seperti Freeport, Exxon, Chevron, Newmont, Caltex, dan lainnya. Malah, blok Cepu dengan cadangan minyak yang besar diamanatkan ke Chevron.

[-] Dibandingkan era Megawati, SBY adalah presiden yang giat mensukseskan agenda war against terrorism versi Mr. Bush. Meskipun di era Mega banyak terjadi insiden bom, tetapi sikap keras negara ke aktivis-aktivis Islam sangat tampak di era SBY. Salah satu indikasi, penyebaran foto Dr. Azahari dan Nordin M. Top dimana-mana. Itu kan sama saja dengan mengeruhkan suasana tentram masyarakat.

[-] Nama Partai Demokrat sendiri mengambil ide dari partai di Amerika. Dalam sejarah Indonesia, tidak ada cikal-bakal nama partai seperti itu. Wajar pula jika kemudian SBY merasa dekat dengan Obama, sebab sama-sama Partai Demokrat.

[-] Pihak Amerika sama sekali tidak mengkritik Pemerintahan SBY terkait pelaksanaan Pemilu Legistlatif 2009 yang kacau-balau. Ini sangat aneh, sebab biasanya Amerika sangat peduli dengan masalah internal bangsa lain. Contoh tegas, ialah kecaman keras Pemerintah Amerika pasca Insiden Monas 1 Juni 2008. SBY pun tidak kalah kerasnya menyikapi insiden Monas itu. (Bandingkan sikap SBY saat mengecam kekerasan di Monas itu, dengan sikap dia saat disindir dengan ungkapan, “Lebih cepat lebih baik.” SBY langsung bereaksi, dengan menyebut orang lain, “Jangan takabbur!” Saat mengecam Ummat Islam tidak kira-kira dalam Insiden Monas, begitu disindir sedikit tersinggung).

Akhirnya, selamat mendukung langkah PKS yang “pasang badan” membela garis politik SBY. Semoga, kalau ada dosa dan mungkarnya, para PKS-ers bisa menanggung bersama, gotong-royong, sampai Hari Kiamat. (Iya kalau mereka masih peduli dengan Hari Kiamat? Jangan-jangan pengadilan di Hari Kiamat nanti, akan dihadapi dengan maneuver, koalisi, atau kontrak politik?).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan