[04]. Perlukah Kita Demokrasi?

Februari 13, 2013

Bismillahirrahmaaniirahiim.

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sering sekali ditanyakan. Yang memberi jawaban atas pertanyaan ini juga banyak. Ada yang anti demokrasi, ada yang pro demokrasi, ada yang tengah-tengah. Kalau saya ditanya pertanyaan seperti ini, maka saya akan bertanya balik kepada si penanya: dari sisi apa kita kan memandang demokrasi itu?

Kalau demokrasi dilihat dari sisi konsep dasarnya, dari sisi landasan filosofisnya, atau dari sisi ideologi; jelas demokrasi merupakan sistem kufur, merupakan sistem tandingan atas tata-nilai yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Tetapi kalau memandang demokrasi dari sisi hajat politik untuk melindungi kepentingan ummat Islam; maka sah-sah saja kita ikut dalam even demokrasi.

Maksudnya begini, disini ada yang perlu dijelaskan. Mula-mula kita definisikan dulu makna politik. Politik adalah: seni mempengaruhi kekuasaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kalau politik Islami: seni mempengaruhi kekuasaan untuk memperjuangan, melindungi, serta membela kepentingan ummat Islam.  Hukum berpolitik ialah fardhu ‘ain, bagi para politisi Muslim yang mampu, berpengalaman, dan punya kesempatan mempengaruhi kekuasaan. Tetapi bagi ummat Islam secara umum, hukumnya fardhu kifayah. Kalau sudah ada yang mengampu peran politik, yang lainnya bebas tanggung-jawab.

POLITIK: Seni Mempengaruhi Kekuasaan untuk Mencapai Suatu Kepentingan.

POLITIK: Seni Mempengaruhi Kekuasaan untuk Mencapai Suatu Kepentingan.

Kondisi politik yang dihadapi ummat Islam beragam, dari kondisi paling ekstrem kanan sampai ke ekstrem kiri; dari situasi paling kondusif sampai paling repressif; dari situasi paling terbuka sampai paling tertutup. Maka hukum berpolitik itu disesuaikan dengan kondisinya masing-masing.

Ada kalanya ummat Islam hidup di bawah sistem Islami, sehingga aspirasi kehidupan, harkat-martabat, serta kepentingan-kepentingannya terwadahi dengan baik. Ada kalanya ummat Islam hidup di bawah sistem sekuler, menindas, zhalim, dan banyak mengeksploitasi kehidupan ummat. Maka dalam situasi bagaimanapun, peran politik harus terus dijalankan. Tujuan dasarnya simple, yaitu: Menjaga jiwa, agama, harta, akal, keturunan kaum Muslimin.

Di sebuah negara kufur, tiranik, sangat eksploitatif, dimana disana partai-partai Islam dilarang eksis, begitu juga partai-partai lain; bukan berarti peran politik tertutup. Tidak sama sekali. Dalam kondisi begitu, Ummat Islam bisa kontribusi secara individu, dengan memanfaatkan kekuatannya untuk mempengaruhi kekuasaan. Pengaruhilah kekuasaan untuk menjaga kehidupan kaum Muslimin. Andaikan belum bisa memberi jaminan keamanan secara penuh, minimal perjuangankan aspek-aspek yang bisa diperjuangkan; seperti kesempatan ibadah, perlindungan jiwa, kesempatan bekerja, kesempatan sekolah, jaminan sosial, dll. bagi kaum Muslimin yang ada di negara tersebut.

Kembali ke isu demokrasi. Secara ideologi jelas sistem itu sangat jauh dari nilai Islam, sangat jauh dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi secara hajat politik, jika sistem itu tidak dimanfaatkan, lalu akibatnya bisa membahayakan kepentingan ummat Islam dan memperkokoh kesempatan bagi musuh-musuh Islam; maka demokrasi harus diambil disini. Kita bukan menafikan keburukan dari sistem itu, tetapi harus mencegah akibat buruknya secara politik.

Secara ideologi, sistem demokrasi bertentangan dengan ajaran Islam; tetapi secara politik, kadang ia masih dibutuhkan. Politik Islami pada dasarnya seni mempengaruhi kekuasaan, demi kemaslahatan hidup kaum Muslimin. Jika kenyataan yang ada masih dipengaruhi sistem demokrasi; maka gunakan kesempatan untuk mempengaruhi kekuasaan demi kebaikan hidup ummat. Tetapi kalau pilihan-pilihan yang ada sangat sulit, atau tidak tersedia pilihan yang meyakinkan; maka hukumnya, Allah tidak membebani seseorang dengan sesuatu yang dia tak kuasa memikulnya.

Pendek kata, dalam situasi zaman seperti apapun, para politisi Muslim harus turun terlibat mempengaruhi kekuasaan, demi menjaga dan melindungi kehidupan kaum Muslimin. Kebetulan saja, saat ini zaman demokrasi, maka mereka harus terlibat berpolitik demi menjaga kehidupan ummat Islam. Bukan karena demokrasinya, tetapi karena wajibnya menjaga kehidupan ummat ini. Andai suatu masa kondisi politik berubah, kewajiban menjaga itu terus berlaku, sesuai kondisi yang ada. []

Iklan