Rumitnya Perselisihan Seputar Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Juli 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan memuji kebesaran Allah Rabbul Jalil, memohon petunjuk, pengertian, hikmah, serta rahmat-Nya; kami memuji dan membesarkan-Nya, serta mengharapkan ‘inayah dan maghfirah-Nya; shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada As Sayyidul Anbiya’i Wal Mursalin, Muhammad ibnu Abdillah, beserta keluarga dan para shahabatnya.

Di antara masalah-masalah Islam yang kami kenal dan ketahui, maka ikhtilaf dalam penentuan awal Ramadhan, awal Syawal, dan awal Dzul Hijjah (bulan Haji) adalah ikhtilaf yang paling rumit. Biasanya, ikhtilaf itu terjadi atas suatu persoalan, lalu di dalamnya ada beberapa corak pendapat, ada yang begini dan begitu; tetapi dalam ikhtilaf seputar penentuan awal Ramadhan dan Syawal (terutama), unsur-unsur yang terlibat di dalamnya muncul dari berbagai sisi (nanti akan dijelaskan).

Ada sebagian orang berkata: “Kita ini sangat mengherankan. Kita sama-sama berpegang kepada metode rukyat. Mataharinya ya itu, bulannya ya itu. Tetapi kita selalu berselisih paham. Bukanlah kita diperintahkan untuk bersatu padu. Nabi mengatakan, hendaklah kalian berjamaah, karena jamaah itu rahmat, dan janganlah kalian berpecah belah karena perpecahan itu adzab. Bagaimana kita kok bisa selalu berselisih begini?”

Jika ada orang yang berkata demikian, pertanda dia baru mencium ilmu agama. Atau dia sedang berlagak mencari perhatian, dengan mengesankan dirinya sebagai orang yang “paling berakhlak” dibandingkan lainnya. Wahai saudaraku, dalam masalah posisi telunjuk kita saat Tasyahud dalam shalat saja, disana ada beberapa model perbedaan; apalagi dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang elemen-elemen pembeda yang bisa membuat perbedaan itu, banyak jumlahnya.

Dalil paling dasar yang digunakan oleh kaum Muslimin untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, adalah hadits Nabi Saw sebagai berikut:

Shumuu li ru’yatihi wa afthiruu li ru’yatihi, fa in gham-ma ‘alaikum fa akmilul ‘iddata tsalatsina

[mulailah kalian berpuasa dengan melihatnya (bulan sabit), dan berbukalah mengakhiri puasa dengan melihatnya; jika hilal itu terhalang atas kalian, maka genapkanlah bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari].

(HR. Nasa’i, At Tirmidzi, Ahmad, Al Hakim, Ad Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, dari Ibnu Abbas Ra. Sedangkan hadits senada bersumber dari riwayat Abu Hurairah, disebutkan oleh Imam Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, At Thabarani, Ibnu Hibban, At Thayalisi, At Thahawi, Al Baghawi. Keterangan ini merujuk tulisan Ustadz Abduh Zulfidar Akaha berjudul: Perintah Mengawali dan Mengakhiri Ramadhan Karena Melihat Bulan di Multiply).

Dasarnya sama, yaitu hadits di atas, tetapi penafsirannya bisa berbeda-beda. Mari kita lihat pada pandangan lapangan dari para ahli di ormas-ormas Islam…

[1]. Dari ahli falakiyah Nahdhatul Ulama. Dalam setiap Sidang Itsbat, mereka selalu bersuara keras dalam menetapi metode Rukyatul Hilal dengan kaidah Imkanur Rukyah (posibilitas melihat hilal). Kalau hilal belum memungkinkan dilihat, berarti tidak ada hilal, meskipun secara hisab hilal sudah dianggap ada. Mereka beralasan dengan kalimat dalam hadits di atas, “Fa in ghamma ‘alaikum” (jika hilal itu terhalang atas kalian oleh awan). Jadi, meskipun hilal itu sudah ada, sudah bisa dilihat, tetapi jika terhalang mata kita untuk melihatnya karena berbagai faktor (misalnya tertutup awan), ya bilangan bulan digenapkan jadi 30 hari. Artinya -menurut kalangan NU- adanya hilal itu bukan penentu, melainkan posibilitas dilihatnya hilal-lah yang jadi patokan.

[2]. Dari kalangan Muhammadiyah paling sering (dan konsisten) dengan metode hisab. Tetapi metode ini sendiri tetap mengacu kepada penampakan hilal, sebagaimana acuan umum kalender Hijriyah. Artinya, mereka tetap berpendapat berdasarkan ada tidaknya hilal. Hal itu dianggap tetap selaras dengan hadits Nabi Saw di atas. Dalam hal ini, mereka memulai dan mengakhiri Ramadhan tetap mengacu pada hilal. Hanya saja, bentuknya berupa wujudul hilal (atau eksistensi hilal). Jika hilal sudah eksis, meskipun hanya 0,5 derajat di atas ufuk, ya hal itu sudah dianggap masuk bulan baru (padahal menurut para ahli astronomi nasional dan internasional, hilal pada posisi 4 atau 5 derajat di atas ufuk pun, masih sulit dilihat). Dalam pandangan ini, di masa Nabi Saw sarana-prasarana teknologi masih sederhana, sehingga metodenya dengan Rukyatul Hilal murni. Sebagai catatan, di masa Nabi belum ada sistem kalender. Jika kemudian ada sarana teknologi yang lebih akurat (sistem perhitungan astronomi), mengapa tidak digunakan?

Toh, pada dasarnya Islam mengakui adanya metode hisab. “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Surat Yunus: 5].

[3]. Pandangan yang dianut Departemen Agama RI, yaitu menerapkan dua metode sekaligus, Hisabiyah dan Ru’yatul Hilal. Perhitungan hisab sangat dibutuhkan untuk memastikan bulan Sya’ban sudah berusia 29 hari, sehingga di masa itu ada potensi peralihan ke bulan berikutnya; nah, saat peralihan itulah momen paling tepat untuk melakukan Ru’yatul Hilal. Tanpa hasil hisab, sangat sulit menentukan kapan kita akan melakukan Ru’yatul Hilal. Sementara upaya ru’yah sendiri untuk memastikan apakah sudah masuk bulan Ramadhan/Syawal, atau bulan sebelumnya perlu digenapkan?

Dari sini saja sudah bisa dilihat kerumitan perselisihan ini. Apalagi dalam praktiknya, upaya Rukyatul Hilal melibatkan observasi terhadap elemen-elemen alam yang berbeda-beda. Kadang bulan ada di sisi kanan atau kiri matahari; kadang sudut antara bulan dan matahari berbeda-beda; kadang usia hilal berbeda-beda; kadang ketinggian hilal di atas ufuk berbeda, dan seterusnya. (Jadi sangat simplisit kalau ada yang mengatakan: “Mataharinya satu, bulannya satu, mata kita yang melihat; tetapi kenapa ya kok berbeda-beda hasil penglihatannya? Siapa yang salah? Mata kita atau benda-benda langit yang ada disana?”).

Baca entri selengkapnya »