Jangan Mencaci-maki A. Fathonah !!!

Mei 12, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini A. Fathonah benar-benar terpuruk. Kasus pelanggaran hukum yang dia lakukan, semakin terkuak. Lebih dari itu, kasus isteri simpanan, pemberian hadiah kepada cewek-cewek cantik, juga terungkap. Keluarga A. Fathonah sampai membuat pernyataan bahwa dia tak mewakili sikap keluarga besarnya di Makassar sana.

Dalam kondisi terpuruk begini, sebagian orang memilih jalan mencaci-maki A. Fathonah, menghinanya, mengolok-oloknya, menjadikannya parodi, dll. Lebih-lebih, dia itu fasih bahasa Arab, sarjana studi Islam, dan seterusnya.

Jangan Hinakan Dia !!!

Jangan Hinakan Dia !!!

Tapi kami menyarankan, janganlah menghina A. Fathonah, mencaci-makinya, menjadikannya olok-olok, dan seterusnya. Kita kecewa, kesal, mengkritik, mengecam, mengingkari; boleh, boleh, boleh. Tapi jangan sampai masuk ke ranah penghinaan atau pelecehan pribadinya. Cukup kita menyalahkan perbuatan dan kelakuannya, serta berharap dia dapat hukum seadil-adilnya.

Mengapa kami sarankan demikian?

Karena begini Saudaraku… Anda belum pernah berada dalam posisi seperti A. Fathonah; Anda bisa jadi belum dibukakan pintu-pintu kekayaan yang mudah dan uang berseliweran; Anda bisa jadi belum menghirup jantungnya dunia hedonisme, kafe kafe, dunia malam, godaan cewek-cewek seksi, dan seterusnya. Nah, A. Fathonah sudah mengalami itu dan ternyat dia gagal (terjerumus).

Dalam posisi demikian, alangkah bijak kalau kita tidak memaki-maki, menjadikan dia olok-olok, atau menghinanya serendah mungkin. Sebab bila suatu saat Anda menghadapi situasi yang sama, lalu jatuh juga, Anda tidak akan dihina-dinakan manusia. Ini penting.

Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kerap kali orang yang menahan diri, dia akan selamat; sementara mereka yang semena-mena, biasanya akan terperosok dalam lubang yang sama. Hendaklah kita takut akan “makar” Allah Ta’ala.

Kecuali untuk kejahatan terang-terangan, kedurhakaan yang terbuka, pembangkangan Syariat yang nyata. Dalam posisi itu, kita boleh menyerang seseorang demi menyelamatkan martabat Syariat itu sendiri. Tapi kalau kejahatan seseorang tertutup, tidak tampak secara terbuka, lebih baik kita salahkan perilaku dan perbuatannya; bukan individunya.

Dulu pernah ada seorang pemuda di Madinah. Dia sering minum khamar, tertangkap, lalu dihukum. Meskipun sudah berkali-kali kejadian demikian, dia tetap saja mengulang perbuatannya. Sebagian Shahabat kesal dan memukulinya dengan sandal. Bahkan ada yang melaknatinya. Tapi Rasul Saw melarang hal itu. Kata Nabi Saw, “Kalian jangan menolong setan atas orang itu.” Maksudnya, kalau harga diri orang itu sudah dihinakan sedemikian rupa; dia bisa putus asa, atau dia akan memilih melakukan kejahatan yang lebih hebat lagi. Nah, itu sama artinya dengan menolong setan agar lebih mudah menghancurkan orang itu.

Demikian, semoga yang sederhana ini bermanfaat. Jazakumullah khair.

Mine.

Iklan

Wadaow…Presiden PKS Jadi Tersangka Korupsi !

Januari 30, 2013

Ini berita yang menghebohkan. Tak kalah dengan berita banjir Jakarta, pesta narkoba di rumah Raffi Ahmad, dan dugaan keterlibatan Wandaq Hamidah (politisi PAN) dalam pesta itu. Untuk berita yang terakhir, sudah dinyatakan clear, Wanda tak terlibat. Tapi di internet beredar foto dia dan Cs-nya ketika sedang berdugem ria.

Bagi kalangan media, khususnya TV, munculnya “bom berita” Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishag menjadi tersangka korupsi, serasa seperti penen duit bertumpuk-tumpuk. Seolah, ada saja berita-berita heboh yang akan membuat media mereka ditonton orang.

Konon, Luthfi Ini Dulunya Veteran Mujahidin Afghan

Konon, Luthfi Ini Dulunya Veteran Mujahidin Afghan

Malam tadi, 30 Januari 2013, KPK secara resmi menetapkan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq sebagai TERSANGKA kasus suap impor daging, bersama beberapa orang lain. Kasus ini seperti musibah berturut-turut yang menimpa PKS. Belum reda rasa sakit akibat kekalahan beruntun dalam Pilkada Jakarta 2012 (kalah pada putaran 1 dan kalah juga pada putaran 2). Kini mereka harus memetik duri-duri air mata dan sembilu aib yang menusuk ulu hati.

Kok segitunya sih? Dramatik sekalee…

Lho, ini realistik lho. Dengan kalah di Pilkada Jakarta, berarti PKS sudah kehilangan kantong terkuat dukungan mereka, yaitu DKI Jakarta. Ini adalah wilayah “pilot project” gerakan politik PKS. Kalau disini kalah, apalagi di daerah lain?

Maka kini harapan PKS tinggallah wilayah Jawa Barat yang sebentar lagi menggelar even Pilkada. Ahmad Heriyawan disono sedang berpasangan dengan Dedy Mizwar untuk mencapai jabatan kedua kalinya. Kuat dugaan, jika Ahmad Heriyawan menang dalam Pilkada itu, ia bukan karena mesin politik PKS, tapi karena kepintaran Ahmada Heriyawan Cs memanfaatkan sarana-sarana birokrasi Jawa Barat untuk mendulang dukungan. Sebab, mesin politik PKS itu secara riil sudah banyak yang mampet.

Namun kalau PKS kalah di Pilkada Jawa Barat, nasibnya akan sangat malang dalam Pemilu 2014 nanti. Bisa jadi mereka akan mengulang hasil pada Pemilu 1999, yaitu tidak lolos electoral threshold.

Peluang kekalahan itu ada, yaitu ketika Presiden PKS dinyatakan sebagai tersangka korupsi. Kasus ini kalau benar-benar “digoreng” oleh media, bisa meruntuhkan PKS sampai ke dasar-dasarnya.

Menarik sekali pernyataan Anis Matta terkait kasus menghebohkan ini. Anis mengatakan, “Ini bukan persoalan institusi (PKS), tetapi pribadi. Kita harus biasakan membedakan masalah pribadi dan masalah partai.” (Detiknews.com, 31 Januari 2013).

Ini semacam jurus berkelit khas politisi. Misalnya, ada orang partai mencoba melakukan percobaan korupsi. Hasilnya bisa sukses, bisa gagal. Kalau sukses, si pelaku korupsi itu akan dimintai “bagian” untuk membantu pembiayaan partai. Tetapi kalau gagal, dia bonyok sendiri. Sudah ketangkep aparat, dikatakan pula: “Itu masalah pribadi. Tak ada hubungannya dengan partai.”

Wadaouwww…gawat deh. Sudah jatuh, ketimpa tangga, kepentok dinding, digigit kucing pula…

Mine.