Kualitas Perkataan Ruhut Sitompul

Mei 29, 2009

Baru-baru ini digelar diskusi yang menghadirkan tokoh dari tim sukses ketiga pasangan Capres RI. Dari JK-Win ada Fuad Bazir, dari Mega Pro ada Permadi, dan dari SBY-Boediono ada Ruhut Sitompul. Sebagaimana sudah sering terlihat di media-media massa, ketiga tim sukses ini memang sangat kritis dalam membela calon masing-masing. Tetapi semua pihak tahu, bahwa pasangan SBY-Boediono dianggap sebagai “musuh bersama” oleh kedua tim lainnya.

Namun tidak menyangka jika kemudian keluar pernyataan-pernyataan yang sangat provokatif dari seorang Ruhut Sitompul. Pernyataan dia menanggapi kritik-kritik pedas yang dicecarkan Fuad Bawazir kepada Pemerintahan SBY selama ini. Intinya, SBY dianggap neolib dan pro kepentingan asing.

Lalu Ruhut Sitompul melontarkan caci-maki yang sangat tidak beretika. Dia menuduh orang Arab seperti Fuad Bawazir itu tidak ada kontribusinya bagi Indonesia. Kata dia, justru Amerika dan lain-lain itu yang selama ini terus membantu Indonesia. Lebih arogan lagi, Ruhut menyebut orang Batak pintar-pintar, tapi tidak punya jalur ke Cendana. (Seolah dia mengatakan, orang Arab seperti Fuad Bawazir bisa membangun jalur ke Cendana, sehingga kemudian eksis).

Diskusi Tim Sukses Presiden (foto nasional.kompas.com).

Diskusi Tim Sukses Presiden (foto nasional.kompas.com).

Tuduhan Ruhut Sitompul ditanggapi sangat keras oleh Permadi, meskipun konteksnya lain. Permadi ganti menyerang SBY yang dianggap ikut tanggung-jawab dalam soal Kerusuhan 27 Juli 1996 di depan Kantor DPP PDI, juga dalam kerusuhan Ambon-Poso.

SANGAT BERBAHAYA

Terlepas dari siapa yang mengatakannya, pernyataan Ruhut Sitompul sangat berbahaya. Ia sangat bertolak-belakang dengan semangat PERSATUAN NASIONAL. Ruhut pasti tahu bahwa keutuhan NKRI itu dijaga dengan amat susah, susah payah, berkuang peluh dan darah. Mengapa? Sebab bangsa Indonesia memang sangat komplek dan multi kultural. Kalau seseorang masuk ke perselisihan etnis, akibatnya bisa sangat membahayakan negara.

Masih basah dalam ingatan kita bagaimana kerusuhan etnis berkali-kali terjadi di Indonesia. Kerusuhan Ambon, Maluku Utara, Poso, Aceh, Kupang NTT, Papua, Sambas, Sampit, dan lainnya. Semuanya bercorak kerusahan etnis yang membahayakan keutuhan negara.

Nah, sekarang Ruhut Sitompul seperti menyiramkan bensin ke bara api. Pernyataan dia yang menyerang komunitas Arab, lalu melebih-lebihkan komunitas Batak, jelas bisa membuat masyarakat terlibat dalam konflik berat. Nanti, kalangan Arab akan membalas ucapan Ruhut, lalu mereka mengecam kaum Batak. Lalu masing-masing pihak akan memanggil kawan-kawannya dari etnik lain untuk membantu. Jika demikian, maka hancurlah Indonesia ini. Sudah payah NKRI dijaga, ia bisa hancur lebur akibat pernyataan beracun Si Ruhut Sitompul ini.

Sebaiknya, para pemimpin politik, lembaga-lembaga resmi, serta organisasi-organisasi kemasyarakatan menuntut Ruhut Sitompul atas pernyataannya yang sangat PROVOKATIF itu. Pernyataan dia bukan saja ditujukan untuk menyerang pihak lain, tetapi bisa menghancurkan keutuhan NKRI. Alangkah baik, kalau ormas-ormas Islam menuntut mulut Si Ruhut Sitompul ini. Bukan menuntut SBY atau komunitas Batak, tetapi menuntut kelancangan mulut orang satu ini. Pernyataan dia seakan ingin menghancurkan negara melalui isu konflik etnis.

SIKAP RASIONAL

Sebaiknya, Ummat Islam jangan terprovokasi pernyataan Ruhut lalu melakukan serangan-serangan pernyataan ke kalangan komunitas Batak. Jangan lakukan itu, tetapi cukup tuntut pada diri Ruhut Sitompul-nya. Sebab, kalau kita melayani ucapan berbisa maniak satu ini, berarti kita akan terlibat dalam konflik etnis yang sangat merugikan.

Tentang peranan Arab, Batak, Jawa, dan lainnya, hal itu tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dalam suasana perselisihan. Secara manusiawi, semua pihak memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan hal itu sudah dimaklumi sejak dulu, sehingga di negara kita meskipun multi etnik, alhamdulillah tetap bersatu dalam konteks NKRI.

Sebagai contoh, orang Jawa dianggap memiliki kelemahan dari sisi ketidak-tegasan sikapnya, terlalu sopan, kadang tidak mau menyinggung perasaan orang lain. Lalu orang Batak disebut-sebut sebagai komunitas yang egaliter, berterus-terang, bisa bersikap apa adanya. Begitu pula, orang Arab. Sebagian mereka tampak keras dalam memegang prinsip, tetapi sebagian lain bersikap lembut dan ramah. Nah, hal-hal demikian merupakan keunikan tabiat bangsa Indonesia yang memang multi kultural.

Seharusnya, siapapun jangan masuk ke isu-isu yang bisa membenturkan etnis yang satu dengan lainnya. Apa tidak cukup terjadi tragedi-tragedi menyesakkan dada seperti di Ambon, Maluku, Poso, Sambas, Sampit dan lain-lain itu? Sudahlah cukup sampai disana, jangan diperlebar lagi.

Sangat disarankan agar pihak TNI angkat bicara. Bukan dalam substansi politik, tetapi mengingatkan agar kompetisi politik tidak membawa ke arah perpecahan bangsa. Sekali lagi, harus ada sikap resmi dari negara atas pernyataan sarkastik itu. Jika dibiarkan, ia akan terus membesar, lalu menjadi potensi kehancuran bagi bangsa ini ke depan. Ruhut Sitompul telah masuk ke topik yang sangat sensitif bagi bangsa Indonesia.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga bangsa Indonesia berada dalam kesatuan, kebersamaan, serta gotong-royong dalam membangun kemaslahatan dan menepiskan kemungkaran. Allahumma amin.

Bandung, 29 Mei 2009.

Waskito.