CATAT: Ancaman Pemimpin Syiah Rafidhah Ini, Wahai Muslimin!!!

Agustus 30, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini, Jalaluddin Rahmat, Ketua Dewan Syura IJABI, dalam acara “Milad Ke-63 Kang Jalal” di Kemang Raya, Rabu, 29 Agustus 2012; dia melontarkan kata-kata ancaman yang sangat serius. Kata-kata ini harus dicatat dengan tinta tebal oleh setiap Muslim (Ahlus Sunnah) di Indonesia. Berita aslinya dapat dibaca dalam tulisan berikut: Apakah Harus Memindahkan Konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia?

Berikut ini pernyataan ancaman Jalaluddin Rahmat -semoga Allah Al Aziz menenggelamkannya dalam kebinasaan dunia dan akhirat, beserta para loyalisnya; amin Allahumma amin- terhadap kaum Ahlus Sunnah di Indonesia:

“Saya kira kelompok Syiah tidak sebagus dalam tanda kutip kelompok Ahmadiyah, kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya, tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia? Semua itu berpulang pada Pemerintah.”

Ucapan seperti ini patut untuk dicatat baik-baik, karena musuh Islam yang satu ini sudah menampakkan kedok aslinya, menampakkan taringnya setelah sekian lama taring itu hanya melukai lidahnya sendiri. Jangan pernah berharap Syiah Rafidhah akan berdamai, santun, lembut, pengasih kepada kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Tidak pernah itu!

Berikut ini pelanggaran besar kaum Syiah Rafidhah, yang membuat mereka memiliki dendam/kedengkian besar kepada kaum Muslimin:

PERTAMA. Ajaran Islam yang sangat luas, indah, dan penuh kasih-sayang itu, oleh Syiah Rafidhah disingkirkan, lalu diganti ajaran permusuhan, kedengkian, dan kebencian; dengan dalih membela hak Kekhalifahan Ali Radhiyallahu ‘Anhu. Semua nilai-nilai ajaran Islam habis tandas di tangan Syiah, semuanya diganti ajaran kebencian, permusuhan, dan dendam politik.

KEDUA. Syiah Rafidhah amat sangat dalam mengibadahi imam-imam dan ulama-ulama mereka. Dalam mensifati imam-imam itu, mereka yakini para imam kekuasaannya melebihi Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, melebihi para Malaikat, bahkan melebihi Allah Ta’ala. Di mata Syiah, Allah bisa salah, tetapi para imam suci dari segala debu kesalahan. Mereka menyembah manusia dengan amat sangat, layaknya kaum Mukminin menyembah Allah Ta’ala.

“Al jannatu tahta zhilalis suyuf” (surga itu berada di bawah naungan pedang).

KETIGA. Kaum Syiah telah menghujat Syariat Islam sedalam-dalamnya, sepahit-pahitnya. Di mata Syiah, semua ajaran Syariat Islam (yang kita kenal dalam naungan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Zhahiri, atau Tarjih) ia tidak ada nilainya sama sekali. Syiah memiliki syariat sendiri, tidak seperti Syariat kita. Siapapun yang mengaku pro Syariat Islam, akan menangis kalau menyaksikan segala penghinaan Syiah terhadap Syariat Islam yang suci. Tidak akan pernah bersanding antara cinta kepada Syariat Islam dengan sikap lemah lembut kepada Syiah, selamanya. Syariat kita berdasarkan Wahyu, syariat Syiah berdasar hawa nafsu.

KEEMPAT. Syiah tidak pernah sama sekali mencintai Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, sekalipun kemana-mana mereka selalu berkilah mencintai Ahlul Bait Nabi. Mengapa demikian? Karena Syiah selalu menghujat isteri-isteri Nabi, yang beliau cintai, khususnya Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu ‘Anhuma; Syiah selalu menghujat Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang merupakan teman baik dan mertua Nabi; Syiah selalu menghujat Umar Radhiyallahu ‘Anhu, yang merupakan pembela Nabi dan mertua beliau; Syiah selalu menghujat Ustman dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum lainnya. Sejatinya, Syiah tidak memiliki cinta sedikit pun kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

KELIMA. Syiah Rafidhah selalu memusuhi para Shahabat Nabi; melazimkan caci-maki, hinaan, laknat, serta penghujatan atas mereka. Padahal dalam Surat At Taubah ayat 100 dan ayat-ayat lain, Allah telah memastikan Keridhaan-Nya kepada para Shahabat, dan Shahabat pun meridhai-Nya. Oleh Syiah, Keridhaan Allah ini selalu dilawan dengan laknatan, caci-maki, kedengkian, permusuhan, dan sebagainya. Ketika kaum Muslimin (Ahlus Sunnah) berjuang mencari Keridhaan Allah, maka Syiah justru berjuang mencari keridhaan iblis laknatullah ‘alaih.

Dengan alasan-alasan dasar seperti ini, maka kita bisa memahami makna dari pernyataan Jalaluddin Rahmat -semoga Allah menenggelamkan dirinya dan para loyalisnya dalam kebinasaan dunia dan akhirat; amin Allahumma amin-. Kita juga memahami bagaimana sikap asli Syiah Rafidhah dalam lintasan sejarah masa lalu, dan sejarah kontemporer. Kini Syiah telah mulai menampakkan taring ancamannya. Maka kaum Muslimin harus senantiasa waspada dan mempersiapkan diri.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِ

“Dan perangilah mereka, sampai tidak ada fitnah, sehingga akhirnya agama itu semata untuk Allah belaka.” [Al Baqarah: 193].

Maka bangkitlah wahai Mujahid Ahlus Sunnah! Kemuliaanmu ada bersama pembelaanmu terhadap agama Sayyidul Mursalin, Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

(Abine Syakir).

Iklan

Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

Januari 2, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.

Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.

Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.

Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).

Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”

Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?

Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.

Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik Makkah Al Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?

Mari kita jawab pertanyaan ini:

PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”

Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abahnya Syakir].