Janganlah Bersikap Sombong…

September 15, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

IFTITAH: Tulisan ini direvisi dari bentuk aslinya. Hal ini dilakukan setelah tabloid Suara Islam menurunkan tulisan simpatik tentang sosok seorang calon Ketua KPK. Tulisan itu digoreskan oleh Ustadz Aru Syeif Asadullah di kolom Khatimah, edisi 121 (7-12 Oktober 2011).

Sebagai bentuk rasa ukhuwwah antar sesama Muslim, dan menghormati para senior aktivis Islam yang banyak jasanya kepada Ummat, maka tulisan ini pun direvisi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni diriku atas segala kesalahan-kesalahan yang ada; dan semoga Allah memuliakan kita di atas jalan persaudaraan Islam. Allahumma amin.

***

Pagi ini, Kamis 15 September 2011, saya menyaksikan dialog di TV dengan seorang calon Ketua KPK. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah, kita masih bisa dinamika kehidupan Ummat di Nusantara ini.

Aku punya tanjung... Aku bisa mengeluarkan suara mendesing...

Singkat kata, dalam wawancara dengan TV di atas, tampak ada sikap-sikap arogansi yang mestinya tidak boleh tampak dalam diri seorang calon Ketua KPK. Arogansi dimanapun adalah buruk, sebab iblis dikeluarkan dari syurga dan mendapat laknat Allah karena arogansi itu sendiri.

Dalam hal ini ada kaidah sederhana. Kemungkaran yang dilakukan di depan publik, harus diluruskan di depan publik juga. Kemungkaran secara pribadi, diluruskan secara pribadi pula. Lalu, kemungkaran oleh orang-orang yang alim dalam Islam (ustadz atau ulama) berbeda dengan kemungkaran yang dilakukan oleh individu biasa. Kemungkaran oleh orang alim nanti bisa dianggap sebagai “penghalalan” kemungkaran. Cara menasehatinya pun berbeda dengan kepada orang-orang biasa. Semoga dimengerti!

Untuk sosok sekaliber Musa As saja ditegur keras oleh Allah dalam perkara arogansi, apalagi untuk insan biasa seperti kita-kita ini. Bahkan Rasulullah Saw ketika mukanya masam menyambut kedatangan orang tunanetra, Abdullah bin Ummi Maktum, seketika diingatkan dengan Surat “Abasa Watawalla”. Hal ini termasuk perkara hati, perkara sangat peka. Kita harus berhati-hati. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah.

Arogansi termasuk perbuatan yang tak diberi toleransi, kecuali bersikap arogan di depan orang sombong, dalam rangka mengingatkan kesombongannya. Hal seperti itu diperbolehkan, demi amal nahyul munkar. Meskipun harus tetap hati-hati juga.

Dalam wawancara itu saya mencatat beberapa hal yang seharusnya dihindari oleh setiap Muslim yang ISTIQAMAH di jalan Islam, karena hal itu terindikasi merupakan sikap kesombongan. Misalnya sebagai berikut:

[1]. Seseorang mengklaim diri sudah berkiprah di KPK sejak tahun 2005/2006. Posisinya sebagai anggota dewan penasehat KPK, juga ikut terlibat dalam menyusun konsep legal KPK itu sendiri. Disana dia mengklaim sangat tahu seluk-beluk lembaga KPK.  Katanya, “Andaikan ada jarum yang jatuh di KPK, saya tahu letaknya.” Perkataan ini tidak tepat, harus diperbaiki. Di dalamnya mengandung arogansi.

Dulu saya masih ingat ada politisi Muslim dari partai Islam yang didukung anak-anak muda aktivis kampus. Waktu itu, partai tersebut membawa konsep baru, yaitu mengintegrasikan antara partai politik dan partai dakwah; sesuatu yang tidak lazim dalam dunia politik di berbagai negara Muslim. Lalu dia sesumbar, “Andaikan ada 20 jilid kamus politik, lalu di dalamnya tidak ada konsep seperti ini; mengapa tidak kita membuat jilid yang ke-21.” Ya begitulah, kesombongan manusia yang akhirnya menjadi sesalan tak berkesudahan.

Taruhlah, seseorang tahu betul kondisi lahir batin, tahu istilah, hakikat dan makrifat sekaligus. Tetapi tetap tidak layak mengklaim seperti itu. Pengetahuan kita ada tanggung-jawabnya; semakin kita mengklaim “banyak tahu”, semakin besar juga tanggung-jawabnya. Semoga hal ini menjadi pelajaran.

[2]. Seseorang masuk KPK sebagai bentuk rasa cinta kepada saudara-saudara sesama aktivis Muslim, keluarganya, dll. Dia masuk KPK sebagai upaya mewujudkan rasa cinta itu.  Secara teori boleh mengungkapkan cinta kepada orang lain dengan komitmen memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Ini boleh semata, bahkan baik. Kalau korupsi terberantas, orang-orang yang dicintai itu insya Allah akan hidup dengan sejahtera dan baik.

Namun masalahnya, ketika muncul analogi kurang bagus. Disana seseorang mengatakan, kurang lebih: “Misalnya nanti di Akhirat saya masuk syurga, lalu kawan-kawan masuk neraka. Lalu mereka meminta tolong ke saya. Kalau sudah di Akhirat, saya tak bisa berbuat apa-apa…” Ucapan seperti ini tidak tepat dan tidak sesuai ajaran Islam. Tidak ada ulama Islam yang membuat pengandaian jika dirinya masuk syurga, lalu orang lain masuk neraka. Kata-kata seperti itu termasuk domain para Nabi dan Rasul.

Jadi sebaiknya kita menghindar dari kata-kata seperti itu. Bahkan lebih mulia kalau kita merendahkan diri, misalnya dengan mengatakan, “Apalah artinya aku ini? Aku ini hamba yang faqir dan lemah? Aku ini berlumur dosa. Tidaklah diriku ini, selain hamba yang sangat mengharapkan maghfirah Allah.” Kata-kata demikian dibenarkan dan insya Allah termasuk kebaikan.

[3]. Kemudian seseorang ditanya, apa yang akan dia lakukan kalau nanti menjadi Ketua KPK? Lalu dia menjawab: “Dalam waktu 6 bulan pertama, saya akan selesaikan masalah internal KPK sampai beres. Kalau selama ini masih SETENGAH MALAIKAT, akan saya buat sehingga menjadi TIGA PER EMPAT MALAIKAT.” Kalimat-kalimat demikian seharusnya dihindari. Kita ini hanya hamba-hamba Allah yang dhaif dan penuh kesalahan. Sedangkan para Malaikat itu mulia dan disucikan. Maqamnya manusia ya sebatas amal-amal manusia, tak akan bisa mencapai prestasi Malaikat.

Jangankan menjadi setengah Malaikat, menjadi 1 % saja belum tentu bisa. Karena Malaikat disucikan dari dosa, sedang kita tak luput dari dosa-dosa. Kalau membaca kisah Nabi Luth As dan kaumnya. Untuk menyelesaikan kedurhakaan kaum Sodom itu, Allah Ta’ala hanya mengutus dua makhluk Malaikat saja. Bahkan kalau mau, bisa saja Allah hanya menurunkan satu Malaikat saja seperti ketika Nabi Saw diusir kaum Thaif, lalu Allah memerintahkan Malaikat penjaga gunung untuk memenuhi kemauan Rasulullah Saw. Hal-hal demikian ini levelnya Rububiyyah Allah; yaitu level seputar urusan-urusan Ketuhanan-Nya.

Kita tak memiliki hak di kawasan seperti ini. Berhati-hatilah wahai saudaraku. Ingat pesan Nabi Saw, “Falyaqul khairan au liyasmut” (berkatalah yang baik, atau kalau tak bisa diam sajalah). Di tengah KPK sendiri banyak sekali masalah-masalah. Misalnya:  Skandal Bank Century, kasus suap pemilihan deputi gubernur BI, kasus Melinda Dee dan rekening gendut pejabat Polri, korupsi di KPU, korupsi pajak yang melibatkan grup Bakrie, Ramayana, dll.; kasus pemilihan Ketua Umum Demokrat, kasus Wisma Atlet SEAGAMES, kasus Bibit dan Ade Raharja, kasus Menakertrans, dll. Hal-hal demikian tidak boleh sama sekali diklaim sebagai SETENGAH MALAIKAT.

Jangan wahai saudaraku! Nasehat tulus kepada seseorang: “Andaikan beliau tak mampu mengendalikan segala keadaan di sekitar KPK dan diri beliau sendiri, cobalah bersikap santun. Jangan membawa-bawa nama malaikat. Malaikat adalah makhluk yang suci, patuh, dan tak pernah bermaksiyat kepada Allah seperti disebut dalam Surat At Tahrim. Janganlah kelemahan kita hendak ditutupi dengan kesucian makhluk Allah Ta’ala, sebab semua itu perbuatan curang.”

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzubika min su’il khatimah. Allahumma inna nas’alukal jannah wa na’udzubika min adzabin naar. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

Iklan

Kita Hidup di Dunia Kejam!

November 25, 2010

ARTIKEL 11:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang baik, mulia, dan penuh nilai moral. Ia bisa keluar dari lisan pejabat negara, politisi, aparat keamanan, perwira militer, pakar/pengamat, wartawan media, akademisi, tokoh ormas, tokoh agama, ustadz, aktivis LSM, tokoh mahasiswa, bahkan dari rakyat kecil.

Ucapan-ucapan baik itu misalnya:

“Mari kita sukseskan program pembangunan sebaik-baiknya!”

“Pemerintah akan selalu memperhatikan masalah rakyat, mencari solusi terbaik, mengatasi kemiskinan, membangun kesejahteraan.”

“Bangsa Indonesia harus selalu hidup rukun, damai, saling toleransi satu sama lain. Mari kita membangun kehidupan yang aman, tentram, sentosa!”

“Setiap kejahatan akan kami tindak tegas. Sudah menjadi kewajiban kami menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Agar kehidupan sosial berjalan terarah, tenang, dan proses pembangunan tidak terganggu.”

“Iklim investasi terus berkembang, situasi ekonomi semakin membaik, target pertumbuhan ekonomi akan tercapai, sehingga masyarakat akan hidup lebih sejahtera.”

“Pembangunan demokrasi harus terus ditingkatkan. Kehidupan politik perlu lebih berkembang dan kreatif, sehingga bisa menghasilkan out put kehidupan bangsa dan negara yang sejahtera, adil, dan bermartabat.”

“Aparat hukum akan selalu mengawal proses hukum secara adil, transparan, dan memenuhi rasa keadilan publik. Yakinlah!”

“Gerakan mahasiswa telah mencapai tahap kematangan dalam perspektif independensi politik, sosial, dan organisasi. Ke depan tantangan gerakan mahasiswa akan lebih berat lagi. Tetapi dengan komitmen kita bersama, semua tantangan akan dilewati dengan tenang.”

“Kehidupan agama di negara kita semakin baik, kesadaran religius masyarakat semakin meningkat, kepedulian terhadap persoalan sosial semakin tinggi. Kita optimis, Indonesia ke depan akan mencapai masyarakat adil dan makmur dalam naungan Ridha Allah.”

“Dunia pers semakin semarak. Kebebasan pers bisa terekspresikan secara maksimal. Skill insan-insan pers semakin matang. Etika jurnalistik pun terus dikembangkan sesuai konteks dan kemajuan jaman.”

    Tentu kita sangat sering mendengar ucapan-ucapan seperti di atas. Justru karena saking seringnya, akhirnya kita bisa “menghafal” retorika-retorika seperti itu. Bagi siapapun yang mendengar retorika seperti itu jelas akan senang, gembira, atau terpesona. “Alhamdulillah, ternyata kehidupan bangsa kita semakin maju, semakin sejahtera, dan bermartabat. Buktinya, ucapan-ucapan yang keluar dari elit-elit bangsa kita selalu baik-baik saja. Tidak ada yang mengeluh, bersedih, atau prihatin. Semua isinya serba baik, mulia, dan optimis.”

    "This life is very hard, brother..."

    Tetapi ucapan-ucapan yang baik itu ternyata hanya ada DI ATAS KERTAS. Atau sekedar TEORI, atau RETORIKA belaka. Dalam kenyataan, yang benar-benar kita saksikan, yang dialami masyarakat atau ditanggung oleh rakyat, kebanyakan jauh dari semua ucapan-ucapan itu. Teorinya selangit, tetapi kenyataan sangat buruk! Apa yang kerap kita saksikan dalam nyata jauh dari keindahan retorika-retorika itu. Banyak fakta-fakta bisa disebut, betapa kehidupan ini sebenarnya jauh lebih KEJAM dari yang kita bayangkan. Saat ucapan-ucapan bermoral terus dibuat, pada saat yang sama fakta-fakta kebohongan dan dusta terus terungkap.

    Mari kita lihat sebagian fakta-fakta yang ada di lapangan…

    [01] Sebagian pejabat mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus turun, hanya tinggal sekitar 13 juta jiwa saja. Padahal patokan kemiskinan itu ialah penghasilan per hari sekitar Rp. 9.000,-. Dengan nilai penghasilan sebesar itu, atau Rp. 270 ribu per bulan, kira-kira manusia bisa hidup dengan apa? Semestinya menteri perekonomian mencontohkan hidup sehari-hari dengan penghasilan sebesar itu. Seberapa kuat dia bisa menahan kemiskinan?

    [02] Katanya pertumbuhan ekonomi negara kita semakin tinggi. Namanya pertumbuhan ekonomi, seharusnya hal itu berdampak meningkatkan kemakmuran. Tetapi kenyataannya sangat ironis! Kesempatan kerja justru sangat sulit. Setiap ada pendaftaran CPNS selalu berjubel dipadati pencari kerja. Malah yang sudah mapan bekerja di swasta pun ingin jadi PNS. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi. Inilah FITNAH EKONOMI: Mencari penghasilan semakin sulit, sementara harga-harga kebutuhan terus meninggi.

    [03] Anak-anak kita selama belasan tahun menempuh pendidikan di sekolah. Malah mereka wajib sekolah sampai lulus SMP. Selama itu mereka harus masuk sekolah (tidak boleh telat atau sering bolos), harus mengerjakan PR, harus mengerjakan tugas, mengikuti ujian, aneka test, dll. Tetapi setelah lulus sarjana, mereka digiring untuk menjadi pengangguran kolektif. Perjuangan meletihkan oleh jutaan anak selama belasan tahun, seperti dibuang begitu saja.

    [04] Sebagian orang harus mengeluarkan uang pelicin sampai Rp. 50 jutaan, untuk mendapat nomer induk sebagai PNS atau masuk dinas kepolisian. Angka itu sekarang mungkin bisa lebih mahal lagi. Wajar kalau para birokrat sesak dengan korupsi, wong sejak awal saja mereka sudah korup (main suap).

    [05] Beberapa tahun lalu ada sebagian orangtua rela mengeluarkan dana sampai Rp. 200 juta, untuk membeli satu kursi bangku perkuliahan di ITB. Saat sekarang, ada yang senilai itu untuk mendapat bangku Fak. Kedokteran di UNPAD. Ada juga yang mengatakan, untuk menyelesaikan studi kedokteran butuh dana setidaknya Rp. 300 jutaan. Padahal nanti setelah lulus, belum tentu sukses.

    [06] Untuk mengikuti pencalonan Bupati/Walikota, setidaknya seseorang harus punya modal minimal Rp. 15 miliar. Untuk level Gubernur, harus ada modal sekitar Rp. 30 miliar. Untuk menjadi anggota DPR/DPRD harus bermodal ratusan juta sampai miliaran rupiah. Itu pun belum tentu terpilih. Ini jadi seperti “jual-beli” jabatan. Paling apesnya, ada yang gila, stress, dan bunuh diri ketika pencalonan itu gagal.

    [07] Untuk mendapat proyek pemerintah, banyak orang harus mengeluarkan uang besar untuk menyogok pejabat-pejabat terkait. Nanti yang terpilih ialah yang paling besar sogokannya. Bahkan sudah bukan rahasia lagi, untuk memenangkan tender proyek banyak perusahaan memberi bonus berupa “paha wanita”, kunci mobil, uang rekening, satu unit rumah bagus, dll.

    [08] Hampir tidak ada satu pun pejabat yang peduli dengan orang miskin, kaum terlantar, anak gelandangan, tunawisma, pengemis, dll. Bahkan mereka melihat orang-orang malang itu dengan tatapan mata jijik. Mereka baru mau bersentuhan dengan orang malang, semata demi pencitraan politik. (Mau sih makan nasi bungkus di tenda pengungsian, setelah itu muntah-muntah di rumah). Semua ini demi pencitraan publik semata.

    [09] Banyak anggota dewan di Jakarta (DPR RI) yang mencari pelayanan seks dari wanita-wanita WTS. Permadi pernah mengatakan, di DPR itu ada pemasok wanita-wanita semacam itu. Sebagian anggota DPR sudah beredar video-video mesum-nya. Yang paling parah ialah rekaman perkataan anggota DPR yang mengatakan, “Siapa yang berbaju putih itu?” Sampai dalam acara konggres sebuah partai politik (berkuasa) di Padalarang Bandung, seorang politisi partai itu melakukan perbuatan nista kepada seorang SPG. Tetapi kasus terakhir ini tidak segera dibawa ke ranah hukum, karena hegemoni politik.

    [10] Banyak perusahaan-perusahaan seenaknya mencemari sungai, mencemari sawah, mencemari air tanah, mencemari lingkungan, atau minimal mencemari udara. Kalau ditanya, jawaban mereka klise, “Omong kosong dengan lingkungan. Gue butuh duit. Masa bodo dengan lingkungan. Lo jangan banyak bacot. Ntar lo gue kirimin anggota Kopassus buat ngasih hadiah ye.” Orang-orang ini lebih tepat disebut maling, daripada pengusaha.

    Baca entri selengkapnya »