Menghargai Jasa Seorang Muslim…

November 3, 2008

Sungguh, menulis tentang Soeharto itu sangat tidak mudah. Bukan karena kita tidak memiliki bahan untuk ditulis, tetapi opini keliru yang telah terbentuk sangat massif, luas, dan mengkristal di dasar otak jutaan manusia. Gambaran umum yang ada Soeharto itu kejam, zhalim, koruptor, memperkaya diri, militeristik, dan seterusnya. Selama lebih dari 10 tahun, media-media TV mendoktrinkan politik mereka secara intensif, sehingga sikap melawan arus disini akan seketika dihakimi sampai hancur. Na’udzubillah.

Saya sudah memahami masalah ini sejak lama. Bahkan istilah-istilah yang dipakai untuk menghancurkan siapapun yang berusaha berkata obyektif tentang politik Soeharto sudah digudangkan dengan sangat rapi. Kalimat seperti: antek Soeharto, antek Orde Baru, pro Soeharto, pro status quo, anti Reformasi, anti perubahan, orang suruhan Cendana, pro militer, dsb. Banyak sekali.

Jadi proses indoktrinasi disini berjalan dengan dua arah: Pertama, mengangkat berbagai isu yang mendukung liberalisme di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pergaulan, seni, informasi, sampai keyakinan (SEPILIS). Kedua, menghantam siapapun yang tidak setuju dengan liberalisasi dengan label antek Soeharto, pro Orde Baru, anti Reformasi.

Cara demikian sudah dilakukan sejak jaman Fir’aun di Mesir dulu. Cobalah baca dialog-dialog antara Fir’aun dengan Musa As. Fir’aun tidak hanya menyerang misi Kenabian yang dibawa oleh Musa, tetapi Fir’aun juga ingin melakukan pembunuhan karakter kepada Musa, dengan tuduhan Musa adalah tukang sihir, dan hendak menyesatkan kaumnya dari agama semula. Ini cara klasik, tetapi terus dipakai oleh siapapun yang berjalan di atas akidah kebathilan.

Mungkin karena alasan inilah, banyak kaum Muslimin tidak berani mengungkit-ungkit tentang kebaikan Soeharto. Padahal faktanya sangat banyak dan kita rasakan manfaatnya sampai saat ini. Sistem bank Syariah itu dimulai dari era Soeharto; begitu pula dengan legalisasi jilbab, sistem ONH, BMT, kopontren, labelisasi halal MUI, UU Perkawinan, UU Pendidikan Nasional, penerimaan KHI, dan sebagainya. Banyak dan banyak sekali.

Baca entri selengkapnya »

Iklan