Saat SBY Ditinggalkan JK

Februari 26, 2009

Baru-baru ini, 20 Februari 2009, di istana Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyatakan kesiapannya untuk menjadi capres Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2009 nanti. Deklarasi kesiapan JK ini memberi efek luar biasa dalam konstelasi politik masa kini. Bukan saja bagi Golkar, bagi Partai Demokrat, tetapi juga bagi partai-partai lain, termasuk PKS yang sejak semula sangat gemas mendesak agar Golkar segera mengumumkan capresnya.

Mari kita sedikit belajar tentang analisis politik. Hal ini sekaligus sebagai bukti bahwa kita bukan antipati dengan politik; tetapi memikirkan bagaimana cara lebih Islami memainkan melodi politik ini.

Kok Presiden Bersaing dengan Wapres?

Banyak orang khawatir, Pemerintahan SBY-JK tidak akan mulus sampai akhir masa bakti kabinet, karena khawatir Presiden-Wapres bersaing dalam Pemilu 2009. Kekhawatiran itu relatif, meskipun dalam konteks demokrasi, ya bisa-bisa saja. Tidak ada keharusan harus seiya-sekata, seiring-sejalan, sampai masa kepemimpinan berakhir.

Lagi pula untuk partai sebesar Golkar, mereka telah memiliki sistem yang kuat, sehingga tidak harus JK diperjuangkan dengan meninggalkan posisinya sebagai Wapres. Justru, Partai Demokrat belum teruji ketangguhan sistemnya. Tapi bagaimanapun, etisnya para politisi Golkar memikirkan bagaimana caranya agar agenda politik mereka tidak merugikan masyarakat Indonesia secara umum.

Ya, inilah realitas demokrasi era Reformasi. Proses perebutan kontrol birokrasi berjalan jauh lebih dinamis daripada di jaman Orde Baru dulu. Salah satu contoh, SBY ketika mencalonkan diri sebagai capres pada Pemilu 2004 lalu, dia mundur dari jabatan Menko Polkam kabinet Megawati. Mungkinkah suatu saat JK akan mundur juga? Ya bisa saja!

Bagaimanapun, jangan karena ambisi kekuasaan, kepentingan masyarakat luas dirugikan. (Tetapi apa artinya harapan ini, wong masyarakat kita sendiri sudah sangat kenyang mendapat ujian-ujian politik).

Golkar Sebagai Partai Gemuk

Istilah gemuk disini untuk menunjukkan bahwa perolehan suara Golkar dari Pemilu 1999 sampai 2004 selalu besar. Bahkan pada Pemilu 2004 lalu Golkar meraih suara tertinggi. Namun besarnya suara Golkar tidak berhasil membuatnya menguasai tampuk kepemimpinan birokrasi. Pasca Pemilu 1999 Wahid dan Mega yang menduduki kursi RI-1, Golkar tidak mendapat pos yang significant. Tahun 2004, Golkar tidak berhasil meraih kursi Presiden, namun hanya mendudukkan Jusuf Kalla di kursi Wapres. Padahal Jusuf Kalla ketika bergandengan dengan SBY, dia seperti politisi yang “tersingkir” dari arus utama politik Golkar. JK waktu itu bisa dianggap sebagai politisi yang bandel, karena bergerak di luar mainstream Golkar.

Orang gemuk biasanya menunjukkan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Tetapi di lain sisi, kelemahan orang gemuk adalah: kurang mampu bergerak lincah. Begitu pula Golkar, suaranya besar, tetapi tidak mampu meraih puncak piramida politik kursi RI-1. Dengan kenyataan seperti ini, tidak heran jika Golkar sangat berhati-hati dalam soal pencalonan capres, khawatir akan semakin trauma dengan peluang RI-1.

Kalau kini Golkar berkata lantang tentang capres-nya, ia adalah sinyal politik bahwa di tubuh partai ini sedang “gemuruh” dengan segala macam aspirasi politik, tetapi pada saat yang ada trauma kalau kalah untuk kesekian kalinya. Seperti orang gemuk, dalam tubuhnya berjalan sekian banyak dinamika biologis, tetapi harus ekstra hati-hati untuk melangkah.

Baca entri selengkapnya »