Rahasia: Mengapa Jokowi Dipaksakan Nyapres pada 2014 ???

Maret 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebenarnya, mencalonkan Jokowi sebagai Capres untuk 2014 ini sangatlah RISKAN dan mengandung bahaya politik besar. Bahaya bukan hanya buat sosok Jokowi, tapi juga untuk kepentingan warga Jakarta, kepentingan rakyat Indonesia, dan dunia politik itu sendiri.

Secara itung-itungan politik, mencapreskan Jokowi bagi PDIP adalah bunuh diri. Mengapa demikian? Karena PDIP akan pecah kongsi dengan Prabowo-Gerindra. Itu sudah otomatis. Kemudian, PDIP akan dimusuhi oleh warga DKI Jakarta yang merasa dikhianati oleh Jokowi. Warga Jakarta yang semula dukung Jokowi (anti Foke) otomatis akan menjadi lawan PDIP. Padahal dalam tradisi politik di Indonesia, kemenangan di Jakarta sangat menentukan, karena ini adalah daerah khusus ibukota.

Karakter Harimau

Karakter Harimau

Sangat mungkin, dengan mencapreskan Jokowi, justru suara PDIP akan mengalami kemerosotan hebat. Mengapa? Karena partai ini dianggap ingin menang sendiri. Saat Jokowi lagi laku-lakunya di media, karena dukungan sponsor Mafia China yang intensif untuk membentuk pencitraan; PDIP mengakuisisi Jokowi. Sebaliknya, di mata semua partai yang punya kandidat capres masing-masing, mereka merasa marah dengan naiknya Jokowi melalui dukungan palsu media. Mereka pasti tidak rela kursi RI-1 jatuh ke tangan capres selain dari kubu mereka sendiri. Nah, di sini PDIP bisa dikeroyok oleh semua kekuatan politik.

Di sisi lain, pencapresan Jokowi tidak didukung oleh prestasi, kinerja, dan capaian positif. Di Solo masih meninggalkan seabreg masalah dan kasus hukum. Di Jakarta, apalagi. Jokowi nyaris baru blusukan kesana kemari, sambil tidak jelas apa hasilnya. Dalam pertarungan pilpres nanti, pasti rakyat akan melihat hasil kerja, bukan citraan. Bayangkan, kalau nanti Jokowi kampanye Pilpres, dia akan membuat janji-janji apalagi, wong janji-janjinya saat Pilkada DKI tidak ada yang direalisasikan dengan beres? Nanti dia akan jadi kandidat presiden yang paling banyak dicaci. “Halah ngibul, gombal, banyak omong. Janji segunung, hasil nol besar.”

Singkat kata, mencalonkan Jokowi sebagai Capres PDIP adalah blunder besar yang telah merusak reputasi partai itu selama 10 tahun terakhir. PDIP yang telah dikesankan oleh rakyat, bukan atas dasar surve dan pooling abal-abal ya, sebagai partai oposisi yang konsisten, sekarang harus ketar-ketir menyelamatkan mukanya. Dan pasti, pencapresan Jokowi itu akan membelah kekuatan PDIP menjadi dua, barisan pro dan kontra. Itu pasti. Meskipun PDIP berusaha mati-matian menyembunyikannya.

Mengapa Megawati tega menikam partainya sendiri demi memuluskan jalan bagi Jokowi untuk nyapres pada 2014?

Kemungkinan itu terjadi karena SANGAT KUATNYA tekanan dari Mafia China ke kubu Megawati. Ada kabar menyebutkan, sebelum pengumuman pencapresan dilakukan, sekitar 75 pengusaha besar China, datang ke Lenteng Agung untuk menekan Mbak Mega. Katanya, mereka sedia siapkan dana 2 triliun untuk pemenangan Jokowi.

Tapi tekanan ini bisa jadi lebih besar dari itu. Ia menyangkut hajat bisnis keluarga Megawati sendiri dan keselamatan posisi politiknya. Kami menduga, jaringan mafia pengusaha China itu menekan Mbak Mega minimal dalam dua poin: (a). Mereka akan melibas binis CPO/produksi minyak sawit yang selama ini deras menafkahi keluarga Megawati, sejak era Mega menjadi Presiden RI 2001-2004 lalu; (b). Mereka mengancam akan buka-bukaan soal data korupsi/pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Mega dan keluarga. Dengan tekanan begitu, tentu sangat sulit bagi Mega dan kawan-kawan untuk mendiamkan ajuan mafia China.

Oh ya, apa rahasia di balik pencapresan Jokowi ini? Masih ada rahasia lain yang lebih “menggiurkan”?

Sebenarnya, para mafia China juga tahu bahwa pencalonan Jokowi sangat berisiko. Risiko terbesar adalah mengundang amarah politik/sosial Umat Islam yang telah dikalahkan dalam Pilkada Jakarta sehingga terpilih Ahok sebagai wakil gubernur. Pencapresan Jokowi jelas akan menaikkan Ahok sebagai Gubernur DKI. Dan kita tahu sendiri, dalam kepemimpinannya Ahok lebih seperti orang stress daripada seorang Wakil Gubernur. Omongan dia lebih mirip ucapan preman Cilitan atau Kampung Rambutan, daripada seorang pejabat birokrasi.

Bagi kalangan mafia China, lebih suka damai-damai saja, ekonomi lancar, kehidupan normal, daripada situasi konflik sosial membara dimana-mana. Loyalitas mereka ke uang. Mereka cuma butuh “tempat aman dan waktu tenang” untuk cari uang. Kalau ada semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”; di mata mafia China semboyan itu diubah jadi: “Dari duit, oleh duit, dan untuk duit.” Ini benar-benar nyata. Duit telah menjadi ILAH yang diibadahi dan diberikan loyalitas sempurna.

Mereka dengan sangat terpaksa memilih Jokowi karena mereka SANGAT KETAKUTAN kepada sosok Prabowo Subianto yang dalam Pilpres 2014 ini diperkirakan akan merajai arena. Konon, tak ada satu pun sosok lain, setelah SBY, yang bisa menandingi Prabowo. Para mafia China sangat takut dengan ide kemandirian, kedaulatan, kerakyatan yang diusung oleh Prabowo. Bagi mereka, membiayai kemenangan Jokowi meskipun harus mengeluarkan uang 10 triliun rupiah, tidak masalah. Asalkan jangan Prabowo yang menang.

Mereka tak peduli Jokowi tak punya prestasi, tak becus ngatur Jakarta, khianat pada kepercayaan rakyat, melanggar janji-janji, dan seterusnya. Mereka tak peduli semua itu. “Persetan dengan prestasi Jokowi!” Begitu kira-kira omongan mereka. Mereka semata-mata hanya TIDAK INGIN MELIHAT NEGARA INDONESIA DIPIMPIN OLEH PRABOWO. Sekalipun sebenarnya yang membawa Jokowi ke Jakarta adalah Prabowo sendiri. Maka itu uang miliaran-triliunan siap dihambur-hamburkan, untuk mengangkat pamor Jokowi dan hancurkan pamor Prabowo.

Mengapa mereka begitu phobia dengan Prabowo? Mengapa mereka tidak bisa menerima Prabowo, padahal tokoh itu sudah melakukan “operasi plastik politik” sangat ekstrem seperti para selebritis Korea?

Prabowo sudah melakukan segala-galanya untuk mengubah citra dirinya. Dari pro rakyat, jadi pro kapitalis. Dari anti China, jadi shohiban sama China. Dari dekat ke Islam, jadi membuat marah Umat Islam. Dari konsep kemandirian, jadi konsep “pasar bebas”. Dari kesan militeristik jadi pejuang demokrasi sejati. Dan seterusnya. Kalau ada yang belum berganti dari sosok Prabowo paling dua hal: agama dan jenis kelamin.

Lulunya Kambing

Lucunya Kambing

Nah, mengapa kaum mafia China masih belum percaya juga dengan semua “operasi plastik” Prabowo Subianto itu?

Ya alasannya kembali ke filosofi dasar hidup mereka. Kaum mafia China kan terkenal dengan slogan: “Dari duit, oleh duit, untuk duit.” Dalam konteks ini, mereka jadi sangat paranoid terhadap perubahan sistem pemerintahan yang akan berdampak pada perubahan income dan kekayaan mereka.

Di mata mafia China berlaku prinsip semacam ini: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing. Lebih baik kamu perlakukan semua hewan sebagai harimau.” Ini adalah tingkat kewaspadaan tertinggi dalam penjagaan aset-aset kekayaan. Mereka tak mau ambil risiko dengan menerima kemungkinan perubahan ideologi atau pemikiran seseorang.

Hal yang sama juga berlaku bagi PKS. Meskipun Anis Matta sudah mendatangkan grup penyanyi gereja dari NTT untuk manggung di tengah perhelatan massa mereka di Senayan. Tetap saja, semua itu tak akan mengubah pendirian mafia China terhadap PKS. Sama sekali tak akan mengubah apapun. Dasarnya ya filosofi tadi: “Jangan pernah menunggu harimau akan berubah menjadi kambing…

Filosofi dasar kaum mafia China ini susah berubah, dengan cara apapun, karena ia merupakan kunci eksistensi mereka di perantauan. Hal itu sudah berlaku dalam lintasan sejarah selama ribuan tahun. Ini sudah clear dan sulit berubah. Ia sudah inheren dengan kebudayaan oriental. Kalau berubah, justru eksistensi jadi taruhan. Meminjam kata Nabi SAW: “Pena-pena sudah diangkat, lembaran-lembaran sudah ditutup.”

Tak mungkin “operasi kamuflase politik” akan mengelabui mereka. Jangan meremehkan sejarah mereka, ribuan tahun. Maka itu harusnya kalau berpolitik yang LURUS-LURUS saja. Satu muka, satu pendirian, satu integritas. Jangan suka mencla-mencle!

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Biarkan Jokowi “Hedon” 3 Bulan…

Oktober 16, 2012

Hhmm…

Maksud hedon” disini bukan artinya senang-senang, menghamba hawa nafsu, seperti yang ditulis di bagian lain. Maksudnya ialah, bersantai, tenang-tenang, enak-enakan, bermesra-mesra dengan media, memungut puji-puji segunung, dan seterusnya. Biarkan Pak Jokowi enak-enak, menikmati posisi Gubernur DKI selama 3 bulanan pertama. Dia perlu dapat “hiburan manis” setelah susah-payah berjuang menuju GDKI-1 (posisi Gubernur DKI…he he he).

Eeee…

Apa ya, Jakarta itu kota yang super komplek, sangat rumit, tidak sesederhana yang dibayangkan. Jakarta adalah provinsi paling rumit di seluruh Indonesia. Ia provinsi, sekaligus kota; kota tetapi provinsi. Dari sisi ini saja, kita sudah merasa puyeng. Kok ada sebuah kota sebesar provinsi…

Siapa Nih? Bang Haji apa Maradona? Napa Die Ada Dimari…

Jakarta itu rumit sekali. Ia bukan Solo yang merupakan sebuah kota penting di Jawa Tengah. Jakarta berbeda dari Solo, dalam sebagian besar konstruksi kota dan tipikal rakyatnya. Beda, beda, beda sekali.

Sudah banyak pemimpin gagal di Jakarta ini; dalam artian, gagal mewujudkan impian dan harapan warga Jakarta dan sekitarnya. Kini ujug-ujug Jokowi muncul, bersama sosok pemimpin gagal Ahok. Jokowi secara gagah mengatakan, bahwa Jakarta butuh: pemimpin yang berkarakter, manajemen yang kuat, dan tindakan nyata. Tapi ya semua itu baru sebatas teori atau retorika.

Haaa…

Masalah terbesar Jokowi di Jakarta bukan soal minimnya dukungan dari DPRD, karena dia cuma didukung PDIP dan Gerindra; tetapi ya realitas jaringan kekuasaan politik-ekonomi-sosial yang selama ini mendominasi kehidupan rakyat Jakarta. Itu masalah utamanya. Jokowi pemain baru, tidak mudah baginya untuk menerobos jaring-jaring kekuasaan politik-sosial-ekonomi yang sudah sangat kuat di Jakarta. Jangankan dia, Pak SBY saja tak mampu kok. Mafia PBB (Politik-Birokrasi-Bisnis) di Jakarta sangat kuat… Mereka tak akan begitu saja memberi cek kosong kepada Jokowi.

Kalau diibaratkan sebuah kerajaan, Jokowi ini seperti seorang menteri yang baru dilantik. Di Jakarta, dia akan berhadapan dengan raja (presiden), permaisuri (isteri presiden), para pangeran (keluarga dan anak buah presiden), para panglima (jendral-jendral), para menteri lain (menteri-menteri kabinet, pimpinan BUMN), para bangsawan (kaum elit, para pengusaha, bisnisman), para pejabat asing (orang-orang ekspatriat yang membawa missi asing), dan lain-lain.

Tapi kalau baca program-program Jokowi, seperti yang dimuat dalam situs KPUD Jakarta, tentang program-program semua kandidat Gubernur DKI 2012. Program dia justru sangat kapitalistik-liberal. Ini sangat mengherankan. Program dia paling kapitalistik-liberal dibandingkan calon-calon lain. Satu sisi, hal itu seperti tidak selaras dengan ide-ide ekonomi kerakyatan Gerindra; di sisi lain, Jokowi selama memimpin Solo mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang merakyat. Kok bisa begini ya? Mana yang benar? Apa program-program itu cuma formalitas belaka? Atau kesan “merakyat” di Solo hanya kamuflase, sebelum akhirnya mengeluarkan jurus kapitalisme-liberal untuk Jakarta? Tak tahulah awak…

Tapi sejujurnya, langkah Jokowi akan menghadang banyak rintangan. Misalnya, dia ingin memindahkan Busway ke pinggiran kota Jakarta.  Itu artinya, dia harus membuat pengganti Busway untuk angkutan di tengah kota.  Apa penggantinya? Monorail atau MRT? Atau apa?

Misalnya dia memilih Monorail, maka dia harus koordinasi dengan Departemen Perhubungan, dengan Badan Pertanahan (untuk soal lahan lintasan Monorail), dengan Departemen Keuangan untuk investasi, dengan PLN untuk menyediakan listrik, dengan kepolisian untuk rekayasa lalu-lintas, dengan DLLAJR, dengan PT. KAI, dengan developer, dengan penyedia prinsipal teknologi, dengan partai politik, dengan media massa, dengan ini dan itu, sangat banyak urusannya. Jadi, tidak sekejap Jokowi bilang “bikin Monorail”, lalu seketika bulan depan terwujud. Tidak begitu.

Jadi menurut saya, Jokowi itu hanyalah seorang politisi (pemimpin) yang sengaja dikorbankan, atau diabuang; ketika dia didapuk untuk memimpin Jakarta. Setelah 3 bulan memimpin, dia akan dicaci-maki, dia akan diolok-olok, atau bahkan dibuatkan kartun yang sifatnya mengejek. Intinya, Jokowi ini seorang pemimpin yang akan “dikubur” di Jakarta.

Sebenarnya, letak kesalahannya ialah pada janji-janji Jokowi yang terlalu tinggi. Dia menjanjikan perubahan dramatik, sesuatu yang dinanti semua orang, tapi sangat susah direalisasikan. Sekarang Jokowi jalan-jalan dari kampung ke kampung; masalahnya, orang Jakarta beda dengan orang Solo. Warga Solo sopan-santunnya tinggi, kalau Jakarta tau sendiri. Jalan-jalan blusukan kampung itu bukan solusi untuk Jakarta; tetapi kalau untuk melihat masalah riil masyarakat, itu boleh sepenuhnya.

Sangat unik melihat pada sosok Amien Rais, ketika dia menyerang Jokowi dengan sangat pedas dan kasar. Kelihatan seolah dia “sakit hati” ke Jokowi, mungkin karena teori-teori politiknya sering gagal. Amien menyerang Jokowi sedemikian rupa agar Jokowi gagal, tetapi terbukti dia sukses jadi gubernur. Lalu apa pengaruh dari kemarahan dan emosi Amien Rais yang kemarin-kemarin? Apakah dia sampai sekarang masih emosi atau tambah emosi? Entahlah, kadang dibutuhkan kemarahan tertentu agar wakil yang didukung PAN sukses dalam pertarungan politik; meskipun akibatnya kalah lagi, kalah lagi.

Tetapi kita melihat, tanpa harus dimarahi juga, Jokowi pasti gagal. Gagalnya bukan karena dia tak bisa memimpin; tapi dia terlalu keburu sesumbar ingin menyelesaikan masalah Jakarta dalam waktu cepat. Itu kesombongan. Itu tidak bagus. Pak Jokowi terlalu PD, dan media-media sekuler bergemuruh tepuk-tangan dan sorak-soray mengkampanyekan sosok Jokowi.

Wwwuuihh…

Maaf ya Pak Jokowi, Pak Gubernur. Bukan kami tidak mendukung, atau bersikap negative thinking. Bukan itu. Tetapi Anda terlalu under estimate terhadap problematika di Jakarta. Seolah problema itu sangat mudah diatasi. Tidak semudah itu Pak. Melalui analisa sains pun, tidak semudah itu. Contohnya, ya Mobil SMK yang Bapak kampanyekan itu. Terbukti sampai saat ini tidak jelas bagaimana hasilnya. Gimana nasib Mobil SMK itu? Ya ini hanya sekedar renungan saja, agar kita jangan terlalu sombong dalam membuat pernyataan atau janji-janji.

Okeh Pak Jokowi, silakan bekerja, silakan berkarya… Kota Jakarta telah menantikan segala daya dan upayamu. Adapun soal Amien Rais marah-marah dan emosi; ya biasalah, kadang manusia makin senja usia semakin sensitif. Jangan terpengaruh itu.

Masa 3 bulan cukuplah untuk bermesra-mesraan dengan media dan segunung puja-puji masyarakat. Setelah itu…ya itulah Jakarta. Ia adalah kota yang dinamakan Jaya Karya, kota yang berjaya. Nama ini terambil dari inspirasi Surat Al Fath: Inna fatahna laka fathan mubina (sesungguhnya Kami telah memenangkan kamu dengan kemenangan yang nyata).

Jadi Jakarta itu, kalau mau berjaya, harus dipimpin oleh manusia yang kuat, luas wawasan, bermental baja, pemberani, lembut hati, dan Mukmin sejati. Kalau selain itu, apalagi kalau tipikalnya seperti anggota boyband, waduh sangat tidak bagus…

Udeh…gitu aje ye Bank Kowi. Selamat “hedon”, eh maksudnya selamat santai-santai, enak-enak, untuk 3 bulan pertama ini.

Mine.


Jokowi Menang di Pilkada DKI Putaran 2

September 17, 2012

Sebentar lagi, tanggal 20 September 2012, akan digelar Pilkada Jakarta putaran ke-2. Ya seperti yang dimaklumi, pasangan Jokowi-Ahok akan bertarung melawan pasangan Foke-Nara. Bertarung disini maksudnya bukan dalam arena duel “master martial art”, tapi dalam even Pilkada biasa.

Dari berbagai pertimbangan politik, ada dugaan kuat, pasangan Jokowi-Ahok akan memenangkan Pilkada Jakarta 2012. Ini bukan karena ramalan, berdasarkan wangsit, atau ilmu gathuk-gathuk-an. Juga bukan karena melihat hasil surve-surve yang aneh itu. (Surve-surve begituan tak perlu dianggap; intinya mereka kan mencari uang, bukan melayani kebenaran). Tetapi memang disini ada pertimbangan sains politiknya.

Pemilih Wanita Lebih Melihat Penampilan, Bukan Ideologi.

Ada beberapa analisis yang bisa menguatkan peluang Jokowi-Ahok untuk memenangkan Pilkada Jakarta, antara lain:

[a]. Sejak kemenangan SBY dalam Pilpres 2004 lalu, kandidat-kandidat yang menang dalam pemilu, rata-rata bukan karena faktor ideologis; bukan pula karena faktor program dan agenda yang hebat; tetapi lebih karena faktor OPINI MEDIA dan STRATEGI VISUALISASI. Mayoritas pemilih lebih melihat penampilan kandidat dan popularitasnya. Calon yang tampak ganteng, muda, keren, dan didukung selebritis; sering kali memenangi pemilu.

[b]. Kondisi dalam poin ‘a’ di atas terjadi, karena sebagian besar para pemilih adalah kaum wanita (perempuan). Mereka ini sikap politiknya sangat dipengaruhi oleh PERASAAN, bukan timbangan ideologi. Ketika Ahmad Heriyawan dan Dede Yusuf memenangi Pilkada Jabar tahun 2008, hal itu karena penampilan mereka dianggap lebih fresh, dinamis, dan tersohor lagi.

[c]. Dalam Pilkada DKI tahun 2007, media-media massa seluruhnya mendukung pasangan Foke-Prijanto. Hal itu terjadi karena lawan dari Foke adalah pasangan Adang Dorodjatun dan Dany yang didukung PKS. Media massa ingin mengambil posisi berseberangan dengan PKS. Pada Pilkada 2012 ini media massa justru sebagian besar mendukung Jokowi-Ahok. Hingga presenter-presenter TV banyak memakai baju “kotak-kotak”, dan mereka tidak ada yang sengaja mempromosikan “kumis”.

[d]. Secara visual, ketika dipadukan antara gambar Foke-Nara dan Jokowi-Ahok; pasangan Jokowi lebih disukai, karena dia mencerminkan penampilan kalem, rendah hati, muda, energik, dan -yang paling penting- enak dilihat. Air muka Jokowi yang sering tersenyum, ramah, dan santai; hal itu sangat kontras dengan air muka Foke yang terkesan kaku, kethus, arogan, dan formalis. Para pemilih wanita, cenderung lebih menyukai Jokowi.

[e]. Slogan kampanye yang diusung Jokowi, untuk mengadakan perubahan di Jakarta, cukup mengena. (Soal nanti terjadi perubahan positif atau negatif, itu lain soal). Tapi ide perubahan ini cukup mengena di hati masyarakat. Sedangkan ide “bersatu” yang dibawa oleh Foke seolah mengesankan, di Jakarta sedang ada konflik sehingga masyarakat perlu bersatu.

[f]. Banyaknya pihak (terutama aktivis Muslim) yang ikut menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok melalui isu-isu tertentu; hal tersebut akan membuat pasangan itu mendapat peluang melalui tema “pihak terzhalimi”. Hari ini aparat Jakarta dikerahkan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak memilih pemimpin non Muslim; juga munculnya isu-isu sejenis yang bersifat emosi keagamaan; hal ini bisa dimanfaatkan oleh tim sukses Jokowi-Ahok untuk memposisikan pasangan mereka sebagai orang “yang terzhalimi”.

Begitulah sebagian analisa yang bisa dikemukakan. Ini hanya analisa; yang terjadi di lapangan adalah apa yang Allah kehendaki harus terjadi. Dari segi apapun, kaum Muslimin harus siap menghadapi kenyataan nanti. Baik Jokowi maupun Foke, tidak ada yang ideal menurut kepentingan maslahat kaum Muslimin di Jakarta (dan Indonesia).

Jika benar Jokowi-Ahok yang menang; maka para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus memikirkan bagaimana caranya agar gubernur yang terpilih itu tidak melakukan “balas dendam politik” karena mereka telah disudutkan sedemikian rupa, sebelum Pilkada terjadi.

Kalau Foke-Nara yang terpilih, para aktivis, dai, ustadz, dan ormas Islam harus juga ikut bertanggung-jawab; mereka harus mendorong agar Foke melakukan perubahan positif yang besar di DKI Jakarta; sebab jika tidak terjadi perubahan, nanti kondisi stagnan itu akan dianggap sebagai hasil kampanye politik Ummat Islam yang telah menolak Jokowi-Ahok.

Pada pagi hari, 20 September 2012 Pilkada Putaran ke-2 bergulir; mulai jam 12.00 siang, perhitungan quick count mulai bergerak; pada jam 17.00 atau 18.00 sudah kelihatan siapa pemenangnya. Yang jelas, Provinsi Jakarta bisa dipimpin oleh siapa saja; rakyat Jakarta bisa kecewa untuk kesekian kalinya; sementara media-media massa panen keuntungan terus.

Aku sendiri hanya “khawatir”…bagaimana kalau Jokowi benar-benar menang? Maksudnya, ada partai tertentu yang semula antipati dengan Foke; lalu mereka ingin menjalin aliansi dengan Jokowi dalam menghadapi Foke; ternyata kemudian dia “menjilat ludah sendiri” dengan mendukung Foke. Bagaimana kalau Jokowi menang, lalu mereka secara unyu-unyu datang ke kantor Jokowi untuk mengusahakan share kekuasaan?

Ya di dunia masa kini, media massa menjadi kekuatan tirani tak berperasaan. Semoga ke depan Pak Jokowi tidak melakukan diet, agar badannya tidak semakin mirip “tiang listrik”. Semoga juga Pak Foke mau mencukur kumisnya yang mbaplang itu, sebab itu tidak sesuai Sunnah Nabi.

Mine.


Bolehkah Memilih Gubernur DKI Jakarta 2012?

Juli 3, 2012

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Tanggal 11 Juli 2012, semua institusi negeri dan swasta di Jakarta, akan diliburkan. Kenapa? Ada Pilkada DKI, untuk memilih sosok Gubernur DKI untuk periode 2012-2017. Karena ada Pilkada, maka urusan lain diliburkan. Begitulah.

PILKADAL… Maksud Loe? Pil + Kadal…

Dalam beberapa bulan terakhir, orang-orang Jakarta, termasuk mereka yang tinggal di Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang; yang notabene bukan warga Jakarta; bahkan masyarakat non Jadebotabek yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan sebagainya juga ikut-ikutan sibuk bicara Pilkada Jakarta. “Maklum sih, Jakarta adalah ibukota negara. Apapun yang terjadi di kota ini, bangsa Indonesia akan merasakan dampaknya,” begitu logika berpikirnya.

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, ketika ibunda seorang kawan meninggal di Jakarta, ketika itu sudah ada promosi sosok Bang Sani (Triwisaksana). Ketika itu sosok ini sudah dipromosikan lewat baliho-baliho besar di pinggir-pinggir jalan. Memang promosinya tidak berbau politik, misalnya Bang Sani dikenalkan sebagai sosok dai, pemuda yang simpatik, tokoh masa depan. Anda tahu, mengapa Bang Sani dipromosikan demikian? Ya, karena tujuan Pilkada DKI. Waktu itu, PKS berniat mengangkat sosok Bang Sani sebagai calon gubernur dari PKS. Tetapi, ketika detik-detik akhir menjelang penetapan calon gubernur dari PKS, tiba-tiba nama Bang Sani lenyap dari peredaran. Dia diganti total oleh sosok Hidayat Nurwahid dan Didik Rachbini.

Saya pernah bertanya ke seorang kawan, pendukung PKS, mengapa sosok Bang Sani tiba-tiba dibuang begitu saja oleh PKS, padahal dia telah dipromosikan sejak sekitar 3 tahunan sebelumnya? Dia menjawab, menurut surve internal PKS, sosok Bang Sani kurang menjual untuk Pilkada DKI 2012; masyarakat Jakarta katanya kurang berminat. Nilai elektabilitasnya rendah. Ya, kalau menurut saya, yang biasanya berpikir idealis, tetap saja PKS mesti konsisten dengan skema politik yang mereka rencanakan sebelumnya. Meskipun gagal tidak apa-apa, asalkan telah memperjuangkan NILAI; sebab hal inilah yang akan menyelamatkan kehidupan, mempertahankan eksistensi Ummat dan agama. Bukan hitung-hitungan politik yang hanya bermotif kekuasaan. Kekuasaan itu, meskipun dapat diraih, tak menjamin lestarinya kebaikan dan kehidupan; tetapi konsisten dengan janji, amanat, dan ikrar yang telah diucapkan, hal itu akan menjadikan Allah ridha; meskipun resikonya kehilangan kekuasaan. (Disini dengan mudah dapat dibaca, sebenarnya apa yang diinginkan oleh PKS lewat Pilkada DKI itu).

Pilkada DKI 2012 menjadi perhatian semua partai-partai besar, baik Demokrat, PDIP, Golkar, PKS, Gerindra, Hanura, dan lainnya. Mereka butuh Pilkada ini, karena menyangkut persiapan Pemilu dan Pilpres 2014 nanti. Kalau suatu partai bisa menguasai DKI Jakarta, maka ia bisa menjadi semacam “pundi-pundi” untuk mendanai Pemilu-Pilpres 2014. Jadi cara berpikirnya, sudah KORUPSI duluan. Mereka akan jadikan potensi keuangan di DKI Jakarta, sebagai sumber-sumber pendanaan pemenangan Pemilu-Pilpres 2014 nanti. Sampai-sampai untuk Jokowi yang masih menjabat Walikota Solo dan Alex Noerdin yang menjabat Gubernur Sumatera Selatan; keduanya dipaksakan untuk iktu Pilkada DKI 2012. Untuk apa keduanya dipaksa-paksa, padahal masih punya jabatan resmi?

Ya, itu karena sudah NGILER dengan besarnya sumber-sumber dana di DKI yang nantinya akan dipakai untuk membiayai Pemilu-Pilpres 2014 nanti. “Haduh, haduh, haduh… Duit, duit, duit… Duit di DKI ini gedhe banget. Aku nafsu banget, nafsu, aku sangat gairah…lebih nafsu daripada ke isteriku sendiri. Lebih nafsu daripada nonton VCD porno. Haduh, haduh, duit, duit…. DKI ini seksi banget. Ini akan bikin kita bisa menguasai Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” begitulah lamunan politisi-politisi aneh itu.

Seorang kawan lain, pendukung PKS, pernah bilang ke saya; seluruh kader-kader PKS di Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dilibatkan untuk pemenangan pasangan Hidayat-Didiek. Bahkan kata kawan lain, kader-kader PKS Jawa Barat (provinsi yang dekat DKI) juga dilibatkan. Wuih…gitu-gitu amat. Nafsu banget sih… Ya begitulah manusia, kalau sudah nafsu berkuasa, apapun cara dan  bagaimanapun, akan dilakukan. Tapi cara-cara demikian, bisa menghancurkan keberkahan, bisa melenyapkan kebaikan, bisa membuyarkan benih-benih kebajikan; karena sangat nafsu berkuasa.

Okelah…satu pertanyaan penting seputar Pilkada DKI 2012 ini: Bagaimana sikap seorang Muslim, apa perlu ikut Pilkada DKI atau tidak usah ikut? Kalau ikut mesti bagaimana, kalau tidak ikut apa alasannya?

Disini saya tidak akan langsung menjawab pertanyaan ini to the point; tapi akan saya sebutkan beberapa sikap kaum Muslimin saat berhadapan dengan pertanyaan demikian…

SATU. Kalau merujuk ke fatwa MUI, seperti pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, MA. bahwa golput itu haram (tidak boleh. Kaum Muslimin harus memilih dan menggunakan hak pilihnya, tidak boleh bersikap golput.

DUA. Kalau merujuk pendapat kawan-kawan Jihadis, mereka mengharamkan Pemilu/Pilkada/Pilpres, dengan alasan ia dilakukan melalui mekanisme demokrasi, sedangkan demokrasi haram mutlak menurut mereka, karena berusaha mengambil alih hak Allah dalam penetapan hukum. Dapat dipastikan, kawan-kawan Jihadis akan golput.

TIGA. Kawan-kawan Salafi berada dalam dilema. Satu sisi, mereka harus “taat ulil amri”, tetapi di sisi lain mereka juga mengharamkan Pemilu seperti pandangan Jihadis. Mungkin dalam praktiknya nanti, kawan-kawan Salafi akan datang ke TPS-TPS, tetapi sekedar datang saja, untuk memenuhi panggilan “ulil amri”. Tetapi mereka sendiri tak akan memilih, karena alasan “pemilu haram”. Soal Salafi di Mesir sudah mendirikan partai politik (An Nuur). Itu lain cerita. “Kan di Indonesia, kata ustadz-ustadz, hukum pemilu masih haram. Belum dihalalkan. Jadi kami tawaquf sajalah.” (Tawaquf, ngikut saja, gak banyak coment).

EMPAT. Pandangan moderat kawan-kawan aktivis Islam. Mereka memakai pertimbangan “politik daripada”, atau “politik memilih yang terbaik di antara yang terjelek”. Singkat kata, mereka akan tetapi memilih salah satu dari pasangan: Foke-Nara, Jokowi-Ahok, Hidayat-Didiek, dan Alex-Nono. Dua pasangan lain, dianggap “sonoh ke laut ajah”. Dalam pandangan ini, di antara sekian kandidat yang ada, pasti ada yang terbaik di antara mereka. Naga-naganya, mereka akan memilih Hidayat-Didiek, karena pasangan ini masih ada unsur “bau-bau ustadz” pada sosok Hidayat Nurwahid. Soal Hidayat punya kekurangan sekian-sekian, mereka tidak mau tahu; yang penting memilih dia karena masih ada unsur ustadz-nya. Sementara kalangan Habaib Jakarta dan komunitas “mauludan forever and forever“, mereka mendukung Foke-Nana. Karena, sosok Hidayat masih dianggap “berbau Wahabi”.

LIMA, kalangan yang tidak memilih sama sekali, karena merasa tidak ada satu pun kandidat yang layak dipilih dari 6 kandidat tersebut. Masing-masing memiliki catatan negatif yang membuatnya tidak layak dipilih. Foke-Nara kekurangan terbesarnya, dia didukung Partai Demokrat (SBY). Memilih Foke-Nana sama dengan memilih Partai Demokrat. Hendardji-Reza, dia itu seorang karateka (Ketua FORKI), tidak ada pengalaman memimpin birokrasi. Jokowi-Ahok, dia ini campuran Kejawen dan Chinese; yang terpenting, Kota Solo jelas berbeda dengan DKI Jakarta. Di Solo Jokowi bisa eksis, di Jakarta belum tentu. Hidayat-Didiek, dia pernah menjadi Ketua MPR, dan tidak ada prestasi significant. Saat jadi Ketua MPR, Pak Hidayat lebih peduli dengan isu Palestina, daripada isu bangsanya sendiri. Banyak pemuda-pemuda Islam dijadikan mainan oleh isu terorisme, tapi beliau diam saja. (Bukan karena isu Palestina tidak penting; tapi setiap pemimpin harus paham tanggung-jawab prioritas di pundaknya). Faisal Basri-Biem, intinya dia NEOLIB. Sudah tidak usah dibahas lagi. Alex Noerdin-Nono, dia ini memimpin Sumatera Selatan belum beres, kok mau memimpin Jakarta. Ini tidak layak.

Adapun alasan umumnya: masing-masing kandidat jauh dari profil politisi Islami, jauh dari keberpihakan kepada Ummat, jauh dari ghirah untuk membela kepentingan kaum Muslimin, mereka sepakat dengan agenda liberalisme-kapitalisme, mereka haus kekuasaan, mereka menjadi alat politik partai-partai menuju Pemilu-Pilpres 2014, mereka tidak ada satu pun yang pro Syariat Islam, mereka tidak ada nyali menghadapi “Mafia PBB” (mafia politik, birokrasi, bisnis), mereka bersikap rapuh terhadap manuver dan intervensi asing (seperti kepemimpinan Foke selama ini)…

Jadi intinya, tidak ada kandidat yang secara Syariat Islam layak untuk dipilih dan didukung. Mungkin sosok Hidayat Nur Wahid masih ada “bau-bau ustadz”, tetapi sosok pemimpin yang diharapkan akan membawa kebaikan bukan seperti itu. Kaidah sederhananya sebagai berikut:

[a]. Hukum asalnya, meminta jabatan itu tidak boleh. Bahkan Nabi Saw melarang memberi jabatan kepada siapa yang sangat menginginkan jabatan itu. Beliau pernah berkata kepada Abu Dzar Al Ghifari Ra, “Ya aba dzar, innaka dhaif, wa innaha amanah, wa innaha yaumal qiyamati hizyu wa nadamah” (wahai Abu Dzar, engkau itu lemah, sementara yang engkau minta itu amanah; amanah itu kelak di Hari Kiamat akan menjadi kehinaan dan sesalan). Jadi hukum asalnya, meminta jabatan itu salah; maka seluruh kandidat Gubernur DKI dan para penyokongnya, otomatis gugur total.

[b]. Namun dalam kondisi tertentu, boleh seseorang menawarkan diri untuk mengemban suatu amanah (jabatan); ketika kondisi membutuhkan manusia yang cakap, handal, dan terpercaya, sementara dia sendiri memiliki sifat handal dan terpercaya. Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf As ketika beliau menawarkan diri untuk mengelola Baitul Maal di Mesir, dengan alasan dirinya memiliki dua sifat utama, hafizhun ‘alim (pandai menjaga, dan berpengetahuan luas). Disini, boleh kita meminta jabatan, ketika kondisi membutuhkan tampilnya orang-orang dengan skill handal, sementara kita sendiri memiliki kemampuan itu dan memiliki komitmen moral baik.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Innallaha ya’murukum an tu’addul amanati ila ahliha wa idza hakamtum bainan naasi an tahkumu bil ‘adli” (Allah memerintahkan kalian menunaikan amanat kepada yang berhak, dan jika kalian menetapkan hukum hendaknya menetapkan dengan adil). Surat An Nisaa’, ayat 58.

Menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ayat ini berkaitan dengan tugas-tugas pemimpin Islam. Mereka harus menyampaikan amanat-amanat kepada yang berhak, dan menghukumi di antara manusia dengan hukum Islam secara adil. Dapat disimpulkan, posisi kepemimpinan itu benar-benar tugas suci untuk menunaikan amanat Ummat dan memberi hukum yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Kalau kepemimpinan tidak seperti itu, ia tidak ada nilainya di sisi Allah.

Kalau dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta 2012, para kandidat itu sangat nafsu ingin berkuasa dan menempati jabatan birokrasi tertinggi di DKI Jakarta; sementara mereka tidak memiliki kualitas hafizhun ‘alim (pandai menjaga dan berpengetahuan luas). Jadi dari dua kriteria itu, mereka sudah gugur. Bahkan di mata mereka, masalah utama DKI bukan soal ruhani manusia, tapi soal banjir dan kemacetan…suatu pandangan yang sangat primitif. Padahal kata Nabi Saw, sumber masalah manusia itu di hatinya. Kalau hatinya baik, baik hidupnya; kalau hatinya buruk, buruk hidupnya. Yang membuat Jakarta penuh masalah, ya karena kondisi ruhani rakyatnya centang-perenang, atau acak-kadut, atau ancur-ancuran.

Kepemimpinan Islami itu seperti Nabi Saw. Mula-mula beliau perbaiki hati manusia, perbaiki jiwa dan akhlaknya, perbaiki moral dan komitmennya; lalu diperbaiki peradabannya secara keseluruhan. Ya, kalau 6 kandidat itu, ngomong-nya dunia melulu, sampai kapan masalah Jakarta akan beres-beres? Nah, inilah kesalahan mendasar bangsa Indonesia (termasuk warga Jakarta) ketika bicara soal pemimpin. Bawaannya ngomong dunia melulu, tanpa niat memperbaiki ruhani masyarakat dengan dakwah.

Kalau kaum Muslimin di Jakarta tidak memilih salah satu kandidat, itu BOLEH. Itu SAH. Dengan alasan, tidak ada satu pun kandidat yang diyakini memiliki sifat-sifat yang layak. Dengan demikian, kita bisa berlepas diri kalau kelak ditanya oleh Allah Ta’ala soal pemimpin yang kita pilih. Kita tidak mau memilih, karena tidak ada figur yang layak dipilih.

Dalilnya adalah firman Allah, “Laa yukallifullahhu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya). Surat Al Baqarah, ayat 286. Singkat kata, Ummat Islam disuruh memilih pemimpin yang baik-baik, cakap, amanat, dan berbuat adil. Kalau sosok seperti itu tidak ada, ya tidak ada yang bisa dipilih. Bukan karena tidak mau memilih, tetapi stock pemimpin yang baiknya tidak ada. Bukan salah kita kalau tidak memilih. Kita sudah berusaha sekuat tenaga, semampunya. Bahkan sikap demikian ini merupakan CARA BERPOLITIK (Islami) juga. Itu harus diingat!!!

Kalau kita memilih pemimpin yang keliru, akibatnya akan ditanggung sampai Hari Kiamat nanti. Jangan salah mengira, setiap pilihan Anda nanti akan ditanyakan di Akhirat. Itu harus benar-benar diperhatikan. Logikanya bukan “daripada tidak memilih, mending memilih yang terbaik di antara yang terjelek”. Bukan begitu logikanya. Tetapi mestinya begini: “Kewajiban kami memilih pemimpin yang shalih, amanat, cakap, dan adil. Kalau tidak ada pemimpin begitu, ya sudah kami tidak bisa memilih. Bukan salah kami karena tidak memilih, sebab memilih pemimpin yang salah, kelak akan dipertanggung-jawabkan sampai di Akhirat.”

Bukankah di antara sekian figur itu ada yang terbaik di antara yang jelek-jelek? Mengapa kita tidak memilih sosok seperti itu? Misalnya sosok Pak Hidayat Nur Wahid yang masih ada “bau-bau ustadz”?

Jawabnya, memilih sosok demikian juga tidak menjamin kebaikan bagi masyarakat nanti. Toh, selama ini sudah ada pemimpin-pemimpin birokrasi yang background-nya ustadz, kyai, dan sebagainya. Buktinya mereka sami mawon (sama saja) dengan pemimpin-pemimpin sekuler. Malah memilih pemimpin yang ada unsur Islam-nya, sering kali menjadi menjadi fitnah bagi agama. Mengapa? Ketika pemimpin itu terbukti gagal atau tidak berkualitas; nama Islam selalu dibawa-bawa. “Tuh lihat, itu tuh akibatnya kalau memilih pemimpin seorang ustadz,” kata sebagian orang. Demi Allah, saya pernah membaca sebuah selebaran yang intinya anti pemimpin dengan background agama, setelah kegagalan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI 1999-2003. Bukannya dia memperbaiki citra Islam, malah ikut menjelek-jelekkan citra Islam di mata rakyat.

Lha, kalau tidak ada yang dipilih, lalu bagaimana dong solusinya? Masak tidak memilih sama sekali? Ini pemikiran aneh.

Jawabnya begini: Untuk saat ini, kaum Muslimin tidak bisa berharap akan ada perbaikan kehidupan dari cara-cara seperti ini. Semua ini hanya buang-buang energi, waktu, anggaran, dan lainnya. Kita tidak bisa berharap akan lahir perbaikan, lompatan, atau kemajuan lewat mekanisme semacam Pilkada/Pilpres itu. Siapapun yang terpilih disana, sulit diharapkan akan membawa perubahan positif bagi kehidupan Ummat. Kalau yang terpilih sosok ustadz/kyai, belum tentu akan menjalankan missi-missi Islam; kalau yang terpilih sosok anti Islam, toh selama ini sudah banyak orang seperti itu (contoh SBY dan kawan-kawan). Jadi lewat mekanisme Pilkada/Pilpres dan semacam ini, jujur tidak ada hasil positif yang bisa diharapkan.

Lalu solusinya bagaimana kalau tidak melalui Pilkada/Pilpres?

Solusinya, ada di antara kaum Muslimin ini yang membuat partai yang berorientasi Syariat Islam. Cita-cita dan tujuannya, murni menegakkan Syariat Islam. Lalu ia diperjuangkan dengan cara-cara politik Islami. Nah, sarana ke arah itu harus ada dulu. Setelah itu, seluruh barisan dakwah dan perjuangan Islam sepakat untuk mendukung partai tersebut. Harus muncul partai yang murni berbasis Islam. Kalau dilarang, harus terus diperjuangkan, agar bisa ikut dalam kancah Pemilu. Demi mencapai kemenangan, jangan menempuh cara seperti PKS. Partai itu harus berorientasi menyebarkan dakwah, bukan mencapai kekuasaan. Meskipun sudah habis-habisan, sudah pada meringis karena keluar dana besar, sementara hasil kekuasaan tidak ada; harus tabah, harus sabar, harus tetap konsisten di atas jalan Islam; jangan cepat silau oleh kekuasaan (seperti PKS); karena namanya perjuangan Islam, mana ada sih yang instan, bertabur bunga dan semerbak wewangian? Tapi…dengan cara dakwah ini, yakinlah Allah akan mengubah keadaan kaum Muslimin. Demi Allah Rabbul Izzati, perjuangan Partai Keadilan (PK) dulu sudah mulai membuahkan hasil berkah tersebut; kalau elit-elit PKS tidak keburu kecebur “perburuan kekuasaan”. Sudah menampak tanda-tanda baiknya, tetapi keburu dipangkas habis oleh Hilmi Aminuddin Cs, ketika tanaman masih berusia belia. Sayang sekali…

Nah, itulah solusinya. Saat ini tidak ada satu pun garis partai/sosok politisi yang mewakili perjuangan dakwah Islam dan missi Islamisasi kehidupan…maka tidak perlu memilih satu pun kandidat calon Gubernur Jakarta 2012. Siapapun sosok yang terpilih nanti, kalau dia ustadz/kyai/syaikh kecil peluang akan membawa kebaikan; kalau dia sosok anti Islam, tidak ramah kepada dakwah, sekuler murni, dan sejenisnya, maka kita sudah biasa menghadapinya.

Tapi bagaimanapun, ini adalah pendapat pribadi saya. Boleh setuju, boleh menolak. Kata Imam Malik rahimahullah, pendapat seseorang boleh diambil atau ditolak, kecuali pendapat Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Syakir).