Berhati-hatilah, Pak Jusuf Kalla!!!

Oktober 19, 2010

(Revised edition).

 

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita bergembira ketika beberapa waktu lalu tersiar berita, bahwa Pak Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden RI) ingin ikut menjadi penengah perdamaian antara Palestina-Israel. Bisa jadi, dari pengalaman menjadi mediator perdamaian Malino I dan II, lalu perjanjian antara RI-GAM di Aceh, Pak Jusuf Kalla memiliki track record untuk maju ke level konflik Palestina-Israel. Meskipun kita tahu, level konflik di internal bangsa Indonesia sangat berbeda dengan konflik abadi antara kaum Muslimin versus Zionisme internasional itu. Tetapi tidak apalah, semangat Pak Kalla layak dihargai.

Tetapi kita sangat prihatin ketika MER-C melansir pernyataan yang intinya menghimbau agar PMI (lembaga yang kini dipimpin oleh Jusuf Kalla) agar membatalkan kerjasama dengan Israel. Kita kaget, ada apa dengan PMI? Ada apa dengan manuver Jusuf Kalla? Apakah mereka ingin membuka kerjasama dengan MDA -palang merahnya Yahudi terlaknat itu-?

Tidaklah seorang Yahudi menjabat tangan kita dengan hangat; melainkan di hatinya, dia ingin membunuh kita.

Selengkapnya rilis dari MER-C bisa dibaca disini: MER-C Minta PMI Batalkan Kerjasama dengan Israel. Kalau membaca pernyataan MER-C ini kita amat sangat prihatin. Bagaimana Bapak Jusuf Kalla sampai melakukan kunjungan atas nama PMI ke Israel? Bagaimana beliau bisa berjalan-jalan mengunjungi instalasi-instalasi kesehatan di Israel? Bagaimana beliau  kagum dengan kehandalan teknologi Israel, lalu berniat membuka jalan kerjasama antara PMI dengan MDA (palang merahnya Israel)? Sangat menakjubkan, bagaimana semua itu bisa terjadi?

Kita sangat amat prihatin. Bagaimana Pak Jusuf Kalla sampai mengeluarkan statement, “Untuk urusan kemanusiaan dan sistem manajemen transfusi darah mereka, kita akan saling tukar pengalaman.” Seolah, dalam urusan politik, militer, ekonomi, dll. kita tidak usah kerjasama dengan Israel. Tetapi dalam masalah kemanusiaan, kita boleh sharing dengan mereka.

Allahu Akbar, mengapa Pak Jusuf Kalla tidak ingat dengan kejahatan Isreal terhadap armada Mavi Marmara? Padahal Mavi Marmara adalah kafilah pelayaran yang membawa missi kemanusiaan ke Ghaza. Apakah sulit untuk mengingati kejadian yang baru terjadi beberapa bulan lalu? Dimana empati kemanusiaan kita ketika Israel memblokade jalur Ghaza sehingga disana ada jutaan manusia menderita, kelaparan, terserang penyakit, kekurangan gizi, obat, dan air? Apakah itu yang kita sebut sebagai kerjasama kemanusiaan? Jelas sangat mengherankan.

Wajib bagi Ummat Islam untuk memerangi Yahudi Israel secara totalitas, secara menyeluruh, dari arah manapun mereka berada di muka bumi ini; dan dalam waktu kapanpun, sampai Hari Kiamat. Ini adalah kewajiban universal ummat manusia, khususnya kaum Muslimin untuk memerangi Yahudi secara komprehensif.

Mengapa harus demikian?

Sebab Zionisme Internasional telah merusak manusia dan kemanusiaan, secara sistematik, secara menyeluruh, secara massif di berbagai sisi kehidupan insan. Yahudi telah benar-benar menghancurkan peradaban manusia melalui sistem ekonomi ribawi, kapitalisme, kebohongan media, penghancuran budaya melalui film-film, musik, fashion, gaya hidup. Yahudi telah merusak kesehatan melalui berbagai konspirasi virus, obat berbahaya, makanan beracun, air terpolusi, udara kotor, dll. Yahudi telah merusak lingkungan, merusak mentalitas, merusak keturunan. Yahudi telah merusak sistem pertahanan, merusak tradisi militer, merusak birokrasi, lembaga sosial, lembaga keagamaan, lembaga bisnis, termasuk di dalamnya lembaga kemanusiaan. Yahudi telah merusak kehidupan melalui organisasi rahasia, agen, penyusupan, makar, dll. Singkat kata, Yahudi Israel inilah entitas yang diperingatkan dengan keras dalam Al Qur’an, “Wa laa ta’tsau fil ardhi mufsidin” (janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan berbuat kerusakan).

Memerangi Yahudi secara komprehensif dan totalitas, sama dengan menyelematkan manusia dari bahaya kekejian mereka. Itu adalah kontribusi kemanusiaan tertinggi. Jauh lebih mulia dan berarti daripada sekedar urusan teknik transfusi darah.

Dr. Siti Fadilah Supari, Mantan Menkes, juga pernah mengingatkan bahaya Zionisme di dunia kesehatan dunia. Bahkan kita masih ingat, orang-orang Israel kerap mencuri jenazah anak-anak Palestina yang terbunuh dalam konflik, lalu diambil organ dalamnya, untuk kebutuhan transplantasi di negerinya. Dengan berkedok missi kemanusiaan, mereka mencuri organ. Masya Allah, semoga Allah melaknati manusia-manusia keji itu.

Nabi Saw sudah berkali-kali mengingatkan kelicikan kaum Yahudi ini. Beliau ingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap makar Yahudi. Kita masih ingat, bagaimana kabilah-kabailah Yahudi di Madinah harus diusir dari Madinah karena segala pengkhianatan mereka. Pengkhianatan terbesar ialah oleh Bani Quraidhah yang membangun sekutu (Al Ahzab) dalam rangka menghabisi peradaban Islam.

Jangankan Anda, wahai Pak Kalla, Nabi Muhammad Saw pun dikhianati oleh Yahudi-Yahudi keji itu. Bahkan Nabi Musa As terus-menerus disakiti hatinya oleh makhluk terkutuk dari kalangan Yahudi itu; bahkan Nabi Harun As nyaris dibubuh oleh mereka dalam kasus penyembahan sapi betina. Nabi kaum Yahudi sendiri dimusuhi oleh mereka, apalagi seorang Jusuf Kalla? Tentu Anda tidak akan dipandang oleh mereka, kecuali bila posisi Anda bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk ditipu, dikhianati, ditunggangi, dll.

Pak Kalla, kami mengingatkan Anda agar bersikap lurus! Isilah akhir-akhir hidup Anda dengan kebajikan! Jangan diisi dengan kontroversi-kontroversi. Semua itu akan meletihkan diri Anda sendiri, akan membuyarkan angan-angan baik Anda; bahkan bisa menghempaskan usaha-usaha bisnis keluarga Anda!

Semoga Bapak Jusuf Kalla menyesali kepergiannya ke negeri Yahudi yang telah dilaknat oleh Allah, makhluk di bumi dan di langit itu. Pergi kesana, selalu membawa ekor masalah yang panjang, sebab pergi kesana seperti mendatangi tempat yang penuh laknat.

Semoga Pak Jusuf Kalla juga tidak ada niatan untuk meneruskan kerjasama antara PMI dan MDA Israel.  Demi Allah, Pak Kalla. Andaikan Anda terus meneruskan rencana kerjasama dengan palang merah Israel, kami akan menyerukan kaum Muslimin agar memboikot PMI, menolak donor darah ke PMI, menolak menyumbang PMI, dan seterusnya.

Akhir kalam, semoga Anda Pak Jusuf Kalla bisa memahami harapan baik ini. Allahumma amin. “Siapa yang berbuat baik, sebenarnya dia berbuat untuk kebaikan dirinya sendiri.”

 

Bandung, 19 Oktober 2010.

Abu Muhammad Al Nusantari.


Iklan

Rakyat Tidak Percaya Pemerintah!

Oktober 9, 2010

Ada tulisan menarik di headline koran Pikiran Rakyat, edisi Sabtu, 9 Oktober 2010. Judul tulisan, “Kepercayaan Masyarakat Mulai Hilang.” Disana dimuat beberapa pernyataan kritis dari mantan Wakil Presiden RI periode 2004-2009, Jusuf Kalla.

Pernyataan JK (sumber foto: detiknews.com)

Singkat cerita, hari Jumat kemarin, 8 Oktober 2010, beberapa toloh nasional mengadakan pertemuan di kantor PP Muhammadiyah, membahas masalah-masalah aktual bangsa. Hadir dalam pertemuan itu: Prof. Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Jusuf Kalla, Sutiyoso (mantan Gubernur DKI), Taufiq Kiemas (Ketua MPR), Soetrisno Bachir (mantan Ketua Umum PAN), dan Mahfud MD (Ketua MK). Mereka hadir dalam acara bertajuk, “Silaturahmi Tokoh Nasional”, yang berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Disini akan dikutip pernyataan-pernyataan Jusuf Kalla, antara lain:

JK mengatakan, bahwa saat ini masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada Pemerintah. Hal itu disebabkan oleh kesenjangan hidup yang cukup tinggi. Padahal kepercayaan masyarakat itu sangat diperlukan bagi terjaminnya kehidupan bernegara. Menurut JK, ketidak-percayaan masyarakat itu bisa berujung pada kekacauan dan kejatuhan rezim yang sedang berkuasa.

“Saya melihat, ada disparitas (kesenjangan sosial) kehidupan yang cukup tinggi di negeri ini. Saya melihat, masyarakat mulai kehilangan trust (kepercayaan) kepada Pemerintah. Kita tahu di Thailand setelah rezim Thaksin, masyarakat disana mulai goyah, banyak terjadi kekacauan. Jatuhnya Thaksin karena masyarakat sudah mulai tidak percaya,” kata Jusuf Kalla.

Menurut JK, di negara manapun, kalau Pemerintahnya sudah kehilangan wibawa, masyarakatnya menjadi bebas dan tidak terkendali. “Saat ini terjadi hukum rimba, dimana tindakan kriminal yang dilakukan bersama-sama dianggap sebagai sesuatu yang wajar.” JK mengharapkan, Pemerintah berusaha meraih kembali kepercayaan masyarakat itu, agar keadaan menjadi nyaman kembali.

Dalam pandangan saya, pernyataan Jusuf Kalla ini sudah jelas. Tidak perlu ditafsirkan rumit-rumit. Faktanya, kehidupan masyarakat Indonesia semakin sengsara, Pemerintah SBY semakin menampakkan ketidak-mampuannya dalam memimpin bangsa, kasus-kasus kerusuhan atau konflik sosial terjadi dimana-mana, isu terorisme semakin membuat urusan negara semakin ruwet, bencana alam silih-berganti sejak dari Aceh sampai Papua, dan lain-lain.

Intinya, bangsa Indonesia butuh sosok pemimpin baru, yang: patriotik, pemberani, cinta rakyat sendiri, pengasih kepada kaum dhuafa’, tegas kepada kolonialis asing, tegas kepada jamaah pengkhianat bangsa, tegas kepada media dan LSM komprador, dan sebagainya.

Semoga harapan itu tercapai. Allahumma amin.

— Mine —