Mengapa Bulu Tangkis Indonesia Kalah Melulu…

Agustus 2, 2012

Bismillah. Artikel seperti ini merupakan menu khas blog ini. Sama seperti saat kita mengkaji tipe permainan FC Barcelona, maka kini kita coba melihat jenis olahraga rakyat sendiri. Apalagi kalau bukan Bulu Tangkis alias Badminton. Kata Andrea Hirata, olah raga ini pernah menjadi olah-raga rakyat di Belitung. Malah -katanya- bisa menurunkan angka kelahiran anak-anak Belitung. Baca sendiri deh, buku Laskar Pelangi.

Saat kita kini bahas soal Badminton, bolehlah orang akan mengatakan “halah sok tahu low”. Gak apa-apa. Gini-gini juga, dulu saya termasuk penggemar main Bultang (bulu tangkis) ini. Sering main di halaman rumah tetangga.

Biar lebih fair, silakan saja terus dibaca. Insya Allah analisisnya tidak kalah tajam dengan analisis para pemain top. Jika ada sisi baiknya, semoga hal itu bisa dianggap sebagai bagian dari RAHMAT (kasih sayang) Islam kepada bangsa Indonesia secara umum. Amin.

Ehhem…terlalu panjang ya pengantarnya… Mohon sabar sejenak, bulan puasa harus sering-sering sabar…

Bulan Ramadhan 1433 H kali ini bebarengan dengan momen Olimpiade 2012 di London. Setiap ada pesta olah-raga antar bangsa ini, rata-rata perasaan orang Indonesia harap-harap cemas. Kita berharap cabang olah-raga bulu tangkis akan menjadi “sumber tambang medali” yang bisa diekspolitasi sedalam-dalamnya; tetapi saat yang sama, kalau melihat prestasi olah-raga ini di 10 tahun terakhir, kita rata-rata akan lemas.

“Halah, apa yang bisa diharapkan dari bulu tangkis? Semua pemainnya lebay. Yang laki-laki kemayu, yang perempuan manja-manja. Sudah gitu, mereka sok gaya lagi. Huuh, lupakan saja olah-raga bulu ditangkis ini. It’s over, Ladys and Gentlemans.” Ya begitulah rata-rata suasana kebatinan bangsa Indonesia (meminjam istilah khas Prio Budi Santoso, politisi “kebatinan” Golkar), kalau lagi bicara soal prestasi bulu tangkis atlet nasional.

“Mau diapa-apain juga, tetap saja prestasinya susah dikatrol. Apalagi sekarang ada perkembangan baru; pemain Indonesia jadi sering kalah melawan pemain-pemain aneh Jepang, Thailand, Polandia, Jerman, dan lainnya yang notabene mereka itu “ecek-ecek” di dunia bulu ditangkis ini.”

Oke kita coba masuk ke permasalahan ya…

Sebenarnya, era perbulu-tangkisan di Indonesia itu mengalami perubahan drastis pasca era Icuk Sugiarto. Waktu itu Icuk termasuk ikon bulu tangkis nasional yang mumpuni, sempat menjadi juara dunia. Tetapi setelah era Icuk, perlahan-lahan era keemasan bulu tangkis kita semakin meredup, sampai akhirnya masuk zaman pemain-pemain “alay” sekarang. Sempat mencuat asa ketika muncul Mbak Susi Susanti di kelompok wanita. Ternyata setelah itu tidak muncul lagi penggantinya yang sepadan.

Lama-lama Indonesia menjadi bulan-bulanan, khususnya di kategori tunggal putra dan putri. Tidak mau malu secara total, Indonesia coba mencari-cari peluang di kategori ganda putra-putri dan ganda campuran. Padahal di zaman keemasannya, kategori itu hanya tambahan saja; yang diunggulkan tetap permainan tunggal.

Sisi perubahan drastis apa yang terjadi setelah era Icuk Sugiarto? (Kata sebagian tetangga, Icuk mirip kakakku. He he he…ngaku-ngaku. Bener lho…itu kata mereka. Menurutku sih, gak mirip amat).

Baik, kita mulai serius…

[1]. Dalam dunia Bultang, sebenarnya ada madzhab-madzhab permainan, meskipun tidak sepupuler di dunia Bola. Setidaknya ada dua madzhab dominan, yaitu: “aliran smash” dan “aliran penempatan bola“. Aliran “smash” maksudnya, untuk mendapatkan poin lebih mengutamakan serangan-serangan smash tajam. Aliran “penempatan bola” maksudnya, untuk mendapatkan poin lebih mengutamakan penempatan bola di titik lowong pemain lawan, atau menghindari mengambil bola jika ia diperkirakan keluar lapangan. Aliran pertama cenderung keras, penuh tenaga; sedangkan aliran kedua cenderung slow, meskipun (namanya olah-raga) ya letih juga.

[2]. Di era Icuk Sugiarto ke atas, pemain-pemain Indonesia seperti Rudy Hartono, Lim Swi King, Christian Hadinata, Ii Sumirat, Ivana Lie, dll. mereka semua dikenal memiliki kekuatan smash dan akurasi yang hebat. Konon, sekali smash Rudy Hartono bisa merusak suttlecock (baca: kok). Lim Swi King juga dikenal dengan istilah “Smash King”. Namun setelah era Icuk Sugiarto, aliran bermain atlet-atlet Indonesia berubah menjadi aliran “penempatan bola”. Model demikian, selain membosankan, membuat penonton lebih berdebar-debar perasaan, juga tidak tampak sisi strength-nya.

Icuk sendiri sebenarnya bagus dan komplit. Tapi dia kena batu-nya ketika berhadapan dengan pemain kidal China, Yang Yang. Icuk lebih sering kalah. Kekalahan itu sebenarnya bukan karena kualitas Icuk di bawah Yang Yang; tetapi Icuk tidak terbiasa bermain melawan pemain kidal. Bayangkan, menghadapi pemain kidal, Icuk lebih sering memberi bola ke arah KIRI lawan. Ya, habislah! Justru sisi kiri itu adalah kekuatan inti pemain kidal. Mestinya ke sebelah kanan, Mas Icuk. He he he…

[3]. Entah siapa yang mulai mengubah gaya permainan “menyerang” menjadi permainan “bertahan” dan “penempatan bola” itu. Yang jelas pemain-pemain bulu tangkis Indonesia tidak ada lagi yang terkenal smash-nya. Paling yang ada ialah pemain yang senang berlama-lama memainkan bola, sering mengumpan bola tinggi-tinggi, mencari-cari kelemahan lawan untuk ditipu, dan seterusnya. Nyaris akhirnya, mutu permainan Bultang kita jadi, pinter-pinteran menipu lawan. Kalau lawannya susah ditipu, seperti pemain China, Korea, dan Malaysia…ya otomatis kita akan kalah terus.

[4]. Bermain Bultang dengan “penempatan bola” atau “terus bertahan” sangat beresiko, menguras energi, dan menguntungkan lawan. Mengapa? Ya, mereka akan memiliki kesempatan menghajar pemain-pemain kita dengan smash-smash keras. Hal ini sudah lazim, karena kaidahnya: “Di dunia Bultang tidak ada smash dua arah dalam waktu yang sama.” Misalnya, Si Topik lagi smash ke Si Lilin, maka Lilin tidak akan bisa membalikkan smash itu menjadi smash balik yang menyerang Topik. Pasti siapa yang smash, dia menyerang; siapa yang di-smash dia bertahan. Iya kan begitu…

[5]. Mestinya, gaya permainan atlet Bultang Indonesia itu kembali ke masa lalu, yaitu mengandalkan serangan dan smash. Memang secara energi, butuh stamina lebih kuat. Tetapi secara psikologis, menyerang itu membanggakan, sehingga energi kita serasa selalu penuh. Apalagi kalau buah dari serangan itu menghasilkan poin; ia akan memacu stamina lebih kuat. Sebaliknya, kalau “bertahan melulu” dan “penempatan bola”, ini lebih menguras energi dan mental. Kalau mental sudah loyo, ya peluang kalah tambah besar. Seperti kata ungkapan bijak: “Pertahanan terbaik adalah menyerang.” Cara cerdas demikian sudah lama ditinggalkan oleh atlet-atlet Indonesia.

[6]. Bukan berarti “penempatan bola” dan “bertahan” tidak dibutuhkan. Ya tahu sendirilah, permainan begitu pasti dibutuhkan di dunia Bultang. Tetapi kalau bisa: setiap bola dari lawan harus bisa dikonversikan menjadi peluang smash bagi atlet kita. Semakin banyak peluang smash, semakin baik. Jangan seperti permainan lebay, maunya oper-operan bola tinggi-tinggi, permainan net, dan ngakali lawan. Tentu saja, akurasi dan kekuatan smash itu mesti dilatih sebaik-baiknya, sehingga smash pemain Indonesia disegani lagi.

[7]. Selain problem permainan yang membosankan, “penempatan bola” dan “bertahan melulu”, pemain Indonesia juga mengalami banyak hambatan mental. Kalau mereka bermain melawan atlet dari Vietnam, Timor Timur, Papua Nugini, Rusia, Itali, atau mana sajalah yang tangannya kaku-kaku (he he he…becanda); ya pasti bisa jaya. Tetapi kalau sudah menghadapi Trio China-Malaysia-Korea Selatan, tiba-tiba mental kita sudah lumer duluan. Misalnya Taufik Hidayat, begitu selentingan dia dengar nama Lin Dan, seketika tubuhnya gemetar dan tidak optimis menang (he he he…). Kondisi drop mental ini karena memang madzhab permainannya bertahan melulu; sementara Lin Dan sudah paham betul kaidahnya: “Pemain Indonesia itu serang terus saja. Jangan diberi kesempatan sedikit pun. Nanti mereka akan kalah oleh ketertinggalan poin!” Ya itulah yang terjadi, kalah lagi dan lagi.

Nah, begitulah… Sumber kekalahan atlet-atlet Bultang Indonesia lebih karena berubahnya madzhab permainan, dari pola menyerang melalui smash kuat dan tepat; menjadi pola “bertahan” dan “penempatan bola”. Kalau tidak percaya, lihat permainan atlet-atlet Indonesia saat ini; tidak ada satu pun yang terkenal hebat smash-nya. Terlepas bahwa nama “smash” dipakai sebuah boy band yang lebay; tampaknya, atlet-atlet Indonesia perlu berubah lebih garang, lebih menyerang, dan percaya diri. Jangan lebay lagi… Contohlah legenda Bultang nasional seperti Rudy, King, Icuk, atau Ivana Lie.

Oke…segitu dulu ya. Mau diterima atau ditolak, silakan deh, bebas saja. Ini juga namanya sharing. Yang jelas, kita ada fakta-datanya kan.

Jujur, saya sering ditanya, “Bagaimana sih kok bisa menulis ini dan itu? Apa kiatnya?” Sering ditanya demikian. Setahu saya, menulis itu kan komunikasi, jadi siapa yang bisa komunikasi, insya Allah bisa menulis. Secara teknik, tidak sulit untuk menulis. Untuk artikel ini saya, saya paling memakan waktu sekitar 1 jam. Tetapi yang lama itu proses membacanya, pengamatan, analisa, komparasi, dan yang semisalnya. Proses tersebut bisa makan waktu panjang, bisa puluhan tahun. Saat saya menulis ini, ia tidak lepas dari pengamatan terhadap pertandingan puluhan tahun lalu.

Kata kuncinya…terus jaga moral baik-baik. Jangan menodai moral kita dengan hal-hal yang tercela. Nas’alullah al ‘afiyah. Dengan moral yang baik, insya Allah Anda akan diberi kekuatan ingatan, analisa, serta komparasi. Kalau moralnya buruk, ya sulit mencapai hal itu.

Baik…sekian dulu ya. Selamat berpuasa, semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati kaum Muslimin semuanya. Semoga Allah As Sallam juga menyelamatkan saudara-saudara kita di Myanmar, Suriah, Indonesia, juga negeri-negeri lain yang menderita. Amin Allahumma amin.

Mine.

Iklan

Mengapa Timnas Kalah Terus?

Oktober 13, 2011

Mengapa Timnas Indonesia kalah terus? Mengapa melawan Qatar di Gelora Bung Karno saja, Timnas kalah juga? Mengapa oh mengapa…

Banyak masyarakat, khususnya peminat bola, sampai ibu-ibu rumah-tangga, mengharapkan Timnas Indonesia menang. Tapi saat mereka kalah, masyarakat pun jadi males. “Males lah…kalah lagi, kalah lagi,” begitu keluh mereka.

Lalu apa yang salah dari PSSI? Apa yang salah dari persepakbolaan Indonesia? Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki prestasi?

Cari Pemain Semantap Pohon Ini!

1. Kesalahan terbesar orang Indonesia saat bicara tentang sepak bola ialah masalah PARADIGMA. Jadi ini bukan kesalahan PSII, Nurdin Halid, pemain, pelatih, suporter bola, dll. tetapi kesalahan semua orang yang bicara soal sepak bola. Inti dari paradigma ini adalah: “Sepak bola itu olah-raga yang disetting untuk manusia berpostur besar (Eropa).” Dari sisi lebar lapangan, ukuran bola, waktu bermain, aturan sanksi, dll. sepak bola di-setting untuk orang-orang berpostur Eropa (besar).

2. Postur Eropa itu rata-rata tinggi 180 cm, berat badan 80 kg, kecepatan lari dan daya tahan fisik kuat. Maka pemain-pemain Afrika yang berpostur tinggi dan kuat, meskipun mereka miskin, fasilitas minim, tetap bisa berprestasi dengan baik. Karena posturnya sesuai, kekuatan fisik juga sesuai.

3. Beberapa tim Asia, seperti Jepang, China, Korea (Utara & Selatan), pemain mereka juga besar-besar dan stamina kuat. Maka negara-negara itu bisa bersaing dalam kompetisi internasional. Malah ada pemain China yang posturnya lebih tinggi dari orang Eropa.

4. Di Timnas sendiri sebenarnya Indonesia pernah punya pemain dengan postur ideal. Ia adalah Robbi Darwis, pemain bertahan dari Persib. Pemain ini selain tinggi, tubuhnya besar, juga memiliki skill bermain bola. Robbi Darwis bisa menjadi STANDAR fisik pemain nasional. Kalau Indonesia pernah punya pemain seperti dia, berarti bisa dicari pemain-pemain lain yang semodel dia.

5. Kalau sepakbola cuma untuk olah-raga, game, atau pertandingan tingkat lokal; memang tidak dibutuhkan postur tinggi. Pemain dengan postur seperti apapun, silakan saja. Tapi kalau untuk meraih prestasi internasional, ya harus diperbaiki posturnya. Pemain seperti Irfan Bachdim itu di level internasional termasuk kecil, apalagi Octo Maniani. Dan untuk membangun Timnas ini bisa dibentuk sejenis “Akademi Timnas”.

6. Standar fisik para pemain nasional harusnya ditetapkan: tinggi minimal 180 cm, berat ideal 80 kg, kecepatan lari sekian-sekian, ketahanan stamina sekian-sekian, dan ketahanan benturan. Setelah itu baru bicara soal minat sepakbola dan skill bermain. Jangan dibalik, bicara minat dan skill dulu, lalu baru bicara soal fisik pemain. Ini salah…maka itu timnas Indonesia keok melulu.

7. Untuk mencari bakat-bakat pemaian nasional, bisa dimulai sejak SMA kelas 1. Cari anak-anak dengan postur tinggi badan bagus, kesehatan prima, dan suka sepakbola. Meskipun tidak pintar main bola tidak masalah, asalkan fisik sudah memenuhi syarat dan dia suka main bola. Fisik dan minat menjadi tolok ukur utama. Soal skill bermain, itu bisa diasah dalam pemusatan latihan.

8. Biar anak-anak SMA itu suka berlatih, berikan mereka tunjangan honor, fasilitas bermain, dan subsidi untuk perbaikan konsumsi. Selama mereka masuk dalam “proses pelatihan timnas”, mereka mendapat honor.

9. Dari 235 juta penduduk Indonesia, pasti mudah mencari sekitar 50 anak remaja dengan postur minimal 180 cm dan dia senang bermain bola. Pasti mudah. Wong, di sekolah anak saya saja (SMA), ada teman-temannya yang tingginya sekitar 2 m. Itu bukan hanya satu orang. Kalau sulit mencari, umumkan rekruitmen secara resmi, agar mereka mendaftar. Jadi, jangan lagi mengambil pemain timnas yang tingginya 160 cm, apalagi kurang dari itu. Nanti disebut “pemain bayi” oleh orang-orang Eropa.

8. Dari 50 anak yang terseleksi, sejak kelas 1 SMA, dia akan mengikuti jadwal-jadwal pelatihan sampai 3 tahun (sampai lulus SMA). Setelah itu akan diseleksi lagi untuk mencari sekitar 25 pemain nasional (tim inti dan cadangan). Sehingga akhirnya terbentuk formasi pemain nasional, dengan tinggi minimum 180 cm, berbadan kuat, dan memiliki skill bermain bola bagus.

9. Jika belum ada even-even pertandingan internasional, para pemain itu dititipkan di klub-klub profesional untuk berlatih, bermain, dan terjun di klub-klub itu. Secara legal, pemain itu milik “Akademi Timnas”, tetapi secara posisi mereka di klub-klub profesional untuk mematangkan kemampuan dan pengalaman bermain. Saat dibutuhkan, mereka dipanggil untuk bergabung dengan Timnas. Syukur-syukur kalau pemilik klub mau merekrut pemain itu sebagai pemain inti, sehingga mereka dibayar lebih baik oleh klub.

10. Para pemain itu tergabung ke Timnas dalam waktu tertentu, misalnya 5 tahun, sesuai kontrak. Selama itu mereka digaji oleh negara. Jika sudah tidak bermain lagi, mereka boleh memilih akan bermain di klub profesional, direkrut oleh BUMN, atau pilihan-pilihan yang baik bagi mereka.

Jadi, intinya begini: “Pemain Timnas ke depan haruslah orang-orang yang tinggi, fisiknya bagus, dan bermental kuat. Mereka bisa digembleng sehingga memiliki fisik bagus, skill bagus, dan mental kuat. Kalau pemain Timnas masih setinggi 160 cm atau kurang, wah…tak akan banyak berguna ngomong soal Timnas. Ya bagaimana lagi, wong secara mendasar sudah salah konsep.”

Tulisan ini disusun lebih karena “kasihan” melihat bangsa Indonesia. Sejak dulu ingin memiliki Timnas yang kuat, tetapi kalah terus. Kalau mau diperbaiki, ya perbaiki fisik para pemain dari sisi tinggi, berat badan, kecepatan, kekuatan, juga stamina tubuh. Itu intinya. Soal skill, bisa dilatih.

Semoga bermanfaat ya, mengobati kedukaan hati bangsa Indonesia. Ya, meskipun sebatas ide. Allahumma amin.

Pesan terakhir: “Jangan lupakan Shalat di segala keadaan. Meskipun main bola, jangan lupa Shalat ya. Shalat lebih utama dari permainan apapun. Oke?

AMW.