Dilema Dakwah Islam Kita!

Januari 18, 2010

Kemarin sempat menyaksikan acara Damai Indonesiaku, di TVOne, siang hari. Dai yang berceramah, Ust. Jeffry Al Buchori. Biasanya ada Ust. Zainuddin MZ, Ust. Yusuf Mansyur, dan lainnya. Acara ini sering dimuati tema-tema politik, sedangkan para dainya -selain Ust. Zainuddin MZ.- rata-rata kurang sreg dengan topik politik. Mereka sering “muter-muter” kalau ditanya masalah politik, apalagi kalau isinya mengkritik penguasa. Dulu SCTV punya acara semisal, Indahnya Kebersamaan. Talent pengisinya hanya Aa Gym, dan materinya rata-rata tentang moral bangsa yang general, tidak tajam mengeritik regim berkuasa.

Saya mencatat hal menarik dari ceramah Jeffry Al Buchori, yaitu ketika menyinggung masalah Skandal Bank Century. Kurang lebih Ustadz Jeffry mengatakan:

“Kenapa bingung-bingung bicara soal Bank Century, prosesnya bagaimana, siapa yang bertanggung-jawab, dll. Kenapa tidak dikejar saja kemana uang 6,7 Triliun itu? Gampang kan? Daripada susah-susah mikir proses skandal Bank Century, mending cari saja siapa yang menerima aliran dana 6,7 T itu. Gampang kan. Make it simple, gitu loh!”

Kurang-lebih seperti itu yang beliau katakan. Maaf kalau tidak persis dengan ucapan aslinya. Intinya, dalam kasus Bank Century, kejar saja kemana dana 6,7 Triliun itu larinya, siapa saja penerimanya? Beres kan? Ustadz Jeffry meyakinkan kita, “Make it simple, gitu loh!

Sejujurnya, kasus Bank Century itu bukan masalah yang sederhana, bisa dijelaskan secara simple. Tidak sama sekali. Kasus skandal ini rumit, sangat komplek, kait-mengait satu fungsi dengan fungsi lain, tidak mudah dijelaskan dengan penjelasan-penjelasan simplisit.

MetroTV sampai membuat berbagai cara untuk menjelaskan kasus ini kepada masyarakat. Sampai pernah ada acara, “Bank Century For Dummies” (bank Century untuk orang awam). MetroTV menghadirkan Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, mereka diberi waktu eksklusif untuk menjelaskan kasus tersebut. Tetap saja, masyarakat luas, sik ora mudeng-mudeng (belum ngerti-ngerti). TVOne juga begitu. Dalam komentar Ichsanoeddin Noersy terkait pemeriksaan pejabat di Pansus DPR, berkali-kali penyiar TVOne meminta Ichsanoeddin menjelaskan masalah itu secara sederhana. Tetapi ya tetap saja, masih teoritik dan rumit.

Intinya, kasus Bank Century bukan masalah biasa, ia masalah rumit. Kalau dalam dakwah Islam kontemporer, mungkin sama seperti perselisihan antara Lajnah Da’imah Saudi dengan Ali Hasan Al Halabi tentang topik paham Murji’ah. Kata seorang ustadz kenalan baik, itu kasus “kelas berat”. (Lho, kok jadi jalan-jalan ke masalah Murji’ah ya?).

Kembali ke kasus Century…

Dalam pemahaman awam, kasus ini dipahami sebagai: “Negara mengeluarkan uang 6,7 Triliun rupiah ke Century, lalu uang itu amblas, dibawa lari oleh pemilik Bank Century. Sama seperti kasus Edy Tanzil dulu yang membawa kabur dana negara 1,3 Triliun.”

Kenyataannya tidak demikian. Kalau diterangkan secara sederhana, kurang-lebih kejahatan Bank Century itu sebagai berikut:

“Negara (dalam hal ini LPS) memberikan suntikan dana senilai 6,7 Triliun rupiah ke Bank Century. Tujuannya untuk menyelamatkan bank itu, agar tidak bangkrut, lalu ditutup. Mengapa bank itu harus disuntik? Sebab dia kekurangan uang. Mengapa kekurangan uang? Sebab dana nasabah yang ada di bank itu dibawa kabur para pemiliknya (setidaknya 3 tokoh, salah satunya Robert Tantular, dan 2 orang Arab). Setelah Century disuntik dana, ia akhirnya menjadi milik LPS, atau di bawah kendali LPS. Lalu namanya diubah menjadi Bank Mutiara.”

Jadi, dana Rp. 6,7 Triliun itu tidak hilang, seperti yang dibayangkan. Hanya saja, dana itu sekarang mengendap di Bank Mutiara. Dan menurut audit BPK, dalam kasus dana talangan ini, setidaknya ada indikasi transaksi ilegal senilai Rp. 2,8 Triliun.

Lalu mengapa dana talangan Bank Century dipermasalahkan, padahal uang itu sendiri tidak hilang sama sekali?

Pertama, kemungkinan dana yang masuk ke Bank Mutiara tidak utuh Rp. 6,7 Triliun. Tetapi ada yang dipakai untuk urusan-urusan lain, selain urusan penyelamatan Century sehingga kemudian menjadi Bank Mutiara. Kata BPK, ada transaksi ilegal sekitar Rp. 2,8 Triliun.

Kedua, mengapa negara harus mengeluarkan uang besar untuk bank yang dirusak sendiri oleh pemiliknya (Robert Tantular Cs)? Mengapa dana itu tidak dipakai urusan lain, atau untuk membantu bank lain yang lebih membutuhkan? Inilah yang disebut Jusuf Kalla sebagai “perampokan” itu. Uang besar dipakai membantu banak rusak.

Ketiga, mengapa rencana dana talangan yang semula disetujui Rp. 632 miliar untuk Century, lalu membengkak 10 kali lipat menjadi Rp. 6,7 Triliun? Sebagai perbandingan, kalau sebuah anggaran dalam proposal membengkak 30 % saja dari rencana, seorang manajer pengawas sebuah proyek bisa dimarah-marahi oleh atasannya. Nah, dalam kasus Cemtury, ia membengkak lebih dari 1000 %. Maka itu, pejabat Bank Indonesia, Menteri Keuangan, KSSK, LPS, dll. ketika itu bisa disebut sebagai: orang-orang dungu, karena memberi jalan bagi pembengkakan anggaran talangan Bank Century sampai 1000 % lebih.

Logika mudahnya: Kesalahan Bank Indonesia, Menteri Keuangan, KSSK, LPS, dan lainnya ketika itu, seperti seseorang yang mengeluarkan dana cash 20 juta rupiah untuk membeli motor bebek 70 yang sudah ringsek. Uang itu tidak habis sama sekali, toh ia berubah menjadi motor bebek ringsek itu. Tapi ini adalah jelas-jelas salah dalam membelanjakan uang. Apalagi ketika semula, rencana pembelian motor itu hanya 2 juta, tetapi akhirnya membengkak menjadi 20 juta rupiah.

Jadi, sekali lagi. Masalah Bank Century ini bukan soal: Dikemanakan saja uang Rp. 6,7 Triliun itu? Tidak sesederhana itu.

Lalu, apa kaitannya dengan dakwah Islam…

Ya, dalam dakwah ini, seringkali kita menemukan perkataan-perkataan, ucapan-ucapan yang tidak tepat. Sering para dai memetakan masalah masyarakat secara simple, tanpa mengerti duduk masalah sebenarnya. Hal itu sering terjadi, bukan hanya sekarang saja.

Dakwah di jaman sekarang itu sangat DILEMATIK. Mengapa dikatakan demikian? Penjelasannya sebagai berikut:

[o] Seseorang baru akan didengar dakwahnya oleh masyarakat, kalau dia sudah terkenal, sering tampil di TV, atau sering tampil di media-media. Kalau tidak terkenal, orang jarang mau mendengar ilmu darinya.

[o] Agar seseorang menjadi dai terkenal, sering dipanggil oleh media-media TV, dia harus banyak toleransi, harus sering kompromi, tidak menampakkan suara-suara kritis dan keras. Harus selalu cool, tidak menyinggung perasaan, pokoknya santai-santai ajah. Dai yang komitmen dengan Syariat Islam, hampir dipastikan akan di-black list oleh media.

[o] Dalam berdakwah sendiri, seorang dai yang ingin populer, harus sering-sering membuat lawakan (humor). Intinya, dakwah dia 70 % mengandung entertainment, 30 % berisi nasehat-nasehat moral yang sifatnya umum. Jadi, dai modern sekaligus penghibur (entertainist) juga.

[o] Yang lebih rumit lagi, arena dakwah kini telah menjadi “arena perebutan kekuasaan” antar para aktivis, dai, lembaga, jamaah, partai, dan lainnya. Bahasa yang sering muncul di arena dakwah ini, adalah “Kami dan mereka”. Pihak yang menguasai podium, menguasai masjid, menguasai fasilitas dakwah, adalah pemenang. Sedang pihak yang terus membuat “rapat rahasia” untuk menggulingkan dominasi pihak tertentu, disebut pecundang. Masuknya jamaah-jamaah dakwah dari luar negeri tahun 80-an, tidak membuat Ummat Islam Indonesia semakin bijak. Justru semakin menyuburkan konflik di antara elemen-elemen dakwah Islam itu sendiri.

Dulu, siapapun yang ikhlas, memiliki ilmu, dan peduli dengan Islam, mereka akan diterima di majlis-majlis Ummat, apakah di masjid, di majlis taklim, balai-balai dakwah, dan lainnya. Tetapi saat ini, rasa “memiliki bersama” itu sudah amat sulit ditemukan. Setiap kepala aktivis dakwah seolah sudah terdoktrin kuat untuk mencurigai orang-orang “luar”. Jika ada orang baru yang membawa pesan-pesan Islam, segera dilakukan “investigasi independen”, seperti perkataan, “Siapa dia? Orang mana? Ngajinya dimana? Dia orang Ikhwani, Salafi, Tabhlighi, Tahriri, Jihadi, atau siapa?”

Pertikaian di antara sesama Muslim, termasuk kalangan Islam fundamentalis begitu kuatnya. Sepertinya, ada orang-orang bayaran yang bertugas khusus menjadi “penyiram bensin”. Kalau bara api perpecahan mulai padam, mereka segera menyiramkan bensin, agar bertengkar terus. Begitu saja. Padahal kita telah belajar, bahwa dulu penjajah selama ratusan tahun menerapkan politik Devide Et Impera. Tapi di jaman ini, kita menjadi pengamal politik itu yang paling ISTIQAMAH. Sangat menyedihkan memang.

Nah, inilah berbagai kenyataan yang kita hadapi saat ini. Bukan berarti kita akan mundur, menyerah, atau mencela dakwah ini, tetapi itulah realitasnya. Betapa sangat sulitnya menanamkan kebaikan di jaman ini. Satu sisi, masyarakat sudah terlena dengan hedonisme. Di sisi lain, popularitas dianggap lebih penting dari ilmu itu sendiri. Bahkan, andai kedua masalah itu sudah terpecahkan, kita disandera oleh masalah “KANKER PERPECAHAN” yang amat sulit terapinya. inilah dilema, sekaligus tantangan dakwah Islam saat ini.

Semoga menjadi hikmah dan pelajaran berharga. Allahumma amin ya Karim.

AMW.

Iklan